
---- Bab ini hanya tampil semingguan ya, setelah seminggu kemungkinan akan saya hapus, jika mau lihat lanjutannya, bisa cek yutub iPus Channel atau di aplikasi G00dN0vel------
“Aku tidak akan datang, demi apapun!”
“Apa maksudmu? Mereka mengundangmu untuk mengucapkan rasa terima kasih. Kau bahkan ditawari jabatan yang bagus di markas militer Caihong. Apa yang salah di sana?” Shen Shen menggeleng-gelengkan kepala bingung. Untuk seseorang rakyat jelata yang mendapatkan kesempatan menjadi bagian dari anggota militer Caihong, seharusnya itu menjadi sebuah tawaran yang menggirukan.
“Sebaiknya kita kembali saja ke penginapan, lagi pula kau tak akan mengerti apa yang aku khawatirkan,” Zhou Fu meraih lembaran undangan di tangan Shen Shen, menggulungnya kembali dan memsukkan gulungan itu ke dalam jubahnya. Shen Shen selalu menganggap bahwa pemerintahannya bersih sementara insting Zhou Fu mengatakan sebaliknya. Tentu akan terjadi perdebatan panjang jika Zhou Fu memilih berterus terang pada Shen Shen.
Shen Shen pun pada akhirnya menerima usulan Zhou Fu. Ia bersedia untuk diajak kembali ke penginapan. Udara malam itu juga cukup menusuk ke tulang belulangnya, akan lebih baik jika mereka berada di penginapan yang hangat dan nyaman tentunya.
Dalam perjalanan kembali ke penginapan itu, Shen Shen dan Zhou Fu kembali berbincang-bincang tentang kemungkinan-kemungkinan hubungan antara peradaban di Laut Luzon dan keberadaan Shufashen. Mereka berdua seolah disergap oleh rasa penasaran yang sama besar terkait hal tersebut.
“Jika kau akan mencari Shufashen, aku bersumpah akan berlutut di kakimu dan tak akan bangun sampai kau mengajakku ikut bersamamu!” ucap Shen Shen setelah beberapa saat mereka saling diam.
“Kalau begitu, bersiap-siaplah untuk berlutut seumur hidupmu,” jawab Zhou Fu antara bercanda dan serius. Andai Shen Shen semandiri Yang Zi atau sehebat Zhao Yunlei dalam menghadapi musuh, mungkin Zhou Fu tak begitu khawatir jika mengembara bersamanya. Masalahnya, Shen Shen terlalu rapuh untuk diajak berkelana di alam bebas. Tentu tak baik mengajak gadis rapuh dalam pengembaraan yang berbahaya.
“Beri aku waktu! Aku akan berlatih lebih giat lagi di alam mimpi! Aku tak akan menjadi beban! Ayolah, ini bukan karena aku ingin mengikutimu, tapi murni ketertarikan pribadiku pada Shufashen itu sendiri!” Shen Shen mulai merengek pada Zhou Fu, ia memang berkata jujur. Meski setengah perasaannya mengatakan jika ia tertarik pada Zhou Fu, tetap saja Shufashen menjadi daya tarik yang lebih kuat baginya.
Zhou Fu pun berhenti sejenak, jika ia hendak mencari tahu tentang Shufashen, keberadaan Shen Shen memang memberi keuntungan yang besar sebab gadis itu memiliki wawasan yang luas akan sejarah. Pengetahuan Shen Shen bisa menunjang keberhasilannya dalam mengungkap Shufashen, jika dipikir-pikir.
__ADS_1
“Baiklah, kita buat kesepakatan kalau begitu. Setelah aku memulangkanmu, kita akan berpisah setidaknya satu bulan. Kau berlatihlah dengan keras, buktikan bahwa kau layak untuk berkelana ke dunia luar. Berhenti menjadi gadis manja, bagaimana?” Zhou Fu menatap Shen Shen dengan serius, jika Shen Shen setidaknya berhasil mencapai level aura hijau, ia akan berani mengajak gadis itu berkelana.
“AKU BERSEDIA!!!” Shen Shen menjawab dengan lantang, tubuhnya berdiri tegap, ia merapatkan dua tangannya ke samping badan dengan pandangan yang lurus ke depan.
“Menjadi tidak manja, tak juga harus bersikap kaku begitu, Nona Bangsawan!” Zhou Fu menepuk-nepuk kepala Shen Shen seolah gadis itu adalah juniornya. Meski terpaut usia yang lumayan jauh, Zhou Fu hampir tak pernah menganggap Shen Shen lebih senior darinya karena sikap gadis itu terbilang masih kekanak-kanakan.
Shen Shen merasa kesal dan senang secara bersamaan setiap kali Zhou Fu memperlakukannya seolah ia hanyalah gadis kecil yang rapuh. Ia dan Zhou Fu pun pada akhirnya saling bergurau bersama sepanjang perjalanan kembali ke penginapan. Shen Shen sudah tak sabar ingin segera menjajaki petualangan mengungkap sejarah. Begitu juga dengan Zhou Fu, ia juga ingin segera menemukan jati dirinya, asal usul keluarganya, dan bagaimana ia bisa diasingkan di pulau-pulau terpencil bersama seorang kakek bernama Li Xian itu.
***
Malam telah berganti pagi, rombongan Zhou Fu yang kini dipimpin oleh Pengawal Jing telah bersiap-siap melanjutkan perjalanan mereka. Terlihat, Zhou Fu memilih untuk berkuda di barisan terdepan dan membuat jarak dengan kereta kuda yang dinaiki teman-temannya. Ia sengaja melakukannya sebab mulut Feng Yaoshan terlalu berisik dan tak mau berhenti menanyakan tentang apa saja yang telah Zhou Fu lakukan bersama Shen Shen di malam itu.
Menit demi menit telah bergulir seiring dengan merangkaknya matahari ke permukaan. Rombongan Zhou Fu terus melangkah memasuki berlapis-lapis wilayah Bangsawan, setiap lapis kelas bangsawan terdapat tembok tinggi yang menjulang. Memisahkan tingkatan bangsawan satu dengan yang lainnya. Semakin ke dalam, tembok pembatas itu semakin tinggi pula. Bagi Zhou Fu yang baru pertama kali menjajaki wilayah kebangsawanan Caihong, ia cukup penasaran dengan konstruksi bangunan tembok pembatas tersebut.
“Tuan Muda, kita sudah hampir sampai.” Ucap Pengawal Jing seraya mendekatkan kudanya pada kuda hitam Zhou Fu, “Tuan Muda lihatlah ke arah sana, mereka adalah iring-iringan yang menyambut kedatangan Nona Shen Yang dan Nona Yang Zi. Setelah Nona-nona kembali pulang, saya akan melanjutkan perjalanan ke wilayah Bangsawan Kelas Satu untuk mengantar Tuan Muda Feng.”
Zhou Fu menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Pengawal Jing, di sana ia melihat manusia-manusia yang saling berbaris di tepi-tepi jalan, tangan kanan mereka terangkat ke atas sembari mengibas-kibaskan sebuah bendera kecil dengan sebuah ukiran tulisan yang tentu saja Zhou Fu tak mengerti cara membacanya.
Barisan-barisan manusia itu bersorak kian ramai ketika pandangan mereka tertuju ke satu arah. Zhou Fu mengikuti ke mana arah pandangan warga tertuju, ia menoleh ke belakang dan mendapati Shen Shen dan Yang Zi sedang berdiri dengan anggun di depan kereta kuda sambil melambai-lambaikan tangan kanan mereka.
__ADS_1
Zhou Fu melihat pemandangan yang rasanya hangat di dadanya. Senyuman-senyuman yang bertebaran di mana-mana ternyata turut membuat bibirnya terangkat ke atas, membentuk sebuah lengkungan manis yang juga enak dipandang mata. Shen Shen dan Yang Zi juga melihat sebentuk senyuman menawan di wajah Zhou Fu, itu adalah untuk yang pertama kalinya mereka melihat Zhou Fu tersenyum dengan begitu damai. Mereka pun beranggapan jika itu adalah bentuk senyum kebahagiaan karena pemuda itu telah terbebas dari beban.
***
Pesta penyambutan kepulangan Shen Shen dan Yang Zi digelar cukup meriah di kediaman Tuan Zhengyi. Kabar kedatangan Shen Shen dan Yang Zi telah sampai di telinga Tuan Zhengyi bahkan sebelum rombongan Zhou Fu tiba di gerbang Maundo. Oleh karena itu, sebuah pesta besar pun digelar demi menyambut kedatangan dua putrinya itu.
Dalam suasana yang meriah itu, Tuan Zhengyi sengaja menyambut Zhou Fu dan Feng Yaoshan di ruang jamuan khusus. Ruangan yang cukup lengang dan jauh dari hiruk pikuk manusia yang berpesta.
“Tuan Zhengyi, saya amat beruntung sebab bisa berperan cukup besar dalam penyelamatan putri Tuan,” Feng Yaoshan berujar ketika mereka bertiga sedang menenggak arak bersama.
Zhou Fu berdeham cukup keras setiap kali Feng Yaoshan menyombongkan diri di hadapan Tuan Zhengyi. Sementara itu, Tuan Zhengyi sendiri tampak cukup tenang mendengarkan sekaligus mengamati tamu-tamunya itu. Meski Feng Yaoshan adalah putra dari bangsawan Kelas Satu, terlihat Tuan Zhengyi sama sekali tak gugup atau bertingkah terlalu hormat pada Feng Yaoshan. Sepertinya hal itu menunjukkan jika posisi dan jabatan Tuan Zhengyi cukup tinggi di pemerintahan Caihong.
“Anak muda, aku cukup penasaran bagaimana awal mula kau bertemu dengan Shen Yang. Bagaimana keadaan Shen Yang waktu itu? Apakah ia sedang terluka?” Tuan Zhengyi melirik ke arah Zhou Fu yang terlihat lebih diam sepanjang penjamuan.
Zhou Fu yang sedang melamun, merasa sedikit kaget dengan pertanyaan Tuan Zhengyi. Sebuah ingatan pun tiba-tiba menyeruak di kepala Zhou Fu, tentang bagaimana ia bertemu dengan Shen Shen untuk yang pertama kalinya. Ketika mengingat kejadian ia mencomot dada Shen Shen, Zhou Fu mendadak tersedak air liurnya sendiri.
“Oh, soal itu… Saya sedang berburu binatang buas dan mendengar Nona Shen berteriak cukup keras. Sepertinya saya tak begitu mengingat detail kejadiannya, Tuan. Sebab itu sudah terlewat cukup lama.” Jawab Zhou Fu sedikit berbohong. Tentu ia masih cukup ingat tentang bagaimana empuknya gumpalan daging yang semula ia kira sebuah luka yang membengkak itu.
Ketika Tuan Zhengyi hendak menanggapi ucapan Zhou Fu, ruang jamuan terdengar diketuk sebanyak tiga kali. Tuan Zhengyi menoleh ke arah pintu dan memberi perintah pada pengawal untuk membukakan pintu. Ketika pintu dibuka, datanglah dua orang berseragam militer Caihong yang masuk menyeruak ke dalam ruang penjamuan.
__ADS_1
“Hormat kepada Tuan-Tuan! Kami datang ke sini dalam menjalankan perintah penjemputan Tuan Muda Zhou Fu. Berikut surat tugas kami, mohon Tuan memeriksanya jika ragu-ragu,” salah seorang yang berseragam itu mengulurkan sebuah gulungan berwarna cokelat sementara Zhou Fu, Feng Yaoshan, dan Tuan Zhengyi secara bersamaan mengerutkan dahi memandangi kedatangan prajurit Caihong yang tiba-tiba itu.
___________________________________