Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
CH. 49 – Pasukan Lima


__ADS_3

Suasana di atas geladak kapal Merak Biru terasa sedikit mencekam setelah Zhou Fu dan Zhao Yunlei saling bersiaga satu sama lain. Hal yang membuat Zhou Fu bingung adalah, tidak ada getaran aura yang keluar dari tubuh Zhao Yunlei meskipun gadis itu sedang memancarkan kekuatan berdaya rusak besar. Singkatnya, kekuatan gadis itu tidak terdeteksi bahkan ketika ia sedang melancarkan serangan. Fenomena tersebut, seharusnya tidak bisa terjadi.


“Nona Zhao, bagaimana bisa nona memiliki kekuatan tanpa menguasai ilmu tenaga dalam?” Zhou Fu menggeleng-gelengkan kepala kebingungan setelah yakin jika Zhao Yunlei bahkan tidak mempunyai penguasaan tenaga dalam sedikit pun. Sebaik apapaun seseorang bisa menyembunyikan kekuatan mereka, sebuah getaran aura akan tetap bocor ketika penggunanya sedang melancarkan serangan.


Zhao Yunlei nampak mengerutkan kening keheranan, ia juga tak menyangka jika Zhou Fu mengetahui fakta tentang dirinya yang tak memiliki penguasaan tenaga dalam. Tak banyak orang yang mengetahui jika tubuhnya tak bisa mengaktifkan tenaga dalam. Perempuan itu pun akhirnya menetralkan kekuatannya dan kembali pada titik menjadi manusia biasa, hal tersebut ia lakukan demi menghindari pertempuran dengan Zhou Fu.


“Saudara Zhou, harap saudara jangan terburu-buru berburuk sangka. Lagipula, mengingat usaha saudara dalam memerangi pasukan Shamo, itu berarti kita berada di pihak yang sama!” Zhao Yunlei berbicara dengan pilihan kata yang formal dan sedikit senyuman, ia berharap pemuda yang baru dikenalnya itu akan sedikit melunak setelah ia menghentikan gelombang kejut dari tubuhnya.


“Asal nona tahu saja, aku tidak sedang memerangi pasukan Shamo. Aku hanya sedang menghukum pihak yang keliru, dan kebetulan pihak tersebut adalah pasukan Shamo. Kau keliru jika mengatakan aku memerangi mereka!” tukas Zhou Fu yang kini sudah berada cukup dekat dengan Zhao Yunlei. Tangannya menarik pedang Luzon dari pinggangnya, lalu mengarahkan pedang itu tepat ke leher Zhao Yunlei.


“Baiklah… Baiklah, tetap saja posisi kita sama. Saudara Zhou mengatakan jika anda sedang memerangi pihak yang salah. Sekali lagi, kita sama. Seumur-umur aku bahkan belum pernah memerangi pihak yang benar. Kuharap, kepergian kita ke Caihong juga memiliki misi yang sama,” jawab Zhao Yunlei tanpa memberi reaksi pada ancaman pedang Zhou Fu yang sudah menempel di bawah dagunya.


Setelah beberapa saat Zhou Fu hanya mengawasi tubuh Zhao Yunlei dari atas ke bawah, Zhou Fu melihat Zhao Yunlei merintih kecil manakala darah segar mengalir lumayan deras dari bawah dagunya. Zhou Fu melotot karena kaget dan refleks menarik pedangnya kembali. Ia bahkan tidak memberi tekanan pada dagu nona Zhao tetapi kulit gadis itu sepertinya teramat sensitif dan rapuh.


Zhao Yunlei meringis kesakitan setelah Zhou Fu menjauhkan pedang dari dagunya. Ia segera menutup kulitnya yang berdarah menggunakan telapak tangan kanan sembari menekan-nekan bagian tersebut untuk menutup pendarahan pada lukanya.


“Saudara Zhou barusan menanyakan mengapa aku berpura-pura menjadi gadis rapuh? Aih, lihatlah lukaku ini! Aku tidak sedang pura-pura. Aku hanya, tidak menunjukkan diriku yang lain kepada paman Wang dan warga Yimin.”

__ADS_1


“Baiklah, bereskan lukamu, nona Zhou. Setelahnya, kita tetap harus berbicara!” tukas Zhou Fu tanpa memiliki inisiatif untuk membantu Zhao Yunlei yang terluka. Ia hanya meminta gadis itu untuk mengobati lukanya sendiri sementara Zhou Fu memilih untuk membersihkan geladak kapal dari mayat-mayat perompak.


Sekitar sepuluh menit kemudian, Zhou Fu telah membereskan mayat-mayat dari geladak kapal dan mendapati nona Zhao sedang mengawasinya dengan tatapan yang ramah. Gadis itu lalu mendekati Zhou Fu sembari membawakan sebuah perban yang sepertinya bukan untuk dirinya.


“Ini untuk membungkus luka di tanganmu itu. Sepertinya ada racun di luka itu, apa kau sudah membereskan racunnya?” Zhao Yunlei mengulurkan perban kain dan juga tumbukan dedaunan obat, sepertinya ia menumbuk obat selagi Zhou Fu membereskan mayat perompak, “kurasa kita akan menjadi teman, jadi kupikir aku tak perlu lagi berbicara formal denganmu,” lanjut Zhao Yunlei sembari mengambil tangan Zhou Fu yang tak kunjung menerima uluran perban darinya.


“Ah, ya… Aku lupa jika tanganku terluka. Tadi kupikir hanya melepuh sedikit, tak kusangka akan meluas begini,” Zhou Fu akhirnya mengamati punggung tangannya yang melepuh dan beberapa kulit luarnya terkelupas. Ia pun akhirnya membubuhi lukanya dengan tumbukan dedaunan yang diberikan Zhao Yunlei lalu membungkus tangannya dengan perban kain. Dari bau-bau tumbukan tanaman itu, Zhou Fu merasa Zhao Yunlei cukup berpengalaman meracik obat.


Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju bagian ujung kepala kapal, mencoba menikmati sisa-sisa malam yang akan segera berganti menjadi pagi. Meski masih menyimpan keraguan, Zhou Fu tetap berusaha memberi kesempatan untuk Zhao Yunlei bercerita tentang dirinya, tentang rahasia yang disembunyikannya dari tetua Wang.


***


Ada tujuh jenis pasukan elite yang dibentuk oleh negara Bingdao yang kesemuanya memiliki tugas berbeda-beda. Zhou Fu pernah mendengar salah satu tugas dari pasukan elite itu yaitu Pasukan Tujuh yang memiliki tugas menjaga kitab di bawah laut Luzon. Jika Pasukan Tujuh sehebat itu, Zhou Fu tak bisa mengira-ngira seberapa hebat gadis rapuh yang bersamanya itu.


“Ah, ya… Kau tadi mengatakan tentang Pasukan Tujuh ya? Mereka adalah tim terkuat dari semuanya. Tentu saja aku mungkin hanya seujung kuku dibandingkan dengan mereka. Dan kudengar, Pasukan Tujuh diisi dengan pendekar-pendekar senior yang sudah cukup berusia,” jawab Zhao Yunlei menjelaskan dengan panjang lebar tentang Pasukan Tujuh. Tetapi kemudian matanya melotot karena baru menyadari satu hal.


“Tunggu! Apa katamu tadi??! Kau menerima pesan dari perwakilan Pasukan Tujuh dari bawah laut Luzon? Jangan-jangan??” Zhao Yunlei mundur beberapa langkah karena terperangah kaget. Dua tangannya menutup mulutnya bersamaan, pertanda bahwa keheranannya memang benar-benar tak dibuat-buat.

__ADS_1


“Apakah itu merupakan sesuatu yang buruk? Atau??!” Zhou Fu giliran bertanya keheranan.


“Apakah kau juga bisa membaca pesan di kaki monster laut itu?” Zhao Yunlei bertanya tanpa suara, hanya berbisik tapi cukup didengar oleh Zhou Fu meski suara gadis itu bertubrukan dengan desir angin di laut lepas.


Zhou Fu sedikit kaget, ia kembali teringat sesuatu yang ada di kaki Haku. Membaca pesan? Batin Zhou Fu bertanya-tanya. Apakah yang dilakukannya tempo hari adalah kegiatan membaca? Ia bertanya lagi pada dirinya sebab sedari kecil ia bahkan tak tahu bagaimana proses membaca. Yang ia tahu adalah, ia melihat sesuatu di kaki Haku dan melakukan sesuatu yang seolah disampaikan pada kaki monster laut itu.


“Haku? Apakah sesuatu yang ada di kaki Haku itu namanya pesan? Apakah itu artinya aku telah membaca sebuah pesan? Oh, aku bahkan buta huruf sejak kecil. Bagaimana bisa aku membaca?” Zhou Fu menggaruk-garuk kepalanya. Untuk urusan membaca dan menulis, ia memang sedikit merasa minder karena selalu gagal belajar hal tersebut.


Mendengar jawaban dari Zhou Fu, Zhao Yunlei sekali lagi terperangah kaget. Ia seperti sedang menemukan jarum di antara tumpukan jerami.


“Pasukan Enam! Ah, aku bahkan telah berhasil menemukan seseorang yang dicari oleh Pasukan Enam!” Zhao Yunlei mengepalkan dua tangannya kuat-kuat, kaki-kakinya berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru.


“Zhou Fu, kau harus ikut denganku untuk pergi ke markas Pasukan Enam! Hal itu lebih penting dari pada urusan apapun di Caihong. Ah, aku juga akan menunda kepergianku ke Cai…


“TIDAK!” Zhou Fu menjawab dengan tegas sekaligus memotong pembicaraan Zhao Yunlei.


“Mengapa??! Kau dibutuhkan oleh banyak pihak! Percayalah padaku!” Zhao Yunlei memohon.

__ADS_1


“Shen Yang juga sedang menungguku sekarang! Yang terpenting bagiku sekarang adalah, membawa Shen Shen ke Caihong dalam keadaan selamat!” tukas Zhou Fu dengan penuh keyakinan.


__ADS_2