Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
CH. 28 – Laut Luzon


__ADS_3

Suasana di ruang jamuan masih terlihat menegangkan. Zhou Fu sudah melontarkan beberapa pertanyaan penting tetapi Feng Yaoshan berusaha menghindari untuk menjawabnya. Setelah mendengar ucapan dari Shen Shen, Feng Yaoshan kembali sibuk mengetuk permukaan meja dengan jari-jemarinya. Ia sedang memikirkan jawaban dan keputusan mana yang akan segera ia ambil.


Keputusan membawa Shen Shen ke asosiasi Naga Perak masih menjadi keputusan yang paling menguntungkan posisinya. Sayangnya, Shen Shen jelas tak menginginkan pilihan tersebut, dan masalah selanjutnya adalah Zhou Fu pasti melarang Shen Shen untuk ikut dengannya.


“Ayolah, aku akan menjamin keselamatanmu jika kau ikut denganku, Nona Shen,” Feng Yaoshan mencoba membujuk Shen Shen. Berharap perempuan itu akan mempercayai keputusannya sebagai pilihan yang tepat pada saat itu.


“Kemampuan bela dirimu sangat biasa saja, tentu saja Shen Shen tak mungkin berani mempertaruhkan keselamatannya pada pria sepertimu, kecuali…” Zhou Fu memotong kalimatnya.


Zhou Fu lantas duduk di meja dan mendekatkan wajahnya pada Feng Yaoshan lalu berbicara pada pria itu setengah berbisik,”kecuali kau memiliki pengawal hebat, setidaknya seperti bibi pendekar yang menguasai ilmu Dewa Abadi itu.”


Feng Yaoshan mengangkat alis karena kaget. Ia menunjukkan gelagat kebingungan ketika Zhou Fu berbicara tentang seorang pendekar perempuan yang memiliki ilmu Dewa Abadi. Melihat perubahan ekspresi mendadak yang ada di wajah Feng Yaoshan, Zhou Fu kembali meraih pergelangan tangan pria itu. Zhou Fu menatap Feng Yaoshan dengan sorot mata tajam, sementara Shen Shen juga turut memerhatikan gerak-gerik Feng Yaoshan yang dilanda gelisah.


“Katakan dengan jujur, apakah dia pengawalmu? Atau, apakah dia termasuk orang suruhanmu, Tuan Bangsawan?” Zhou Fu bertanya serius sembari menempelkan dua jarinya tepat di atas urat nadi di pergelangan tangan Feng Yaoshan. Awalnya Zhou Fu hanya ingin menebak-nebak apakah pendekar perempuan yang bertarung dengannya itu memiliki hubungan dengan Feng Yaoshan, ia tak menyangka jika tebakannya disambut dengan perubahan ekspresi bangsawan tersebut.


“Dii… Dia… Dia siapa maksudnya?” Feng Yaoshan menjawab dengan gugup.


“Senior Feng, kita adalah teman baik. Ini demi keselamatanku juga, tolong jawab pertanyaan Zhou Fu dengan sejujur-jujurnya, aku tahu senior mengerti siapa bibi pendekar yang dimaksud Zhou Fu” Shen Shen menampakkan ekspresi wajah yang lunak pada Feng Yaoshan, ia ingin pria itu bersedia menjawab pertanyaan Zhou Fu dengan jujur.


“Se…Sebenarnya aku juga tak begitu suka dengan kelompok Kelelawar Merah. Tapi… Naga Perak… Ah, mereka yang menugaskan Rao Guohoa untuk membantuku. A… Apakah kalian mengalami hal yang tak menyenangkan dengan bibi Guohoa?” Feng Yaoshan tak memiliki pilihan jawaban lain. Hanya Rao Guohoa, perempuan yang menguasai jurus Dewa Abadi, setidaknya yang sedang berkeliaran di sekitar wilayah tersebut.


“Baiklah, terima kasih atas jawabanmu itu. Kupikir sekarang keputusan Shen Shen untuk tak mengikutimu semakin bulat. Perempuan bengis itu sudah kukalahkan! Mari ambil jalan tengah saja!” Zhou Fu melepaskan lagi pergelangan tangan Feng Yaoshan.

__ADS_1


Jika asosiasi Naga Perak memiliki hubungan dengan dengan perempuan bengis seperti Rao Guohoa, bisa dipastikan asosiasi tersebut bukanlah pihak yang baik. Orang baik, setidaknya tak akan memilih orang jahat sebagai sekutu, begitulah pemikiran Zhou Fu dan juga Shen Shen.


“Jalan tengah?” Feng Yaoshan bertanya ragu-ragu, mendengar pengakuan Zhou Fu yang sudah mengalahkan Rao Guohoa, Feng Yaoshan semakin bergidik ngeri. Bagaimana bisa remaja seperti Zhou Fu berhasil mengalahkan pendekar bengis seperti Rao Guohoa. Ia pun akhirnya memilih untuk mengalah, karena posisinya memang tak menguntungkan.


***


Zhou Fu menyudahi sesi tanya jawabnya bersama Feng Yaoshan. Meski tak semua pertanyaannya mendapat jawaban dari bangsawan tersebut, Zhou Fu sudah memiliki gambaran terkait konflik yang menimpa keluarga Shen Shen. Sebagai akhir dari sesi interogasi tersebut, Zhou Fu menyebutkan beberapa permintaan atau bisa juga disebut sebagai perintah kepada Feng Yaoshan.


“Kau memiliki kewajiban untuk memenuhi permintaanku jika kau masih menyayangi nyawamu. Kecuali jika kau sudah siap mati, tentu tak perlu repot-repot memenuhinya. Itu yang kumaksud sebagai jalan tengah, bagaimana menurutmu?” Zhou Fu berdiri dan membalikkan badan, dua tangannya menggantung di belakang punggungnya.


“Tapi… Bukankah permintaan saudara Zhou terlalu banyak?” Feng Yaoshan mencoba berkilah setelah sebelumnya Zhou Fu sudah menyebutkan beberapa permintaan yang dimaksud.


“Bukankah nyawamu juga berharga? Aku tak memaksa, kukira Shen Shen juga tak berani menghalangi jika aku ingin menghabisimu di sini,” Zhou Fu kembali berbalik, kali ini ia melemparkan sebuah senyum seringai yang seolah menantang keputusan yang akan dipilih Feng Yaoshan.


Sebelum memanggil pelayannya, Feng Yaoshan mengusap keningnya yang dibanjiri keringat dingin. Ia juga mengatur napasnya agar terlihat tenang jika pelayannya datang. Setelah merasa cukup tenang, Feng Yaoshan membunyikan lonceng yang berada tepat di tengah-tengah meja jamuan.


Suara nyaring dari lonceng tersebut bisa terdengar dari jarak yang cukup jauh sehingga tak berapa lama beberapa pelayan telah memasuki ruang jamuan. Mereka membungkuk dan menanyakan apakah Feng Yaoshan membutuhkan sesuatu. Feng Yaoshan pun menyebutkan beberapa barang untuk segera dibawa ke ruang tersebut dan segera diiyakan oleh para pelayan.


Zhou Fu dan Shen Shen duduk berdampingan, mereka merasa lega karena pertemuan mereka dengan Feng Yaoshan nyatanya membawa keberuntungan bagi mereka berdua.


“Baiklah, sekarang tingalkan kami bertiga lagi,” ujar Feng Yaoshan memberi perintah kepada pelayannya untuk meninggalkan ruang jamuan begitu mereka telah kembali dan membawakan beberapa barang.

__ADS_1


Tampak di atas meja, kini sudah ada beberapa lembar kertas kosong dan sebuah tinta hitam. Feng Yaoshan segera meraih satu kertas dan tinta, tangannya pun mulai menorehkan tinta tersebut ke dalam kertas.


Zhou Fu memandangi kertas tersebut dengan seksama, setiap kali Feng Yaoshan menggambar sebuah bentuk, Zhou Fu bisa mengenali bentuk tersebut. Tetapi setiap kali Feng Yaoshan menorehkan tulisan di sana, Zhou Fu terpaksa menggeleng-gelengkan kepala karena ia tak mengerti maksudnya. Tapi setidaknya ada Shen Shen yang akan membacakan peta tersebut.


Ya, permintaan pertama Zhou Fu adalah sebuah peta wilayah. Salah satu masalah terbesar Zhou Fu dan Shen Shen adalah mereka tak paham peta wilayah, sehingga perjalanan mereka menuju Caihong bisa jadi akan memakan waktu yang lama.


Feng Yaoshan yang ternyata memiliki darah keturunan dari dua wilayah yang berbeda, tentu saja memiliki pengetahuan lebih baik soal peta wilayah. Apalagi ia memutuskan untuk berkeliaran di Dengguang, itu artinya ia sudah mengenal peta-peta wilayah di daerah tersebut.


“Tandai pulau-pulau yang dihuni oleh kelompok yang bersekutu dengan asosiasi Naga Perak,” tukas Zhou Fu mengingatkan dan disambut dengan anggukan kepala oleh Shen Shen.


Beberapa saat sudah berlalu dan peta yang digambar Feng Yaoshan telah selesai. Ia menyerahkan peta tersebut ke arah Zhou Fu dan Shen Shen.


“Kau tahu kehebatan Rao Guohoa bukan? Jika ada yang keliru dari gambar ini, kupastikan nasibmu akan seperti perempuan tersebut!” Zhou Fu menarik peta dari tangan Feng Yaohsan sembari menakut-nakuti putra bangsawan tersebut.


Feng Yaoshan menganggukkan kepala. Ia sudah yakin jika Zhou Fu lebih unggul daripada Rao Guohoa. Oleh sebab itu ia tak berminat untuk membuat perkara dengan Zhou Fu. Sementara itu, Shen Shen yang mengamati peta buatan Feng Yaoshan kini sudah memiliki gambaran akan pergi ke mana.


Laut Luzon. Itulah yang pertama kali muncul di kepala Shen Shen. Ada sebuah misteri yang ingin ia pastikan di tempat tersebut. Dengan ditemani oleh Zhou Fu yang cukup berilmu, Shen Shen yakin akan berhasil menemukan sesuatu yang ia cari di Luzon.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Thor, kenapa sih Zhou Fu dibikin buta huruf???

__ADS_1


Wajib ini!


Soalnya nanti ada hubungannya sama jati diri Zhou Fu. Jadi bukan karena dia bodoh ya. Buta huruf di cerita ini bukan berarti bodoh, ingat itu. Nanti kalau sudah sampai pada chapter yang menjelaskan mengapa Zhou Fu bisa begitu, saya harap kalian akan lebih mengerti dan memahami hehe…


__ADS_2