Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
CH. 25 –Bendera Shamo


__ADS_3

Sesaat sebelum Zhou Fu menjalankan rencana cadangan, ia melihat ada sebuah kapal yang bergerak menghampiri tempatnya berada. Kapal tersebut tak terlihat seperti kapal yang berlayar bersama penumpang sebab ukurannya yang kecil dan modelnya yang sedikit berbeda. Ada sebuah bendera yang berkibar tepat di ujung tiang kapal, bendera itu bergambar sebatang pohon dengan ranting-ranting kering sekaligus akar-akar yang berkelok di bagian bawah. Bagian atas pohon yang menunjukkan ranting kering seolah mewakili kematian atau tidak adanya kehidupan, tetapi akar-akarnya yang berkelok dan mencakar tanah seolah menggambarkan kekuatan dari sebuah kehidupan.


Sebuah lambang yang misterius bagi Zhou Fu yang baru saja melihatnya, tetapi tentu saja tidak bagi Shen Shen. Lambang bendera pohon kering berwarna merah tersebut sudah pernah dipelajari Shen Shen di sekolah Bangsawan Caihong. Melihat kapal tersebut semakin mendekat, Zhou Fu meminta Shen Shen untuk berlindung di belakang punggungnya.


“Itu adalah lambang negeri Shamo. Caihong dan Shamo adalah dua daratan besar yang dipisah oleh laut Luzon. Kudengar, hubungan antara negeri Shamo dan Caihong tidak begitu baik. Bagaimana ini?” Shen Shen mencengkeram pakaian Zhou Fu di bagian punggung. Setiap kali Shen Shen merasa ketakutan, ia selalu teringat Yang Zi yang pandai ilmu bela diri. Ia menyesal karena memilih keputusan yang keliru, dengan tidak berlatih bela diri.


“Tenang, tak ada getaran aura mencurigakan dari kapal itu,” Zhou Fu berdiri menghadap kapal yang mendekatinya dengan dua tangan mengepal, hanya untuk berjaga-jaga jika mendadak ada serangan datang.


“Tuan Muda! Nona! Naiklah ke kapal!” Seseorang berteriak dari atas dek kapal sembari melambai-lambaikan tangan dengan ekspresi riang. Wajahnya tak asing sebab ia adalah satu dari tiga petugas kapal sebelumnya.


“Baiklah! Terima kasih, Paman!”


Zhou Fu dan Shen Shen menarik napas lega sebab yang melambai itu adalah orang yang mereka kenal sebelumnya. Zhou Fu dan Shen Shen beranggapan jika kapal dengan bendera negeri Shamo itu hanyalah kapal yang diperjualbelikan di Dengguang. Itu artinya, Zhou Fu dan Shen Shen akan berlayar menggunakan kapal tersebut mulai saat itu. Tanpa basa basi lagi, Zhou Fu segera menaiki kapal.


Dengan sekali melompat, Zhou Fu sudah berada di atas dek kapal dengan Shen Shen bersamanya. Petugas kapal yang beberapa saat lalu melambaikan tangan, langsung mendekati Zhou Fu sembari menyerahkan sekantung sesuatu.


“Tuan, ini uang Tuan Muda. Sebelumnya, saya ingin membeli kapal ini, tetapi tuan yang di sana itu tidak mengizinkan saya untuk membelinya,” petugas tersebut mengarahkan telunjuknya pada sosok pria yang sedang mematung mengamati Shen Shen dan Zhou Fu.


Mata Shen Shen menangkap sosok pria yang mematung tersebut. Wajahnya sangat tak asing bagi Shen Shen.


“D..Dia ada Di sini?” Shen Shen menutup mulutnya tak percaya sementara Zhou Fu turut mengamati pria yang sedang dipandangi Shen Shen itu.


“Kau mengenalnya? Apa dia orang jahat?” Zhou Fu menggerakkan tubuh Shen Shen ke belakang punggungnya seolah ingin menghindarkan Shen Shen dari bahaya, tetapi Shen Shen menangkis tangan Zhou Fu. Shen Shen justru menghambur ke arah pria tersebut dan membungkuk memberi hormat.


Pria itu langsung mengangkat tubuh Shen Shen dan seperti ingin segera memberi pelukan pada Shen Shen, tapi langsung diurungkan. Pria itu kemudian hanya mencengkeram dua pundak Shen Shen dengan sangat keras, membuat Shen Shen sempat terkaget sebentar. Ia sangat senang karena dugaannya benar.

__ADS_1


Sebelumnya, pria itu sudah menaruh curiga ketika kedatangan seseorang yang membeli kapal, yang mengaku kapalnya rusak dihadang perompak dan membawa satu gadis bersama mereka. Insting pria tersebut mengatakan jika bisa jadi perempuan yang diceritakan petugas kapal itu adalah Shen Yang dari Caihong.


“Akhirnya, aku bisa melihatmu lagi,” ujar pria itu dengan ekspresi lega dan haru yang tersemat di wajahnya.  Ekspresi yang ramah itu membuat Zhou Fu sedikit yakin jika pria itu pastilah orang baik-baik.


Shen Shen merenggangkan cengkeraman tangan si pria lalu menoleh kepada Zhou Fu, “Fu’er, dia adalah senior Feng Yaoshan. Dia kakak tingkatku di sekolah Bangsawan Caihong. Senior Feng  bukanlah orang jahat, kita beruntung bisa berjumpa dengan senior Feng Yaoshan di sini,” Shen Shen memberi isyarat kepada Zhou Fu untuk mendekat dan saling berkenalan dengan Feng Yaoshan.


Feng Yaoshan melepaskan cengkeraman tangannya pada Shen Shen dan beralih untuk mengamati sosok remaja yang datang bersama teman lamanya itu.


***


Shen Shen selalu memberi penghormatan pada Feng Yaoshan setiap kali mereka bertemu, bukan karena pria itu berada satu tingkat di atasnya semasa sekolah. Hal tersebut dikarenakan Feng Yaoshan adalah putera dari keluarga bangsawan kelas satu di Caihong. Sebuah tingkatan kebangsawanan yang paling tinggi di antara ke tujuh kelas kebangsawanan.


Tata karma di Caihong menyebutkan jika orang-orang dengan tingkatan kebangsawanan yang lebih tinggi harus mendapat penghormatan dari bangsawan yang berada di tingkatan di bawahnya. Sebagai bangsawan kelas satu, Feng Yaoshan memiliki lebih banyak hak dan keistimewaan yang melekat bersamanya. Shen Shen merasa sangat beruntung karena bertemu dengan orang yang memberi keuntungan pada keadaannya.


Setelah basa-basi singkat, Feng Yaoshan mengajak Zhou Fu dan Shen Shen untuk masuk ke bagian dalam kapal, di sana Feng Yaoshan sudah menyiapkan jamuan untuk tamu istimewanya itu, nona Shen Shen yang cantik.


“Mengapa kita harus tersenyum jika memang tak ingin tersenyum?” Zhou Fu menangkis tangan Shen Shen yang menyengggol sikunya.


“Tak perlu terlalu formal, Nona Shen. Kita tak sedang berada di Caihong sekarang,” Feng Yaoshan tersenyum memberi teguran pada Shen Shen yang memang bersikap terlalu formal.


Mendengar teguran dari Feng Yaoshan, Zhou Fu pun melemparkan senyum ejekan pada Shen Shen yang bersikap terlalu formal.


Zhou Fu dan Shen Shen kemudian duduk di sebuah meja jamuan yang berisi dengan beragam hidangan lezat. Ada ribuan pertanyaan yang ingin ditanyakan Zhou Fu pada Feng Yaoshan, tetapi hidangan-hidangan di depan matanya cukup membuat konsentrasi Zhou Fu berantakan.


“Kalian mungkin sangat lapar, selamat menikmati jamuan kecil ini,” Feng Yaoshan mempersilakan tamu-tamunya untuk melahap jamuan mewah yang ia berikan. Zhou Fu dan Shen Shen pun bergerak cepat untuk mengambil makanan-makanan di meja. Zhou Fu mengambil hampir separuh dari hidangan yang tertata di meja.

__ADS_1


"Itu bagianku! Jangan ambil yang itu!" celetuk Shen Shen sembari menangkis tangan Zhou Fu yang sedang meraup cumi-cumi bakar raksasa di meja.


Melihat kecepatan gerakan Zhou Fu, Shen Shen ternyata tak mau kalah. Untuk sesaat, Shen Shen bahkan seperti melupakan tata krama kebangsawanannya. Ia baru sadar jika ia sudah sangat kelaparan.


"Kau bisa keracunan jika memakan semuanya!" Zhou Fu membalas tangkisan tangan Shen Shen. Mereka pun tampak ribut seperti dua bocah yang tak tahu tata krama. Feng Yaoshan merasa sedikit tak nyaman, tetapi ia berusaha tetap ramah, bagaimanapun, tamunya adalah nona Shen Shen yang cantik.


***


Usai menghabiskan jamuan-jamuan di meja, Shen Shen meminta waktu pada Feng Yaoshan untuk berbicara hal penting dan sekaligus meminta tolong pada seniornya tersebut untuk memerintahkan pelayan-pelayannya keluar ruangan. Para pelayan pun keluar satu demi satu.


Zhou Fu mulai memasang sikap siaga, ia juga memiliki banyak pertanyaan untuk ditanyakan pada Feng Yaoshan, tetapi ia membiarkan Shen Shen untuk melontarkan pertanyaan terlebih dahulu.


“Senior Feng, bagaimana bisa senior memiliki bendera negeri Shamo?” Shen Shen melontarkan pertanyaan yang sedari tadi mengganggu pikirannya. Hubungan antara Caihong dan Shamo tidak begitu baik, sangat aneh jika ada seorang bangsawan Caihong yang memiliki atribut-atribut penting dari negeri Shamo.


“Oh, soal itu… Ibuku adalah keturunan bangsawan terhormat di negeri Shamo. Meski Caihong dan Shamo sedang berselisih, aku tetap diterima dengan sangat baik di Shamo sebab posisi keluargaku di sana sangat berpengaruh. Omong-omong, kalian berdua memiliki hubungan apa sebenarnya?” Feng Yaoshan balik bertanya pada Shen Shen sembari memandangi Shen Shen dan Zhou Fu secara bergantian.


“Bisa kau jelaskan dulu, bagaimana bisa bangsawan sepertimu berkeliaran di Dengguang? Kurasa jarak Dengguang dan Caihong cukup jauh. Dan lagi, apa keuntungan yang kau dapat jika membantu Shen Shen?” Celetuk Zhou Fu yang mulai menaruh curiga pada Feng Yaoshan. Menurut Zhou Fu, cukup aneh jika ada orang yang bersedia menolong Shen Shen tanpa memiliki kepentingan tertentu. Sebab, Shen Shen sedang menjadi incaran banyak kelompok, menolong Shen Shen sama artinya dengan menempatkan diri pada posisi berbahaya.


Shen Shen menginjak kaki Zhou Fu karena telah berbicara tak sopan pada seniornya, “maafkan kelancangan Zhou Fu, senior Feng. Dia belum mengenal senior, wajar jika sikapnya tidak sopan.”


“Apa yang membuat hubungan Caihong dan Shamo tidak begitu baik? Apakah terjadi konflik antara keduanya? Apakah kasus yang menimpa keluarga Shen Shen berkaitan dengan hubungan negara Caihong dan Shamo yang tidak begitu baik? Jawab semua pertanyaan tersebut agar aku bisa memutuskan untuk melepaskanmu atau menghabisimu!” Zhou Fu tak menghiraukan sikap Shen Shen yang menghalanginya. Bagi Zhou Fu yang belum begitu mengenal dunia luar, ia harus siaga pada semua suasana.


Mendengar pertanyaan beruntun dari Zhou Fu, Feng Yaoshan terlihat sedikit kaget dan tak nyaman.


 

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Segera menyusul chapter selanjutnya. Maaf kegiatan saya beberapa hari lalu ternyata gak mendukung untuk dipake nulis chapter. Maaf bgt yaaaa…


__ADS_2