Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
CH. 68 – Sesosok Pemuda Kaya Raya


__ADS_3

Di yutub, chapternya sudah sampai 74, jadi ada selisih 6 chapter dari sini. Di yutub juga sudah mulai muncul konflik baru, jika penasaran bisa kunjungi iPus Channel makasih...


_________________________________


CH. 68 – Sesosok Pemuda Kaya Raya


Sore menjelang senja itu, Zhou Fu dan Yang Zi memutuskan untuk berjalan-jalan keluar dari penginapan. Meski si nenek terlihat agak kecewa karena tak satupun kudapannya dimakan tamu-tamunya, ia masih merasa cukup beruntung karena ada satu kuda hitam yang akan menjadi miliknya.


“Mereka tak akan pernah kembali lagi ke sini! Hik hik hik!” tawa nenek tersebut menyeringai melihat dua punggung anak-anak muda yang berjalan kian jauh dari kediamannya.


Beberapa menit bejalan, Zhou Fu mulai merasakan kumpulan aura pekat yang datang dari arah keramaian tepi sungai Juda. Sepertinya apa yang dibicarakan orang-orang tentang sungai Juda memang ada benarnya. Orang-orang yang berlalu lalang baik itu para penjual makanan ataupun anak-anak dan perempuan, nyatanya semuanya memiliki warna aura.


Dalam keadaan normal, warna aura baru muncul setelah seseorang menguasai setidaknya 100 lingkaran tenaga dalam. Ada dua kemungkinan untuk fenomena aneh tersebut, yang pertama, boleh jadi warga di Juda memang memiliki garis keturunan dari orang-orang sakti di sama lalu. Yang kedua, bisa saja mereka memiliki cara rahasia untuk membuka gerbang aura sebanyak mungkin, sedini mungkin.


“Sepertinya kita harus menahan lapar selagi berada di sini,” bisik Zhou Fu pada Yang Zi. Ia menghirup ada semerbak aroma daun Dama dan Ya Pian yang tentu saja bisa membuat seseorang mabuk berat dan tak sadarkan diri jika dosisnya memang tinggi, “eh, sepertinya yang di sana itu aman!” mata Zhou Fu tertuju pada seorang kakek tua penjual ubi bakar.


“Ubi bakar ya? Huaah, makanan yang membosankan…” ucap Yang Zi sembari menutup mulutnya dengan satu tangan.


“Sudah jangan cerewet!” balas Zhou Fu ketus, perutnya bahkan sudah sangat lama berpuasa. Setidaknya selama ia berada di kapal Merak Biru milik Zhao Yunlei, ia tak memasukkan makanan apapun ke perutnya. Seketika, pikiran Zhou Fu dibayangi dengan Zhao Yunlei,”gadis itu sepertinya juga mengetahui sesuatu tentang Shufashen!” batin Zhou Fu tiba-tiba.


Pikiran Zhou Fu kembali terbang ke beberapa hari sebelumnya tatkala Zhao Yunlei kaget mengetahui Zhou Fu bisa membaca pesan di kaki Haku. Ia juga teringat jika gadis itu menyebutkan pasukan lima atau enam yang merupakan pasukan elite Bingdao yang khusus mencari keberadaan pembaca pesan kaki Haku. Bukankah itu sama artinya dengan mereka mencari pembaca Shufashen? Zhou Fu membatin kembali.


“Apakah Zhao Yunlei juga merupakan pembaca Shufashen? Kemampuannya sangat hebat meski tubuhnya tak menguasai ilmu tenaga dalam!” kembali Zhou Fu terpikir soal gadis bernama Zhao Yunlei, dan ingin segera menemuinya setelah urusannya menemukan Shen Shen selesai. Bukankah kediaman Shen Shen dan Zhao Yunlei berada di wilayah yang sama, yaitu di dalam tembok raksasa Caihong. Pasti tak sulit menemukan Zhao Yunlei di sana, pikirnya lagi.

__ADS_1


“Jadi makan ubi bakar?” Yang Zi melambai-lambaikan tangannya ke arah wajah Zhou Fu yang tertutup topeng. Meski sedang terbungkus topeng, Yang Zi tahu jika rekannya itu sedang melamun beberapa saat.


“Eh, tentu. Perutku sudah menjerit-jerit karena lapar!”


***


“Kakek, apakah malam nanti akan ada kapal atau perahu yang berangkat ke seberang?” Zhou Fu bertanya setelah ia dan Yang Zi melahap beberapa buah ubi bakar. Mereka berdua duduk santai menikmati ubi bakar di sebuah kursi kayu yang disediakan oleh si kakek tua.


“Apakah tuan muda benar-benar ingin berlayar malam ini?” kakek tua itu bertanya menyelidik.


“Kami ingin sampai ke seberang secepatnya,” jawab Yang Zi menimpali dan direspon dengan anggukan juga oleh Zhou Fu.


“Ah, aku tak tahu dengan pasti apakah kabar ini benar atau keliru. Kudengar, malam nanti akan ada kapal khusus yang menyebrang. Seseorang mengatakan jika ada pemuda kaya raya yang meminta penyebrangan khusus dan mendesak. Di hari-hari biasa, cukup jarang sekali ada kapal menyebrang di malam hari,” tutur si kakek tua, ia memberikan informasi yang sepenuhnya benar.


“Apakah kami bisa turut menumpang di kapal tersebut?” Zhou Fu bertanya.


Mendengar hal tersebut, Yang Zi dan Zhou Fu merasa bersemangat. Mereka berterima kasih pada kakek tua itu lantas secepatnya pergi menuju ke tempat petugas penyebrangan berada. Zhou Fu dan Yang Zi cukup beruntung karena pada saat yang bersamaan, para penjahat di wilayah tersebut sedang libur mengganggu pengunjung.


Biasanya, setiap kali mereka menemukan ada pengunjung baru di tempat itu, mereka akan merampok atau menculik, atau mengancam para pengunjung untuk mendapatkan harta benda. Sore itu, hampir semua orang di tempat tersebut telah diberi jatah uang oleh seorang pemuda kaya raya yang membuat orang-orang di sana merasa segan dengan pemuda tersebut.


Pemuda itu jugalah yang telah memesan kapal secara khusus untuk membawanya ke seberang. Sepertinya ia bukanlah pemuda sembarangan sebab kedatangannya cukup memberi pengaruh pada warga di tepian sungai Juda.


***

__ADS_1


“Tuan, apakah kami bisa turut menyebrang mala mini?” Yang Zi bertanya pada seorang petugas penyebrangan dengan masih mengenakan topeng perak.


“Kalian berdua juga mau menyebrang?” seorang pemuda datang entah dari mana, melangkah mendekat pada Yang Zi dan Zhou Fu.


Dari balik topeng, Zhou Fu dan Yang Zi sempat kaget melihat siapa pemilik suara tersebut. Ya, tak lain tak bukan, pemuda itu adalah putra bangsawan Feng Yaoshan. Pemuda itu ditemani oleh seorang pengawal yang berwajah garang dan sepertinya cukup dekat dengan Feng Yaoshan.


“Eh… Iya, kami ingin turut menyebrang malam ini, apakah tuan mengizinkan?” Yang Zi menjawab dengan sedikit gugup. Jelas ia mengenal pemuda itu karena pemuda tersebut memang terkenal di antara para keluarga bangsawan. Ditambah lagi, Yang Zi juga cukup tahu jika Feng Yaoshan adalah teman dari kakaknya, Shen Shen.


“Kami mengizinkan kalian untuk menyebrang, dengan syarat kalian membayar separuh dari biaya penyebrangan khususu ini!” tutur Feng Yaoshan pada dua orang asing di depannya, “ah, persediaan uangku terkuras habis hari ini,” katanya lagi seraya memijit-mijit keningnya.


Yang Zi pun menanyakan berapa jumlah uang yang harus ia bayar, sementara Zhou Fu memilih untuk diam sebab ia khawatir jika Feng Yaoshan masih mengenali suaranya. Jumlah uang yang diminta Feng Yaoshan ternyata cukup besar, tetapi masih mampu dibayar oleh Yang Zi dan Zhou Fu. Akhirnya mereka berdua pun sepakat untuk menyebrang bersama-sama.


Ketika waktu penyebrangan telah tiba, dua rombongan yaitu rombongan Feng Yaoshan dan rombongan Zhou Fu menaiki kapal kecil yang hanya memiliki satu ruang umum dan satu kamar pribadi. Mereka pada akhirnya memilih untuk duduk-duduk di ruang utama. Hal itu membuat Yang Zi dan Zhou Fu merasa sedikit berhemat bicara demi menyembunyikan identitas mereka.


“Aku akan membuat perhitungan pada bibi Rao! Beraninya dia berniat mencelakai kita!” Feng Yaoshan tiba-tiba berucap sambil mengepalkan kedua tangannya.


Mendengar nama pendekar perempuan Rao disebut, Zhou Fu menajamkan telinganya untuk mencuri-curi informasi yang mungkin saja amat penting.


“Tuan muda, janganlah bersikap gegabah. Kita fokus saja pada tujuan awal, membawa nona Shen bersama kita,” tutur si kasim yang mengawal tuan mudanya itu.


Entah bagaimana, si kasim itu berhasil menyelamatkan majikan dan sekaligus dirinya sendiri dari intaian si pendekar Ahli suruhan Rao Guohoa. Hanya saja, karena tak mengenal geografis area Juda, si kasim itu bukannya membawa Feng Yaoshan ke wilayah bebas hukum, tetapi mereka justru tiba di seberang. Sehingga mereka memerlukan kapal untuk menyebrangi sungai Juda yang membentang seluas 5kilo meter.


“Organisasi Kelelawar Merah ada di bawah kendali ibuku! Seharusnya mereka bersikap baik-baik padaku!” Feng Yaoshan menjawab dengan geram, ia masih tak terima dikhianati oleh sekutunya sendiri.

__ADS_1


“Jika tuan muda benar-benar ingin menyelamatkan nona Shen, sedianya tuan muda tak perlu membuat konflik dengan mereka. Cukup minta baik-baik nona Shen dari mereka, dan kita pulang ke Caihong bersama,” tutur si kasim mencoba membujuk majikannya yang masih cukup labil dalam berpikir.


Sementara itu, baik Yang Zi dan juga Zhou Fu merasa sangat beruntung karena keberadaan Feng Yaoshan bersama mereka setidaknya telah membuka tirai hitam terkait dengan lokasi Shen Shen berada. Mereka tak perlu susah-susah mencari tahu, nyatanya informasi sepenting itu justru datang sendiri pada mereka.


__ADS_2