Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
CH. 52 – Seseorang di Balik Topeng


__ADS_3

Sore menjelang petang, jalan-jalan di pemukiman Maundo dipenuhi oleh orang yang berlalu-lalang dengan berbagai kesibukannya sendiri-sendiri. Pemukiman tersebut bisa dibilang terlalu padat penduduk, di mana semua tempat-tempat di Maundo selalu dipenuhi dengan kerumunan manusia. Begitu juga, rumah-rumah warga dibangun dengan saling berdekat-dekatan sebab lahan yang tersedia sepertinya cukup terbatas untuk menampung populasi manusia yang terus bertambah.


Kabarnya, pemukiman Maundo merupakan tempat yang akan dituju oleh mantan bangsawan Caihong yang turun kasta atau dikeluarkan gelar kebangsawanannya oleh pemerintah. Mereka adalah orang-orang yang gagal membayar upeti sehingga harus rela didepak dari tanah surga yang sebelumnya mereka tempati. Bukan tidak mungkin jika sebentar lagi Maundo sudah tidak bisa lagi menampung bangsawan yang turun kasta. Jika sudah demikian, bisa dipastikan seseorang harus rela tinggal di lereng-lereng tebing liar.


Zhou Fu menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali setelah berhasil keluar dari kerumunan di pasar sore. Ia melihat ke sekeliling, mencoba menemukan tempat yang ia cari yaitu Biro Pengawal Songho. Menurut informasi yang ia dapat beberapa waktu lalu, lokasi Biro Pengawal Songho berdekatan dengan pasar sore Maundo.


“Ah, itu dia!” Zhou Fu berseru setelah matanya menangkap bangunan besar dengan tulisan yang tentu saja tak dapat ia baca. Ia yakin itulah tempatnya karena ciri-cirinya mirip dengan yang diceritakan oleh seseorang sebelumnya.


“Ada yang bisa kami bantu, tuan muda?” seorang pelayan bertanya begitu Zhou Fu memasuki gerbang biro pengawal Songho.


“Aku butuh kuda dengan kualitas terbaik, apakah aku bisa mendapatkannya di sini?” jawab Zhou Fu tanpa basa-basi.


Pelayan itu sedikit mengamati Zhou Fu dari kaki ke kepala, dari kepala sampai ke kaki. Lalu, pelayan tersebut juga menoleh jauh ke belakang Zhou Fu, mencoba mencari tahu pengawal seperti apa yang menemaninya. Ketika pelayan tersebut mulai yakin bahwa Zhou Fu datang seorang diri tanpa pengawalan, ia pun mulai bertanya sesuatu.


“Maaf, tuan muda sepertinya bukan keluarga bangsawan. Maaf jika saya keliru. Biro Pengawal Songho memiliki banyak kuda-kuda terlatih, tetapi semuanya dibandrol dengan harga…


“Apakah ini masih kurang?” Zhou Fu mengeluarkan buntelan hitam dari pinggangnya, beberapa koin emas dan perak mencuat dari dalamnya. Membuat pelayan yang ada di depannya itu terperangah tak percaya. Pelayan itu pun membungkuk berulang kali sambil meminta maaf sebanyak mulutnya bisa berucap.


“Aku tak sedang butuh maaf darimu, sudah kubilang aku butuh kuda terbaik untuk perjalanan jauh!” gerutu Zhou Fu kesal.


“Baik… Baik Tuan Muda, mari ikut saya!” pelayan itu membimbing Zhou Fu menuju sisi samping kanan bangunan, di sana terdapat kandang kuda-kuda terpilih yang merupakan koleksi-koleksi terbaik yang dimiliki biro Pengawal Songho.


Hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit, Zhou Fu sudah keluar dari biro Pengawal Songho dengan menaiki kuda putih yang merupakan kuda dengan ketahanan tubuh paling baik. Tak lupa juga, Zhou Fu memberi beberapa koin perak kepada pelayan tersebut untuk ditukar dengan beberapa informasi.


Setelah melangkah beberapa kilo meter dari Biro Pengawal Songho, mulailah Zhou Fu keluar dari wilayah Maundo. Hal tersebut ditengarai dengan menyempitnya jalan yang ia lalui, dan sekaligus suasana yang menjadi cukup lengang dan senyap. Kuda Zhou Fu memecah kesunyian malam di lereng-lereng sempit yang hanya bersinarkan rembulan sabit.

__ADS_1


“Ada yang aneh, kita sedang dibuntuti, Kuma!” ujar Zhou Fu seraya menepuk-nepuk leher Kuma, kuda putih baru miliknya itu. Kuma pun menringkik sebentar lalu menghentikan langkahnya selagi Zhou Fu sedang menyisir seluruh sudut-sudut semak di sisi kanan dan kiri lereng dan juga pepohonan-pepohonan yang ada di sana.


“Ada hawa manusia yang menggelayut berkelebat di sekitar kita, hanya satu, dan selalu membuat jarak yang sama,” ujar Zhou Fu dalam hati, karena mulai menaruh curiga pada seseorang yang entah sedang sembunyi di mana. Ketika Zhou Fu mempercepat langkah Kuma, hawa itu juga bergerak mengikuti, ketika Kuma melambat, langkah penguntit itu pun turut melambat.


“Jangan mengajak bermain petak umpet, aku sedang agak terburu-buru, keluarlah dan katakan apa maumu!” ucap Zhou Fu dengan suara keras.


Tak terjadi apa-apa selama beberapa detik, baru setelahnya terdengar bunyi gemerisik semak yang diterabas, lalu muncullah seseorang bertopeng di depan Kuma. Orang bertopeng itu tengah berdiri dengan menodongkan pedangnya ke arah Zhou Fu, sepertinya ia memang tak ingin berbasa-basi.


“Akan kuladeni tantanganmu, tapi setidaknya jelaskan dulu maksudmu!” tukas Zhou Fu tanpa dengan tetap duduk di atas punggung Kuma.


Seseorang bertopeng itu diam tak menyahut, ia lantas melesat melancarkan serangan ke arah Zhou Fu. Kuma meringkik tapi Zhou Fu memintanya untuk tetap tenang, Zhou Fu meladeni serangan orang bertopeng itu dengan masih duduk di tempatnya.


Whusss… Whussss… Whusss… Traaang… Traang… Traaang…


Permainan pedang orang bertopeng tersebut tersebut ternyata cukup menarik perhatian Zhou Fu sehingga ia pun turut mengeluarkan pedang Luzon miliknya untuk adu serangan. Adu jurus-jurus pedang pun terjadi selama beberapa saat sebelum akhirnya Zhou Fu menghantamkan pedang miliknya ke pedang musuh hingga pedang itu patah menjadi dua bagian.


“Kau… Bukankah kau petugas pelabuhan Caihong? Apa masalahmu denganku?” tanya Zhou Fu seraya mencengkeram orang tersebut tepat di ujung lehernya.


“Bagaimana bisa kau tahu?” orang tersebut menjawab dengan terpatah-patah, ia heran mengapa pemuda yang ia serang mengetahui bahwa ia adalah petugas pelabuhan. Padah seingatnya, mereka hanya berpapasan sekali sebab orang tersebut bukanlah orang yang bertugas mengawal Zhou Fu dan Zhao Yunlei.


“Jawab pertanyaanku, apa masalahmu denganku?” tanya Zhou Fu sembari menguatkan cengkeramannya pada orang tersebut hingga orang itu terbatuk-batuk beberapa kali.


“Shen Yang, perempuan yang bersamamu tadi siang menyebut nama itu! Bagaimana kau mengenal nona Shen?” jawab orang tersebut masih dengan terbata-bata.


“Oh, jadi kau juga sedang memburu Shen Shen?” jawab Zhou Fu dan langsung diberi respon kaget oleh orang yang ia cekik. Orang tersebut membelalak dan mencoba mengguncang-guncangkan tangan Zhou Fu yang mencengkeramnya.

__ADS_1


“Shen Shen katamu? Apakah kau teman kakak… Maksudku, apakah kau teman dari nona Shen?” jawab orang tersebut kaget dan sedikit merasa bodoh karena melontarkan kata yang tak perlu ia ucapkan.


“Kakak??!!” Zhou Fu melonggarkan cengkramannya, ia lantas beralih mencengkram pakaian orang tersebut agar ia tetap berada dalam kendalinya. Zhou Fu pun mengamati wajah pemuda laki-laki yang menyerangnya itu.


Zhou Fu menajamkan pandangannya karena cahaya bulan tak begitu memberi penerangan. Jika diamati benar-benar, memang ada beberapa kemiripan pemuda itu dengan Shen Yang. Mulai dari lingkar mata, alis, hidung dan bibir yang tipis, semuanya nampak sedikit sama. Hanya saja kulit pemuda tersebut terlihat gelap dan kusam.


Tetapi, Zhou Fu mengamati kembali kulit di wajah pemuda tersebut, nyatanya kusam di wajah pemuda itu tidak merata. Zhou Fu pun menggosok-gosokkan punggung tangannya ke pipi pemuda itu, pemuda itu mengguncang-guncangkan tubuhnya tak terima.


“Kau sedang menyamar sebagai laki-laki? Begitu?” ucap Zhou Fu tanpa suara. Pemuda yang ia cengkram itu pun terkaget seketika mendengar ucapan Zhou Fu.


Pemuda itu diam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan. Ia seperti sudah tak memiliki peluang untuk membalik keadaan. Awalnya, ia berniat melumpuhkan Zhou Fu untuk bisa mendapatkan informasi tentang keberadaan Shen Shen. Tetapi, sepertinya ia salah memilih musuh. Ia pun menunduk tak berkutik dan berharap jika pemuda yang mencengkramnya itu bukanlah orang jahat.


“Ah, aku tak mau buru-buru percaya. Lagipula, penampilanmu memang sangat mirip laki-laki. Pakaianmu yang kau kenakan juga pakaian laki-laki. Dan ya, itu… Tak ada bengkak-bengkak di sana, ehem…!” ujar Zhou Fu dengan satu telunjuknya menunjuk ke bagian tubuh di mana milik Shen Shen memiliki bentuk yang menggumpal di kanan dan kiri.


Pemuda itu pun sontak melingkarkan kedua tangannya untuk menutupi dada. Ia kemudian menjerit dan berteriak jika Zhou Fu sudah berkata tidak sopan padanya. Kali itu terikan pemuda itu menggunakan suara khas perempuan, sementara sebelum-sebelumnya ia nampak berbicara dengan nada yang berat.


“Jadi kau benar-benar perempuan ya! Hem… Cukup menarik jika kau memang benar-benar si Yang Zi yang diceritakan Shen Shen itu. Tapi jangan harap aku akan percaya semudah itu!” Zhou Fu lantas mengikat tubuh seseorang yang mengaku sebagai adik She Shen itu menggunakan tali.


Seseorang yang mengaku sebagai Yang Zi itu pun meronta-ronta berusaha melepaskan diri, tetapi Zhou Fu segera menyentuh bagian tengkuknya dan membuatnya kehilangan kesadaran.


“Nah, kalau diam begini sepertinya akan lebih baik!” Zhou Fu kemudian mengikatkan tubuh perempuan misterius itu ke punggung Kuma. Setelah dirasanya semua beres, Zhou Fu kembali menyuruh Kuma untuk melaju.


“Besok ketika hari sudah terang, aku bisa melihat dan memutuskan apakah kau ini Yang Zi atau bukan!” ujar Zhou Fu seraya menoleh ke belakang punggungnya, ke arah tubuh perempuan yang sedang kehilangan kesadaran itu.


\=\=\=\=

__ADS_1


Terima kasih untuk yg membaca di Noveltoon atau yutub. Jika ingin membaca chapter lebih jauh, bisa cek yutub iPus Channel ya. Atau bisa juga menunggu rilisnya di sini. Semua itu pilihan kalian, tetapi dengan kalian menengok yutub, kalian sudah membantu author memenuhi kebutuhan kopi 😣 karena di Mangatoon novel ini tidak mendapat pendapatan sama sekali.


__ADS_2