
Bangunan yang terpisah dengan Club' malam itu letaknya saling berdekatan. Bangunan pribadi yang di tempati Mamih Rosa pun tak jauh dari sana. Bisa di bilang seperti paviliun. Hanya ada ruang tamu, dapur dan satu kamar tempat yang ia tempati.
Para Kupu-kupu di wajibkan menyetor pendapatannya ika mereka di bawa keluar dari Rumah Bordil oleh para pelanggan. Sebelumnya Para pelanggan di haruskan membayar uang muka kepada Mamih Rosa untuk membooking dan sisanya akan di berikan kepada para kupu-kupu. Jika mendapat tips lebih itu adalah keuntungan untuk para Kupu-kupu malam.
Mely kembali melanjutkan langkahnya, kembali memasuki kamar Lura. Di lihatnya tubuh Lura yang tengah berbaring miring di atas tempat tidur.
Mely meletakkan makanan di atas meja sehingga menimbulkan suara, meskipun pelan tapi mampu membuat Lura terjaga dari tidurnya.
“Maaf, ngebangunin lu! Kalau masih sakit, tidur lagi aja! Sorry gue cuman buat nasi goreng biasa, Bik Wati belum datang. Jadi belum ada makanan di dapur!” Ujarnya pada Lura.
Lura pun bangun dari tidurnya duduk di sisi tempat tidur. “Makasih udah bantuin gue! Maaf udah ngerepotin lu!” ucap Lura pelan.
Mira ikut duduk di samping Lura. Mencoba berbicara dari hati ke hati kepada gadis itu. Ingin bertanya perihal keberadaan di sini.
“Nama lu, Lura?” tanya Mely
Lura mengangguk pelan.
“Gue enggak tau apa yang membuat lu bisa ada di sini? Cuma gue mau ngingetin, lu enggak akan bisa keluar dari sini kalau belum memberikan keuntungan buat Mamih Rosa. Menurut gue, lu terima aja kehidupan lu sekarang ini. Yang penting lu bisa lanjutin hidup daripada kesiksa terus sama dia. Dia gak akan baik kalau kita gak bisa ambil hati dia!” ucap Mely memberi penjelasan kepada Lura.
“Bukan keinginan gue ada di sini!” jawab Lura.
“Kenapa? Banyak para wanita yang mencari Mamih Rosa cuman buat minta kerjaan sama dia. Memang kita harus menjual diri dulu. Tapi bayaran yang di dapat sebanding dengan apa yang kita lakukan. Daripada lu kerja jadi butuh pabrik, pergi pagi pulang malem cuman dapet gaji sedikit. Di sini lu bisa dapet uang satu bulan lu kerja jadi buruh hanya satu malam doang. Bahkan bisa lebih asal lu pinter manfaatin keadaan,” lanjut Mely
“Dengan mempertaruhkan kehormatan kita sebagai perempuan?” balas Lura seraya mendelik ke arah Mely.
“Terus lu mau mempertaruhkan apa di kota ini. Pendidikan apa yang lu punya? Percuma lu ngomongin kehormatan di sini. Dengan lu mempertahankan kehormatan lu, semakin di siksa lu sini, kecuali lu bisa mengembalikan uang Mamih dua sampai tiga kali lipat dari yang sudah ia keluarkan bahkan bisa lebih dari itu!” ucap Mely dan mendapat tatapan sendu dari Lura.
“Terus gue harus gimana?” sambung Lura.
“Emang masalah apa yang buat lu ada di sini?” tanya Mely lagi.
Lura mengembuskan napas berat. “Gue di jadikan penebus hutang sama pacar gue! Dia lebih memilih mengorbankan gue daripada nama baik orang tuanya hancur akibat kelakuan dia sebagai pecandu narkoba. Dan Mamih Rosa adalah bandar narkoba tempat dia ngambil barang haram itu. Gue nggak nyangka makan malam romantis yang dia berikan malah membuat gue berakhir di sini!” Lura berkata sedih. Matanya menatap lurus dengan tatapan kosong.
“Tega banget tuh cowok, enggak gentle banget, kenapa lu enggak berontak?” geram Mely.
__ADS_1
“Gue gak bisa apa-apa. Saat gue sadar udah ada di sini! Gue juga tahu itu semua dari penuturan Mamih Rosa!” Lura menceritakan semua kepada Mely.
“Orang tua lu enggak nyari?” Mira makin penasaran dengan cerita Lura.
“Gue berasal dari panti asuhan. Orang tua ngebuang gue ke sana. Gue gak kenal siapa mereka!” Lura berucap miris.
“Kok ada orang tua yang tega sama anaknya? Oopss... Sorry!” Mely menutup mulutnya dengan tangannya sendiri.
Lura mengangkat bahu pelan. “Buktinya orang tua gue, tega!” jawab Lura. Ia sudah mulai merasa tenang dan saat bercerita kepada Mely.
Semakin lama obrolan makin terasa nyaman oleh mereka berdua. Berasal dari kampung dengan status sosial yang sama. Lura melanjutkan kisahnya. Kisah yang pilu dan menyayat hati
“Sorry ya, gue enggak nyangka hidup lu serumit itu!” pikir Mely.
“Tak apa, gue hanya merasa kecewa dan sakit hati aja. Orang yang selama ini gue percaya. Menjanjikan kebahagiaan masa depan sama gue, tega berbuat seperti ini. Meski gue akui selama pacaran sama dia, sikapnya baik sama gue, kita tak pernah melewati batas selama berpacaran!” tutur Lura.
“Lu masih Virgin?” tanya Mira penuh selidik.
Lura mengangguk.
“Maksud lu, apa?”
“Lu gak tahu kalau lu jadi barang lelangan sama Mamih?”
Lura menggelengkan kepala lemah.
“Mamih jual tubuh lu! Siapa yang berani bayar tinggi, dia bisa dapetin lu!”
Bola mata lura membulat mendengarnya. “ Terus gue harus gimana buat mempertahankan kehormatan gue?” Lura meremas pakaiannya dengan perasaan takut.
“Hoaam!” Mely menguap rasanya sudah tidak kuat menagkan kantuk.
“Ngantuk banget gue. Sekarang lu makan tuh nasi goreng, terus minum obat pereda nyeri yang gue bawa! Biar cepet sembuh tuh memar.” Mira menunjuk dengan dagunya.
“Sekarang lu Istirahat aja dulu, Nanti kita pikirin jalan terbaiknya. Jangan berpikir untuk kabur saat kondisi lu baru membaik! Bisa habis nanti sama si Mamih. Gue mau tidur dulu, Gak kuat ngantuk banget!" ujar Mely dan mendapat anggukan dari Lura.
__ADS_1
“Tapi lu bisa bantu gue, Mel?” tanya Lura.
“Gue gak bisa mikir kalau lagi ngantuk nanti aja kita bahas ini lagi. Lama-lama juga lu biasa sama situasinya. Masalah kehormatan yang mau lu pertahankan, kita bahas nanti. Lu sembuh aja dulu. Ok!” ucap Mely seraya berdiri hendak balik ke Kamarnya.
“Terima kasih banyak, Mel! Sudah mau bantuin gue!”
“Santai aja, gue cuman mau ngingetin aja, hidup di kota itu keras, jadi lu harus punya benteng kokoh biar nggak jadi orang lemah di Kota besar ini!” Mely meraih handle pintu lalu membukanya, menatap ke arah Lura sesaat kemudian keluar dari kamar itu.
Lura tersenyum getir. Satu sudut bibirnya membentuk senyum tipis saat teringat akan perkataan supir tempo hari saat pertama kali ia tiba di Jakarta. Ternyata benar Kota ini lebih kejam daripada ibu tiri. Lura mulai menata hati dan berpasrah untuk menata hidupnya kembali.
Benar kata Mely, hidup harus terus berlanjut. Kita tidak akan pernah tahu kehidupan ke depan nantinya. Tuhan sudah menggariskan takdir pada setiap manusia.
Jika memang kehidupannya berakhir di tempat ini. Ia hanya berharap akan ada keajaiban datang kepadanya yang bisa membebaskan dirinya dari belenggu kehidupan malam yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Bersambung
Terima Kasih untuk yang masih setia membaca karya ku ini maaf beberapa hari ini otor belang bentong up nya.
Real life benar-benar menyita waktu ku.
Yuk ah... gas keun...
like
komentar
dan bunga setamannya.
Sambil nunggu up kalian bisa mampir ke karya otor yang lain.
FAKE LOVE
SATU CINTA DUA KEYAKINAN
ceritanya tak kalah seru.
__ADS_1