Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
CH. 59 – Luka Patriark Yuan Kai


__ADS_3

Halo, untuk kalian yg ingin membaca chapter-chapter lanjutan dari novel PBT ini kalian bisa cek ke y o u t u b e ----> iPus Channel. Di sana cerita PBT sudah sampai Chapter 64. Jika kalian merasa ada banyak novel yg hiatus atau mandek di tengah jalan, itu karena banyak dari kami para penulis yg merasa tidak sreg dengan regulasi yg dibuat Mangatoon. Mohon pengertiannya, dan karena itu juga banyak penulis yg pindah ke platform lain.


***Selamat membaca...


____________________________________


CH. 59 – Luka Patriark Yuan Kai


Dalam sekejap Zhou Fu merasakan hawa panas mengalir dari tubuh Patriark Yuan Kai dan aura panas itu mulai memenuhi ruangan. Bersamaan dengan hal tersebut, samar-samar Zhou Fu melihat semburat aura yang memunculkan warna yang menyelimuti tubuh Patriark Yuan Kai. Warna itu sebelumnya tak pernah dilihat oleh Zhou Fu.


“Patriark Yuan, siapa anda sebenarnya?” Zhou Fu menggeser kaki-kakinya dalam posisi siaga, dua tangannya telah mengepal erat sebagai bentuk antisipasi jika ada serangan dadakan. Dari reaksi paru-parunya yang mulai sesak dan berat, ia tahu jika Patriark Yuan Kai adalah lawan terkuatnya sejauh ini. Setidaknya, baru kali ini tubuhnya sangat terganggu dengan pancaran aura yang dikeluarkan oleh lawannya.


“Seperti yang kau lihat, aku hanya pria lumpuh yang tak bisa berdiri,” jawab Patriark Yuan Kai masih dalam posisi berbaring sebab ia memang sudah tak bisa menggerakkan kedua kakinya lagi.


Meski demikian, menurut perhitungan Zhou Fu, dalam keadaan lumpuh seperti itu Patriark Yuan Kai akan mampu membunuh ratusan orang biasa dalam sekali libasan tangan. Jika sebelumnya Zhou Fu menganggap usia Patriark Yuan Kai adalah separuh lebih muda dari pada kakeknya, ia kini berpendapat jika usia sebenarnya pria tersebut pastilah tak sesuai dengan penampakan fisiknya.


 “Begitu juga dengan saya, saya hanyalah tamu yang kebetulan mampir, lalu ingin pulang dengan segera. Bukankah sewajarnya seorang tuan rumah membiarkan tamunya pergi?” Zhou Fu mencoba bernegosiasi sebab ia ingin menghindari pertarungan dengan lelaki cacat itu.


“Kau salah. Kau bukan tamu yang kebetulan mampir. Takdir memiliki caranya sendiri untuk mempertemukan seseorang. Dan lihatlah, takdir membawamu kemari, karena kau memang harus berada di sini!”


“Berada di sini? Patriark Yuan yang terhormat, bagaimana jika saya menolak?”


“Boleh saja, anak muda. Itu pun jika kau bisa. Aku akan membiarkanmu pergi, jika kau bisa memberi satu pukulan ke tubuhku,” tantang Patriark Yuan Kai yang kini nampak mengepalkan kedua tangannya.

__ADS_1


Hanya satu pukulan saja, sepertinya masih bisa diusahakan, Zhou Fu menggumam dalam hati. Lagi pula, orang ini juga menderita cacat, bukankah satu pukulan seharusnya tak terlalu sulit? Batin Zhou Fu lagi. Sementara itu, Patriark Yuan Kai merasa cukup yakin jika tamunya itu tak akan mampu memberi satu atau bahkan setengah pukulan ke tubuhnya. Setidaknya ia sudah mengamati dan menerawang sejauh mana kekuatan anak muda yang ada di depannya itu.


“Baiklah, kita mulai!” Patriark Yuan Kai memberi aba-aba.


“Hiaaat!!! Harimau Mencakar Langit!!!”


Zhou Fu mengawali serangan karena memang ia adalah satu-satunya pihak yang bisa menggerakkan tubuhnya. Pria cacat itu, meski hanya bisa menggerakkan kedua tangannya saja, nyatanya tangannya cukup lincah dalam menghalau serangan-serangan dari Zhou Fu. Setiap kali pukulan Zhou Fu tertangkis, ia merasakan sebuah hentakan keras yang terasa sangat nyeri yang menusuk hingga ke tulang belulangnya.


“Sialan!” Zhou Fu mundur beberapa langkah untuk membuat jarak sementara Patriark Yuan Kai masih tak bergeser satu senti pun sebab ia memang tak bisa menggerakkan tubuhnya. Sejauh ini bisa ditebak jika patriark Yuan Kai sepertinya merupakan pihak yang lebih unggul.


Zhou Fu itu nampak memijit-mijit tulang-tulang di tangannya yang beberapa saat lalu bersenggolan dengan tangan Patriark Yuan Kai. Nyatanya, tangan Patriark Yuan Kai terasa seperti baja kokoh yang dialiri oleh tenaga dalam. Selain keras dan kuat, tangan itu juga memberi gelombang kejut yang cukup menyakitkan.


“Apakah kau sudah bisa mengukur jarak kekuatanmu denganku?” Patriark Yuan Kai tersenyum, ia sepertinya juga ingin segera menyudahi duelnya itu. Sepertinya terawangannya keliru, pemuda di depannya itu nyatanya memiliki level kekuatan yang lebih tinggi daripada yang ia perkirakan sebelumnya. Meski ia masih tetap merasa unggul, setidaknya ia merasa khawatir kalau-kalau tamunya itu akan memberi kejutan di luar prediksinya.


“Angin Membelah Langit!!!” Zhou Fu maju kembali dan menunjukkan jurus-jurus yang dikuasainya.


Sayangnya, semua pola serangannya seperti sudah bisa diantisipasi oleh Patriark Yuan Kai. Pertahanan pria cacat itu sama sekali tak bisa ditembus oleh Zhou Fu. Hingga pada sebuah ketidaksengajaan, siku Zhou Fu yang tertangkis tangan Patriark Yuan Kai mendarat dengan sangat kuat ke perut pria cacat itu dan membuatnya menggelinjang sembari mengaduh cukup keras.


“Aaaarrrrghhh!!!” Patriark Yuan Kai menjerit dengan suara mengkhawatirkan. Seketika itu juga, aura panas yang sejak sebelumnya memenuhi ruangan tiba-tiba menghilang tak bersisa.


Zhou Fu yang melihat perubahan wajah pada pria itu langsung kaget dan hendak melakukan sesuatu, ia ingin menolong, atau setidaknya memeriksa tubuh Patriark Yuan Kai. Tetapi Patriark Yuan Kai justru mengibaskan tangannya ke arah Zhou Fu, sepertinya ia mengantisipasi kalau-kalau lawannya akan memanfaatkan keadaannya tersebut.


Whuuuuusssssssssssss!!!!

__ADS_1


GRUUUUUUUUUUUUUUUUUGGGGGG!!!!


Dalam satu kali libasan tangan, bahkan tanpa menyentuh tubuh Zhou Fu, Zhou Fu terpental dengan sangat kuat hingga tubuhnya menghantam dinding goa. Goa pembatas ruangan patriark Yuan Kai itu pun mengalami keretakan parah akibat hantaman tubuh Zhou Fu.


Tubuh Zhou Fu menghantam tanah, kepala belakangnya mengalami luka robek dan mengeluarkan darah yang cukup banyak tetapi ia bangkit dengan sangat cepat dan berlari menuju Patriark Yuan Kai.


“Patriark, apakah Patriark baik-baik saja?” Zhou Fu bertanya dengan penuh kekhawatiran.


Melihat ekspresi lawannya yang menunjukkan rasa simpati, Patriark Yuan Kai seperti merasa bersalah karena telah membuat Zhou Fu terpelanting ke dinding goa.


“Anak muda, maafkan tindakan paman yang barusan, uhuk…” pria itu terbatuk dan terlihat tidak sedang baik-baik saja.


“Tidak, saya yang seharusnya meminta maaf, Patriark. Apa yang bisa saya lakukan?” Zhou Fu mulai mencoba memeriksa tubuh patriark Yuan Kai.


Dalam beberapa detik berikutnya, Yang Zi dan Yuan Jin datang. Yang Zi nampak terlihat seperti orang linglung sementara Yuan Jin terlihat cukup khawatir melihat wajah ayahnya yang menahan rasa sakit.


***


Ternyata siku Zhou Fu tepat mengenai bagian tubuh Patriark Yuan Kai yang mengalami luka serius di masa lalu. Luka itu ketika tersentuh dengan kuat akan membuat tubuhnya seperti disengat ribuan kalajengking dalam waktu yang bersamaan. Nyeri setelahnya juga akan bertahan setidaknya satu jam setelah lukanya tersentuh.


Seorang tabib yang paling senior kini telah datang dan memberi ramuan mati rasa pada Patriark Yuan Kai. Dosis ramuan tersebut sengaja ditambah berkali-kali lipat oleh si tabib karena ia merasa perlu melakukannya untuk urusan tertentu. Dosis yang berlebih itu kemudian membuat Patriark Yuan Kai perlahan-lahan kehilangan kesadaran.


“Anak muda, kulihat dirimu juga butuh perawatan. Kiranya aku bisa merawatmu sementara di kediamanku. Mari kuantar…” tabib senior tersebut seperti memberi isyarat tersembunyi jika Zhou Fu harus mengikuti sarannya, “Tuan muda Yuan, tolong beri perawatan juga untuk teman tuan muda ini,” tabib tersebut menunjuk ke arah Yang Zi yang terlihat masih linglung.

__ADS_1


Yuan Jin mengangguk dan meminta Yang Zi mengikutinya sementara Zhou Fu mengikuti tabib senior yang akan membawanya ke kediaman tabib itu.


__ADS_2