
Menginformasikan jika di yutub sudah sampai 77 chapter (selisih 7 chapter dari sini). Ketik aja di pencarian, ‘Pendekar Benua Timur’ atau iPus Channel. Di noveltoon bakal up lagi senin depan. Selamat hari Senin dan selamat beraktivitas.
Ch. 70 – Bertemu Nona Shen Yang
Dari sebuah tempat yang tak terlihat, Yang Zi dan Zhou Fu bersembunyi. Mereka sedang mengawasi kereta kuda Feng Yaoshan yang telah tiba kembali di Biro Pengawal Juda sebelum tengah malam. Kedatangan kereta kuda itu cukup membuat dada Yang Zi berdegup kencang sebab itu adalah untuk yang pertama kalinya dia memiliki kesempatan untuk bisa bertemu dengan saudarinya setelah berbulan-bulan terpisah.
Akhirnya, Feng Yaoshan keluar dari kereta dan turun dengan menggendong seorang gadis di punggungnya. Gadis itu nampak terkulai lemah dengan jari-jemari terlihat putih pucat. Suhu tubuh Shen Shen pun sudah seperti jasad yang baru saja kehilangan ruhnya. Andai saja hidung Shen Shen tak sedang bernapas, tentu wajah Feng Yaoshan tak akan seriang itu.
“Tenang, Shen Yang-ku, sebentar lagi aku akan membawakan tabib terbaik untukmu. Kau akan selamat, dan kita berdua akan hidup bahagia selama-lamanya!” ucap Feng Yaoshan pelan, sembari mengusap-usap punggung tangan Shen Shen yang pucat.
Pria itu kemudian berjalan menuju ke sebuah kapal yang akan membawanya berlayar kembali ke seberang. Sebuah kapal yang tadinya juga mengantarnya ke distrik Jinwei. Sementara itu, Yang Zi dan Zhou Fu pun telah berada di dalam kapal tersebut, bukan sebagai penumpang melainkan sebagai penyusup. Mereka berdua telah bersiap-siap merebut Shen Shen ketika kapal berada di tengah perairan Juda.
“Tuan, tolong antar kami ke seberang segera!” seru Feng Yaoshan pada seorang petugas kapal, “oh ya, apakah di kapal ini ada persedian obat? Jika ada, tolong tugaskan satu orang untuk merawat pamanku ini!” ucap Feng Yaoshan seraya menunjuk ke arah luka di tubuh kasimnya.
Dalam keadaan normal, Feng Yaoshan memang merupakan seorang pemuda yang sopan dan santun. Ia juga seorang yang penyayang. Hal tersebut jugalah yang membuat pengawal Feng Yaoshan sangat menghormati dan cukup setia pada pemuda bangsawan itu.
“Oh, tak perlu mengkhawatirkan saya, Tuan Muda. Saya masih cukup baik-baik saja,” ujar si kasim sedikit berbohong, nyatanya dia memang kurang baik sebab luka di tubuhnya telah membuat suhu badannya meningkat tajam, ia juga sudah kehilangan banyak darah.
“Paman harus beristirahat total malam ini, besok jika memungkinkan kita melanjutkan perjalanan kembali ke Caihong,” sahut Feng Yaoshan lantas ia memasuki kapal dan menyandarkan Shen Shen pada sebuah kursi kosong.
Kapal pun mulai bergerak menyebrangi sungai Juda. Meninggalkan distrik Jinwei secara perlahan-lahan. Di beberapa puluh menit pertama, kapal yang dinaiki Feng Yaoshan itu akhirnya berada di tengah-tengah perairan Juda. Saat itulah Zhou Fu mulai bergerak mendekati targetnya, sementara ia mulai mendekati Feng Yaoshan, ia meminta Yang Zi untuk tetap dalam persembunyian.
Dalam keheningan malam itu, suara langkah kaki mulai terdengar di telinga Feng Yaoshan. Pemuda itu mencoba berwaspada sendirian sebab pengawalnya sedang tertidur akibat pengarh obat. Ia yakin langkah kaki yang datang itu bukanlah langkah kaki dari petugas kapal sebab langkah kaki itu sepertinya berjalan dengan cukup santai dan memberi kesan seolah sedang mengintimidasi.
“Siapa di sana?” Feng Yaoshan berkata dengan sedikit berteriak. Selang beberapa saat, muncullah di hadapan Feng Yaoshan, seorang pemuda bertopeng, pemuda itu mengarahkan telunjuk tangannya pada tubuh gadis yang sedang tak sadarkan diri.
“Serahkan gadis itu padaku. Maka aku akan membiarkanmu lewat dengan damai!” ucap Zhou Fu ketika ia telah berada cukup dekat dengan Feng Yaoshan.
“Tidak akan! Aku lebih memilih mati ketimbang menyerahkan gadisku pada penjahat sepertimu!” jawab Feng Yaoshan dengan satu tangannya mendekap tubuh Shen Shen.
“Jadi, kau memilih cara yang kasar? Baiklah!” karena tak mau berlama-lama, Zhou Fu menarik pedang di pinggang kirinya. Ia lantas mengayunkan pedang itu ke arah Feng Yaoshan tetapi tiba-tiba pedangnya dihadang oleh pedang lain.
“Tak kan kubiarkan siapapun melukai tuan muda!” ujar si kasim seraya menangkis pedang milik Zhou Fu dengan pedang miliknya.
__ADS_1
“Paman, jangan memaksakan diri. Paman bisa kehilangan nyawa saat ini juga jika saya mau!” Zhou Fu menekan pedang milik si kasim hingga membuat si kasim tersebut memegangi pedangnya dengan kedua tangan untuk menahan tekanan yang cukup kuat dari Zhou Fu.
Kasim tersebut kaget ketika mendengar suara di balik topeng musuhnya. Ia belum pernah mengalami kekalahan ketika bertarung dengan seseorang yang lebih muda darinya. Suara musuh di balik topeng itu masih terlalu muda untuk bisa menekan serangannya dengan begitu kuat.
“Tuan muda, pergilah dari sini secepatnya! Saya bisa menahan orang ini!” seru si Kasim pada Feng Yaoshan. Jelas dia berbohong sebab ia yakin pemuda di balik topeng itu memang benar-benar bisa mengambil nyawanya dengan segera.
Feng Yaoshan merangkul tubuh Shen Shen dan sudah dalam posisi siap untuk pergi dari kapal itu. Ia berencana untuk terjun ke sungai Juda dan berenang hingga ke tepian.
“Hei, kalau mau pergi, pergi saja dan tinggalkan gadis itu!” seketika, telapak kaki Zhou Fu sudah berada tepat di bawah dagu Feng Yaoshan yang hendak kabur.
Kaki Zhou Fu menekan leher Feng Yaoshan hingga pemuda itu menampakkan ekspresi kesakitan sementara si kasim juga tak bisa berbuat apa-apa sebab jika ia melepaskan pengangan pedangnya, tubuhnya pasti langsung terbelah menjadi dua bagian.
“Tuan Muda, demi keselamatan tuan muda,tolong lepaskan nona Shen!” pekik si kasim, ia sudah hampir tak kuat menahan tekanan dari Zhou Fu, sementara Zhou Fu masih terlihat cukup santai posisinya. Menandakan jika ia tak mengeluarkan banyak tenaga untuk mengintimidasi dua lawannya sekaligus.
“Nah, itu baru benar!” jawab Zhou Fu menimpali.
“Suara ini… Aura ini… Aku ingat! K…Kau… Kau adalah pemuda yang bersama Shen Yang beberapa minggu lalu!” Feng Yaoshan memekik, “lepaskan kakimu dulu! Aku memiliki kabar buruk tentang Shen Yang!”
Zhou Fu tak menunjukkan tanda-tanda menyetujui ucapan Feng Yaoshan, hingga ketika matanya menatap kulit Shen Shen yang memucat, ia menelan ludah berulang kali lalu melepaskan kedua lawannya, “apa yang terjadi pada Shen Shen?”
“Dia tak sadarkan diri selama seminggu terakhir ini!” ucap Feng Yaoshan seraya mempersilakan Zhou Fu memeriksa tubuh Shen Shen juga. Bagi Feng Yaoshan, keselamatan Shen Shen adalah di atas segalanya sekalipun ia harus berlutut meminta tolong pada musuhnya, Zhou Fu.
Zhou Fu memengang kening Shen Shen, mengecek denyut nadinya dan mendengarkan degup jantung gadis itu. Beberapa saat setelahnya, ia baru ingat tentang diadem naga perak yang ia temukan di laut Luzon.
“Sial! Di mana mahkota keperakan yang dikenakan Shen Shen?” pekik Zhou Fu ketika ia tak menemukan apapun setelah menggeledah pakaian Shen Shen.
“Mahkota… Mahkota keperakan? Memangnya kenapa?” Feng Yaoshan bertanya tergeragap, ia tentu ingat dengan mahkota itu sebab ia yang melepaskan mahkota tersebut dari kepala Shen Shen.
“Kau tahu? Di mana?!!!”
“Di dalam kapal Guichuan, di pelabuhan rahasia. Tepatnya, di balik air terjun Juda!”
***
Sungai Juda membentang selebar lima kilo meter membuat aliran sungai tersebut nampak seperti lautan lepas karena saking luasnya. Arus air di sungai tersebut bergerak ke kanan menuju ke sebuah ujung tebing Caihong lalu jatuh ke permukaan laut membentuk air terjun. Dan, di balik air terjun itulah sebuah pelabuhan rahasia berada. Pelabuhan khusus yang selama ini digunakan sebagai keluar masuknya kapal-kapal illegal ke Caihong.
__ADS_1
Di pelabuhan rahasia itulah kapal Guichuan berada, melabuh bersama dengan beberapa puluh kapal lain milik kelompok-kelompok hitam. Malam itu, Zhou Fu dan Feng Yaoshan pergi berdua menuju ke pelabuhan rahasia setelah kapal mereka mendarat di seberang. Sementara itu, Shen Shen tetap berada di kapal dengan dijaga oleh Yang Zi dan si kasim.
“Kuharap, karena ini dini hari, penjagaan di sana tak begitu ketat!” ucap Feng Yaoshan pada Zhou Fu.
“Jika keberadaan kita diketahui musuh, kau akan ingat perjanjian kita bukan?” Zhou Fu menyenggol pundak Feng Yaoshan, saat itu mereka sedang berjalan merayap di tebing curam.
Sebelumnya, Feng Yaoshan telah berkata jika ia bersedia ditangkap musuh asal Zhou Fu berhasil membawa mahkota keperakan kepada Shen Shen, “kuharap kau tak akan setega itu padaku. Ingat, aku berjasa banyak padamu!” jawab Feng Yaoshan dengan helaan napas panjang.
“Baiklah, kita lihat saja nanti! Jangan terlalu berharap pada budi baikku!” jawab Zhou Fu setengah menggoda. Entah bagaimana, ia merasa Feng Yaoshan memang terlalu kasihan jika dijahati. Kepedulian Feng Yaoshan pada Shen Shen, sedikit banyak membuat Zhou Fu berbaik hati pada putra bangsawan itu.
“Itu, di balik air terjun itulah kapalku berada! Kapalku yang kau pinjam berminggu-minggu!” celetuk Feng Yaoshan seraya menunjuk ke arah air terjun Juda.
***
Bulan masih bertengger di atas langit ketika Zhou Fu memasuki kapal warga yang disewa oleh Feng Yaoshan. Melihat kedatangan Zhou Fu, Yang Zi berteriak gembira namun tidak dengan kasim Feng Yaoshan. Kasim itu setengah berlari menghampiri Zhou Fu dan menanyakan kabar tuan mudanya.
“Oh, tuan, apakah tuan muda Feng terluka parah?” tanya si kasim seraya meraih Feng Yaoshan yang diapit tangan Zhou Fu di ketiaknya. Pemuda itu nampak terkulai sangat lemah.
“Terluka?!! Oh, kukira dia butuh banyak latihan fisik! Dia kelelahan saat kuajak berlari di tebing! Terpaksa aku menggendongnya!” jawab Zhou Fu sedikit kesal.
Si kasim nampak tersenyum lega mengetahui tuan mudanya hanya mengalami kelelahan. Ia pun membopong Feng Yaoshan untuk didudukkan dan diberi perawatan sementara Zhou Fu dan Yang Zi langsung menghampiri Shen Shen yang masih tertidur lama.
“Aku tak tahu ini akan berhasil atau tidak. Tapi tak ada salahnya kita mencoba!” ujar Zhou Fu pada Yang Zi. Yang Zi pun mengangguk dan berdoa untuk keselamatan kakaknya.
Zhou Fu meletakkan Diadem Naga Perak dengan perlahan-lahan ke kepala Shen Shen, menyelipkan sisi-sisi runcingnya ke dalam rambut gadis itu.
Seketika, mata Shen Shen terbelalak lebar. Ia bangun terduduk dengan napas tersengal-sengal. Yang Zi dan Zhou Fu berteriak histeris atas bangunnya Shen Shen dari tidur panjang.
“Kakak, akhirnya kakak bangun juga!” Yang Zi memeluk Shen Shen yang masih nampak seperti kebingungan.
“Dasar gadis yang merepotkan! Lihat, kami semua dibuat repot hanya karena dirimu!” Zhou Fu menepuk-nepuk pundak Shen Shen.
Gadis itu kemudian seperti kehilangan kesadaran lagi, tubuhnya terkulai lemas, mata dan bibirnya tertutup rapat.
“Kakak… Kakak… Bangun… kakak… Kau bisa mendengarku?” Yang Zi mengguncang-guncang tubuh kakaknya yang terkulai itu.
__ADS_1
“L…Lap…Lapar… Aku lapar…. Beri aku makan….” ucap Shen Shen sembari tangan kirinya menarik-narik pakaian Zhou Fu dengan sangat lemah.