
"Ada apa, Lura?Apa yang terjadi padamu?" Ucap seorang pria yang tiba-tiba datang menghampirinya.
"Om Antoni," Ucap Lura sambil menatap pak Antoni yang berjalan ke arahnya. Kemudian Pura beralih pada wanita yang sudah membantunya. "Terima kasih, Kak. Atas bantuannya. Saya baik-baik saja, kok!" Lura meyakinkan wanita itu.
"Itu lecet loh, Mbak!" sahut wanita yang menolong sambil menunjuk luka di sikut Lura.
"Biar nanti saya bawa dia ke klinik terdekat," Pak Antoni menimpali.
Wanita itupun pergi dari hadapan mereka berdua.
Pak Antoni mengajak Lura masuk ke dalam mobilnya. "Sedang apa kamu di sini?" tanya Pak Antoni tanpa memandang lawan bicaranya. Sikap pria tua itu sekarang ini berubah baik. Tidak ketus seperti pertama kali bertemu.
"Habis menjenguk teman, Om!" balas Lura.
Sesekali Lura melirik ke arah Pak Antoni. Ia merasa ada yang berbeda dari wajah pria tua itu.
"Om, kenapa?" Tanya Lura tiba-tiba. Sebab, ia melihat pak Antoni seperti sedang memikirkan sesuatu. Bisa dilihat dari tingkahnya yang tengah memijat keningnya.
Pak Antoni menoleh sekilas ke arah Lura.
Mendapat respon seperti itu Lura merasa canggung dan tidak enak hati.
"Maaf, jika saya tidak sopan bertanya, Om!"
"Saya sedang memikirkan Putri, saya melihat wajahnya berseri dan terlihat bahagia saat pria yang kami kenalkan dan dekat dengannya beberapa bulan ini melamarnya."
"Farrel melamar Putri?"
Pak Antoni mengangguk pelan. "Tapi Putri kembali bersedih dan tidak bersemangat. Mama Mariana baru saja menelpon kalau Putri mengunci diri di kamar."
"Kenapa? Seharusnya dia bahagia? Putri menerima lamaran itu 'kan?" Tanya Lura penasaran.
"Belum, Putri belum menjawabnya."
"Kenapa?" Lura mengerutkan alis mendengarnya.
"Putri takut kalau umurnya tidak lama lagi! dia takut akan membuat Farrel kecewa nantinya." Pak Antoni terlihat sangat sedih.
"Apa tidak ada cara untuk menyembuhkan Putri, Om?"
"Putri harus mendapatkan pendonor sumsum tulang belakang. Selama ini kami sudah berusaha mencarinya tapi tidak ada yang cocok. Hanya saudara sedarah yang bisa mendonorkannya. Sedangkan Putri anak kami satu-satunya," keluh Pak Antoni.
Pak Antoni juga sedikit bercerita bagaimana ia memperjuangkan Putri agar tetap bertahan hingga saat ini. Banyak yang mereka lakukan. Lura dengan setia mendengarkannya.
__ADS_1
"Kami tidak tahu harus berbuat apa lagi! Kali ini kami hanya berharap keajaiban." Pak Antoni semakin terlihat sedih.
Lura terdiam mendengar penuturan Pak Antoni. Ada rasa iba melihat pria yang biasanya terlihat gagah, tegas dan berwibawa itu lemah seperti ini.
"Permisi, Tuan! Di depan ada klinik. Apa kita jadi berhenti di sana?" tanya Pak Supir mencela obrolan Lura dan Pak Antoni.
Lura mengerti maksud dari ucapan Pak Supir.
"Oh, tidak perlu, Om! Aku akan obati luka ini di rumah saja. Lebih baik kita pulang! Biar aku membantu membujuk Putri agar mau membuka pintu kamarnya."
"Kamu, yakin?" Tanya Pak Antoni menegaskan.
"Iya, Om. Aku baik-baik saja!"
Terbesit seulas senyum di wajah Pak Antoni. Entah mengapa melihat itu, Lura merasa senang.
"Terima kasih, Lura! Kamu sudah mendengar keluh kesahku," Ucap Pak Antoni terdengar tulus. Baru kali ini Lura mendengar Pak Antoni menyebut namanya.
"Saya yang harusnya berterima kasih, Om. sudah diijinkan tinggal di rumah kalian."
Keduanya saling melempar senyum. Lura mengalihkan perhatiannya saat Pak Antoni menerima telepon. Jelas terdengar suara Mam Mariana di sana. Wanita itu terus meminta agar Pak Antoni segera pulang.
'Alangkah bagaimana Putri bisa disayangi oleh kedua orang tuanya seperti ini. Mama apakah aku salah jika menginginkan jalan yang sama seperti itu.'
Batin Lura sedih. Orang yang dicari selama ini telah ia temukan. Tapi mengapa Lura harus merasakan sakit di hatinya. Kenapa Takdir begitu kejam padanya.
****
Sesampainya di rumah. Lura berusaha menutupi kesedihan dan kerapuhan jiwanya. Dua kabar yang begitu mengejutkan untuknya itu berhasil membuat Lura patah semangat dalam hidupnya.
Saat ini Lura berhasil membujuk Putri untuk membuka pintu. Pak Antoni dan Mama Mariana merasa sangat senang dan lega melihatnya. Mereka bersyukur akan kehadiran Lura selama ini. Putri jadi punya teman berbagi cerita.Keceriaan Lura pun seakan keluar pada Putri. Itulah yang membuat Pak Antoni baik kepadanya.
"Kenapa tidak langsung menerimanya? Bukankah ini yang kamu harapkan?" tanya Lura.
"Aku memang menginginkan ini, Ra."
"Lalu apa yang kamu tunda. Kenapa tidak langsung di terima?" Lura merasa gemas sambil mencubit pelan pipi Putri.
"Sakit, Ra!" Putri mengerucutkan bibir.
"Masa, perasaan nyubit nya pelan deh," sangkal Lura sambil terkekeh kecil. Kura berusaha mengembalikan keceriaan Putri agar tidak terlalu sedih menghadapi masalahnya.
"Put, dengar aku!" Lura meraih kedua baju Putri kemudian mengarahkan agar menghadap dirinya.
__ADS_1
"Jika kalian saling mencintai dan menerima satu sama lain, kenapa tidak jalani saja."
"Tapi aku takut membuatnya kecewa dengan sakitku! Kamu tahu umurku tidak akan lama lagi, Ra!
"Umur, jodoh dan kematian sudah ada dalam takdir hidup kita, Put. Dia tahu 'kan sakit yang kamu alami?"
Putri mengangguk pelan.
"Saranku, raihlah bahagiamu saat ini. Terima dia! Kita tidak tahu hidup kita akan seperti apa nantinya." Lura beralih meraih kedua tangan Putri seakan memberikan dukungan untuknya.
Putri langsung menarik Lura dalam pelukannya. "Aku beruntung ada kamu di sini, Ra! terima kasih, ya!"
"Kenapa berterima kasih padaku?" Tanya Lura disela pelukan mereka.
"Karena kamu, aku yakin akan menerima dia!"
"Nah, gitu dong. Semangat!" Lura mengangkat tangannya sambil mengepalkan jemarinya.
"Semangat!" balas Putri dengan gerakan yang sama.
Tawa canda kembali terdengar di kamar itu. Pak Antoni dan Mama Mariana tersenyum melihat interaksi kedua wanita yang jarak umurnya tak jauh berbeda itu.
"Beruntung ada Lura di sini, ya, Pah." Mama Mariana melingkarkan tangannya ke pinggang Pak Antoni.
"Ya, aku tidak menyangka anak itu tulus dekat dengan Putri. Aku sempat berpikiran buruk padanya. Mereka terlihat seperti saudara kalau seperti ini."
"Mereka memang saudara. Kita akan mengangkat Lura sebagai anak angkat kita, Pah!"
Pak Antoni menatap istrinya. "Kamu yakin?" tanyanya tegas.
"Yakin, Mas! Aku menyesal pernah mengucapkan satu kata dulu, saat anakmu dari wanita itu lahir. Aku sempat mengatakan kalau lahirnya bayi itu hanya akan kuperalat untuk kesembuhan putiku. Aku menyesal. Mungkin Tuhan memberi karna padaku, bayi itu telah dipanggil kembali oleh Sang Pencipta. Dari saat itu, perasaan menyesal selalu menghantuiku, Pah. Kalau dia masih hidup mungkin akan seperti mereka saat ini." Mama Mariana kembali menatap keceriaan Putri.
Lura berhasil membuat Putri kembali ceria. Ia sangat pandai menutupi luka pada hatinya. Lura senang bisa membuat Putri tertawa lepas seperti ini. Meski hatinya sedang terluka. Miris, Dia bisa memberikan nasehat bijak pada orang lain tapi kenyataan. Lura masih belum bisa menerima kenyataan yang ada. Ingin rasanya menuntut penjelasan tapi dirinya takut jika apa yang dipikirkan olehnya memang benar adanya.
Terbuang ke panti asuhan karena tak diharapkan kehadirannya. Dan ketika hatinya yakin pada Catra. Dia dihadapkan dengan mama kandungnya. Lura masih belum bisa memahami semua yang terjadi.
'Aku ingin pulang, Bu! Aku rindu panti asuhan. Hanya di sana aku merasa tak tersakiti seperti di sini!'
Batin Lura yang merindukan tempat tinggal semasa kecilnya.
.
.
__ADS_1
Terimakasih masih setia dengan cerita ini.
Jangan lupa, like dan komentar. Kasih hadiah setangkai bunga atau kopi buat Author biar semangat up nya....