Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
CH. 30 – Terumbu Karang Purba


__ADS_3

“Apa??? Tidak ada satu orang pun yang berhasil mengambil pusaka kuno dari sana?” Zhou Fu yang awalnya sudah memejamkan mata, kini mencoba membuka mata sembari duduk bersila dengan punggung tangannya menopang dagu. Ada gejolak semangat yang muncul di dadanya karena merasa tertantang.


Mata Shen Shen berbinar, senyumnya merekah ketika melihat Zhou Fu mulai tertarik dengan topik tentang laut Luzon. Shen Shen melompat dari tempatnya berada untuk duduk di dekat Zhou Fu yang sedang serius berpikir.


“Ya, sejarah mengatakan jika hanya ada segelintir pendekar yang bisa kembali setelah memasuki Peradaban yang Tenggelam di laut Luzon. Dari segelintir orang itu, tak satu pun dari mereka yang berhasil mendapatkan pusaka kuno. Mereka hanya kembali membawa ketakutan, ketakutan yang membuat mereka tak mau kembali ke sana!” cerocos Shen Shen panjang lebar.


Zhou Fu tampak membayangkan sesuatu tatkala Shen Shen berbicara panjang lebar tentang laut Luzon. Cerita tentang  Peradaban yang Tenggelam di laut Luzon memang bukan bualan, titik lokasinya bahkan digambar di dalam peta-peta. Hanya saja, ada kelompok orang yang menganggap jika cerita di laut Luzon itu tak lebih dari dongeng anak-anak. Sebagian lagi memilih untuk percaya karena cerita tentang pendekar yang bertualang ke tempat itu juga bukan hanya satu atau dua orang saja.


Beberapa pendekar yang mempercayai jika Laut Luzon menyimpan pusaka kuno berbondong-bondong datang ke lokasi tetapi hanya sedikit dari mereka yang kembali. Rata-rata, para pendekar tersebut gagal bertahan menjelajahi kedalaman laut Luzon karena manusia memang tidak ditakdirkan untuk dapat bernapas di dalam air.


Tapi, Shen Shen pernah mendengar cerita dari Zhou Fu jika Zhou Fu dan Li Xian mampu bertahan di dalam air selama lebih dari lima jam. Bahkan sesekali melebihi batas waktu tersebut jika diperlukan. Shen Shen belum pernah bertanya bagaimana caranya, sebab awalnya Shen Shen hanya menganggap itu sebagai bualan seorang remaja. Setelah mengetahui kemampuan Zhou Fu yang melampaui usianya, Shen Shen yakin jika cerita Zhou Fu tentang bertahan di dalam air itu bukanlah bualan semata.


“Fu’er, kukira kau akan menjadi orang pertama yang bisa menaklukan laut Luzon! Bukankah kau bisa bertahan hidup di dalam air?” Shen Shen menggoyang-goyang pundak Zhou Fu dengan keras sebab Zhou Fu seperti sedang melamun sangat dalam.


“Eh, apa katamu? Hidup di dalam air? Tentu saja tidak! Manusia mana yang bisa hidup di air?” Zhou Fu menggerakkan pundaknya untuk menyingkirkan tangan Shen Shen dari sana. Zhou Fu memang sedang asyik berkhayal, ia membayangkan bisa menemukan sesuatu yang sangat berharga di dalam Peradaban yang Tenggelam untuk kemudian dihadiahkan pada kakek Li Xian. Zhou Fu ingat jika ada satu jurus sakti milik kakek Li Xian yang baru akan diberikan kepada Zhou Fu jika Zhou Fu berhasil memberinya hadiah spesial.


“Jadi benar, kau hanya membohongiku soal bisa bertahan di air itu?” Shen Shen sontak memanyunkan bibirnya karena merasa dibohongi Zhou Fu.


“Bohong? Bertahan di air? Kalau soal bertahan di air, tentu aku dan kakekku ahlinya. Bicaramu saja yang keliru. Kau mengatakan ‘hidup di air’ sebelumnya, bukan ‘bertahan di air’ ingat itu!”

__ADS_1


Zhou Fu menjitakkan jarinya ke kepala Shen Shen, ia memang sering merasa geram pada Shen Shen yang manja dan gemar memanyunkan bibir.


“Aduh… Singkirkan tanganmu bocah kecil!” Shen Shen menangkis tangan Zhou Fu dengan keras karena merasa kesal diperlakukan dengan tidak sopan oleh laki-laki yang lebih muda darinya. Zhou Fu pun kemudian bangkit berdiri dan berjalan menuju ke tepi kapal, matanya seperti sedang menyisir lautan luas. Setelah beberapa saat, Zhou Fu menoleh ke belakang dan bertanya pada Shen Shen yang masih memegangi kepalanya.


“Kau ingin melihat bagaimana aku bisa bertahan di dalam air?” Zhou Fu mendongakkan dagunya pada Shen Shen layaknya seorang musuh sedang menantang lawannya.


Shen Shen mengangguk dengan riang, ia kembali memiliki harapan untuk menemukan harta karun tersembunyi di dalam Laut Luzon.


“Baiklah, pertama-tama kita harus menemukan montipora, terumbu karang yang biasa hidup di kedalaman 300 kaki. Jika kita bisa menemukan montipora purba, kita bahkan bisa bertahan di dalam air selama lebih dari satu hari,” Zhou Fu menyipitkan matanya untuk melihat  hamparan laut yang berpotensi menjadi habitat terumbu karang di dalamnya.


Raut wajah Shen Shen nampak terperangah kaget, montipora adalah biota laut yang cukup umum ditemukan di laut dangkal dan memiliki warna biru keunguan. Ia tak menyangka jika jenis terumbu karang itu memiliki khasiat yang sangat bagus.


Zhou Fu pun melangkahkan kaki dengan cepat ke arah ruang penjamuan, tempat di mana Shen Shen meletakkan gulungan peta yang didapat dari putra bangsawan Feng Yaoshan.


Peta yang digambar Feng Yaoshan itu dikeluarkan oleh Shen Shen dari dalam tabung penyimpanan. Shen Shen membentangkan peta tersebut ke meja dan Zhou Fu pun mulai mengamati pulau-pulau kecil yang tak diberi tanda oleh Feng Yaoshan. Beberapa pulau di dalam peta memiliki tanda silang yang artinya wilayah tersebut ditinggali kelompok yang bersekutu dengan asosiasi Naga Perak.


“Pesisir pulau itu sepertinya memiliki habitat terumbu karang yang banyak!” jari telunjuk Shen Shen menunjuk ke arah satu titik.


Mata Zhou Fu mengikuti arah jari telunjuk Shen Shen dan kepalanya pun mulai mengangguk-angguk pelan. Tak semua lautan memiliki terumbu karang, tetapi orang-orang yang sudah berpengalaman mampu menganalisa bagian laut mana yang kemungkinan dihidupi oleh segerombol terumbu karang.

__ADS_1


“Pengamatanmu bagus juga!” Zhou Fu memberi pujian kecil pada Shen Shen.


“Oh ya, jika nanti perjalanan kita terasa membosankan, aku akan mencoba berkunjung ke pulau-pulau yang bertanda silang, kau jangan coba-coba menghalangi!” Zhou Fu berbicara lagi, menurutnya, pengembaraan tanpa dihadang musuh adalah seperti langit malam tak berbintang. Kelam dan sepi. Lagipula, Zhou Fu juga merasa butuh untuk sesering mungkin berjumpa dengan musuh, hanya saja ia belum leluasa untuk melakukannya karena ada Shen Shen yang lemah yang bersamanya.


“Kalau begitu setidaknya ajarkan aku beberapa dasar ilmu bela diri!” Shen Shen menyilangkan dua tangannya ke dada, tentu saja dengan bibir yang dimanyunkan. Ia kesal karena Zhou Fu pasti tak pernah merasakan bagaimana ketakutan seseorang tak berilmu ketika bertemu musuh.


“Kau ingin aku menjadi gurumu? Baiklah, dengan satu syarat!” jawab Zhou Fu sembari mendeketkan wajahnya pada wajah Shen Shen, perempuan itu pun refleks memundurkan wajahnya karena kaget.


“Satu syarat? A… Apa itu?” tanya Shen Shen masih sedikit tergugu karena kaget wajah Zhou Fu mendadak berada cukup dekat dengan wajahnya.


“Ya. Jangan mati!” ujar Zhou Fu dengan nada serius.


Shen Shen diam sejenak karena tak menyangka jika syarat yang diajukan Zhou Fu adalah tentang keselamatannya. Untuk sejenak, Shen Shen terdiam karena salah tingkah.


“Setidaknya jangan mati dulu sebelum kau tiba di Caihong! Kalau kau sampai mati, ah, aku pasti juga akan dibunuh oleh kakek! Selama ini, aku tak pernah gagal menjalankan misi! Kau tahu, menjagamu agar tak mati di tengah jalan sepertinya lebih sulit ketimbang melawan musuh-musuh yang tangguh!” tambah Zhou Fu sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Oh Dewa! Kau hampir saja membuatku berdebar! Sial!” celetuk Shen Shen sambil memukulkan tangannya ke lengan Zhou Fu, “bodoh sekali pikiranku ini, baiklah tunggu apalagi, ayo kita temukan montipora purba dan segera berlayar ke laut Luzon!” ujar Shen Shen panjang lebar untuk menutupi sisa-sisa kegugupanya.


 

__ADS_1


__ADS_2