
'Jadi Mamih Rosa tertangkap? Kenapa mereka membicarakan soal Mamih Rosa? Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa orang tua Cara begitu senang mendengar penangkapan Mamih Rosa? Apa hubungannya mereka dengan semua ini?'
Berbagai pemikiran muncul dalam benak Lura. Ia penasaran dengan apa yang terjadi.
Lura kembali terdiam. Pikirannya tertuju pada Mely. Temannya yang begitu baik di rumah bordil. Teman yang rela menukar dirinya agar kehormatan Lura bisa terjaga.
'Bagaimana dengan keadaan Mely?' Pikir Lura dalam hati.
"Dan kamu Catra, kenapa kamu sering berada di sana?" Tanya Papa Wira membuat Cara bingung menjelaskannya. Sebab ada Lura diantara mereka. Mana mungkin Catra mengungkapkan bahwa ia juga terlibat atas penangkapan Mamih Rosa.
"Aku---,"
"Papa akan sangat kecewa jika kamu ada main dengan salah satu kupu-kupu malam di sana! Kamu tahu keluarga kita keluarga terpandang. Jangan sampai kamu buat malu keluarga," Serobot Papa Wira saat Catra akan berbicara.
"Pah, jangan berbicara seperti itu. Papa tidak ingat masa lalu mama?" bisik Mama Liona langsung membuat Papa Wira diam.
Ucapan Papa Wira sontak membuat hati Lura merasa sedih.Sekarang ini jelas terlihat perbedaan antara Lura dan Catra. Lura semakin merasa tidak pantas untuk Catra seteleh mendengar ucapan Papa Wira.
Lura dan Catra saling bersiratap. Catra dapat melihat kesedihan di sana. Ia ingin memberitahu Lura kalau dialah orang yang sudah merenggut kehormatannya agar Lura tidak merasa kalau dirinya tidak pantas untuk Catra.
"Maaf, Tante, Om. Eum ..., Lura pamit pulang dulu!" Ucap Lura sedikit canggung.
"Loh, kenapa pulang, Om baru saja datang!" sahut Papa Wira.
"Tidak enak sama orang rumah takut mereka mencariku. Kebetulan aku belum ijin sama mereka," kilah Lura. Padahal itu hanya alasannya saja agar segera pergi dari sana.
"Biar aku antar!" Catra menimpali.
Tak ada penolakan dari Lura. Ia berpikir harus berbicara berdua dengan Catra.
"Lain kali main lagi ke sini. Kita punya hobi dan kesukaan yang sama. Tante senang sekali kamu berkunjung ke rumah ini," ujar Mama Loona berkata lembut sambil mengusap lengan Lura.
'Apa Tante Liona akan bersikap seperti ini setelah dia tahu siapa aku sebenarnya.'
__ADS_1
Batin Lura kemudian tersenyum kecil membalas ucapan Mama Liona.
Semenjak keluar dari rumahnya sampai detik ini. Catra merasa Sikap Lura terus diam tak bersuara. Segera ia menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Kenapa berhenti?" Kali ini Lura bersuara.
"Apa aku harus memberhentikan mobil dulu, baru kamu bersuara? Kenapa diam? Apa ada perkataanku yang menyakitimu" desak Catra membuat Lura semakin tertunduk.
Lura menghela napas berat kali ini ia benar-benar harus memberitahu Catra sebenarnya. Lagi-lagi Lura harus rela kehilangan orang yang ia sayang untuk kedua kalinya seandainya Catra tidak menerima masa lalunya.
"Sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi!" Celetuk Lura berhasil membuat Catra menatapnya tajam.
Catra menarik sudut bibirnya seakan ucapan Lura hanyalah candaan semata.
"Jangan bercanda!"
"Aku tidak bercanda, aku serius." Lura balik menatap Catra serius terlihat dari manik matanya yang tajam dan tegas. "Aku hanya seorang kupu-kupu malam, kotor dan tidak pantas buat kamu yang dari kalangan orang berada. Aku mantan anak asuh Mamih Rosa yang kabur dari jeratannya. Derajat dan kasta kita berbeda, Catra!" Lirih Lura. Ia hampir saja meneteskan air mata di hadapan Catra tapi dengan cepat Lura mengusapnya.
Lura tidak mau terlihat lemah. Melihat reaksi Catra yang diam, Lura mengambil kesimpulan sendiri soal reaksi pria itu. Lura berpikir Catra terkejut dan sedang berpikir soal ucapan Papa Wira. Padahal Catra sedang berpikir kalau dirinya akan mengungkapkan semuanya sekarang. Catra akan jujur siapa dia sebenarnya, dan kenapa dia mendekati Lura.
"Ra, mau kemana?" teriak Catra pada Lura namun sama sekali tak ada respon dari wanita itu.
Lura terus berjalan melewati tempat gelap dan sepi. Tanpa peduli teriakan Catra.
"Ra, tolong berhenti. Jangan seperti ini, ada yang ingin akau bicarakan sama kamu." Catra kembali berteriak berharap Lura bisa bicara baik-baik dengannya. "Lura... Aku tahu masa lalumu, kamu dengar itu!"
Ucapannya berhasil membuat Lura menghentikan langkahnya dan segera berbalik badan menghadap Catra.
"Kamu tahu masa lalumu?" ucap Lura dengan surat terbata tak percaya.
"Ya, aku tahu semuanya!" balas Catra dengan suara pelan.
"Kamu tau dari mana, Cat? Oh, ya, aku lupa. Tadi kamu dan keluargamu sempat membicarakan penangkapan Mamih Rosa. Kamu selama ini tahu siapa aku? Kamu mendekatiku hanya untuk mempermainkan ku! Kamu anggap aku seperti wanita malam yang lain?" pikir Lura. Ia semakin salah paham dengan situasinya.
__ADS_1
"Bukan seperti itu? Kamu salah paham. Kamu harus dengarkan aku dulu, Ra."
Hancur sudah perasaan Lura. Salah paham membuatnya seakan tidak punya arti hidup lagi.
"Aku memang orang yang ada dibalik penangkapan Mamih Rosa. Aku bekerja sama dengan pihak berwajib untuk membekuk wanita itu, Semua aku lakukan demi membalas dendam kematian adikku, Citra." Catra menjeda ucapannya. Ia berusaha meyakinkan diri. Ia akan mengakui semuanya.
Semoga Lura mau memaafkannya. Sebab Catra begitu takut kalau Lura akan pergi menjauh darinya.
Mengingat rintihan permohonanan Lura malam itu, sama sekali tidak ia dengar. Catra malah memaksa dan terus mencumbu Lura tanpa ampun.
Hingga kehormatan yang dimiliki wanita malam itu telah ia renggut secara paksa.Terdengar lucu, jika ada orang lain yang mendengarnya. Catra telah merenggut kesucian wanita malam seperti Lura.
Orang akan tertawa dan tidak percaya menanganinya. Tapi tidak bagi Catra karena dia yang merasakan itu. Hanya dia, Catra 'lah pemilik kehormatan Lura.
"Ra, perhatikan baik-baik wajahku! Apa kali sama sekali tidak mengenalinya selama ini?"
Lura bingung dengan apa yang Catra ucapkan. Ia menelisik wajah Catra dengan seksama.
Penampilan Catra memang sangat berbeda dengan rambut cepak seperti ini. Kebiasaannya berambut panjang ia tinggalkan saat rasa itu tumbuh bersemi di hati Catra untuk Lura.
Lura menggelengkan kepala, Ia sama sekali tidak menemukan apa yang di maksud Catra kepadanya.
Perlahan Catra merogoh anting yang di saku celananya. Ia pasangkan kembali benda itu di telinganya sebelah kiri.
"Kamu ingat sekarang, bayangkan jika rambutku panjang!" titah Catra.
Dari arah belakang beberapa orang berjalan cepat mendekati ke arah mereka berdua. Catra yang sesama sekali tidak menyadarinya kedatangan sekelompok orang berbadan besar dan kekar itu karena posisi Catra yang membelakanginya. Tapi ridak bagi Lura. Matanya membola saat sari orang mengangkat pisau ke punggung Catra.
"CATRA AWAS!" Teriak Lura sebilah pisau mengarah pada tubuh Catra.
Srett...
.
__ADS_1
.
.