Pemilik Kehormatanku

Pemilik Kehormatanku
Lima Puluh Juta


__ADS_3

Dukung karya ini dengan kasih 🌟🌟🌟🌟🌟 Ya.....


“Sebaiknya kamu pergi dulu beberapa hari dari kota ini! Sampai seseorang yang telah mau berkorban untuk menggantikanmu tertangkap polisi,” ucap pria berumur kepada Mamih Rosa.


Dia adalah salah satu pejabat negara yang selalu melindungi semua kegiatan dan bisnis Mamih Rosa.


Hubungannya yang begitu dekat dengan pria itu hingga Mamih Rosa selalu lolos dalam penangkapan bandar besar bahkan penggerebekan tempat prostitusi pun selalu lolos. Sebab Mamih Rosa selalu mendapatkan info kapan dan jam berapa penggerebekan akan di lakukan pada tempat- tempat yang dilarang oleh pemerintah itu.


Ternyata semua berkat bantuan pria tua yang bernama Adibaskoro itu.


“Berapa lama?” tanya Mamih Rosa.


“Aku akan mengabarimu, yang terpenting saat ini anak itu tertangkap dan benar-benar menjaga rahasia sampai ia mempertaruhkan nyawanya,” ucap Brigjen A. Pria yang dekat dengan Mamih Rosa.


“Anak itu pasti tutup mulut, aku sudah pastikan itu!” balas Mamih Rosa.


Banyak yang mereka berdua bicarakan. Ternyata usaha menjadi pengedar obat terlarang dan dunia malam adalah milik pejabat negara itu.


Tidak bisa dipungkiri hasil dari bisnis terlarangnya itu telah menghasilkan banyak pundi-pundi rupiah. Sehingga kekayaan yang dimiliki begitu banyak dengan berbagai aset.


“Sampai kapan aku hanya jadi cadangan saja? Padahal akulah yang pertama. Kamu bilang aku selalu membuatmu puas tapi kamu tidak pernah mau melepaskan istri yang hanya kamu jadikan pajangan itu!” Mamih Rosa mendekati Brigjen A kemudian duduk di atas pangkuannya.


Melingkarkan tangan di leher pria yang masih berseragam itu. Saat ini mereka berada di sebuah kamar mewah. Tempat yang biasa mereka datangi di saat bertemu.


“Tidak semudah itu, jika masa jabatanku sudah pensiun baru kita bahas ini!”


“Kamu ingat, Sayang. Aku adalah wanita di balik kesuksesanmu bukan istrimu. Istri yang tidak berguna, heh!” decak Mamih Rosa.


“Jangan seperti itu, meski bagaimanapun dia ibu dari anakku!”


“Ya terus bela dia, karena aku tidak bisa memberimu keturunan!”


Mamih Rosa merajuk, ia melempar pandangan dan melipat tangan di depan dada tapi Brigjen A dengan cepat menariknya membuat posisinya semakin tak berjarak.


“Meskipun kamu tidak bisa memberiku keturunan tapi kamu adalah wanita yang selalu ada buat aku. Kalau bukan karena dirimu tidak mungkin aku bisa masuk sekolah polisi dulu. Meskipun pernikahan kita dari dulu sampai sekarang tidak pernah diakui negara. Tapi kamu adalah istri pertamaku! Wanita yang paling mengerti aku. Dan sampai kapanpun aku akan selalu melindungi kamu dan semua bisnis yang kamu jalani saat ini.” Tangan Brigjen Am mulai beraksi menjelajah tubuh Mamih Rosa yang menggoda.


****


“Hati-hati hubungi aku kalau ada apa-apa!” ucap Brigjen A kepada Mamih Rosa yang akan langsung meluncur ke luar negeri untuk menghindari kasus yang saat ini sedang dalam penyelidikan.


Usai permainan panas yang menggelora itu. Mamih Rosa segera bersiap pergi dari negara ini. Demi menghindari penyelidikan yang mungkin saja bisa mengarah kepadanya.


“Aku pasti merindukanmu! Aku akan kembali dua minggu lagi, heh... Sayang sekali acara pelelangan barang baru milikku jadi tertunda,” keluh Mamih Rosa.


Brigjen A mengerutkan alis. “Pelelangan?” tanya Brigjen A tak mengerti.


“Pelelangan keperawanan”


“Oh ... Tenang saja, aku akan suruh orang untuk mengawasinya! Agar gadis itu tidak kabur,” Jelasnya.


“Terima kasih, Sayang!” Mamih Rosa lekas mencium bibir Brigjen A untuk perpisahan mereka.

__ADS_1


Di rumah bordil


Kelegaan luar biasa dirasakan oleh Lura ketika mendengar Mamih Rosa pergi selama beberapa hari. Jadi ia tidak harus mempersiapkan diri untuk mempertaruhkan kehormatannya.


Selama kepergian Mamih Rosa, Lura memilih bekerja di Butterfly club’ sebagai waitress menggantikan pekerja yang cuti karena. Pulang kampung.


Selama bekerja di sana pula, Lura banyak belajar bagaimana para kupu-kupu bekerja dalam melayani para pelanggan mereka.


Seperti malam ini. Lura menggelengkan kepalanya ketika melihat Mely teman satu kamarnya sedang berada di atas pangkuan seorang pria.


Tangan pria itu menyelinap masuk ke dalam pakaian atasnya sambil sesekali menciumi bagian depan tubuh wanita itu.


Lura bergidik ngeri melihatnya. Pekerjaan seperti itukah yang harus ia kerjakan nanti. Merelakan tubuhnya di sentuh oleh para pria hidung belang. Ia pun lekas berjalan cepat masuk ke dalam pantry.


Napasnya naik turun seiriang rasa ketakutan yang ia alami.


“Aku harus pergi dari tempat ini secepatnya sebelum Mamih Rosa pulang!” gumam Lura seraya bersandar di dinding dengan memegangi dadanya.


Ia mengedarkan pandangan berpikir akan pergi dari tempat itu malam ini.


Lura membuka celemek yang ia pakai. Berjalan melewati dapur kecil di club itu.


Ia tidak tahu jika keberadaannya dimana pun terawasi oleh ara bodyguard Mamih Rosa.


Merasa beruntung tidak ada orang yang melihatnya Lura berlari ke arah pintu belakang.


Beberapa hari ini Lura memperhatikan sekeliling tempat itu. Mencari tahu di mana pintu utama dan pintu keluar rumah bordil yang menjadi tempat tinggal para kupu-kupu.


Grepp


“Aww ...,” jerit Lura saat tangan kasar dan kekar salah satu penjaga mencengkeram pergelangan tangannya.


“Mau kemana, lu?” tanyanya yang kemudian menyeret Lura dan akan membawanya ke dalam sebuah ruangan penyekapan.


Sesuai perintah Mamih Rosa jika ada para kupu-kupu yang mencoba untuk kabur. Mereka akan di masukkan ke dalam ruang penyekapan.


“Ampun, Saya hanya mau ke---,”


“Lu mau coba kabur ‘kan?”


Lura tidak bisa mengelak lagi. Tubuhnya terus di seret menuju ujung ruangan.


“Tunggu!”


Mely berjalan mendekati keduanya. Sehingga bodyguard itu menghentikan langkahnya tapi tak melepaskan tangannya yang mencengkeram kuat lengan Lura.


“Lu jangan coba membela dia!” tuduh bodyguard itu.


“Lepasin tangannya! Tadingue yang nyuruh dia ke pintu belakang buat ambil pesenan gue! Tukang paket nelponin gue terus! Mana gue lagi layanin pelanggan, dan lu malah bawa dia pergi, ganggu aja!” celetuk Mely lalu mengibaskan tangan pria berbadan kekar dengan otot yang menonjol itu dari tangan Lura. “Ini buktinya! Gue nyuruh dia ambil barang yang gue beli lewat gojek, gue kehabisan pengaman!” Mely menunjukan beberapa buah pengaman berbagai rasa kepada pria itu.


“Ayo, pergi!” ajak Mely seraya menarik Lura yang diam mematung.

__ADS_1


Bodyguard itu pun tak bisa berkilah lagi setelah mendapatkan bukti dari Mely.


“Lu, Mel... Awas jangan coba-coba bantuin tuh bocah buat kabur dari sini. Gue sama yang lain mendapat perintah dari Mamih untuk mengawasinya. Jangan harap bisa pergi dari sini sebelum hari pelelangan itu tiba atau dia mau menukarnya dengan nyawanya sendiri!” ucap pria berperawakan otot besar itu.


“Berisik! Iya gue tahu!” Mely menarik dan mengajak Lura pergi menjauh dari pria tersebut.


“Gue bilang jangan pernah nyoba buat kabur dari sini! Ngeyel banget sih, lu!” omel Mely. “Lu tuh pasti diawasi banget sama Mamih Rosa!” Mely melepaskan tangannya kemudian bersidekap tangan di dada sambil menatap Lura tajam.


“sorry, Mel! Gur ngeri ngeliat ku tadi di dalam sama---,”


“Itu pelanggan kakap gue. Dia booking gue malam ini. Untung gue balik dulu ke kamar ngambil ini.” Mely mengangkat tangan dan memperlihatkan benda yang di pegangnya kepada Lura. “kalau tidak lu udah masuk kamar penyekapan!”


“Gue gak mau ngejalanin kerjaan seperti yang lu lakuin Mel!” Lura mengungkapkan kegelisahan dan ketakutannya n


Mely membuang napas berat. “Susah memang kalau tidak ada tuntutan hidup. Gue juga mungkin gak mau ngelakuin itu. Kalau saja nyokap gue gak sakit-sakitan dan butuh biaya pengobatan gue juga males ngerjain ini,” ucap Mely seraya bersandar pada dinding.


“Bantu gue, Mel! Besok malam gue harus mempersiapkan diri untuk pelelangan itu. Gue gak mau! Gue mohon!” Lura menangkupkan tangan di depan dada dengan wajah mengiba sambil menunjukkan air mata kesedihannya.


Mely terlihat sedang berpikir. Ia mencari cara bagaimana Lura bisa mempertahankan kehormatannya.


****


“Lima puluh juta!” ucap seorang pria yang mengacungkan tangannya saat waktu pelelangan habis. Dan dia menjadi pria yang berhak atas Lura. Gadis manis dengan sejuta pesona yang terlihat seksi hanya dengan balutan dress merah tipis yang sangat menerawang tubuhnya.


Tubuh tanpa penutup dia gundukan. Sehelai kain segitiga tipis tembus dari balutan kain tipis itu. Membuat para lelaki hidung belang semakin mendamba ketika mereka bisa mendobrak masuk menerobos sesuatu yang masih rapat. Pasti akan sangat legit menggigit terasa.


Lura menumpahkan air mata saat pelelangan berakhir.


Harapannya satu malam ini. Ada keajaiban yang terjadi padanya.


Bersambung


Hai readers... happy weekend buat kalian semua.


lagi pada liburan jangan lupa baca ke sini ya, tinggalkan jejak


like


komentar


gift+hadiah


untuk karya ini.


Mampir juga di cerita author yang lain ya


"FAKE LOVE"


"SATU CINTA DIA KEYAKINAN"


di tunggu kehadiran kalain di sana.

__ADS_1


Salam hangat buat kalian semua.


__ADS_2