Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Berjuang Bersama Dia


__ADS_3

...Sebelum membaca Author mau minta bantuannya buat kasih rating 🌟🌟🌟🌟🌟 untuk karya ini... bisa di awal halaman ya....


...jangan lupa like dan Favorit juga. 😘😘...


...****...


Ingin rasanya pergi dari tempat ini. Tapi apalah daya, di hadapanku saat ini jelas kulihat kesakitan orang yang aku cintai sedang merasakan sakit akibat kecanduannya terhadap barang haram itu.


Ternyata tidak semudah itu lepas dari obat terlarang yang sudah merampas kewarasan seseorang.


Setelah menghisap serbuk kokain itu, Farrel terkulai lemas di kamar mandi.


Aku berusaha memapah tubuh tinggi itu ke tempat tidur.


“Jangan tinggalkan aku, Ay! Aku sangat mencintaimu, kita akan terus sama-sama. Kita pernah berjanji, kamu ingat!” ucap Farrel yang berada dalam keadaan ngefly dalam bahasa gaulnya.


Keadaan Farrel yang sedang mabuk dikarenakan obat terlarang itu bisa aku pahami.


Berbagai ocehan ia umpatkan untuk kedua orang tuanya.


“Dasar tua bangka jahat! Kamu tahu, Ay. Ayahku tidak pernah mendengar apa keinginanku. Dia sok berkuasa. Aku ingin hidup bebas seperti teman-teman yang bisa memilih keinginan mereka. Kalau bukan karena ibuku, ingin rasanya aku pergi dan tidak peduli dengan si tua bangka itu, yang dia cari hanyalah nama baik, derajat dan sosial. Aku muak dengan semuanya!” Farrel terus mengungkapkan semua isi hatinya dalam keadaan ngflay Seperti orang mabuk lebih tepatnya.


Mabuk karena sesuatu hal yang membuatnya seakan rileks. Farrel seperti sedang melayang diawang-awang. Melayang ke sana kemari.


Aku hanya diam dan mendengarkan semua ucapannya.


Bahkan Farrel tertawa dan kadang menangis sendiri karena ucapannya.


Saat itu aku berpikir, tidak mungkin aku bisa membantunya tanpa bantuan orang lain.


Aku harus mencari bantuan. Aku sayang pada pria di hadapanku ini. Aku tidak akan membiarkan dia terus berada dalam rasa tersiksanya.


Perlahan saat Farrel memejamkan mata, aku berpikir ingin mencuri nomer ibunya Farrel. Mungkin saja aku bisa memberitahunya kondisi anaknya saat ini.

__ADS_1


Perlahan dan sangat hati-hati kuraih ponsel yang ada di samping nakas kemudian mencari nomer telepon ibunya Farrel dari riwayat pesan chatnya.


Sangat mengejutkan saat aku melihat chat dari seseorang yang bernama Randi. Tagihan sebesar 40 juta rupiah haris dibayar dalam oleh Farrel dalam satu minggu ini.


Ingin rasanya menjatuhkan benda pipih itu karena saking terkejutnya. Nominal yang tidak sedikit bagiku. Aku tidak menyangka sudah sampai sejauh itu akibat buruk dari mengonsumsi barang haram tersebut bagi Farrel.


Farrel yang aku kenal adalah sosok pria baik dan pandai mengelola keuangan. Aku belajar banyak dari dia, saat ini dunia Farrel benar-benar hancur.


Melihat itu semua makin membulatkan tekadku untuk memberitahu ibunya Farrel. Segera ku tulis nomer yang ku temukan di ponsel milik Farrel.


Beruntung untukku dalam keadaan seperti ini dia tetap menjaga kesucianku. Bahkan dalam keadaan mabuk. Dia mampu menjaga fitrah kehormatan ini.Inilah yang aku beratkan ketika ingin meninggalkannya.


Entah akan terjadi padaku jika saat ini yang berada bersamaku dalam satu kamar ini bukan Farrel.


Mungkin saja kehormatanku sudah terenggut secara paksa.


***


Ucapan penyesalan terucap dari bibirnya, ya. Saat ini Farrel tengah menyesali perbuatannya. Dia menyerahkan semua keputusan kepadaku. Mau menyerah setelah tahu keadaan dirinya seperti itu atau menemaninya berjuang menuju kesembuhan.


“Baik, Ay! Terima kasih sudah setia menemaniku, Lura!” ucapnya dan kami pun saling melempar senyum.


Begitu bahagianya Farrel mendengar ucapanku. Semoga dengan selalu ada bersamanya menjadi motivasinya untuk sembuh.


Waktu semakin beranjak malam.


Farrel tetap memaksa untuk mengantarkanku, padahal Aku merasa takut terjadi sesuatu kepadanya.


“Aku sudah biasa, Ay! Tenang saja!” ucapnya meyakinkanku.


“Tapi aku tidak mau kamu terbiasa melakukan hal seperti tadi!” balasku tidak suka.


“Beri aku waktu, Ay! Tolong! Aku tidak semudah itu bisa terlepas dari semua ini!” ucapnya putus asa.

__ADS_1


Perdebatan kembali terjadi ketika berada di halaman kos an nya. Menurutku tempat ini terlalu bebas, apa memang ini yang Farrel inginkan agar tidak ada yang tahu apa yang dia lakukan di sini.


Akhirnya Farrel mengalah, ia paham disini dialah yang bersalah.


Apa aku terlalu memaksakan keinginanku. Mungkin aku harus lebih bersabar, dan selalu mengingatkannya. Aku menghela napas berat. Ya, berat untukku tapi harus Kujalani.


Aku harus segera bertemu dengan ibunya Farrel untuk mengungkapkan ini semua. Mungkin jika berbicara dengan seorang ibu, mereka akan lebih mengerti.


“Baiklah,” balasku pelan.


Farrel sudah siap di atas motor sport nya. Aku pun segera naik di belakangnya. Motor pun langsung tancap gas membelah jalanan. Kota Jakarta malam ini.


Perjalanan menuju kontrakan ku lumayan jauh. Sebelumnya aku meminta Farrel mencari sesuatu.


Merasa bersalah kepada Dina sebab tidak menepati janji akan kembali sebelum gelap menyapa. Tapi kenyataannya pukul 8 malam aku masih ada di luar bersama Farrel.


Dan satu-satunya jurus andalan supaya temanku tidak cemberut adalah dengan membawakannya martabak pancenongan rasa keju Istimewa kesukaan kami berdua.



Sudah bisa dipastikan bibirnya pasti merekah ketika aku membawa makanan itu.


Aku tersenyum sendiri jika mengingat hal itu. Temanku itu gampang sekali disogok.


“Di tempat biasa ‘kan, Ay?”


“Ya,” jawabku pelan.


Farrel pun langsung berbelok ke tempat yang menjual martabak. Makanan kesukaanku dan Dina berada.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2