
Namanya Zhao Yunlei, ia adalah keponakan satu-satunya dari tetua Wang Yue yang secara ajaib bisa selamat dari kebakaran hebat yang melanda desa Guanbai. Guanbai sendiri merupakan desa di pulau Yimin yang mengalami kebakaran paling parah. Korban yang selamat dari desa Guanbai hanya bisa dihitung jari, dan kesemuanya mengalami luka-luka bakar yang cukup serius. Tentu saja, kecuali Zhao Yunlei.
Gadis itu hanya mengalami luka yang cukup ringan meski seluruh wilayah di desanya hangus dilahap api. Anehnya lagi, Zhao Yunlei justru sedang menjadi satu dari sedikit warga yang turut melakukan evakuasi korban pembakaran militer Shamo. Padahal, jangankan untuk mengevakuasi orang lain, jika dinalar lagi, untuk menyelamatkan dirinya sendiri itu sudah hampir tak mungkin.
Zhao Yunlei adalah gadis manis yang bisa membuat siapa saja ingin menolongnya karena gadis itu nyatanya cukup lemah dan serba tidak bisa. Tangannya akan membiru jika menyentuh sesuatu terlalu kuat. Jika mengangkat barang yang terlalu berat, kulit di tangannya akan lecet-lecet dan berdarah. Sungguh dia seperti sebuah guci keramik yang indah tapi teramat rapuh.
Malam itu, ketika tetua Wang Yue melihat keponakannya sedang membantu evakuasi korban di dekat kediamannya, tetua Wang tercekat hampir tak percaya pada pandangannya. Ia pun bertanya pada Zhao Yunlei bagaimana dia bisa selamat dari kebakaran hebat di Guanbai, tetapi gadis itu hanya menunjukkan raut gemetar dan kebingungan. Dan sesungguhnya, sikap Zhao Yunlei sehari-hari pun hampir selalu menampakkan kegugupan dan kebingungan.
Akhirnya, tetua Wang Yue tak menanyainya apa-apa lagi. Dan, sebagai rasa syukurnya karena Zhao Yunlei selamat, ia memutuskan untuk bersegera mengirim keponakannya itu ke Caihong agar gadis yang lemah itu segera menemukan rumah yang aman dan nyaman.
***
Malam itu, langit tak begitu memberi penerangan karena bulan hanya nampak sepotong dan bintang-bintang seperti sedang bersembunyi di balik awan. Tetua Wang dan beberapa warga mengantar kepergian Zhao Yunlei dan Zhou Fu yang akan ke Maundo. Zhou Fu terlihat tak banyak bicara meski Zhao Yunlei nampak menanyainya beberapa kali. Sebenarnya, gadis itu juga sedang tak ingin bicara tetapi pamannya selalu memberi isyarat jika ia harus beramah-tamah pada Zhou Fu.
“Tuan Muda, terima kasih sudah bersedia menemani saya ke Caihong. Kami merasa lebih berhutang banyak hal padamu,” Zhao Yunlei yang bertubuh mungil itu nampak sedikit berjalan cepat untuk mengimbangi langkah Zhou Fu yang panjang. Mendengar kalimat yang terlontar dari Zhao Yunlei itu, Zhou Fu membalas dengan senyum kecil saja tanpa berkata-kata.
“Jika Tuan Muda membutuhkan sesuatu, langsung saja katakan pada saya. Saya akan berusaha untuk memenuhi semua kebutuhan tuan muda. Jika tuan merasa letih atau tak enak badan, saya pernah berlatih memberi pijatan, itu pun jika tuan muda berkenan…
__ADS_1
Zhou Fu menghentikan langkahnya, juga memberi isyarat pada Zhao Yunlei untuk berhenti. Ia sebenarnya sedang memikirkan banyak hal sehingga tak begitu berminat menanggapi basa-basi dari Zhao Yunlei. Tetapi, untuk menghormati Zhao Yunlei yang nampak sangat berhutang budi itu, Zhou Fu akhirnya mengajaknya berhenti sebentar untuk menjelaskan sesuatu.
Zhou Fu memegang dua sisi pundak Zhao Yunlei yang tingginya hanya sebatas dadanya itu. Ia menarik napas dalam lalu melempar senyum ramah kepada gadis itu, “nona Zhao, kau tak perlu merasa berhutang budi padaku. Kau memberiku tumpangan ke Maundo, berarti kita impas. Nah, karena kita impas, di dalam kapal nanti, kau cukup istirahat saja. Dengan begitu, nona sudah sangat membantuku, percayalah,” tukas Zhou Fu lalu melepaskan pegangannya dari pundak Zhao Yunlei.
Gadis itu pun terlihat memalingkan wajahnya ke kanan bawah, karena gugup dan grogi. Dia memang sangat rapuh dan sekaligus pemalu. Tetua Wang Yue nampak menggeleng-gelengkan kepala melihat tabiat keponakannya yang selalu gugup itu. Dalam hatinya, ia cukup menyayangkan hal tersebut karena kecantikan Zhao Yunlei seperti ternodai dengan kerapuhan gadis itu sendiri.
Beruntung, kegugupan Zhao Yunlei segera tertutupi begitu salah seorang pelayan Wang Yue berbicara dengan suara cukup lantang.
“Tetua Wang, kita sudah hampir sampai!” pelayan itu pun berjalan lebih cepat mendahului tetua Wang, Zhou Fu dan Zhao Yunlei untuk mempersiapkan kapal dan beberapa bekal Zhao Yunlei. Beberapa orang suruhan tetua Wang Yue pun menjadi sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk dibawa ke kapal Merak Biru, nama kapal milik tetua Wang.
Beberapa saat berselang, semua persiapan telah selesai dan kapal baru Zhou Fu akan segera berlayar menuju Maundo dengan ditemani lima awak kapal. Tetua Wang Yue memberi salam perpisahannya pada Zhao Yunlei dan Zhou Fu. Ia tak berhenti melambai-lambaikan tangannya pada Zhao Yunlei seolah ia merasa tak mungkin akan berjumpa lagi dengan keponakannya yang cantik lagi rapuh itu.
Zhou Fu tak memberi respon apapun, tujuannya saat itu adalah menemukan ruangan yang cukup tenang untuk ia gunakan sebagai tempat bermeditasi. Sayangnya, keadaan sepertinya sedang tidak begitu bersahabat bagi Zhou Fu. Ketika meditasinya baru berjalan setengah jalan, kapal Merak Biru diguncang oleh tamu tak diundang. Sepertinya tamu-tamu tersebut adalah gerombolan perompak yang bergerilya di malam hari.
Zhou Fu mendengus kesal, ia mengumpat dalam hati sebelum akhirnya berdiri dan bergegas membereskan parasite-parasit yang datang. Anehnya, telinga Zhou Fu menangkap suara jeritan beberapa pria, suara itu sempat melontarkan kalimat-kalimat permohonan.
“Ampuni kami… Ampuni kami, Nona…!”
__ADS_1
Dan, setelahnya, terdengar lagi suara jeritan yang paling keras dan dalam, khas suara jerit orang yang meregang nyawa. Zhou Fu pun mempercepat langkahnya dan berusaha secepat mungkin untuk tiba di lokasi kejadian.
Betapa kagetnya dia ketika melihat mayat dari tiga belas orang perompak yang tergeletak di dek kapal. Mayat-mayat itu itu tewas dengan mata melotot dan tubuh yang masih utuh tanpa terluka. Dalam artian, taka da luka luar yang nampak oleh mata telanjang. Tak jauh dari mayat-mayat itu, nona Zhao Yunlei sedang mengibas-kibaskan dua tangannya seolah ia sedang membersihkan debu di dua telapak tangannya.
Zhou Fu mengerutkan alis selama beberapa saat, matanya mencoba menyisir ke segala arah untuk menemukan kemungkinan adanya orang lain selain nona Zhao Yunlei. Tetapi, mata Zhou Fu tak menemukan siapapun kecuali gadis mungil yang rapuh itu. Gadis itu, sorot matanya kini tak sekuyu beberapa saat lalu. Ekspresi wajahnya juga tak segugup sebelumnya. Ia berdiri dengan postur tegap dan tatapan mata yang tegas.
“Nona, apakah mereka semua mati di tangan nona Zhao?” Zhou Fu bertanya dengan masih terheran-heran.
Zhao Yunlei nampak masih mengibas-kibaskan dua telapak tangannya sebelum akhirnya ia menoleh ke arah Zhou Fu dan melempar senyum manis.
“Mereka sedang keliru memilih mangsa, haha, sudahlah setidaknya kita bisa memberi makan untuk ikan di lautan,” sahut Zhao Yunlei singkat.
“Bagaimana bisa???” Zhou Fu bertanya lagi, kali ini sambil melangkah mendekati Zhao Yunlei untuk memeriksa tubuh gadis itu.
“Jangan mendekat dulu atau kau akan bernasib sama seperti mereka!” Zhao Yunlei melotot dan memberi isyarat pada Zhou Fu untuk berhenti melangkah. Tetapi bukan Zhou Fu namanya jika ia menuruti kata-kata gadis itu. Zhou Fu terus melangkahkan kakinya dan tepat satu meter sebelum ia berhasil menyentuh tubuh Zhao Yunlei, ada sebuah gelombang kejut yang menghempaskan tubuh Zhou Fu keluar.
Gelombang itu sangat kuat bahkan bisa saja membuat manusia biasa dapat terpental jauh lalu menghantam sesuatu. Di sisi lain, Zhao Yunlei melotot kaget karena Zhou Fu bahkan terlihat tidak begitu terpengaruh dengan gelombang kejut yang datang dari tubuhnya.
__ADS_1
“Kau bukan remaja sembarangan rupanya!” gumam Zhao Yunlei pelan-pelan. Mendengar gumaman gadis cantik itu, Zhou Fu seperti tersedak sesuatu karena kalimat gadis itu memang terdengar aneh di telinganya.
“Nona Zhao sepertinya juga bukan perempuan biasa! Untuk keperluan apa nona Zhao berpura-pura menjadi gadis lemah yang rapuh?” Zhou Fu tersenyum tipis dan mulai memasang sikap waspada pada gadis mungil yang baru saja menghabisi nyawa puluhan perompak di kapal Merak Biru.