
Farrel tidak menyangka, saat ini ia kembali terdesak oleh keadaan. Mau tidak mau, Farrel harus mengikuti apa yang di ucapkan ibunya.
Keadaan Bu Prita semakin lemah setelah kehilangan banyak darah. Nyawanya yang melayang membuat Farrel tidak kuasa untuk egois. Dirinya terlalu lemah, ia tidak mau orang yang disayang hilang untuk kesekian kalinya. Pertama ia kehilangan Lura karena kesalahannya. Kedua ia kehilangan ayahnya dan sekarang Farrel tidak mau kehilangan ibunya.
"Aku janji akan mengikuti semua keinginanmu, Bu!" ucap Farrel seraya menggenggam jemari Bu Prita yang masih belum sadarkan diri.
Niatnya mencari Lura harus ia kubur dalam-dalam. Tapi secara diam-diam, Farrel tetap ingin mencari Lura tanpa sepengetahuan Bu Prita nantinya.
Setelah beberapa jam akhirnya Bu Prita siuman. Satu hal yang membuat bu Prita makin bersemangat. Permintaannya pada Farrel, disetujui oleh putranya itu.
Persetujuan itu langsung dikabarkan kepada Mariana. Sahabat yang pernah membantu Bu Prita dan almarhum Pak Irawan Dalam ucapan Bu Prita pada Farrel ada ucapan yang dilebihkan wanita itu. Sengaja Bu Prita melakukan itu agar Farrel mau menuruti perintahnya.
"Ibu senang sekali kamu mau mendengarkan dan menuruti perintah ibu, Nak! Percayalah, gadis yang ibu kenalkan kepadamu adalah wanita baik-baik! Dia cantik dan juga sopan. Kamu pasti tidak akan menyesal berkenalan dengannya," ucap Bi Prita dengan wajah sumringah. Sesaat setelah Farrel menyetujui apa keinginan wanita itu.
Mendapat kabar bahwa teman sosialitanya masuk rumah sakit Mariana langsung bergegas menjenguk bersama beberapa temannya.
Terdengar suara pintu yang terketuk oleh seseorang di luar ruangan. Farrel lekas berdiri, kemudian menaruh piring yang ada di tangannya.
"Aku buka pintunya dulu, Bu!"
Bu Prita menganggukkan kepalanya. "Sudah cukup! Ibu juga kenyang!" Ucap Bu Prita sambil mengusap bibirnya dengan tisu.
Saat Farrel membuka pintu, Beberapa wanita berpenampilan anggun bak sosialita berebut masuk ke dalam ruangan.
"Hai, Jeng! Apa kabar? Gimana keadaannya? Kenapa bisa begini sih?" ucap seorang wanita bernama Jeng Lita sambil berjalan mendekati brankar.
"Aku juga kaget banget, pas dengar kamu di rawat, Jeng Prita!" timpal Bu Anggi.
Satu persatu wanita sosialita itu bertegur sapa saling memeluk dan mencium pipi kiri dan kanan bergantian.
"Maaf, aku yang ajak mereka ke sini! Biar sedikit ramai," ucap wanita terakhir yang berjalan menghampiri Bu Prita. Dia adalah Mariana.
Mariana langsung berjabat tangan kemudian cipika cipiki dengan Bu Prita. "Kenapa harus melakukan ini? Apa kamu tidak sayang dengan nyawamu!" Ucap Mariana wanita lembut dan santun. Ia meletakkan parsel buah yang dibawanya di atas nakas.
__ADS_1
"Iya, Sayang banget sih Jeng. kamu masih muda, uang ada! Kemewahan punya, untuk apa mencoba bunuh diri?" oceh Jeng Lita.
Bu Prita mengulas sedikit senyum di bibirnya mendengar ocehan Jeng Lita. "Aku mending ikut menyusul Mas Irawan daripada melihat putraku memilih bersama wanita malam itu!"
Jeng Lita dan Jeng Anggi saling pandang. "Wanita malam siapa?" tanya mereka bersamaan karena tidak tahu persoalan Farrel dengan Lura.
"Sudahlah jangan bahas itu dulu, sebaiknya kamu banyak istirahat dan jangan banyak pikiran. Bukankah dia sudah setuju berkenalan dengan putriku?" Mariana melirik ke arah Farrel yang duduk di sofa.
Mendengar obrolan ibu dan temannya yang sedang membicarakannya, membuat Farrel merasa tidak nyaman. Farrel memang tidak pernah bertemu dengan mereka karena itulah ia merasa asing dan canggung.
"Bu, aku keluar dulu!" pamit Farrel.
"Mau kemana? Jangan membohongi Ibu, Farrel!" sahut Bu Prita tegas. wanita itu takut Farrel pergi dan mencari Lura.
"Aku hanya ke kantin sebentar! Tidak usah takut, Bu! Aku orang yang bisa menepati ucapan!" Ketus Farrel dengan wajah sambil berlalu keluar dari ruangan itu.
Bu Prita merasa tersinggung dengan ucapan Farrel. Sebab ia sendiri tidak bisa menepati ucapannya. Dulu, Bu Prita pernah berjanji akan membebaskan Lura dari Mamih Rosa. Nyatanya ibunya itu baru akan menebus Lura saat Farrel sudah keluar dari panti rehabilitasi, dan semuanya sudah terlambat. Farrel kehilangan Lura, entah dimana dia saat ini.
"Jeng Prita, aku sama Jeng Anggi ke kantin sebentar ya, mau beli minum! Di sini hanya ada air putih saja! Tidak pa-pa 'kan kita keluar lagi?"
"E-eh, tidak perlu. Gak usah repot & repot!" elak Mariana.
"Apanya yang repot sih, Jeng! Kecuali aku bawa tokonya ke sini, pasti repot!" ocehan Jeng Lita membuat Bu Prita dan Mariana terkekeh pelan.
"Ya sudah pergilah!" usir Mariana halus dengan anda bercanda.
"Bye..." Jeng Lita melambaikan tangannya kemudian menarik Jeng Anggi untuk ikut bersamanya.
Usai kepergian Jeng Lita suasana ruangan menjadi sepi. Mariana melihat Bu Prita seakan tidak bersemangat. Mariana mengerti suasana hati Bu Prita. "Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Kamu harus berusaha sembuh dulu, bukankah kita akan mengenalkannya dengan Putri?" Mariana mengusap lembut tangan Bu Prita kemudian melempar senyum.
"Ya, aku ingin Putri menjadi menantuku! Dia gadis baik dan cerdas."
"Apa kamu yakin, akan menjodohkan Putri dengan Farrel. Putriku itu sakit, apa kamu tidak ingin mendapat menantu yang sehat dan yang bisa mengurus Farrel nantinya. Aku takut Farrel akan menyesal," ucap Mariana. Ia takut jika suatu saat nanti akan ada penyesalan pada Farrel.
__ADS_1
"Mariana aku mohon padamu, Jangan bilang pada Farrel soal ini. Sebab aku menyembunyikan sebuah kebohongan padanya." Bu Prita sedikit merendahkan ucapannya. Ia takut ada seseorang yang mendengar.
"Maksudmu?"
"Aku bilang pada Farrel kalau kita sudah memiliki perjanjian soal ini dan Aku harus melaksanakannya. Sebab kami akan kehilangan semua aset kalau Farrel tidak menyetujui semua ini."
"Aku tidak setuju! Bagaimana nantinya jika sikap Farrel malah tidak baik sama Putri." Mariana menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau Putri sakit hati nantinya. aku tidak setuju dengan ide mu, Prita!" pungkas Mariana. Ia menolak keras keinginan Prita.
"Aku akan membicarakan ini nanti dengan Farrel, Mariana! Saat ini Farrel sudah setuju aku yakin dia tidak akan mengingkarinya. Aku sangat hapal dengan sikap putraku. Kita kenalkan dulu mereka. Aku yakin Farrel akan terpesona dengan kebaikan Putri. Kamu ingat almarhum suamiku saja, bisa begitu menyukai Putri. Aku yakin kalau Farrel pun sama. Aku mohon Mariana, jangan batalkan perjodohan ini!" pinta Bu Prita sungguh-sungguh pada Mariana.
"Kamu tahu, aku hanya ingin pria tulus yang mau menemani Putri sampai waktunya tiba. Umur Putri tidak bisa diperkirakan. bisa cepat atau bisa jadi lebih lama lagi, semua tergantung semangatnya untuk hidup."
"Makanya kita satukan Farrel dan Putri. agar anakmu ada semangat buat hidup jika ia sudah menikah."
Mariana sedikit melamun mencerna ucapan Prita.
"Aku lebih setuju kita mengenalkannya secara alami, tidak usah ada perjodohan. biarkan mereka melalukan ke selatan terlebih duku! Soal ucapanmu yang terlanjur bohong pada Farrel biar aku yang meluruskannya. Jangan biarkan dia mempunyai perasaan beban menikahi Putri," tutur Mariana serius menanggapi rencana mereka.
"Aku serahkan semua kepadamu, Mariana. Satu hal yang aku inginkan. Putra-putri kita bisa bersama dalam satu ikatan pernikahan." Bu Prita berharap keinginannya akan terkabul. Apapun itu, Bu Prita ingin hanya Putri yang menjadi menantunya.
.
.
Bersambung
Hai, readers. aku harap kalian masih setia. meskipun up belang bentong. semoga kedepannya otor konsisten ya...
Jangan lupa, Like, komentar juga. Beberapa hari gak up rasanya sedih dikit kali yang komen. Berasa hilang mood booster ku.
Mampir lagi gaes ke karya teman otor.
Dijamin seru ceritanya.
__ADS_1
Mampir yak!