
Farrel menggenggam erat bungkus obat yang di lemparkan Mamih Rosa tadi. Hatinya masih berkecamuk antara mengorbankan Lura atau memilih orang tuanya.
Hatinya ingin menyelamatkan Lura tapi langkahnya malah mendekati tempat pemesanan makanan. Farrel meminta minuman tambahan dan dia menunggunya di sana.
“Ini minumannya, Mas!” Pelayan restoran menyodorkan dua gelas jus jeruk di atas nampan pada Farrel.
“Terima kasih,” ucap Farrel.
Begitu melihat pelayan itu pergi. Tangan Farrel lekas menyobek sedikit bungkusan yang dipegangnya. Ia campurkan obat itu ke dalam satu gelas jus.
Dicabutnya irisan jeruk lemon yang ada di pinggiran gelas agar Farrel bisa membedakan mana jus yang sudah ia campurkan obat dan mana yang tidak saat menyerahkan jus tersebut pada Lura.
Keputusan yang sangat berat untuk Farrel. Ia lebih memilih menukarkan Lura kepada Mamih Rosa daripada nama orang tuanya jelek di hadapan semua orang. Apalagi saat ini, ayahnya Antoni Wijaya sedang gembor-gembornya melakukan pendekatan dengan warga kota ini. Berharap agar semua warga kota memilihnya sebagai gubernur di kota besar itu.
Farrel tidak tahu kalau Lura sudah berkorban untuknya.
Masih dengan perasaan yang belum yakin Farrel melakukan itu. Dua jus di atas nampan yang ada di tangannya menjadi fokusnya saat ini.
Farrel kembali melangkahkan kakinya dengan berat. Benarkah keputusannya ini. Langkah gontai-nya pun terhenti. Saat melihat Lura dari balik sekat kayu ukir yang jaraknya tak jauh dengannya berdiri saat ini.
Farrel kembali termenung, adilkah keputusan yang ia ambil. Ia berjanji akan melindungi Lura, tetapi Ia malah yang menjerumuskannya ke dalam lembah hitam yang akan merusak kehidupan kekasih yang amat dicintainya itu.
Ia paham Mamih Rosa menginginkan Lura untuk jadi anak asuhnya di Rumah Bordil tempat yang pernah ia datangi waktu itu.
‘Maaf, Ay. Aku terpaksa melakukan ini. Apapun yang terjadi padamu nanti Aku akan bertanggung jawab dan menerima segala yang ada padamu nantinya. Tak kan lama, Ay. Aku akan menebusmu dari Mamih Rosa. Jika aku tidak berpihak pada keluargaku dan memilihmu, aku tidak tahu harus mendapatkan uang dari mana, kita akan lebih sulit jika tidak ada uang nantinya.’
Batin Farrel seraya menatap Lura yang tengah asik bermain dengan ponselnya.
Farrel tidak tahu, Lura sedang berkomunikasi dengan siapa saat ini.
Lura sedang memberitahu Bu Prita bahwa dia sekarang bersama putranya. Dan memberi tahu beliau kalau Farrel bersedia untuk masuk panti rehabilitasi.
Keadaan yang begitu rumit.
Dalam hati Farrel ia benar-benar tidak rela menyerahkan orang yang begitu ia cintai, tapi keadaan mendesaknya. Ia lebih takut kepada orang tuanya, takut jika suatu saat nanti tanpa dukungan materi dari mereka Farrel tidak bisa menjadi orang sukses.
‘Aku janji tidak akan membiarkan kamu berlama-lama di tempat itu, maafkan jika kehormatanmu harus menjadi keegoisan kusaat ini.’
Farrel memandang sendu pada Lura.
“Rel!” panggil Lura saat ia melihat Farrel termenung di balik dekat kayu ukir, keberadaannya bisa terlihat dari tempat Lura duduk saat ini.
__ADS_1
Farrel tersadar dari lamunannya.
Ia menoleh ke arah Lura yang sedang menatap dirinya. Farrel berjalan menghampiri Lura.
“Sini! kok malah diam di situ?” tegur Lura seraya melambaikan tangganya menyuruh pria itu agar kembali bersamanya.
“Maaf! Lama ya?” ucap Farrel seraya meletakkan nampan yang ia bawa di atas meja.
Lura mengangguk pelan. “Iya, dari mana saja?” tanya Lura. Gadis itu masih bisa memasang wajah ceria dan manis di hadapan Farrel.
Lura masih berpikir akan memberikan malam indah untuk Farrel sebelum ia akan dibawa oleh kedua orang tuanya ke tempat rehabilitasi besok pagi.
Bu Prita mengabari Lura jika beliau dan ayahnya sudah merundingkan masalah ini, keputusan sudah dibuat sebelum ada media yang tahu kelakuan Farrel, lebih baik mereka mengirim Farrel diam-diam besok pagi-pagi sekali.
Lura tidak memberi tahu soal hutang yang Farrel punya kepada Bu Prita. Ia pikir itu akan menjadi urusan Farrel saat bersama orang tuanya.
Sungguh malang nasib gadis ini. Ia tidak tahu kalau dirinya akan dikorbankan oleh kekasihnya.
“Dari toilet langsung pesan minuman lagi! Aku pesan minuman tapi malah jus jeruk semua. Takut kamu tak suka, tadinya mau ditukar tapi kamu sudah memanggilku lebih dulu!” elaknya.
Farrel menyerahkan jus yang ia campur obat tidur di dalamnya kepada Lura dengan tangan gemetar.
Lura pun memperhatikan itu. “Kamu kambuh lagi?” tanyanya khawatir sambil menerima helas tang berisi jus jeruk itu.
“Pakai jaketmu saja!” Lura hendak membuka jaket Farrel yang ia pakai.
“Tidak perlu! Mungkin karena tadi habis dari kamar mandi, jadi tambah dingin.” Farrel kembali mengelak, padahal ia merasa gugup memberikan minuman itu kepada Lura.
Lura tersenyum kemudian menyedotnya perlahan. Sedikit demi sedikit jus dalam gelas itu berkurang isinya.
‘Maafkan Aku, Ay! Kamu pasti sangat membenciku nanti! Jika kamu tahu kalau aku sudah menjadikanmu penebus hutangku.’
Ucap Farrel dalam hati saat ia melihat Lura perlahan meneguk minumannya.
“Mm ... seger loh jusnya, kamu gak minum?” tegur Lura. Gadis itu merasa tatapan Farrel padanya berbeda. “Kenapa melihatku seperti itu sih?”
“Tidak pa-pa, hanya lagi terharu saja, bersyukur bisa mendapatkan kekasih baik hati, cantik, pengertian seperti kamu, Ay!”
“Dih, gombal!” cetus Lura, ia kembali menyedot jus jeruk yang ada di tangannya.
Farrel pun ikut menyedot jus jeruk miliknya. Sambil terus menatap Lura yang tersipu malu karena tatapan darinya.
__ADS_1
Perlahan Lura merasakan kantuk yang begitu berat. Berulang kali menutup mulut dengan tangan karena membuka mulutnya.
Melihat wajah Lura yang saat ini merebahkan kepalanya di atas kedua tangan yang di lipatnya di atas meja.
Farel berubah pikiran saat melihat wajah orang yang ia cintai menjadi korban kebodohannya. Ia bergegas bangun dari duduknya kemudian dengan cepat mendekati Lura, berusaha membangunkannya kekasihnya itu. Agar segera pergi dari sana.
"Ay, bangun!" Fareel berusaha membangunkan Lura.
"Hmm," jawab Lura dengan gumaman saja. gadis itu sudah dikuasai obat tidur yang membuatnya sulit terjaga.
"Bangun, Ay! Kita harus segera pergi dari sini!" Farrel terus berusaha membangunkan Lura.
Farrel bingung obat apa yang diberikan Mamih Rosa sampai kekasihnya itu sulit sekali terbangun.
'Apa yang mamih Rosa berikan padaku? jangan sampai wanita itu menjerat Lura dengan serbuk yang lebih parah dari yang ku konsumsi.'
Pikir Farrel. ia hendak mengangkat Lura. Sebab kekasihnya itu sama sekali tidak merespon ucapannya, bahkan tertidur lelap seperti orang mati.
.
.
.
Bersambung.
Berhasilkah Farrel membawa pergi Lura?
.
.
baca terus kelanjutan ceritanya ya.
Like+komen+hadiahnya readers.....
Tunjukkan kehadiran kalian di kolom komentar ya....
kehadiran kalian yang buat otor semangat buat up bab baru....
.
__ADS_1
.