
Barangkali, perjalanan melewati jalur Jurang Neraka memang hanya akan ditempuh oleh orang-orang yang tak memiliki pilihan lain. Tak ada hal indah ataupun menyenangkan yang bisa didapat dari sebuah perjalanan yang melewati jalur Jurang Neraka. Ketika malam tiba, jalur ini mengirimkan hawa dingin sedingin es membuat siapa saja yang lewat akan tersiksa karena hawa dingin yang menusuk. Sedang saat matahari bersinar, jalur ini tak ubahnya sebuah jalan setapak yang seperti berdekatan dengan matahari. Terik dan menyengat.
Zhou Fu danYang Zi telah berjalan sejauh sepuluh mil dari lokasi lembah neraka. Sepanjang sepuluh mil itu juga, pemandangan yang mereka lihat hanyalah bebatuan tebing kering dan jalan setapak yang berdebu. Karena panas yang terlalu menyengat, jalan setapak yang mereka lewati bahkan memunculkan fatamorgana yang membuat jalanan tersebut nampak bergelombang seperti air.
“Kita tidak bisa memilih jalur Jurang Neraka jika tak memiliki kuda!” gerutu Yang Zi sembari terus mengusap bulir keringat yang membanjiri wajahnya. Ia kesal karena ajakannya untuk menaiki tebing selalu ditolak oleh Zhou Fu. Ratusan meter di atas jalur jurang neraka terdapat sebuah lereng landai yang dihuni oleh manusia. Zhou Fu sebenarnya juga sepakat dengan apa yang digerutukan oleh Yang Zi, tetapi ia masih memikirkan alternatif terbaik menuju ke sungai Juda.
“Kau pikir menaiki tebing setinggi dan securam ini tak memakan waktu? Ayo kita pikirkan cara yang lebih baik sambil terus berjalan. Setidaknya jalur ini adalah jalan tercepat untuk ke Juda,” sahut Zhou Fu yang kembali menolak ajakan Yang Zi untuk menaiki tebing curam Caihong.
Yang Zi sudah hampir menyahuti lagi ucapan Zhou Fu tetapi terhenti sebab mereka berdua mendengar sebuah teriakan yang cukup keras dari arah atas. Baik Zhou Fu dan Yang Zi sama-sama mendongak ke atas, mencari tahu sumber suara teriakan itu berasal.
Seperti air hujan yang turun dari langit, pemilik suara yang beberapa saat lalu menjerit itu terjun bebas dari ketinggian. Tubuh itu akan menghantam ke bebatuan di jalan setapak Jurang Neraka andai saja Zhou Fu tak bergegas merengkuhnya.
“Aduuuh saaakiiiiit!” seru pemilik suara itu yang ternyata adalah seorang bocah laki-laki yang baru berusia sekitar tujuh tahun.
“Kau tidak papa?” tanya Zhou Fu begitu menemukan satu anak panah menancap di bagian pundak kanan si bocah. Zhou Fu menurunkan bocah itu dari gendongannya agar ia bisa memeriksa jika ada kemungkinan luka lain di tubuh bocah tersebut.
Bocah itu menggeleng pelan pertanda ia tak sedang baik-baik saja. Meski tangan kanannya yang terkena anak panah, bocah itu merintih kesakitan sembari memegangi lutut kirinya. Setelah Zhou Fu memeriksa bagian tersebut, ternyata ada luka gores yang panjang dan cukup dalam di bagian belakang betis bocah itu. Meski sedang dalam keadaan terluka di sana-sini, bocah itu menyempatkan diri untuk membungkuk sembari berterima kasih pada Zhou Fu.
“Ka…Kau… Bagaimana bisa terjatuh dari atas sana?” Yang Zi mendekat, tangan kanannya menunjuk ke arah tebing nan jauh di atas sana.
“Aku tertangkap oleh petugas keamanan desa. Kakak, sepertinya lukaku butuh perawatan segera, bisakah kalian mengantarku ke Desa Malam?” bocah itu memandangi Zhou Fu dan Yang Zi dengan tatapan memohon.
Yang Zi dan Zhou Fu saling berpandangan satu sama lain ketika mendengar kalimat yang terlontar dari bibir bocah itu. Untuk anak seusianya dan sedang menderita luka separah itu, normalnya mereka akan menangis dan merengek sepanjang waktu. Tetapi bocah itu seolah menunjukkan kedewasaan yang melebihi usianya.
__ADS_1
“Mengapa kakak-kakak ini diam saja? Apakah permintaanku terlalu merepotkan?” tanya bocah itu sambil terus mencengkeram erat lutut kaki kirinya. Dari caranya mencengkeram kakinya itu, jelas terlihat jika sakit yang dialami bocah tersebut tidaklah ringan. Tapi tetap saja, wajahnya sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda ia akan merengek dan menangis.
Zhou Fu memosisikan tubuhnya untuk sejajar sama tinggi dengan bocah itu. Tangannya lantas bergerak lembut ke atas dan ke bawah mengelilingi luka si bocah. Bocah tersebut merasakan ada hawa hangat yang melewati permukaan kulitnya tatkala tangan Zhou Fu hilir mudik melakukan pertolongan pertama. Cengkraman tangan bocah itu pun perlahan-lahan mengendur, raut wajahnya nampak lebih segar.
“Terima kasih, Kakak… Rasanya sudah jauh lebih baik, sepertinya aku bisa pulang sendiri kalau begini,” bocah itu membungkukkan tubuhnya pada Zhou Fu yang memosisikan diri sama tinggi dengannya. Lagi-lagi, Zhou Fu dan Yang Zi kaget karena bocah itu nyatanya seperti sudah sangat biasa sekali mengalami luka-luka serius.
“Di mana rumahmu?” tanya Zhou Fu dan Yang Zi bersamaan.
“Di desa Malam, tak begitu jauh dari sini sebenarnya, hanya berkisar lima belas mil dari sini mungkin. Sepertinya kakak-kakak ini belum pernah berkunjung ke desa kami?” Bocah itu bertanya setengah menebak, memang cukup jarang orang yang tahu tentang desa Malam.
“Bukankah setahuku jarak terdekat jalur Jurang Neraka dengan pemukiman adalah seratus mil?” Yang Zi bertanya penasaran.
“Ya. Sebab desa Malam tak pernah dianggap sebagai pemukiman. Kakak pasti akan senang berkunjung di desa kami,” sahut bocah tersebut dengan wajah riang. Nyeri hebat di kakinya sudah berkurang cukup banyak sehingga ia merasa jauh lebih baikan.
“Apakah kami bisa mendapatkan kuda di desamu?” Zhou Fu bertanya.
“Ah tidak, kami tidak meminta hadiah. Kami memiliki uang, kami akan membelinya dari ayahmu,” Yang Zi berucap seraya menunjukkan sebuah kantung hitam berisi keping uang pada bocah tujuh tahun itu.
“Sayangnya desa kami tidak menggunakan uang. Kami membenci uang, dan hidup bahagia tanpa uang,” jawab bocah itu dengan ekspresi yang sepertinya menunjukkan sebuah kejujuran.
Hal tersebut lantas membuat Zhou Fu dan Yang Zi saling bertatap mata kembali. Sebuah desa hidup tanpa uang? Bagaimana bisa itu terjadi? Yang Zi mengerutkan keningnya karena tak mengerti.
“Baiklah, mari kita menuju ke desa Malam. Jika kita mendapatkan kuda di sana, itu akan lebih baik dari pada menaiki tebing terjal ini. Bagaimana?” Zhou Fu melemparkan pertanyaan pada Yang Zi dan dibalas dengan anggukan oleh gadis itu.
__ADS_1
“Oh ya, siapa namamu?” Yang Zi bertanya pada bocah tujuh tahun itu.
“Yuan Jin, Kakak…”
***
Untuk menuju ke desa Malam, Yuan Jin membimbing Zhou Fu dan Yang Zi melewati sebuah gua sempit yang terletak di sisi bebatuan tebing di jalur Jurang Neraka. Gua tersebut dari luar hanya nampak seperti sebuah lubang kecil berdiameter 80cm. Untuk memasukinya, seseorang harus mengantri bergantian sebab pintu masuk tersebut hanya bisa dilewati oleh satu orang. Begitu melewati pintu goa yang lebih mirip disebut sebagai lubang hitam di tembok tebing, seseorang akan mendapati jika goa itu memiliki beberapa lorong yang saling bertemu di satu titik yang sama.
“Ke sini, Kakak…” Yuan Jin memberi pengarahan untuk Zhou Fu dan Yang Zi agar memasuki lorong yang paling kiri. Sesekali, Zhou Fu melihat Yuan Jin mencengkram lututnya lagi, tetapi setiap kali Zhou menawarinya untuk digendong bocah itu menolak halus.
“Dari bentuknya, sepertinya goa ini dibuat oleh manusia dan bukan hasil bentukan alam, apakah tebakanku keliru?” Zhou Fu mencoba bertanya pada Yuan Jin begitu melihat bentuk lorong gua yang nampak seperti goa buatan. Yuan Jin mengangguk dan membenarkan dugaan Zhou Fu. Ia juga menambahkan jika desa Malam bentuknya juga tak jauh berbeda dengan goa.
“Benarkah? Aku cukup penasaran bagaimana rupa dari desa Malam itu,” sahut Yang Zi yang mulai tak sabar ingin segera sampai ke tempat tersebut.
Yuan Jin menjelaskan juga, untuk urusan tertentu, warga desa Malam sengaja membuat akses menuju ke jalur Jurang Neraka. Sepanjang perjalanan menuju ke desa Malam, Yuan Jin telah menceritakan sedikit gambaran tentang desanya tersebut. Ia menuturkan pada Zhou Fu dan Yang Zi jika penduduk di desa Malam sejatinya adalah keturunan yang berasal dari pemukiman di Maundo yang terdepak keluar.
“Mengapa bisa begitu?” Yang Zi bertanya, seingatnya warga di Maundo tidak perlu membayar sejumlah upeti sebagaimana keluarga-keluarga yang hidup di dalam tembok raksasa.
“Kakak bisa menanyakan langsung pada ayahku nanti. Yang jelas, kami warga desa Malam tidak begitu menyukai hal-hal yang berhubungan dengan warga dan pemerintahan Caihong. Mereka menggembor-gemborkan wacana keadilan tetapi menciptakan sistem yang cacat keadilan juga,” tutur Yuan Jin dengan sebuah senyuman kecil di wajahnya.
“Ah, usianya bahkan terlalu muda untuk memiliki pemikiran sematang ini,” Yang Zi berbisik pada Zhou Fu sembari menyenggol pundak kanan pemuda itu.
“Negerimu itu sepertinya memang senang memancing masalah,” sahut Zhou Fu sekenanya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=
Hari ini saya Up 3 chapter panjang-panjang di sini...