
Halo, kalau di Mangatoon sudah update gini, berarti chapter lanjutannya (ch 35) sudah rilis di yuutub yaa... Selamat mengintip lanjutannya di yutuub...
-------------------------------------
CH. 34 – Paviliun Bunga Teratai
Itulah pintu masuk menuju Peradaban yang Tenggelam. Sebuah ruang kosong yang terhimpit tiga pusaran air dengan diameter masing-masing lingkaran adalah empat meter. Ruang kosong itu nampak seperti sebuah lorong tanpa air yang berada di tengah-tengah lautan. Lorong tersebut juga seolah membuat jarak dengan pusaran-pusaran air yang menghimpitnya.
Sejenak Zhou Fu merasa aneh sebab Shen Shen mengatakan jika Peradaban yang Tenggelam adalah tempat kuno yang terendam air. Sementara itu, tepat di depan matanya ada sebuah pintu masuk yang jelas-jelas tak berisi air sedikit pun.
“Untuk apa mencari montipora purba jika begini keadaannya?” batin Zhou Fu keheranan. Meski demikian, Zhou Fu melompat ke atas bersama Shen Shen lalu menerjunkan diri ke dalam ruang tanpa air itu untuk memastikan keadaan. Shen Shen berpegangan erat pada tubuh Zhou Fu selagi mereka berdua memasuki lorong tersebut.
Mereka berdua seperti sedang disedot dari dalam oleh sesuatu yang tak nampak oleh mata. Tubuh Zhou Fu dan Shen Shen terjun dengan kecepatan yang tak mampu ditoleransi oleh tubuh manusia. Beruntung Zhou Fu segera meningkatkan kekuatan tenaga dalamnya untuk membuat medan perisai yang bisa menghalau laju jatuh merusak tubuhnya dan tubuh Shen Shen.
Manusia memang memiliki ambang batas laju jatuh yang bisa ditoleransi tubuh. Jika laju tersebut melebihi angka maksimal, maka peredaran darah dan fungsi jantung akan terganggu. Efek paling ringan adalah hilangnya kesadaran dan efek paling berat adalah kematian.
Setelah beberapa lama terjun bebas ke bawah, barulah tubuh Zhou Fu dan Shen Shen menghantam permukaan air. Bertepatan dengan hal tersebut, kekuatan yang tadinya menyedot tubuh mereka seperti hilang sekejap mata. Mereka pun mulai melakukan adaptasi pada perubahan tempat yang mereka pijaki, dari udara kini berada di kedalaman air.
Pertama-tama, Zhou Fu melepaskan tubuh Shen Shen dan memberinya isyarat untuk mengamati sekeliling. Bagaimanapun, Shen Shen lebih mengerti tempat tersebut karena sudah mempelajarinya di buku sejarah. Shen Shen mengangguk perlahan, ia mengedip-kedipkan matanya sebentar untuk membuat layang pandangya terang.
__ADS_1
Zhou Fu dan Shen Shen saling berpunggungan untuk mengawasi daerah sekeliling. Mata mereka mulai bergerak perlahan-lahan untuk mengamati seluruh bagian dalam lau Luzon yang bisa tertangkap indera. Bagian dalam laut Luzon itu memiliki berwarna serba abu-abu, sebuah suasana yang sangat identik dengan hawa suram dan kenangan kelam.
Dari suasana yang suram itu, mata Zhou Fu menangkap sebentuk struktur bangunan yang layaknya berada di atas permukaan tanah. Sebuah tembok batu kuno setinggi empat meter membentang entah berapa ratus meter. Zhou Fu tak bisa mengira-ngira panjang tembok itu karena jarak pandangnya di dalam air cukup terbatas.
Tangan Zhou Fu menggoyang-goyang pundak Shen Shen untuk memberi tahu perempuan itu tentang pemandangan yang dilihatnya. Shen Shen menoleh, segera setelah matanya menangkap tembok kuno itu, dua tangannya menutup mulutnya bersamaan. Kepalanya menggeleng-geleng pelan sebab memang itulah tembok besar yang diceritakan di sejarah.
Shen Shen memeluk Zhou Fu untuk beberapa saat, itu adalah sebentuk rasa terima kasih yang diucapkan dengan isyarat tubuh. Shen Shen memang sangat menyukai sejarah, berhasil mengunjungi lokasi yang sebelumnya hanya ada di buku sejarah adalah pencapaian yang luar biasa baginya. Bahkan, jika dia terpaksa mati di tempat itu, sepertinya dia tak memiliki penyesalan.
Zhou Fu melepaskan pelukan Shen Shen dan menampakkan sebuah kerutan di dahi. Jika dibahasakan, Zhou Fu seperti sedang bertanya, kau ini kenapa? Tembok kuno itu apakah benar bagian dari Peradaban yang Tenggelam?
Seperti memahami maksud pertanyaan Zhou Fu, Shen Shen menganggung ceria. Ia memberi isyarat tubuh yang seolah mengatakan, Peradaban yang Tenggelam ada di balik tembok kuno itu!
Itulah awal mula Zhou Fu dan Shen Shen menjajaki daratan yang disebut sejarah sebagai Peradaban yang Tenggelam. Mula-mula, dari jarak pandang Zhou Fu dan Shen Shen yang terbatas, mereka melihat sebuah bekas paviliun yang masih utuh baik bentuk maupun ukir-ukirannya. Bangunan paviliun itu memunggungi Zhou Fu dan Shen Shen berada.
Mereka berdua pun berenang dengan cepat untuk segera tiba di bekas paviliun kuno itu. Dan, tibalah mereka di sana, di sebuah paviliun kuno dengan bagian atap yang sedang menyangga patung kepala singa. Kepala Singa itu memiliki surai rambut yang meliuk-liuk panjang membentang dari tengah ke arah kiri dan kanan atap paviliun.
Jika dilihat dengan seksama, patung kepala singa itu terbuat dari emas murni. Terlihat dari pancaran keemasan dan permukaan patung yang cukup mengkilap meski sudah berusia ratusan tahun lamanya. Paviliun Bunga Teratai, itulah nama yang tersemat di sana, tulisan itu dibaca oleh Shen Shen ketika Zhou Fu menunjuk tepat ke arahnya.
Tapi ternyata bukan itu yang ditunjuk Zhou Fu, Shen Shen mengerutkan kening ketika Zhou Fu menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali. Shen Shen lantas mengikuti lagi ke mana arah telunjuk Zhou Fu berada. Sejenak, tubuh Shen Shen merinding sebab telunjuk Zhou Fu ternyata sedang mengarah ke bagian patung kepala singa, tepatnya ke arah bagian mulut singa yang sedang menganga.
__ADS_1
Mulut itu menampilkan gigi singa yang seperti sebuah deretan taring-taring berukuran besar. Semua taring singa itu nampak serupa, kecuali satu taring yang berada di bagian tepi atas sebelah kiri. Taring itu memiliki bentuk yang sedikit berbeda dan tak selancip taring-taring yang lainnya.
Shen Shen mencoba meraba taring-taring itu, dan benar saja. Taring yang ditunjuk Zhou Fu ternyata memang berbeda. Taring itu bisa digerakkan sebagaimana sebuah tuas. Tanpa menunggu lama, Zhou Fu mencoba menggerakkan tuas yang berbentuk taring singa itu setelah beberapa kali Shen Shen gagal mencobanya.
Cekleeeek…. Grrrrrrrrrrrr!!!!!
Patung kepala singa itu bergetar sejenak sebelum akhirnya bagian mulutnya membuka perlahan-lahan. Setelah mulut singa itu membuka selebar tiga kaki, Zhou Fu dan Shen Shen bisa melihat jika di bagian dalam mulut singa itu ternyata terdapat sebuah tabung keemasan.
Itu adalah bentuk tabung yang mampu melindungi isinya dari kerusakan akibat air atau api, sebagaimana tabung keemasan yang Shen Shen minta dari Feng Yaoshan. Tangan Zhou Fu meraih tabung keemasan itu, dan bergegas tak sabar untuk membukanya.
Shen Shen juga terlihat sangat bersemangat ketika tangan Zhou Fu sudah menggenggam benda penting yang mungkin berisi peta pusaka kuno atau informasi-informasi penting tentang tempat tersebut.
Cekleeek……
Dalam sekali putaran, tabung itu terbuka. Zhou Fu menarik napas dalam sebelum ia melihat isi dari tabung keemasan tersebut. Mata Zhou Fu juga terpejam sesaat, baru setelahnya ia menyipitkan pandangan untuk menengok apa isi dari pipa emas tersebut.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tinggalin like & komen untuk membuat otor semangat lanjutin update ya gais....
__ADS_1