
Jika dilihat dari atas awan, Dengguang akan nampak seperti sebuah titik yang berada di tengah-tengah beberapa pulau. Karena lokasinya yang strategis, Dengguang dikelola oleh seorang saudagar kaya untuk dijadikan sebagai sebuah persinggahan sementara untuk kapal-kapal yang mengalami keadaan darurat. Tak hanya bermanfaat ketika ada kapal yang mengalami keadaan darurat, Dengguang juga biasa digunakan sebagai tempat beristirahat sementara untuk kapal-kapal yang melakukan pelayaran jarak jauh.
Di Dengguang, seorang penumpang kapal bisa turun dari suatu kapal dan berganti menaiki kapal lain jika memang ada yang ingin melakukan perubahan arah perjalanan. Semua orang bebas berlayar ke mana saja asal mereka memiliki uang yang cukup untuk membayar biaya perjalanan.
“Tuan muda, kita sudah hampir sampai ke Dengguang,” salah seorang petugas kapal membangunkan Zhou Fu dengan sangat sopan. Jika saja Zhou Fu tidak sedang tidur dalam kondisi siaga, ia tak akan terbangun hanya dengan panggilan pelan seperti itu.
Zhou Fu membuka matanya perlahan, dilihatnya hari sudah fajar. Matahari dan bulan nampak sedang berada di langit yang sama, yang satu sedang bersiap-siap tenggelam sedang yang lain sedang bersiap-siap untuk terbit.
“Huaaah….” Zhou Fu duduk dan merenggangkan dua tangannya, kepalanya ia geleng-gelengkan ke kanan dan ke kiri untuk melemaskan otot-ototnya yang masih sedikit tegang. Zhou Fu pun melihat keadaan, ternyata tiga paman yang lain sudah terbangun lebih awal sementara Shen Shen masih meringkuk dengan tenang.
“Paman, jika kita mengatakan pada orang-orang bahwa kapal kita diterjang badai, apakah mereka percaya?” Zhou Fu bertanya pada petugas kapal yang membangunkannya. Tentu akan menarik perhatian banyak orang jika mereka berlima menepi ke pulau menggunakan patahan bangkai kapal yang rusak. Sebisa mungkin, Zhou Fu tak ingin kedatangannya terlihat mencolok.
“Laut sedang sangat tenang beberapa hari ini, sepertinya alasan tersebut akan membuat seseorang curiga, Tuan Muda. Sebaiknya saya mengatakan yang sejujurnya jika kapal kita diserang perompak. Anggap saja yang semalam itu adalah serangan perompak,” usul si petugas kapal.
“Hem… Masuk akal juga… Baiklah, setelah sampai di pelabuhan Dengguang, aku akan mencari kapal lain dan berlayar bersama temanku. Kita berpisah di pelabuhan, terima kasih sebelumnya…”
“Ehm… Tuan Muda… Dengguang memiliki pelabuhan yang cukup besar, kapal-kapal berlalu-lalang setiap saat, tetapi…” petugas kapal tersebut menghentikan ucapannya, ia seperti sedang memikirkan sesuatu yang sulit untuk dikatakan. Setelah beberapa saat mengumpulkan niat, petugas tersebut melanjutkan kalimatnya yang terpotong.
“Tetapi… Melihat pertempuran yang terjadi semalam, saya rasa Tuan dan nona akan membahayakan banyak orang jika menaiki kapal berisi penumpang, maafkan kelancangan saya ini, Tuan…” ujar si petugas kapal disambut dengan anggukan pelan dan takut-takut oleh kedua rekannya. Setelah menyaksikan sendiri kejadian di malam sebelumnya, tiga petugas kapal tersebut yakin jika dua anak muda yang bersamanya memang berpotensi memicu bahaya di mana-mana.
__ADS_1
Zhou Fu memahami kekhawatiran tiga paman tersebut. Membawa Shen Shen di kapal biasa sama artinya dengan melibatkan banyak orang dalam keadaan yang bisa saja membahayakan.
“Lalu??? Apa yang bisa kami lakukan?”
Tiga petugas kapal saling pandang satu sama lain, mereka sebenarnya memiliki solusi tetapi tak begitu yakin apakah Zhou Fu bisa melakukannya.
“Begini, Tuan Muda… Di Dengguang, terdapat satu tempat yang memperjual-belikan kapal kecil. Kapal yang bisa digunakan untuk berlayar di laut lepas meski ukurannya tidak begitu besar. Hanya saja, tentu saja kami tak memiliki cukup uang untuk membelinya… Mohon maafkan kami.”
“Berapa harga kapal tersebut,” Zhou Fu menoleh ke kanan dan kiri pinggangnya karena lupa menaruh koin emas yang didapatkannya dari pertandingan bersama Wang Ling.
“Seingatku, Tuan… Kalau tidak salah, satu kapal yang paling kecil dihargai dengan enam koin emas, harga yang cukup mahal tentunya. Tak banyak orang memiliki koin emas sebanyak itu. Apalagi mencari uang tak semudah menghabiskannya,” salah seorang petugas kapal tampak merasa bersalah karena tidak bisa membantu apa-apa.
“Apakah ini cukup?” Zhou Fu mengeluarkan seluruh sisa harta miliknya dan membuat tiga petugas kapal terbelalak kaget karena tak menyangka remaja semuda Zhou Fu bisa memiliki uang sebanyak itu.
***
Zhou Fu memutuskan untuk tidak menginjakkan kakinya di Dengguang, ia memilih untuk tetap mengapung di laut bersama Shen Shen. Sementara itu, tiga orang petugas kapal sudah berenang ke tepian dan sedang mengemban tugas untuk membelikan satu kapal untuk Zhou Fu. Mereka bertiga bersedia membantu Zhou Fu karena dua hal, yang pertama karena takut pada Zhou Fu dan yang kedua adalah karena merasa iba pada nona cantik yang bernama Shen Shen.
“Kau belum mengerti soal tingkatan kependekaran, ya?” Shen Shen yang sudah bangun, mulai mengajak Zhou Fu bicara sembari sesekali ia membasuh wajahnya yang terasa berat karena riasan tebal.
__ADS_1
“Tingkatan pendekar? Ehm… Sepertinya kakek pernah menceritakannya, tapi aku belum begitu memahami sepenuhnya, memangnya kenapa?” Zhou Fu menjawab sekenanya, ia sedang duduk bersila dan melakukan olah pernapasan untuk membuat tubuhnya rileks.
“Semua pendekar memiliki tingkat kekuatannya masing-masing. Sayangnya, hanya orang yang berada di tingkat tertentu saja yang bisa melihat dan mengira-ngira kekuatan musuh. Ketika seseorang bisa mengetahui kekuatan musuh, setidaknya mereka bisa memutuskan kapan waktunya untuk menyerang atau memilih untuk menghindar,” Shen Shen menjelaskan panjang lebar sebab ia khawatir jika di tengah perjalanan mereka akan dihadang oleh musuh tangguh.
“Kalau itu sih, aku juga bisa,” Zhou Fu membalas penjelasan Shen Shen dengan sedikit malas, ia memang bisa merasakan dan mengira-ngira kekuatan musuh. Hanya saja, tak ada satu teknik pun yang bisa dipakai untuk mengukur kemampuan suatu pusaka, dan hal tersebutlah yang terjadi di malam sebelumnya. Di mana, Zhou Fu yakin lebih unggul dari Rao Guohoa tetapi ia tak bisa mengukur kekuatan pendekar perempuan itu jika ditambah dengan pusaka miliknya.
“Aku tak yakin kau bisa melakukannya, seingatku hanya pendekar-pendekar di tingkatan tertentu saja yang bisa melakukannya,” Shen Shen berkilah tak percaya, sebab kenyataannya memang hanya ada sedikit orang yang bisa mengukur kemampuan lawan tandingnya.
“Tentu saja kau tak percaya, sebab kau memang tak mengerti apa-apa!” Zhou Fu membalas keraguan Shen Shen akan kemampuannya.
“Baiklah, kita buktikan saja ketika kita sudah tiba di Caihong. Jika kita sudah sampai di Caihong nanti, aku akan membawamu pada ujian kependekaran di sana. Dengan begitu, kekuatanmu akan diukur menggunakan suatu metode khusus. Para ahli juga bisa memberimu saran-saran terkait jurus apa saja yang sesuai dengan bakatmu!”
“Memangnya, seperti apa ujiannya?” Zhou Fu bertanya penasaran.
“Kau akan dihadapkan pada sebuah tembok kuno. Sejarah kuno mengatakan jika tembok tersebut dahulu dibangun sebagai sebuah benteng pertahanan dari keturunan iblis bumi. Tembok tersebut nyatanya tak bisa diretakkan oleh siapapun!” Shen Shen bercerita dengan bersemangat sementara Zhou Fu mulai tak sabar untuk segera bisa tiba di Caihong.
\=\=\=\=\=\=\=
Hari Senin sampai Kamis saya ada acara full di Sidoarjo. Semoga masih bisa up rutin ya... Saya usahakan bisa up setidaknya satu chapter seharinya. Semoga acaranya juga tak terlalu padat...
__ADS_1
Selamat malam Senin, happy working buat besok...
Jan lupa follow IG saya: @Banin.sn jika kalian menggunakan instagram 😊