
Asap tebal yang menyelimuti pulau Yimin perlahan-lahan memudar. Sorot matahari mulai menerobos asap tipis dan menjatuhkan cahayanya tepat di atas wajah-wajah orang Shamo yang hitam legam. Wajah-wajah itu menampakkan bulir-bulir air bening yang keluar dari kulit mereka, seolah mereka sedang bermandikan keringat mereka sendiri.
Orang-orang Shamo itu, diam membisu saking takutnya untuk mengeluarkan kata-kata. Untuk bernapas saja mereka seolah menghirupnya setengah-setengah. Takut-takut jika mereka membuat gerakan yang tidak disukai oleh pemuda yang kini sedang berdiri tegak dengan tatapan penuh intimidasi.
Hari itu, kedatangan Zhou Fu telah berhasil membalik keadaan dengan sempurna. Beberapa saat sebelum kedatangan Zhou Fu, orang-orang Shamo itu telah berpesta menikmati peristiwa pemenggalan tawanan Bingdao. Beberapa dari mereka bahkan membuat lelucon untuk kepala-kepala tawanan Bingdao yang terlepas dari lehernya. Tawa mereka meledak-ledak ketika melihat tubuh-tubuh tak berkepala sedang menggelinjang mengucurkan darah ke rerumputan. Seolah, peristiwa mengerikan itu merupakan sebuah pertunjukan yang amat menyenangkan.
“Siapa yang ingin pergi ke neraka terlebih dahulu?” Zhou Fu bertanya sembari menudingkan pedangnya ke orang-orang Shamo yang ketakutan.
Ternyata, bukan hanya militer Shamo yang dibuat takut oleh ekspresi Zhou Fu yang mengintimidasi. Beberapa tawanan Bingdao juga terlihat ciut nyalinya sebab mereka masih belum mengetahui identitas Zhou Fu. Dalam hati, mereka masih berharap-harap jika Zhou Fu sebenarnya adalah keturunan dari pendekar Bingdao.
“Jika tidak ada yang menjawab, baiklah! Aku yang menentukan urutannya!” Zhou Fu menudingkan pedangnya tepat ke arah pria kekar yang menjadi algoco beberapa saat sebelumnya. Pria kekar itu lantas merobohkan tubuhnya ke tanah dengan dua lutut tertekuk. Ia menelungkupkan kedua tangannya sembari memohon ampunan Zhou Fu.
“T…Tuan Muda… Maafkanlah saya, saya hanya menjalankan perintah… Saya terpaksa meelakukannya dan tidak bermaksud…
“Diam! Kau jelas-jelas menikmati pembantaian yang kau lakukan, apakah itu merupakan wujud dari sebuah keterpaksaan? Omong kosong, cuih!” Zhou Fu meludah sembari mengarahkan pedangnya tepat ke samping leher si algoco.
“Aku tidak mau mengotori pedangku dengan darahmu yang hina! Seseorang, beri dia pedang!” Zhou Fu memberi perintah, para militer Shamo saling berpandang-pandangan kebingungan. Tak ada satupun dari mereka yang berani bergerak saking takut dan gemetarnya. Setelah beberapa detik tak ada satupun yang merespon, Zhou Fu menghardik untuk yang kedua kalinya. Barulah kemudian ada satu dari mereka yang mendekat untuk mengulurkan pedang pada si algoco.
__ADS_1
Si pria kekar itu menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia tak mau menerima uluran pedang itu. Sementara seseorang yang membawa pedang padanya masih tetap pada posisinya dengan kaki dan tangan gemetaran.
“Terima pedang itu atau kau akan lebih menyesal lagi!” Zhou Fu membentak dengan suara pelan tapi menakutkan. Si pria kekar itu pun menerima uluran pedang itu dengan tangan yang bergerak-gerak tak beraturan, pertanda bahwa rasa ngeri di pikirannya sudah cukup menguasai dirinya.
“Sekarang, habisi nyawamu dengan tanganmu sendiri! Jika tidak, kau akan menerima hukuman yang lebih menyakitkan ketimbang kematian!” Perintah Zhou Fu masih dengan suara pelan tapi berat, membuat telinga pria kekar itu merinding seketika. Agaknya, ia merasa jika dibunuh oleh orang lain akan lebih melegakan ketimbang membunuh dirinya sendiri. Tetapi, pria itu juga takut akan ancaman yang disebut lebih mengerikan ketimbang kematian itu.
Pria kekar itu pun menutup matanya, bibirnya bergetar-getar karena menahan rasa ingin menangis dan menjerit. Ia lantas menggorok lehernya sendiri dengan pedang di tangannya. Tubuhnya pun ambruk ke tanah seketika, darah mengucur deras dari lehernya, tubuhnya menggelinjang hebat sebab pedangnya terjatuh tepat sebelum semua uratnya terputus.
Orang-orang pun menyaksikan betapa ngerinya sebuah kematian yang datang perlahan-lahan. Mereka melihat algoco itu memelototkan mata tanpa berkedip sekalipun, pertanda bahwa orang itu sedang menahan rasa sakit yang tidak terbayangkan. Tak ada yang menertawai proses kematian si algoco sebab pemandangan tersebut bahkan terlalu mengerikan untuk sekadar dilihat saja.
“Semua kejahatan akan dibayar lunas oleh pelakunya, jika kalian tak ingin membayar mahal untuk sebuah kejahatan, kalian tak perlu melakukan tindakan kejahatan. Ingat kata-kataku ini!” Tukas Zhou Fu sembari menendang jasad si algoco ke arah para tawanan Bingdao. Sepertinya Zhou Fu ingin menanamkan sebuah pelajaran berharga pada tawanan Bingdao.
“Lepaskan semua ikatan para tawanan,” perintah Zhou Fu pada seorang lelaki yang baru saja ia lepaskan talinya, “kalian semua memiliki keluarga yang mungkin saat ini menunggu kalian. Kembalilah kepada keluarga kalian dan jangan kaget jika beberapa dari keluarga kalian ternyata telah tak bernyawa. Hidup memang tak menyenangkan kadang-kadang,” lanjut Zhou Fu memberi peringatan.
Para tawanan Bingdao itu merasa lega sekaligus sedih dalam waktu yang bersamaan. Selebihnya, mereka merasa beruntung karena takdir telah mempertemukan mereka dengan pemuda yang mungkin suatu saat namanya akan dikenal oleh dunia. Mereka tak lagi memedulikan identitas Zhou Fu, yang jelas mereka yakin jika dalam waktu dekat, Zhou Fu pasti akan menjadi pemuda yang menggegerkan jagat dunia persilatan.
“Tuan muda… Siapa nama tuan muda ini? Ehm… Bukan apa-apa, setidaknya kami sebagai warga Yimin ingin mengenang jasa Tuan Muda yang telah menyelamatkan pulau tempat tinggal kami,” tanya salah seorang tawanan yang kelihatannya berusia sekitar empat puluhan tahun.
__ADS_1
“Paman bisa memanggilku Zhou Fu. Jika paman bertanya dari mana asalku, jujur saja aku masih mencarinya juga,” jawab Zhou Fu dengan imbuhan senyum tipis di akhir kalimatnya. Kentara sekali jika Zhou Fu saat itu juga mulai mempertanyakan identitas dirinya sendiri.
“B…Baiklah Tuan Zhou, seumur hidup kami warga Yimin akan mengenang jasa tuan Zhou! Jika suatu ketika tuan muda membutuhkan sesuatu, kami selalu siap memberi dukungan!” pria tersebut membungkuk memberi hormat pada Zhou Fu. Meski ia berusia lebih tua, ia seperti merasa perlu memberikan penghormatan pada pemuda yang telah menyelamatkan warganya.
“Untuk saat ini, permintaanku hanyalah selamatkan yang masih bisa diselamatkan dan kuburkan mayat-mayat di seluruh pulau ini untuk menghindari penyakit yang mungkin muncul dari keberadaan jasad-jasad yang membusuk. Atau, mungkin kalian juga bisa membuangnya ke lautan jika itu diperlukan,” lanjut Zhou Fu memberi perintah terakhirnya dan disambut anggukan serempak oleh para tawanan Bingdao.
***
Setelah kepergian para tawanan Bingdao, Zhou Fu kembali mengadili para militer Shamo yang berjumlah sekitar dua ratus lima puluhan orang. Dua ratus lima puluh orang itu pada akhirnya mati dengan cara yang sama dengan para algoco. Sayangnya, dari semua orang tersebut, Zhou Fu tak juga menemukan keberadaan Ming Tian. Agaknya pendekar Rao Guohoa yang membawa Ming Tian pergi.
“Baiklah, di kesempatan kedua, mereka tak boleh lolos lagi!” Zhou Fu membatin sembari memasukkan kembali pedangnya ke dalam selongsong. Ia menghela napas panjang untuk mengakhiri hari yang penuh darah tersebut. Zhou Fu pun baru teringat kembali tentang kapal Guichuan, kapal yang ditumpangi Shen Shen yang saat ini sedang diambil alih oleh Rao Guohoa. Ia juga teringat jika ia harus mengabarkan berita duka pada salah seorang awak kapalnya.
“Kakek Li Xian benar. Orang yang lemah selalu menerima perlakuan buruk dari orang-orang jahat yang kuat. Apakah hukum ini juga berlaku di tempat Shen Shen tinggal? Apakah kedamaian benar-benar sulit didapatkan?” Zhou Fu kembali menghela napas panjang. Ternyata kehidupan di dunia luar memang keras, dan tiba-tiba ia merasa cukup beruntung karena telah dibesarkan oleh orang hebat seperti kakek Li Xian.
\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Di yutub ada dua chapter lanjutan dari ini ya...