Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
Ch. 73 – Pertarungan dengan Wei Sihao


__ADS_3

Amit nyuwun sewu baca note saya di bawah ya...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ch. 73 – Pertarungan dengan Wei Sihao


“Yang Zi, bawa Shen Shen menjauh dank au tuan muda manja, lindungi pengawalmu!” perintah Zhou Fu ketika lawannya mulai menyesaki ruangan tersebut dengan aura membunuh yang kental. Orang yang menguasai kurang dari 100 lingkaran tenaga dalam akan merasa tercekik lehernya jika tetap berada di ruang tersebut.


“Baik!” jawab Yang Zi dan Feng Yaoshan secara bersamaan, mereka lantas bergegas mencari jalan keluar lewat pintu belakang.


“Aku akan mengurangi separuh lebih dari seranganku agar kau tak mati terlalu cepat. Kukira bocah congkak sepertimu perlu diberi pelajaran yang tak sebentar!” Wei Sihao nampak membuat gerakan pelemasan tangan, sepertinya ia sedang mengatur kekuatan agar daya rusak yang dihasilkan jurusnya tak langsung mematikan lawannya. Tentu ia berharap bisa membunuh Zhou Fu dengan perlahan-lahan.


“Aku menyarankanmu untuk menggunakan seluruh kekuatan yang kau miliki, Paman congkak. Jika perlu, tambah dua kali lipatnya sekalian!” Zhou Fu menimpali, ia juga sedang mempersiapkan dirinya untuk menghabisi musuh di hadapannya itu.


“Bocah kurang ajar!!!” Wei Sihao memekik dan langsung menjulurkan tangan kanannya ke arah Zhou Fu.


Kraaak… Buuugg!!!


Satu tiang rumah terbelah menjadi dua tepat ketika Wei Sihao menjulurkan tangan kosong. Sisi rumah bagian tersebut pun ambruk dan rata ke tanah. Sayangnya tak terjadi apa-apa pada Zhou Fu karena ia berhasil meloloskan diri diwaktu yang tepat.


“Jadi paman bisa menciptakan belati tajam dari udara, ya? Sungguh luar biasa atraksi paman kali ini!” Zhou Fu bertepuk tangan seraya menunjukkan ekspresi kekaguman yang palsu. Tentu ia sudah pernah melihat hal yang seperti itu dari kakeknya, sebuah kemampuan menyalurkan tenaga dalam ke sekumpulan udara dan melesatkannya dengan cepat hingga memiliki ketajaman setara pedang atau belati pilihan.


“Sialan, kau akan terbelah jika aku menggunakan kekuatanku sepenuhnya!” ujar Wei Sihao geram ketika lesatan senjata udaranya ternyata kalah cepat dengan pergerakan Zhou Fu.


“Baik, mari kita praktikkan atraksi paman lagi, tapi kali ini dengan kekuatan penuh!”


Jawaban Zhou Fu kian membuat Wei Sihao kebakaran jenggot, pria itu lantas kembali melancarkan serangan. Pertukaran jurus pun mulai terjadi. Hanya berjarak beberapa detik dari serangan yang pertama, kini Wei Sihao telah merubuhkan seluruh bagian rumah tetapi tetap saja belum berhasil menggores tubuh Zhou Fu sedikit pun.

__ADS_1


“Jangan senang dulu, kau masih beruntung karena aku hanya menggunakan sedikit kekuatanku!” ucap Wei Sihao dengan setengah penuh kemarahan tetapi kepalanya dipenuhi keraguan. Seingatnya, serangan-serangannya beberapa saat lalu sudah menggunakan hampir seluruh kekuatannya, tetapi musuhnya yang masih belasan tahun justru seperti sedang bermain petak umpet ketika berhadapan dengannya.


“Jarak kekuatan dari tenaga dalamku dengannya terpaut cukup jauh, seharusnya satu jentikan jari saja bisa melumpuhkannya, aneh.” Wei Sihao membatin, ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan mata tertutup, seperti sedang mencoba menggali kesadaran, “ah, mungkin tubuhku masih terkena pengaruh arak,” ucapnya lagi dalam rangka menutupi keheranan.


“Pukulan Tangan Besi!” pekik Wei Sihao seraya menghantam-hantamkan pukulannya ke tubuh Zhou Fu.


Si pengawal Feng Yaoshan mengamati pertarungan dari kejauhan dan tak sedetik pun ia membiarkan matanya berkedip sebab pertarungan tersebut amat sayang untuk dilewatkan. Ia menggeleng-gelengkan kepala berulang kali ketika melihat kelincahan bocah muda yang semalam hampir ia tanyang duel itu.


“Tuan Muda, dari belahan bumi mana bocah itu berasal?” tanya si pengawal pada Feng Yaohsan.


“Aku sendiri juga belum tahu, yang jelas dia seperti monster!” jawab Feng Yaoshan yang sama-sama tak berkedip juga melihat pertarungan Zhou Fu dan Wei Sihao.


Tak hanya mereka berdua, Yang Zi juga melihat hal yang menakjubkan dari pertarungan tersebut. Kini pertarungan kian memanas, gerakan-gerakan dari masing-masing pendekar tak begitu bisa ditangkap mata. Hanya kelebat-kelebat dan kilatan cahaya yang sempat tertangkap mata. Satu kilatan cahaya akan membuat suara dentuman keras di telinga, dan dentuman-dentuman tersebut terdengar seperti kembang api tahun baru yang tak selesai-selesai dinyalakan.


Bruaaak!!!!!


“Kena kau!” begitulah yang ada di pikiran mereka tatkala melihat Wei Sihao tersungkur untuk pertama kalinya. Semua yang menonton nampak tegang kecuali Shen Shen yang justru beberapa kali menguap karena bosan. Ia sudah pernah melihat pertempuran Zhou Fu dengan monster laut, tentu jurus-jurus hebat dari bocah itu tak begitu memukau dirinya kali itu.


“Sialan! Aku tak bisa menahannya lagi!” batin Zhou Fu kesal setelah fisiknya protes karena menggunakan kekuatan fisik terlalu berlebihan. Tentu itu adalah karena ia dilarang patriark Yuan Kai untuk berduel dalam mode aura merah.


Setidaknya, saat ini ia sudah menggunakan aura biru, dan hal tersebut cukup membuat Wei Sihao tercengang. Seorang bocah belasan tahun, bagaimana pun masih terlalu muda untuk menguasai lingkaran tenaga dalam di level biru.


“Oh, lihat saja, kali ini aku akan menggunakan seluruh kekuatanku untuk mencincang tubuhmu!” geram Wei Sihao seraya bangkit dari tanah.


“Paman, berhentilah membohongi diri sendiri dan akui kelemahanmu!” tukas Zhou Fu, sengaja ingin membuat lawannya marah agar konsentrasinya terganggu.


Benar saja, Wei Sihao marah semarah-marahnya. Ia tak pernah mendapatkan pelecehan sebelumnya. Tak ia juga tak terima dilecehkan oleh bocah ingusan seperti Zhou Fu. Maka, pada saat itu juga, Wei Sihao nampak memejamkan mata dan dari dalam tubuhnya muncul semburat warna merah yang lebih kontras dari sebelumnya.

__ADS_1


Zhou Fu terbelalak kaget ketika melihat aura merah yang dipancarkan musuhnya ternyata cukup terlihat jelas dan kuat. Tentu saja, serangan musuhnya setelah itu akan memiliki dampak ratusan kali lipat dari sebelumnya.


Benar saja, setelah menaikkan level kekuatannya pada batas maksimal, Wei Sihao maju menyerang dan nampak berada di pihak yang unggul. Rombongan dari Zhou Fu kini terlihat cukup khawatir melihat rekan mereka yang nampak kewalahan dan beberapa kali menerima serangan di tubunya.


Buuuuug!!!!!


Zhou Fu lengah dan perutnya terkena serangan Pukulan Besi. Ia terpental jauh dan ketika tubuhnya menghantam tanah, ia merasa seperti dihempaskan dari ketinggian dengan kekuatan yang cukup besar. Tulang di punggungnya seperti mengalami keretakan sementara mulutnya mulai mengeluarkan darah.


Yang Zi terlihat cukup gusar ketika melihat Zhou Fu merintih kesakitan jauh di depan sana. Shen Shen yang awalnya terlihat bosan, kini pandangannya juga tertuju pada Zhou Fu.


“Sudah kubilang, jangan senang dulu! Aku hanya ingin bermain-main denganmu barusan ha ha ha!” kelakar Wei Sihao merasa bangga serangannya akhirnya mengenai musuh dan berdampak cukup berat di tubuh musuhnya. Sebenarnya, ada sedikit kekhawatiran di hati Wei Sihao ketika melihat Zhou Fu masih bernyawa setelah menerima pukulan besi miliknya.


Dengan alokasi tenaga dalam sebesar itu, Wei Sihao seperti yakin kalau saja perut atau dadanya yang terhantam jurus tersebut, ia akan terkapar tewas tanpa sempat mengedipkan mata.


“Uhuk…. Patriark Yuan, maafkan aku. Aku bisa mati jika begini saja!” gumam Zhou Fu pelan sembari memejamkan matanya, meningkatkan level tenaga dalamnya dalam mode merah. Ketika matanya terbuka kembali, ia melihat Wei Sihao nampak kaget dan tak mempercaiayi penglihatannya.


“Aura itu???!! Sialan, siapa bocah ini??!!” Wei Sihao mengepalkan tangan, segala kebingungan yang menggelayuti kepalanya akhirnya terjawab sudah. Bukan karena kualitas serangannya yang menurun, tetapi ternyata ia memang berhadapan dengan bocah ajaib, atau setidaknya jika usia Zhou Fu sama dengan penampakan fisiknya.


Para penonton tentu tak begitu memahami apa yang sedang terjadi. Setidaknya, mereka semua masih dalam level yang belum mampu melihat lingkaran tenaga dalam seseorang menggunakan indra penglihatan. Mereka hanya tertegun melihat Wei Sihao justru nampak memucat ketika melihat lawannya tersungkur dan terluka parah.


“Mengapa ia justru terlihat gusar setelah berhasil memberi serangan pada bocah itu?” Feng Yaoshan mengurut dagunya, pemandangan yang ia lihat nyatanya cukup aneh. Seharusnya Wei Sihao senang melihat musuhnya sudah muntah darah, tetapi ia justru memundurkan kakinya beberapa langkah, seperti terlihat takut dengan musuhnya.


“Sekarang, giliranku yang akan menggunakan seluruh kekuatanku. Aku tak akan segan-segan lagi padamu, paman!” ucap Zhou Fu seraya tersenyum dan mengusap darah di bibirnya. Ucapannya itulah yang entah bagaimana telah membuat lawannya sedikit gemetar ketakutan.


Teman, saya ada permintaan sedikit. Jika gak keberatan, tolong tonton Video yg saya lingkari (lingkari warna ijo) di gambar bawah ini, di yutub cahennel saya. Video itu kebetulan performanya lagi bagus. Mohon kesediaan kalian untuk menontonnya barang 5 menit gpp 🙏🙏🙏


__ADS_1


__ADS_2