Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
CH. 43 – Tawaran Militer Shamo


__ADS_3

Zhou Fu sudah memasuki wilayah pemukiman yang terbakar. Api melahap apa saja yang terjangkau olehnya. Rumah, binatang peliharaan, dan manusia seolah sedang beralih fungsi menjadi kayu bakar. Semuanya dilahap api tanpa permisi. Suasana di sana cukup buruk untuk digambarkan, terutama tentang anak-anak yang menjerit memohon pertolongan. Zhou Fu berusaha menulikan telinga karena jeritan anak-anak yang sedang meregang nyawa memang sangat menyayat hati dan telinga.


Asap dari api yang membakar jasad-jasad warga di pemukiman itu terbawa angin, membuat seluruh bagian pulau Yimin seolah mengeluarkan aroma daging bakar. Kepulan asap yang tebal sepertinya menjadi penyebab utama warga Yimin gagal melarikan diri. Bagaimanapun, manusia biasa akan mengalami sesak napas yang hebat sekaligus perih di mata mana kala asap tebal memenuhi hidung dan tenggorokan mereka.


Zhou Fu menarik napas dalam untuk bersiap-siap meneriakkan sesuatu,


“Semua yang masih bernyawa, dengarkan aku baik-baik! Jangan berdiri apalagi berlari! Merangkak sekuat mungkin untuk menjauh dari kobaran api! Semuanya, bergeraklah ke arah selatan!” Zhou Fu berteriak dari dalam kobaran api yang melahap pemukiman padat penduduk itu.


Dalam banyak kasus kebakaran, perenggut nyawa yang paling cepat bukanlah api melainkan asap. Asap selalu berada di atas dan bergerak ke arah yang lebih tinggi sehingga salah satu cara terbaik untuk bertahan hidup dalam suasana kebakaran adalah berusaha sebisa mungkin untuk berada di tempat yang rendah misalnya tanah. Tempat di mana jumlah kepulan asap lebih sedikit ketimbang tempat-tempat yang lebih tinggi.


Mula-mula, tak ada orang yang menggubris perkataan Zhou Fu, sebab semua orang memang dalam kepanikan. Tetapi setelah Zhou Fu mengeluarkan jurus-jurus yang berhasil menjinakkan beberapa bagian api yang berkobar, warga mulai merespon perintah Zhou Fu.


“Yang masih kuat usahakan menyelematkan siapa saja yang bisa ditolong!” Teriak Zhou Fu sembari terus mengeluarkan jurus-jurus yang berguna untuk menjinakkan kobaran api. Tak lupa, Zhou Fu juga memancarkan aura dingin dari tubuhnya untuk menurunkan suhu di area pemukiman yang terbakar.


Tak lama setelah Zhou Fu meneriakkan kalimatnya, sesuatu bergerak-gerak mendekat ke arah kaki Zhou Fu. Sesuatu yang sedang mendekat itu ternyata adalah seorang anak perempuan yang kaki-kakinya tak lagi berfungsi akibat tertimpa balok kayu yang terbakar. Ia bersusah payah ingin mendekati Zhou Fu, tetapi sepertinya bukan untuk memohon diberi pertolongan.


“Diam di sana! Aku yang mendekat!” Zhou Fu menunjuk gadis kecil yang sedang bersusah payah mendekat ke arahnya tersebut. Anak perempuan itu pun menghentikan gerakan tubuhnya yang memang lambat.


“Katakan apa yang ingin kau katakan…” Zhou Fu merengkuh anak perempuan tersebut dengan kedua tangannya. Denyut nadi anak perempuan itu menunjukkan jika ia hanya akan bertahan tak lebih lama dari sepuluh menit sejak saat itu. Pertolongan tenaga dalam tak mungkin bisa menyelamatkan nyawa gadis itu. Tetapi Zhou Fu tetap mengalirkan tenaga dalamnya ke tubuh anak perempuan itu dengan harapan ia bisa memperpanjang usia anak itu barang semenit atau dua menit saja.


“Tuan muda, pergilah ke pusat kota! Di sana, pasukan militer Shamo sepertinya sedang melakukan pembantaian besar-besaran. Tolong selamatkanlah yang masih bisa diselamatkan!” tangan gadis itu berusaha meraih pundak Zhou Fu, sepertinya ia ingin mencengkeram pundak Zhou Fu demi sebuah rasa sakit yang tertahan.

__ADS_1


“Ayahmu dibawa ke pusat kota?” Zhou Fu menebak sembari menangkap tangan si anak perempuan dan menggenggamnya dengan lembut.


Anak perempuan itu menitikkan air mata, ia mengangguk-angguk beberapa kali dan mencoba untuk melanjutkan berbicara.


“Orang Shamo, mereka semua licik dan keji! Mereka datang kemari dengan membawa tuduhan yang tak terbukti. Mereka membawa paksa para tetua pemukiman untuk ditukar dengan keselamatan warganya. Kami kira, mereka berkata jujur…” anak perempuan itu menghentikan ucapannya, sepertinya waktunya sudah semakin dekat.


“Setelah mereka membawa para tetua ke pusat kota, mereka juga membakar pemukiman warga, begitu?” Zhou Fu menebak dan dibalas dengan anggukan oleh anak perempuan tersebut. Ia mengangguk dengan mata terpejam, dan mata itu tak lagi terbuka kembali. Denyut nadinya pun sudah hilang tak terasa. Degup jantungnya tak menunjukkan pergerakan.


Zhou Fu meletakkan pelan-pelan jasad gadis itu ke tanah. Ia menundukkan kepala sebentar untuk menunjukkan bela sungkawanya. Tak disangka, beberapa orang yang kebetulan melihat percakapan Zhou Fu dan putri tetua itu, mereka turut membungkuk memberi salam bela sungkawa.


“Kalian semua, selagi api masih jinak, selamatkanlah sebanyak mungkin yang kalian bisa. Sedikit pengorbanan kalian hari ini akan berdampak besar esok hari. Jangan menyerah, menyerahlah hanya ketika kalian sudah tak bernyawa lagi!” Zhou Fu meneriakkan kalimatnya dengan lantang dan disambut dengan seruan setuju oleh warga-warga yang masih bernyawa.


Mereka seperti mendapat suntikan semangat baru. Jika sebelumnya mereka hanya merintih kesakitan dan berharap mendapat pertolongan, kini mereka justru memiliki kekuatan untuk melawan keadaan. Bulu kuduk Zhou Fu mengembang beberapa saat sebab merasakan hawa semangat yang dikirimkan oleh warga-warga baik hati yang ada di sana. Ia pun tersenyum sebelum akhirnya meninggalkan lokasi tersebut untuk menuju ke pusat kota dan mencegah pembantaian besar jika memang masih bisa dicegah.


Sepanjang perjalanan menuju ke pusat kota, Zhou Fu menyempatkan dirinya untuk terlibat menyelamatkan korban-korban kebakaran yang tersebar di hampir seluruh wilayah pulau Yimin. Tak heran, matahari sudah bersinar dengan terang ketika Zhou Fu tiba di lokasi yang disebut sebagai pusat kota itu. Tetapi, sinar terang dari matahari hanya sebatas perkiraan Zhou Fu saja sebab beberapa saat sebelumnya ia sudah melihat matahari terbit dari arah timur, lalu matahari itu merangkak naik dan akhirnya hilang dari pandangan. Lenyap terhalang oleh asap tebal yang masih mengepul di atas pulau Yimin.


Berbeda dengan lokasi-lokasi lain yang hangus dilahap api, pusat kota nyatanya masih utuh. Hanya saja, keadaan di sana sunyi senyap. Ruas-ruas jalan tampak sepi seperti kota mati. Laju langkah Zhou Fu terdengar begitu nyaring di telinganya sendiri sebab hanya pergerakan tubuhnya saja yang memang memunculkan suara, selebihnya hanya sepi dan hening.


“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrgghhh!!!”


Suara jeritan yang cukup memekakkan telinga datang dari arah barat. Zhou Fu melesat menuju ke barat dan mengikuti ke mana suara jeritan itu berasal. Dan, sampailah dia pada sebuah lapangan luas dengan rumput setinggi tumit. Di medan lapang itu, nampak di bagian tengah-tengahnya ada seorang pria bertubuh kekar sedang berdiri dengan satu tangan menopang pedang besar yang seperti ditancapkan ke tanah.

__ADS_1


Pedang itu mengalirkan darah ke rerumputan, membuat rumput-rumput di tanah berubah warna dari hijau menjadi merah. Tak jauh dari pedang itu ditancapkan, ada sebentuk potongan kepala dengan mata melotot yang tergeletak di tanah. Tubuh dari potongan kepala itu ternyata berada cukup dekat dengan si pria kekar.


Zhou Fu sedang melihat penyembelihan manusia secara massal. Sebab nyatanya, potongan kepala yang terjatuh ke rerumputan bukan hanya satu atau dua. Seorang pria kecil terlihat berlari-lari kecil menuju ke tengah lapangan untuk menenteng kepala tak berbadan dan melemparkannya ke sisi kanan, yang ternyata sudah terisi sekitar lima belasan potongan kepala dan badan. Tak jauh dari tempat itu juga, terdapat sekitar seratusan pria yang didudukkan dengan masing-masing tangan yang terikat ke belakang.


“Katakan sekali lagi, apakah benar petinggi Bingdao yang menghabisi dua belas pasukan Shamo di laut Selatan?” seseorang berkulit hitam berjenggot panjang sedang berjalan mondar-mandir di depan seratus pria yang tangannya diikat.


“Meskipun tuan bertanya seribu kali, kami juga akan menjawab ‘tidak tahu’ sebanyak seribu kali! Kalian hanya membuang-buang waktu kalian saja sebenarnya!” salah seorang pria menjawab dengan suara lantang, membuat si pria berjenggot merasa geram akan ocehannya.


“Pengawal, potong dua kaki pria ini, lalu potong dua tangannya juga. Mari kita lihat, apakah dia masih bisa berbicara lantang setelah dua kaki dan tangannya lenyap!” si pria berjenggot itu menarik lengan tahanannya untuk membuat pria itu berdiri. Pengawal pun datang untuk menyeret pria itu menuju ke titik pengadilan.


“Sebenarnya, aku memiliki penawaran yang menarik. Akan kusampaikan selagi kita menikmati pertunjukan pemotongan dua kaki dan tangan si kurang ajar ini!” oceh si pria berjenggot dengan satu kaki menendang pria tahanan yang sedang diseret oleh pengawal.


“Nyawa kalian semua akan kuampuni, dengan satu syarat, katakan di mana pintu masuk yang aman untuk tiba di Bingdao tanpa ketahuan oleh pasukan Bingdao!”


Mendengar pertanyaan si pri berjenggot, semua tahanan menunduk seketika. Mereka bisa saja menjawab pertanyaan tersebut, tetapi itu merupakan sebuah bentuk pengkhianatan besar. Ya, mereka semua adalah imigran dari negeri Bingdao yang memilih hidup di pulau Yimin yang awalnya tak berpenghuni. Pemukiman di Yimin sebagian besar memang diisi oleh penduduk yang berasal dari Bingdao.


Kejadian tewasnya 12 pasukan Shamo yang melintasi laut Selatan sepertinya telah memicu kecurigaan orang Shamo pada warga Bingdao. Hal tersebut bermula dari datangnya pengakuan salah seorang saksi yang mengatakan melihat sekelebat manusia berbalut kain putih telah melintasi lokasi yang tak jauh dari tenggelamnya kapal Shamo. Warga Bingdao memang dikenal sebagai penjelajah laut ulung, dan memiliki ciri khasa yaitu sangat menyukai pakaian serba putih.


“Jangan ambil tawarannya! Mereka semu licik!” Zhou Fu hadir ke tengah-tengah medan lapang. Semua mata tertuju padanya, tawanan Bingdao dan pasukan militer Shamo semuanya mengerutkan kening ketika melihat kedatangan Zhou Fu yang tiba-tiba.


\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Maaf slow update, lagi ada acara lamaran adek perempuan saya 🙏🙏🙏


__ADS_2