
Beberapa saat setelah kejadian Zhou Fu mengalahkan pendekar Wei Sihao, Yang Zi pergi bersama Feng Yaoshan untuk mencari kereta kuda. Tak lama berselang, mereka pun telah kembali dan membawa kereta kuda yang cukup besar dan bisa menampung beberapa orang di dalamnya. Rencananya, Feng Yaoshan dengan dua gadis-gadis akan duduk di dalam kereta, pengawal Feng Yaoshan mengemudi kuda sementara Zhou Fu membawa kuda hitam yang diberikan oleh Patriark Yuan Kai.
Tetapi, karena pengawal Feng Yaoshan mengalami patah tulang rusuk, ia terpaksa akan diistirahatkan di dalam kereta sementara kuda akan dikemudikan Feng Yaoshan. Ketika semua orang sudah hampir siap untuk masuk ke kereta, tiba-tiba Zhou Fu mendadak ambruk dan terbatuk.
“Sial! Ayolah bertahan sebentar lagi!” Zhou Fu menekan-nekan dadanya yang terasa ngilu hebat.
Semua orang menoleh dengan perasaan was-was, kekhawatiran mereka semakin bertambah tatkala kulit di wajah Zhou Fu sedikit terlihat pucat.
“Kau… Kau baik-baik saja?” Shen Shen mendekat dan langsung memeriksa dada Zhou Fu, “panas sekali??!!” Shen Shen memekik lalu langsung ditutup mulutnya oleh Zhou Fu.
“Ssst… Diam! Aku baik-baik saja! Ayo kita lanjutkan perjalanannya!” tukas Zhou Fu seraya berdiri kembali, ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, seperti sedang menahan rasa sakit tetapi tak diperlihatkan. Melihat kejadian tersebut, Feng Yaoshan tertegun sejenak, ia yakin Zhou Fu tidak sedang baik-baik saja.
“Kau yakin kau baik-baik saja?” Feng Yaoshan bertanya pelan, tentu ia mengerti maksud Zhou Fu yang menutup mulut Shen Shen dengan segera. Zhou Fu tentu berjaga-jaga agar keadaannya yang buruk tidak sedang didengarkan musuh, kalaupun ada musuh di sekitar tempat tersebut. Jika musuh sampai tahu keadaannya sedang tidak baik, bisa dipastikan musuh akan memanfaatkan keadaan tersebut.
“Kakak, apakah tidak sebaiknya kita beristirahat atau mencari tabib?” Yang Zi bertanya dengan wajah khawatir. Ia yakin jika Zhou Fu sampai ambruk terduduk, tentu ada sesuatu yang mengerikan sedang terjadi pada tubuh rekannya itu.
“Jangan ada yang membantah, ayo kita lanjutkan perjalanan!” Zhou Fu mendorong Shen Shen dan Yang Zi agar segera memasuki kereta.
“Awas, jika terjadi sesuatu denganmu, aku akan…”
“Yang Zi, ajak dia masuk ke kereta!” Zhou Fu memerintah Yang Zi agar segera mengajak kakaknya masuk ke kereta kuda, gadis itu mengangguk dan menyeret kakaknya yang masih terus memandang ke bagian dada Zhou Fu. Di dalam sana, sudah ada pengawal Feng Yaoshan yang beristirahat karena kondisinya lemah.
“Tunggu apa lagi, ayo kemudikan kudanya, Tuan Bangsawan!” Zhou memberi perintah pada Feng Yaoshan untuk segera menjalankan kereta. Sebisa mungkin, Zhou Fu ingin segera menjauh dari perbatasan Juda. Jika satu orang dari distrik Zhongjian bisa membuatnya kewalahan, bagaimana jika datang lagi dan bukan seorang saja, setidaknya itu yang ada di pikiran Zhou Fu.
__ADS_1
“Oh, apa-apaan ini… Kalau keluargaku tahu aku disuruh menjadi kusir kuda, orang yang menyuruhku itu pasti akan dipenggal kepalanya!” gerutu Feng Yaoshan seraya naik ke bagian kemudi kuda dengan pasrah. Ia mengeluh bukan karena kehormatannya ternodai, lebih tepatnya ia mengeluh karena tak bisa bersama dengan Shen Shen di dalam kereta.
Sementara itu, Zhou Fu tak memedulikan ocehan Feng Yaoshan sebab ia sedang berkonsentrasi menekan rasa sakit yang ada di dadanya. Andai saat itu Zhou Fu dan pengawal Feng Yaoshan dibawa ke tabib bersama-sama, bisa dipastikan si tabib akan memprioritaskan penanganannya pada Zhou Fu karena nyatanya luka yang dialami Zhou Fu lebih fatal daripada luka milik pengawal Feng Yaoshan.
Semenjak pertama kali terkena serangan dari pendekar Wei Sihao, Zhou Fu sebenarnya sudah mengalami luka yang cukup parah. Hanya saja, waktu itu ia ingin memberi kesan pada musuhnya agar nampak jika serangan musuhnya itu sama sekali tak membuatnya terluka. Hal itu ia lakukan untuk mengacaukan pikiran musuh.
Pendekar kuat seperti Wei Sihao, tentu akan sangat sulit dikalahkan jika pikirannya tak sedang kacau. Sebagai pendekar yang terbiasa menganggap dirinya yang paling unggul, tentu akan menjadi pukulan besar ketika jurus andalannya bahkan tidak mempan pada tubuh seorang remaja. Benar saja, kepura-puraan Zhou Fu berhasil mengacaukan pikiran Wei Sihao hingga pendekar tersebut berhasil dikalahkan Zhou Fu dengan lebih mudah.
“Tuan muda, berjalanlah lurus dari sini, dan ambil ke arah kanan ketika sampai di persimpangan. Itu adalah jalan menuju pemukiman Bunga Krisan. Di sana, kita bisa bertemu biro perwakilan bangsawan Caihong…” pengawal Feng Yaoshan berpesan kepada tuannya untuk kedua kalinya sebab Feng Yaoshan sepertinya memang tak begitu memerhatikan instruksi dari pengawalnya.
“Aku sudah mendengar perintahmu dua kali, Paman! Apa kau mau menambahnya untuk yang ketiga atau ke sepuluh?” gerutu Feng Yaoshan, ia masih berharap ia yang ada di dalam kereta bersama dengan Shen Shen.
“Baiklah ayo kita bergegas!” ucap Zhou Fu seraya berharap tubuhnya akan bertahan hingga ke pemukiman Bunga Krisan.
***
Berbeda dengan desa Malam yang merupakan desa illegal dan tak terdaftar di pemerintah Caihong, Bunga Krisan merupakan pemukiman resmi yang keberadaannya mendapat dukungan dari pemerintah pusat. Dukungan tersebut berupa sokongan bahan-bahan pokok, sumber daya, dan juga perlindungan yaitu dalam wujud diturunkannya militer Caihong yang siap siaga menjaga keamanan desa.
Desa tersebut dibangun menyerupai sebuah benteng, sebab area-area di luar tembok raksasa memang rawan mengalami penyerangan dari kelompok hitam. Selama bertahun-tahun desa tersebut aman dan tak pernah dilaporkan mengalami masalah yang berarti, hal tersebutlah yang membuat pengawal Feng Yaoshan merasa yakin jika desa Bunga Krisan merupakan tujuan terbaik untuk saat itu.
Tentu saja, pengawal Feng Yaoshan itu belum mengetahui fakta yang sebenarnya. Desa Bunga Krisan yang dahulu bukanlah desa Bunga Krisan yang sekarang. Jika dahulu penghuni desa Bunga Krisan adalah para rakyat biasa yang bermigrasi dari Tembok Raksasa Caihong, kini desa tersebut tak menyisakan satu pun warga biasa.
Semua penghuni desa Bunga Krisan adalah orang-orang yang memiliki ilmu bela diri, atau bisa dibilang semuanya adalah seorang pendekar. Pemerintah pusat tak pernah mengetahui kebenaran yang terjadi di tempat tersebut karena memang tak pernah ada laporan buruk dari desa itu.
__ADS_1
***
“Ah, itu dia! Tak kusangka ada benteg sebesar dan semegah ini di lereng tebing!” seru Feng Yaoshan ketika matanya menangkap sebentuk bangunan besar dari bebatuan pegunungan yang membentuk benteng pertahanan cukup besar dan kokoh.
“Baguslah!” batin Zhou Fu merasa lega. Selama berjam-jam ia menahan dirinya agar tak roboh dari kuda, dan berhasil. Dan sebentar lagi ia bisa beristirahat sembari menemukan tabib yang bisa membantu penyembuhan luka dalamnya.
Feng Yaoshan pun mempercepat laju keretanya dan diikuti juga oleh Zhou Fu yang mengiringi kereta kuda dari arah samping.
“Awas!!!” Zhou Fu tiba-tiba melesat dan menyeret Feng Yaoshan ke arah sisi kanan kereta. Ia lantas menekan tubuh Feng Yaoshan untuk tetap berlindung di balik kereta kuda. Bersamaan dengan hal tersebut, beberapa anak panah menancap tepat di bekas tempat duduk Feng Yaoshan.
Semua orang yang ada di dalam kereta kuda memekik khawatir tanpa tahu apa yang sedang terjadi di luar sana. Feng Yaoshan mengumpat keras begitu mendapati ia hampir saja menjadi korban lemparan anak panah dari seseorang.
“Siapapun kalian!!! Hentikan! Aku adalah Feng Yaoshan bangsawan kelas satu Caihong! Aku dan rombonganku akan bersinggah sebentar ke Bunga Krisan, seharusnya kalian berpikir seribu kali sebelum menyerang kami!” teriak Feng Yaoshan ke arah pintu gerbang desa yang berbentuk benteng besar.
Mendengar teriakan Feng Yaoshan tersebut, seseorang dari balik benteng Bunga Krisan nampak tersenyum menyeringai. Ia tahu, dari cara Feng Yaoshan berbicara, tentu rombongan Feng Yaoshan belum mengetahui kejadian yang telah terjadi di pemukiman Bunga Krisan.
“Ha ha ha! Bangsawan kelas satu, ya! Tak kusangka kita akan mendapatkan mangsa bagus hari ini,” ujar pria tersebut sembari mengurut janggutnya yang tambun. Ia pun memberi isyarat pada seluruh pasukan pemanah untuk berhenti mengarahkan panah mereka ke rombongan Feng Yaoshan.
“Tuan Muda, maafkan atas kelancangan kami! Kami hanya berjaga-jaga dari pengacau, silakan Tuan Muda masuk ke dalam pemukiman!” seru pria itu sambil memberi isyarat pada para penjaga gerbang untuk mulai membuka pintu gerbang Bunga Krisan.
“Bagus! Baiklah, kuharap kalian akan memberi sambutan dengan baik!” Feng Yaoshan berdiri, diikuti juga dengan Zhou Fu yang sudah semakin kesulitan berkonsentrasi karena lukanya sudah hampir-hampir tak tertahankan.
“Baik, Tuan Muda! Kami akan memberikan yang terbaik yang bisa kami berikan,” jawab si pria itu dengan raut muka menahan tawa, “Ha ha ha! Mereka cukup bodoh untuk dibodohi!” gumamnya tak sabar untuk memberi kejutan pada tamu-tamunya.
__ADS_1