Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
84. Sebuah Undangan


__ADS_3

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian tahun Shen Shen mendengar lagi kata tersebut di telinganya. Ketika Zhou Fu menyebut kata ‘Shufashen’, Shen Shen langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan sebagai tanda bahwa ia cukup terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Zhou Fu.


“Bagaimana, bagaimana kau bisa menemukan istilah itu?” Shen Shen bertanya penasaran.


“Jawab dulu pertanyaanku, apa yang kau tahu tentang Shufa…”


Shen Shen langsung menutup mulut Zhou Fu dengan satu tangannya. Gadis itu lantas menoleh ke kanan dan ke kiri seolah memastikan apakah ada orang lain yang mendengar percakapan mereka.


“Sssst! Jangan ucapkan kata terlarang itu di daratan Caihong! Itu adalah pantangan dan jangan coba-coba bertanya pada orang yang belum kau kenal tentang hal itu! Ya, meski hanya ada cukup sedikit orang yang menganggapnya sebagai kata terlarang, sebab memang tak banyak yang tahu tentang hal itu!”


“Jangan banyak mengoceh, kau bahkan belum menjawab pertanyaanku,” Zhou Fu memicingkan mata terlihat sedikit kesal.


“Dengarkan aku, aku ingat pertama kali menemukan kata tersebut di sebuah buku kuno di perpustakaan. Buku itu telah terkikis karena usia, jadi ada beberapa detail informasi yang tak kumengerti. Ketika aku menanyakan kata tersebut pada guruku, guruku langsung merebut kitab tersebut dengan wajah murka. Waktu itu usiaku masih tujuh tahun, aku diseret ke sebuah pancuran air dan mulutku dicuci berkali-kali karena telah menyebutkan kata-kata kotor!”


“Maksudmu…


“Berhenti, aku belum selesai! Meski aku masih sangat muda waktu itu, aku telah berjanji untuk menjaga serpihan ingatanku tentang Shufashen. Di beberapa halaman yang tak terkikis usia aku sempat membaca jika Shufashen merupakan peninggalan paling langka dalam peradaban sejarah Benua Timur. Dikatakan bahwa Shufashen bisa mewujud dalam beberapa bentuk, memiliki simbol, dan tak semua orang memahami simbol dalam Shufashen. Sebentar, aku belum selesai!” Shen Shen menempelkan jari telunjuknya ke mulutnya sendiri untuk memberi isyarat pada Zhou Fu agar tetap diam dan mendengarkan.


“Sebagai anak yang bercita-cita menjadi ahli sejarah, aku tak pernah mau meyakini jika Shufashen merupakan sesuatu yang hina dan kotor, sebagaimana apa yang dikatakan guruku. Sejarah adalah harta warisan, entah itu baik entah itu buruk, kurasa keduanya sama-sama berharga. Sejarah tak ubahnya sebuah kenangan di kepala, masing-masing dari kita memiliki kenangan yang baik dan kenangan yang buruk. Nyatanya, manusia cenderung lebih cepat untuk bisa mengambil pelajaran dari apa-apa yang buruk,” Shen Shen menelan ludah, ia seolah ingin berbicara cukup banyak dalam sekali waktu. Zhou Fu menunjukkan ekspresi sabar untuk memberi kesan pada Shen Shen bahwa ia tetap setia mendengarkan ocehan Shen Shen.


“Jika Shufashen dianggap sebagai sejarah yang buruk, yang hina, yang kemudian mereka mencoba melenyapkan sisa-sisanya, mereka semua telah menciderai sejarah. Aku yang masih berusia tujuh tahun waktu itu, setidaknya telah berjanji untuk mengembalikan sejarah sebagaimana mestinya. Sejarah adalah harta untuk anak cucu kita, sebaik-baik harta yang harus diwariskan adalah kejujuran. Apa kau tega mewariskan harta yang telah dimanipulasi untuk anak cucumu?” Shen Shen balik bertanya.


“Sekarang bukan itu intinya, Nona Ahli Sejarah! Aku tahu kau amat antusias dengan sejarah, tapi bukan itu yang kuinginkan saat ini. Singkat saja, apa yang kau tahu tentang Shufashen?”


“Laut Luzon!”


“Apa kau bilang?” Zhou Fu bertanya kembali dengan cukup kaget.

__ADS_1


“Sudah kubilang, Laut Luzon! Satu-satunya detail yang kuingat dari buku kuno itu adalah, ada hubungan antara Laut Luzon dengan Shufashen. Itulah mengapa aku menghabiskan banyak sisa waktuku untuk mempelajari buku apapun yang memuat informasi tentang Laut Luzon. Sebab aku tak bisa menemukan lagi titik terang tentang Shufashen, jadi aku mempelajari tentang Laut Luzon sebagaimana buku kuno sempat menyebut tempat itu berhubungan dengan Shufashen!”


“Jadi, ada sesuatu tentang Shufashen di dalam Peradaban yang Tenggelam, begitu?” Zhou Fu mulai mengingat ulang detail-detail ingatannya ketika memasuki Laut Luzon.


“Ya. Tapi kita sudah ke sana, bukan? Dan sepertinya kita tak menemukan apapun tentang Shufashen, padahal itu sebenarnya tujuan utamaku mengajakmu ke sana!”


“Tunggu! Kau ingat, ada sesuatu yang hilang dari Laut Luzon, sesuatu yang telah dijaga oleh Pasukan Tujuh dari negeri Bingdao. Apakah menurutmu sesuatu yang hilang itu adalah Shufashen?” Zhou Fu bertanya pada Shen Shen dengan wajah antusias, tentu ia ingat ketika ia menemukan gulungan terakhir di Paviliun Bunga Teratai yang ke tiga.


“Aku sempat memikirkannya, tapi melihat betapa susahnya mendatangi area tersebut, kukira pencuri gulungan itu pastilah bukan orang sembarangan! Jadi, kukira…


“Tunggu, kau bilang bahwa Peradaban yang Tenggelam di Laut Luzon kemungkinan besar adalah peradaban yang sengaja ditenggelamkan, lalu Shufashen merupakan sebuah detail informasi yang ingin dihapus dari sejarah. Bukankah dua hal tersebut saling berkaitan? Mungkin kita bisa menuju ke laut Luzon lagi untuk mendapatkan informasi, ah maksudku, aku bisa ke sana lagi untuk itu!”


“Kau mau ke sana lagi? Bukankah terakhir kali kau ke sana keadaanmu cukup buruk? Kau bahkan seperti manusia setengah mayat waktu itu!” alis Shen Shen berkerut. Menurut Shen Shen, jika Zhou Fu masih waras seharusnya Zhou Fu tak perlu lagi mengunjungi tempat itu.


“Setidaknya sekarang aku memiliki Haku. Aku bisa menghemat banyak energi jika harus berkeliling mencari sesuatu di reruntuhan kuno,” jawab Zhou Fu yakin, Zhou Fu sengaja tak mengatakan pada Shen Shen jika ia bisa membaca Shufashen sekaligus tak juga mengatakan pada gadis itu jika Haku memiliki simbol-simbol di kakinya yang hanya bisa dibaca oleh Zhou Fu. Hal tersebut ia lakukan untuk menghindari antusiasme Shen Shen yang mungkin akan bangkit kembali, dan membuatnya ingin berkelana lagi bersama Zhou Fu. Bagaimanapun, tempat paling aman untuk Shen Shen adalah rumahnya sendiri.


“Apa maksudmu, aku tak mungkin mengajak gadis bangsawan untuk berkelana di alam liar begitu!”


“Apa maksudmu? Memangnya kau bisa berkelana sendirian? Kau bahkan buta huruf sampai saat ini, siapa yang akan membacakanmu jika sewaktu-waktu kau menemukan tulisan yang tak bisa kau baca?” Shen Shen memajukan dagunya, seolah menantang kemampuan Zhou Fu dalam hal tersebut.


Sedetik kemudian Zhou Fu baru tersadar akan kelemahannya yang menjengkelkan itu. Ia lantas mendengus dalam hati dan membenarkan apa yang diucapkan Shen Shen. Seseorang yang buta huruf pasti akan menemui banyak halangan dan rintangan jika berkelana sendirian.


“Sial! Ngomong-ngomong, apakah aku bisa mengambil kelas khusus di sekolah Bangsawan untuk belajar Baca Tulis? Apakah ada yang bersedia menerima murid seusiaku untuk pelajaran dasar-dasar baca tulis?” Zhou Fu bertanya sambil menggaruk pipinya yang tak gatal, ada sebuah rasa kesal yang muncul di kepalanya.


Ketika Shen Shen hendak menjawab pertanyaan Zhou Fu, ia terdiam sejenak sebab melihat pengawal Jing datang dengan tergopoh-gopoh dari arah berlawanan.


“Tuan Muda… Tuan Muda… Ah, di sini Tuan ternyata!” Pengawal Jing yang datang dengan berlari, tampak berhenti sejenak untuk mengatur napas. Sepertinya pria itu telah berlari-larian beberapa waktu sebelumnya.

__ADS_1


“Pengawal Jing, mengapa tergopoh-gopoh begitu?” Zhou Fu mendekati pengawal Jing yang memang sedang mencarinya.


“Tuan, ini ada titipan untuk Tuan!” pengawal Jing menyodorkan sebuah gulungan berwarna cokelat pada Zhou Fu, membuat Zhou Fu tertegun beberapa saat setelah menerimanya.


“Titipan? Untukku? Dari siapa?”


“Bukankah itu adalah gulungan resmi dari Pemerintah Caihong Pusat?” Shen Shen bertanya pada pengawal Jing, sebab gulungan yang diterima Zhou Fu sepertinya memang datang dari pemerintah pusat.


“Benar, Nona Shen. Seorang utusan datang ke penginapan untuk menitipkan gulungan ini pada Tuan Muda Zhou,” jawab Pengawal Jing masih dengan terengah-engah.


“Coba aku lihat apa isinya,” Shen Shen mengulurkan tangannya, meminta Zhou Fu untuk memberikan gulungan itu padanya.


“Ini,” jawab Zhou Fu singkat sementara pikirannya berkelana ke berbagai kemungkinan. Zhou Fu teringat apa yang diucapkan oleh Yang Zi tentang arena tantangan di gerbang Maundo. Apakah surat itu berhubungan dengan hal tersebut? Ia membatin sedikit ragu.


“Aneh, bagaimana mereka tahu semua jejakmu…” Shen Shen memegangi dagunya sendiri, bertanya-tanya bagaimana bisa pemerintahnya mengetahui banyak hal tentang Zhou Fu.


“Memangnya, apa isi gulungan itu?” Zhou Fu bertanya penasaran, bersamaan dengan hal itu, Pengawal Jing pamit undur diri sebab ia khawatir keberadaannya tidak diinginkan dalam sesi tersebut. Setelah pengawal Jing menghilang dari pandangan, Shen Shen menatap Zhou Fu lekat-lekat.


“Kau mendapat undangan penghargaan dari pemerintah Caihong! Kau bahkan dipromosikan untuk menduduki posisi penting di Pusat Militer Caihong!” jawab Shen Shen hampir sedikit tak percaya.


“Apa? Mengapa bisa begitu?”


“Dijelaskan di sini bahwa Pemerintah Caihong mengapresiasi kiprah seorang pemuda bernama Zhou Fu yang telah menghadang rombongan pendekar Shamo yang hendak menyelundupkan sumber daya beracun ke Caihong. Lalu, kau juga disebutkan telah berjasa menyelamatkan warga di Pulau Yimin, memberantas beberapa kelompok penjahat di dekat pelabuhan Dengguang, dan yang terakhir, pemerintah sangat berterima kasih karena kau telah menghabisi nyawa Wei Sihao.” Shen Shen masih terlihat cukup terkaget-kaget dengan isi gulungan itu.


“Bagaimana jika aku menolak hadir?” Zhou Fu bertanya singkat.


“Sayangnya, meski ini adalah undangan penghargaan, siapapun tak memiliki hak untuk tak datang jika sudah diundang oleh pemerintah. Kau tak ingin datang?” Shen Shen memiringkan wajahnya, seperti mengintip wajah Zhou Fu yang terlihat bimbang.

__ADS_1


Zhou Fu sendiri mencurigai jika undangan itu tak lain tak bukan adalah jebakan. Ia mencium hawa-hawa kebusukan di balik undangan penghargaan itu. Bukankah apa yang diucapkan Patriark Yuan Kai sekarang menjadi sangat nyata? Patriark Yuan Kai pernah berkata jika pemerintah Caihong akan melakukan segala cara untuk menangkap pendekar-pendekar yang menurut mereka cukup kuat untuk kemudian dilenyapkan.


__ADS_2