Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Tertangkapnya Mamih Rosa.


__ADS_3

...Hai.. readers Terima kasih banyak untuk yang masih setia baca karya author. dukung terus ya. Jangan lupa like dan penuhi kolom komentar....


Cara mengusap bibir Lura dengan ibu jarinya. Setelah penyatuan bibir yang mereka lakukan di tengah kebun bunga lily itu.


Saling pandang dan saling melempar senyum mereka lakukan. Mereka sama sama sudah dewasa. Tak perlu ucapan jika sentuhan sudah bisa membuktikan kalau perasaan mereka saling terpaut.


Tempat ini pun akan menjadi tempat kenangan bagi Lura da Catra.


"Aku sudah yakin, kalau kamu memiliki perasaan yang sama denganku!" Ucap Catra merasa percaya diri. Membuat Lura sedikit mengembangkan senyumnya.


"Kenapa? Apa kau tidak bahagia kita bisa bersama?" tanya Catra dan Lura hanya membalas dengan gelengan kepala saja.


"Apa kamu akan menyesal setelah tahu masa laluku, Cat?" Tanya Lura saat mereka berdua sedang duduk berdua di pinggir kebun.


"Kenapa harus menyesal?"


Lura menatap Catra. Wanita itu kembali menarik pandangannya lalu menatap kosong lurus ke depan.


"Aku tidak sebaik yang kamu pikir, Catra. Bagaimana kalau aku itu dulunya sebagai kupu-kupu---" Ucapan Luta terpotong begtih saja karena Catra mengangkat panggilan pada ponselnya.


"Tunggu, aku angkat telepon dulu!" ucap Catra sambil menjauhkan ponsel dari telinganya saat berbicara pada Lura.


Lura mengaguk pelan. Catra sedikit menjauh dari Lura, ia tidak mau Lura mendengar pembicaraannya.


"Wanita itu sudah tertangkap. Gue hanya kasih kabar ini sama lu!"ucap seseorang dari seberang telepon.


Catra merasa lega akhirnya setelah hampir setengah tahun Mamih Rosa tertangkap juga. Wanita itu sudah tidak bisa berkelana lagi. Pelarian dari tempat ke tempat lain berakhir juga pagi tadi. Faizal orang yang bekerja sama dengan Catra berhasil membekuk Mamih Rosa saat wanita itu hendak bertolak ke luar negeri untuk melarikan diri karena di negara ini sudah tidak aman lagi untuknya.


"Thanks, bro! selamat setelah ini pasti bintang bakal lu dapat," ujar Catra.

__ADS_1


"Gue yang harusnya berterima kasih, anak buah lu udah bantu kerjaan gue."


"Sorry gue gak bisa banyak bicara nanti gue hubungi lagi!" ucap Catra. Ia tidak mau lebih lama meninggalkan Lura sendiri.


"Siap," balas Faizal dari seberang telepon.


Catra lekas menutup sambungan teleponnya.


"Cat, lu harus hati-hati setelah ini." Faizal berbicara sendiri ia tidak sadar jika sambungan telepon itu diputus secara sepihak oleh Catra.


"Sialan! Gue belum kelar ngomong udah maen tutup aja!" omel Faizal ketika tahu teleponnya terputus begitu saja.


Catra kembali mendekati Lura.


"Kita keliling lagi, yuk!" Ajak Catra kemudian mendapat anggukan dari Lura.


Mereka berjalan beriringan di sepanjang jalur kebun bunga itu. Lura menunda mengungkapkan jati dirinya pada Catra. Ia menunggu saat yang tepat untuk itu.


"Hobi yang menghasilkan dari pada terbuang sia-sia, Mama kadang mendistribusikan bunga-bunga ini ke beberapa toko bunga.


"Kenapa kamu selalu membeli buket bunga lily kalau mamamu sudah mempunyai banyak di taman miliknya?" Tanya Lura sambil melirik ke arah Catra.


Bingung harus menjawab apa. Padahal alasan satu-satunya Catra karena ingin bertemu dengan Lura.


"I-itu, eum, karena mamaku akan marah kalau aku---"


"Catra," panggil Mama Liona memutus ucapan Catra.


"Ya, Mah," sahut Catra kemudian melirik kepada Lura, mengajak wanita itu untuk mengikuti langkahnya. Menghampiri Mama Liona yang berjalan ke arah gazebo.

__ADS_1


"Kamu ini bagaimana, sih! Ada tamu bukannya diajak ke ruang tamu malah ke taman. Di sini 'kan panas!" omel Mama Liona sambil membawakan dua gelas minuman dan satu piring makanan di atas nampan yang ia bawa.


Lura segera mendekati Mama Liona membantu wanita itu meletakkan bawaannya.


"Terima kasih, Bu. Padahal tidak usah repot-repot. Saya hanya sebentar ko!" ucap Lura sopan kepada Mama Liona.


"Sama-sama, hanya minuman saja, ko!" Mama Liona mendaratkan bokongnya di kursi santai. Saat ini mereka bertiga berada di gazebo yang letaknya ada di tengah taman belakang. Taman bunga yang asri dan indah karena sering dirawat oleh Mama Liona.


"Kamu sepertinya suka sekali dengan bunga lily?" tanya Mama Liona mengawali pembicaraan. Saat ini mereka duduk bersama di gazebo tempat bersantai di dekat kebun bunga. Mama Liona dan Papa Wira sering duduk berdua di sini. menikmati indahnya pemandangan taman yang ada di belakang rumah mereka.


"Iya, Tan. aku sangat suka dengan bunga ini. Menurutku saat melihat bunga lily ketenangan langsung menyusuri hati"


Mama Liona sontak menoleh ke arah Lura. Tatapan mereka bertemu. Mama Liona merasakan ada sesuatu yang berbeda saat melihat Lura. Ada rasa ingin memeluk gadis itu. Tapi rasanya malu, mereka baru bertemu hari ini.


"Mah," panggil Papa Wira sambil berjalan mendekati mereka yang sedang berkumpul di gazebo itu.


"Ada apa, Pah? Kenapa tergesa-gesa seperti itu, sih?" sahut Mama Liona.


"Mama udah lihat berita?" tanya Papa Wira.


Mama Liona menggelengkan kepalanya.


"Bandar narkoba sekaligus mucikari yang paling diincar selama ini sudah tertangkap. Do'a mama terkabul." Papa Wira berbicara serius kepada Mama Liona. "Secara tidak langsung Yang Maha Kuasa telah membalas kematian Citra." Mama Liona lekas memeluk Papa Wira.


Catra tersenyum melihat itu. Ia juga bersyukur Mamih Rosa tertangkap pihak berwajib.


Lura terdiam. pikirannya tertuju pada Mely. temannya yang begitu baik di rumah bordil. teman yang rela menukar dirinya agar kehormatan Lura bisa terjaga.


'Bagaimana dengan keadaan Mely?' Pikir Lura dalam hati.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2