
Rao Guohoa adalah salah satu pendekar berpengaruh di organisasi Kelelawar Merah, sebuah organisasi hitam yang memiliki markas di wilayah bebas hukum di daratan Caihong. Negeri Caihong merupakan sebuah negeri yang memiliki daratan paling luas di antara yang lain, di dalamnya ada sebuah wilayah khusus yang disebut sebagai wilayah bebas hukum Caihong. Wilayah bebas hukum Caihong adalah sebuah daratan luas yang dipisah oleh sungai Juda. Sungai seluas tiga kilo meter itu berhasil membuat daratan yang dibelahnya menjadi sebuah wilayah terisolir. Wilayah tersebut kemudian menjadi lokasi bersarangnya beberapa sekte dan organisasi hitam.
Daratan Caihong sendiri memiliki jarak setara dengan berjalan kaki selama enam bulan dengan pulau Jidong. Keberadaan Rao Guohoa di sekitar pulau Jidong menandakan jika organisasi Kelelawar Merah sudah berhasil melakukan perluasan wilayah dan kemungkinan besar Rao Guohoa diangkat menjadi pemimpin di wilayah baru.
Tak diketahui dengan jelas bagaimana Rao Guohoa bisa mengendus keberadaan Shen Shen dari pulau Jidong. Keadaan kapal yang bergejolak beberapa waktu sebelumnya adalah akibat dari tebasan pedang Rao Guohoa pada permukaan air laut hingga membuat kapal oleng solah menubruk sesuatu. Rao Guohoa sendiri merupakan pendekar yang senang mengintimidasi lawan dengan memberi sinyal bahaya pada setiap kedatangannya.
Begitu melihat Zhou Fu yang seperti tak terpengaruh dengan aura dingin yang dilepaskan Rao Guohoa, pendekar perempuan itu memilih untuk tak menampakkan diri terlebih dahulu demi mengamati Zhou Fu. Sayang, pengamatannya justru dimentahkan oleh Zhou Fu sebab bukannya berhasil mempelajari tentang Zhou Fu, keberadaan Rao Guohoa justru dengan mudah diketahui oleh Zhou Fu.
“Bocah sialan! Siapa sebenarnya dia?!” Rao Guohoa melompat dari sisi tepi kapal menuju ke bagian dalam kapal untuk menghabisi lawan kecilnya, Zhou Fu.
Rao Guohoa baru berjalan beberapa langkah ketika telinganya mendengar sebuah ribut-ribut percakapan.
“Buruk rupa katamu? Aku bahkan bisa memikat seribu pria dengan tampilanku yang seperti ini sekalipun! Dasar mulutmu memang belum pernah diajari sopan santun!” terdengar suara Shen Shen yang sudah terbangun dan sedang saling adu bicara dengan Zhou Fu.
Mendengar jawaban Shen Shen, pundak Zhou Fu bergetar memberi gesture bergidik ngeri atau bisa juga dikatakan sebagai sebuah ekspresi yang menandakan seseorang sedang merasa jijik atau aneh ketika melihat sesuatu.
“Aku tidak mau melihat wajahmu yang seperti ini lebih lama lagi! Bisa-bisa mataku berkunang-kunang karenanya, benahi saja riasanmu ini!” Zhou Fu meraih dagu Shen Shen dengan tangan kirinya dan menggosok-gosok pipi Shen Shen dengan telapak tangan kanannya.
Shen Shen menjerit tak terima, mereka berdua pun akhirnya bertengkar dan sama sekali tak menyadari kedatangan Rao Guohoa.
Melihat pertengkaran dua muda-mudi di hadapannya, Rao Guohoa meledak karena marah. Ia tak terima jika keberadaannya tak dihargai. Harga dirinya seperti sedang terinjak-injak karena selama ini kedatangannya selalu berhasil membuat bergidik musuh-musuhnya.
“Rasakan ini!!!!” Rao Guohoa menebaskan pedangnya ke udara, menciptakan sebuah laju angin berkekuatan pedang terbang. Angin tersebut setara dengan ketajaman tebasan kapak yang bisa menumbangkan pohon besar.
Zhou Fu menoleh ke belakang dan dengan sekejap mata ia meraih pinggang Shen Shen untuk diterbangkannya ke tempat yang aman.
__ADS_1
“Sialan, bajuku robek!” Zhou Fu menggerutu ketika melihat beberapa helai pakaian bagian punggungnya ternyata terpotong oleh laju angin dari tebasan Rao Guohoa.
“A…Aku takut melihat wajahnya…” Shen Shen bergumam sembari langsung menenggelamkan wajahnya ke punggung Zhou Fu, Shen Shen bergidik ngeri sebab Rao Guohoa memang perempuan berwajah menyeramkan dengan gigi-gigi hitam yang memenuhi mulutya. Bibirnya pun berwarna hitam kebiruan sementara di bagian mata, Rao Guohoa memiliki sorot mata seperti burung elang, tajam dan tampak mematikan.
“Wajahmu justru lebih menyeramkan, kau tahu?” Zhou Fu membalas gumaman Shen Shen dengan nada sedikit kesal, tapi bernada jujur. Shen Shen menjadi geram karenanya.
“Boleh juga kemampuanmu bocah tengik!” Rao Guohoa mengangkat satu sisi bibirnya hingga menciptakan sebentuk senyum sinis yang tak enak dipandang.
“Dasar perempuan tak memiliki sopan santun! Setidaknya permisi dulu kalau mau masuk ke kamar orang!” Zhou Fu berujar sambari memberi isyarat agar Shen Shen menjauh darinya, “Kau bersembunyi dulu ke suatu tempat, perempuan ini bagianku!” Zhou Fu mengusir Shen Shen dan dijawab dengan anggukan kecil oleh Shen Shen.
***
Keadaan kapal nampak begitu buruk. Kerusakan terjadi di mana-mana, tiang kapal patah menjadi dua bagian, layar kapal sudah tak bisa lagi digunakan, lantai-lantai kapal tampak berlubang di sana sini. Semua kerusakan tersebut diakibatkan oleh pertarungan Rao Guohoa yang mencincang kapal dengan brutal melawan Zhou Fu yang saat itu masih belum memiliki senjata apapun.
“Singkirkan pedangmu kalau kau merasa hebat! Cuih!” Zhou Fu menantang musuhnya untuk bertarung dengan tangan kosong.
“Katakan saja kau tak bisa mengimbangiku, ha ha ha!” Rao Guohoa sebenarnya sudah merasa pertarungannya tidak imbang, dalam hati ia menyadari jika Zhou Fu lebih unggul daripada dia tetapi Zhou Fu bahkan masih remaja, terlalu memalukan baginya jika harus mengaku lebih lemah dari seorang bocah.
“Kau keras kepala juga ternyata! Baiklah, aku akan bertarung dengan sungguh-sungguh sekarang!” Zhou Fu mengepalkan dua tangan, karena ia tak menggunakan senjata apapun, Zhou Fu memberikan serangan langsung pada Rao Guohoa dengan tangan kosong.
Zhou Fu mempercepat gerakan pukulan-pukulannya hingga membuat Rao Guohoa mulai merasa kewalahan mengimbangi kecepatan serangan Zhou Fu. Momen itulah yang ditunggu Zhou Fu, momen kacaunya konsentrasi Rao Guohoa hingga perempuan itu tak sempat membuat perisai menggunakan pedangnya.
Buuuuuggg!!!!
Sebuah pukulan dari Zhou Fu berhasil mendarat tepat di ulu hati Rao Guohoa, perempuan itu pun terlempar sejauh lima meter. Pedangnya pun terlepas dari tangan sebab pukulan dari Zhou Fu berhasil mengejutkan seluruh bagian tubuh Rao Guohoa hingga ia tak mampu mengendalikan tubuhnya selama beberapa detik.
__ADS_1
Selama beberapa detik setelah pukulan Zhou Fu mengenai ulu hatinya, Rao Guohoa merasa seluruh tubuhnya diserbu nyeri lalu mati rasa beberapa saat. Ia awalnya mengira itu adalah awal dari sebuah kematian, tetapi kemudian ia menyadari jika napasnya masih ada.
“Masih hidup?!!!” Zhou Fu mengangkat alis karena kaget melihat musuhnya masih bisa bernapas setelah menerima pukulan pamungkas darinya, “gajah raksasa saja bisa mati seketika dengan pukulan tersebut, mengapa kau masih bisa bernapas?” Zhou Fu menggeleng-gelengkan kepala menyadari jika musuhnya ternyata seorang pendekar yang sangat tangguh dan kuat.
Rao Guohoa mengerahkan seluruh sisa kekuatannya untuk melesat menggunakan jurus khas dari kelompok Kelelawar Hitam. Zhou Fu tak menyadari ketika Rao Guohoa telah menggenggam pedangnya kembali dan ia sedang bersiap-siap menyerang Zhou Fu dengan kekuatan penuh.
“Rasakan ini!” Rao Guohoa menarik napas panjang, “Jurus Membelah Bumi!” tangan Rao Guohoa melakukan beberapa gerakan ayunan pedang dari atas udara.
Zhou Fu merasakan sebuah aura kuat akan segera meledak di sekitar tempat tersebut, Zhou Fu pun melesatkan tubuhnya untuk menjemput Shen Shen yang bersembunyi di bagian ujung kapal.
“Hiaaaaaa! Habislah riwayatmu!”
Duarrrr…. Duarrrr… Duaaarr…..
Pedang Rao Guohoa berhasil mencincang kapal besar menjadi berpuluh-puluh potongan dan membuat semua potongan-potongan kapal itu karam ke lautan. Amarah yang menguasai Rao Guohoa membuatnya lupa jika kedatangannya tersebut adalah untuk mengambil Shen Shen. Kekalahannya pada Zhou Fu membuatnya gelap mata, ia tak mengira-ngira kekuatan yang ia butuhkan untuk mengeluarkan jurus pamungkas tersebut.
Rao Guohoa kehabisan kekuatan. Tubuhnya yang beberapa saat lalu melayang di udara mendadak terjun bebas ke laut lepas.
“Hap! Akhirnya pedang ini kumiliki!” Zhou Fu melesat dari arah yang tak terduga dan menangkap pedang Rao Guoha yang terjun ke laut menggunakan tangan kanannya sementara tangan kirinya sedang memegang tubuh Shen Shen agar tak turut jatuh ke laut.
“Kita sudah tak memiliki kapal, bagaimana rencana kita selanjutnya?” Zhou Fu melirik ke arah Shen Shen yang masih pucat pasi karena melihat kengerian serangan Rao Guohoa beberapa saat sebelumnya.
\=\=\=\=\=
Yang tanya soal visualisasi Zhou Fu, ntar ya... Ini soalnya Zhou Fu masih 14 taon sih...
__ADS_1