
Desa Shuiyang adalah desa yang lebih maju daripada desa Dozhu sebab sepertinya Shuiyang menjadi pusat perekonomian di pulau Jidong. Berbeda dengan Dozhu yang dipadati rumah penduduk, bangunan-bangunan di Shuiyang lebih didominasi oleh penginapan, rumah makan, toko oleh-oleh dan tempat-tempat hiburan.
Zhou Fu memilih untuk tidak terburu-buru agar ia bisa sedikit lebih menikmati perjalanan pertamanya di luar pulau terpencil. Segala hal yang ia lihat merupakan sesuatu yang baru dan ia merasa perlu untuk mengenalkan dirinya dengan hal-hal baru yang ditemuinya tersebut. Lagipula, kapal baru akan berangkat malam nanti, sementara hari itu masih baru beranjak senja. Tentu Zhou Fu masih memiliki beberapa jam sebelum kapal berangkat berlayar.
Di lain sisi, Shen Shen sedang dimasukkan ke dalam sebuah tempat hiburan oleh tiga pria yang menculiknya. Satu pria membawa Shen Shen masuk sementara dua lainnya seperti berjaga-jaga di luar bangunan. Si pemilik tempat hiburan tampak begitu riang karena kedapatan tamu asing yang membawa satu perempuan cantik, yang dari gerak-geriknya sepertinya perempuan tersebut masih cukup segar dan belum berpengalaman.
“Oh, Tuan… Selamat datang di gubuk kecil ini… Silakan duduk dan beristirahat sebentar,” si pemilik tempat hiburan yang merupakan perempuan paruh baya bertubuh gemuk itu mempersilakan tamunya untuk duduk. Perempuan itu pun memberi isyarat pada pelayannya untuk membawakan mereka jamu-jamuan berupa arak dan kudapan.
“Aku tak memiliki banyak waktu…”
“Oh… Baiklah, silakan tuan buka harga terlebih dahulu, oh betapa manisnya nona muda ini,” si pemilik tempat hiburan itu memotong pembicaraan tamunya. Pikirnya, tamunya tersebut sepertinya ingin segera menjual gadis tangkapannya ke penampungan wanita penghibur di tempatnya tersebut. Perdagangan manusia memang menjadi hal yang sangat lumrah di Shuiyang.
“Siapa yang ingin menjual gadis ini, bodoh! Aku ingin kau meriasnya, mengganti pakaiannya dan sekaligus mengubah wajahnya! Lakukan apapun yang bisa membuat nona ini menjadi berbeda dari aslinya!” pinta pria itu sembari menyodorkan pundak Shen Shen pada perempuan yang biasa disebut dengan germ* itu.
“Oh, maafkan kelancangan saya, Tuan. Baiklah tuan, saya akan berusaha membuat nona ini menjadi semakin menawan dan berbeda!” jawab si pemilik tempat hiburan sembari buru-buru menarik lengan Shen Shen yang tubuhnya mematung. Penjaga tempat hiburan tersebut sepertinya mulai gemetaran karena tamu prianya menyuguhkan tatapan mengancam yang mengerikan.
Shen Shen sendiri tetap diam tak berbicara sepatah kata pun. Meski bibirnya mengatup rapat, hatinya merapal banyak sekali harapan dan juga doa, ia berharap akan bertemu penolong yang lebih pengertian ketimbang Zhou Fu.
***
Zhou Fu sudah puas berkeliling ketika ia memutuskan untuk ke pelabuhan dan mengejar Shen Shen yang pastinya sudah berada di dalam kapal. Suasana di pelabuhan sangat ramai, perahu-perahu kecil dipenuhi dengan calon-calon penumpang yang akan diantarkan ke kapal besar yang akan melakukan pelayaran.
Tampak juga oleh Zhou Fu sebuah jembatan kayu besar yang sedang rusak di beberapa bagian. Mungkin hal tersebut yang menyebabkan para calon penumpang harus diangkut menggunakan perahu-perahu kecil untuk bisa menaiki kapal.
__ADS_1
Itu adalah untuk pertama kalinya Zhou Fu melihat penampakan sebuah perahu raksasa, yang mana dalam satu perahu bisa menampung ratusan manusia di dalamnya. Zhou Fu ingin menunjukkan ekspresi kekaguman tetapi ia urungkan sebab itu akan membuat orang-orang menganggapnya aneh.
“Tuan Muda, apakah Tuan muda sudah memiliki tiket masuk?” tanya seseorang yang menjemput calon penumpang di pesisir laut.
Zhou Fu mengangguk dan menyerahkan selembar kertas kusam yang telah mendapat cap atau stempel dari petugas sebelumnya. Zhou Fu pun diperkenankan menaiki perahu kecil bersama dengan beberapa calon penumpang lain. Mata Zhou Fu menyisir ke seluruh manusia yang berlalu-lalang di tempat tersebut. Sejauh matanya memandang, ia tak menemukan keberadaan tiga pendekar yang membawa kabur Shen Shen.
“Ah, pasti mereka sudah berada di dalam kapal,” Zhou Fu membatin tenang.
Suasana di dalam kapal tak jauh berbeda dengan ketika ia masih di pelabuhan. Kapal yang Zhou Fu naiki ternyata lebih padat daripada yang ia duga. Orang-orang saling berdesakan di dalam dek kapal sebab sudah kehabisan tiket untuk memesan kamar-kamar yang ada di bagian dalam kapal. Zhou Fu sendiri termasuk dari orang-orang yang kehabisan stok kamar sehingga ia juga harus rela berdesakan dengan penumpang lain.
“Apakah suasana kapal di pelabuhan Shuiyang selalu ramai seperti ini, Paman?” Zhou Fu mencoba beramah tamah kepada seorang paman yang sama-sama berdiri di sebelahnya.
Paman tersebut mengurut janggutnya sembari menggeleng-gelengkan kepala, “kurasa, baru kali ini paman mendapati kapal di Shuiyang seramai ini. Sepertinya memang ada keadaan yang tak terduga.”
“Ya, keadaan tak terduga. Aku sendiri tak begitu mengerti. Yang jelas ini bukanlah hal biasa. Menampung penumpang sebanyak ini dalam pelayaran panjang kurasa juga tak begitu bijak. Ah, kau bisa bertanya pada petugas kapal jika ingin mengetahui lebih lanjut,” pria tersebut memberi tahu Zhou Fu ke mana Zhou Fu harus pergi jika ingin mengetahui informasi yang lebih jelas.
“Baik, terima kasih paman!” Zhou Fu bergegas melangkah. Ia memecah kepadatan penumpang dengan langkah terburu-buru. Pikirannya mulai menerka-nerka tentang kejadian tak terduga seperti apa yang mengakibatkan kapal memuat penumpang berlebih. Sekaligus, ia juga penasaran mengapa ia tak bisa merasakan hawa tiga pendekar yang membawa kabur Shen Shen.
Maka, sampailah Zhou Fu kepada salah seorang petugas kapal. Tanpa basa-basi, Zhou Fu menanyakan pada petugas tersebut terkait padatnya penumpang kapal di hari itu.
“Oh soal itu, ya, biasanya kapal ini memang hanya menampung separuh dari penumpang saat ini. Hal tersebut dikarenakan satu kapal lainnya tidak bisa membawa penumpang yang seharusnya berada di kapal tersebut,” jawab petugas kapal memberi pengertian.
“KAPAL SATUNYA??? Maksudnya ada lebih dari satu kapal di pelabuhan Shuiyang?” Zhou Fu tercekat dan menelan ludah berulang kali. Itu merupakan detail informasi yang ada di luar prediksinya.
__ADS_1
“Ya, benar Tuan Muda. Ada dua kapal di pelabuhan ini yang seharusnya bersama-sama berlayar di malam ini. Sayangnya, satu kapal kami terpaksa tidak bisa membawa para calon penumpang karena ada beberapa orang yang membayar penuh biaya satu kapal untuk mereka ajak berlayar ke suatu tempat.”
“Tiga orang pria dengan satu perempuan maksudmu?” Zhou Fu bertanya untuk memastikan kecurigaan di kepalanya.
“Bukan…”
“LALU???”
“Lima orang pria asing dan satu perempuan, rombongan itulah yang sudah menyewa salah satu kapal kami sehingga para penumpang yang seharusnya berada di kapal tersebut terpaksa ditempatkan di sini.”
“Apakah kapal ini juga akan menuju ke tempat yang sama dengan rombongan 5 pria dan satu perempuan itu?”
“Seingatku tidak, Tuan Muda. Rombongan itu menyebutkan sebuah tempat yang sepertinya belum pernah kudengar sebelumnya.”
“Sejak kapan mereka berangkat?”
“Satu jam sebelum kapal ini, Tuan Muda.”
“Sialan!!!” Zhou Fu mengepalkan tangan dan memukulkannya ke telapak tangannya yang lain. Ia akhirnya menyadari jika perhitungannya sedikit meleset.
\=\=\=\=\=
Selamat libur panjang ya...
__ADS_1