Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
CH. 20 – Hawa Dingin


__ADS_3

“A… Apakah itu artinya ada tamu lain di kapal ini?” salah seorang penculik Shen Shen bergumam khawatir, tangannya yang sudah membuka selongsong pedang nampak terlihat gemetaran antara takut dan kedinginan.


Lima orang pendekar yang menculik Shen Shen memang memiliki kemampuan bela diri yang tak terlalu tinggi. Hal tersebut terbukti ketika tubuh mereka tidak bisa menahan sergapan aura dingin yang masih menggelayut entah dari mana datangnya.


“Bbbbocah, bagaimana kau bisa masuk ke kapal ini? Apakah kau membawa orang lain bersamamu?” si pemimpin kelompok bertanya pada Zhou Fu yang berdiri dengan tatapan siaga.


“Aku baru saja hendak bertanya pada kalian, siapa yang melepaskan aura dingin ini. Jelas ini bukan milik kalian berlima,” jawab Zhou Fu tak kalah penasaran dengan lima pendekar penculik Shen Shen.


“Dia tampak sama sekali tak terpengaruh dengan hawa dingin ini, apakah dia memang kuat atau dia adalah kawan dari si pengirim hawa dingin?” salah seorang pendekar menanyai pendapat rekannya, pendekar tersebut adalah dia yang beberapa waktu lalu membanting tubuh Zhou Fu di rumah makan.


“Jika dia memang kuat, habislah riwayatku malam ini!” pendekar tersebut bergumam pada dirinya sendiri sebab tak satu pun dari kawannya menjawab pertanyaannya tersebut.


“Persetan dengan hawa dingin ini, cepat beri tahu aku di mana kalian menyembunyikan Shen Shen?” Zhou Fu mulai mengesampingkan aura aneh yang menyelimuti kapal. Tujuan utamanya bukanlah menemukan si pemilik aura melainkan membawa kembali Shen Shen bersamanya.


“Ha ha ha! Sehebat apa kemampuanmu hingga bisa berbicara selancang itu? Ha ha ha!” terdengar suara perempuan tertawa menyeringai yang belum diketahui keberadaannya. Sumber suara tawanya berubah-ubah arahnya. Seolah pemilik suara tersebut tertawa sambil berpindah-pindah tempat dalam waktu yang cukup singkat.


Lima pendekar penculik Shen Shen sibuk memutar kepala mereka untuk menemukan sumber suara tapi pemilik suara tersebut tak juga berhasil ditemukan.


“Cepat tinggalkan kapal ini jika kalian masih menyayangi nyawa kalian! Ha ha ha!” suara itu kian nyaring terdengar tetapi masih belum jelas dari mana asalnya.


Zhou Fu menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan, ia sepertinya sedang mengikuti pergerakan suara perempuan yang timbul dan tenggelam itu. Selang beberapa detik kemudian Zhou Fu melesat ke arah tiang utama kapal.


“Hap!!! Kutangkap kau, sialan!” tangan Zhou Fu berhasil menarik baju seorang pendekar perempuan yang sepertinya memiliki kemampuan pergerakan yang cukup cepat.

__ADS_1


Buuuuug!!!!


Perempuan tersebut terjatuh ke lantai kapal tapi segera bangun dan mendongakkan kepalanya dengan penuh amarah kepada Zhou Fu yang masih menggelantung di tiang kapal.


“Rao Guohoa???!!!” Lima pendekar penculik Shen Shen memekik bersamaan. Mereka menelan ludah berulang kali begitu menyadari jika Rao Guohoa yang sedari tadi mengeluarkan aura dinging.


Lima pendekar penculik Shen Shen melangkah mundur perlahan. Mereka sudah siap melepaskan tawanan bernilai ratusan koin emas jika penghalang mereka adalah Rao Guohoa. Lima pendekar tersebut memanfaatkan momen kemarahan Rao Guohoa pada Zhou Fu sebagai waktu yang tepat untuk melarikan diri.


“Ha ha ha! Mau ke mana kalian?”


Lima penculik Shen Shen keliru. Ternyata Rao Guohoa sepertinya juga marah pada mereka. Dalam sekejap mata, Rao Guohoa sudah berdiri bersama-sama dengan mereka. Jarak lima penculik Shen Shen dan Rao Guohoa adalah sekitar empat meter sebelumnya. Tapi Rao Guohoa memiliki kecepatan langkah yang sepertinya lebih cepat ketimbang kedipan mata. Perempuan itu seperti menghilang dan muncul di hadapan para penculik Shen Shen dalam sekejap mata.


“A…ampuni kami… Kumohon… Kami sudah tak lagi berminat untuk mengambil nona Shen Yang,” si pemimpin penculik itu memohon dengan raut muka pucat begitu sebuah ujung pedang sudah mendarat di dagunya, entah sejak kapan.


Rao Guohoa hanya perlu menggerakkan tangannya perlahan untuk membuat pemimpin kelompok itu meregang nyawa. Mendengar permohonan pria itu, Rao Guohoa menyeringai mengerikan. Ia memang terkenal dengan seringai wajahnya yang menyeramkan.


“A….ampuni kami…. Nyonya pendekar! Ampuni kami!”


“Nyonya katamu? Baiklah terima ini!” Rao Guohoa menggerakkan lagi pedangnya, ia masih berdiri di tempat yang sama. Pedangnya pun sama sekali tak menyentuh tubuh lawannya, tetapi lawannya terpental jauh hingga punggungnya menubruk tiang kapal. Pria tersebut jatuh ke lantai dengan pakaian di bagian dadanya seperti terbelah benda tajam. Pria itu pun menyusul pemimpinnya.


Tiga orang yang tersisa terlihat semakin pucat wajahnya. Keberuntungan yang sebelumnya mereka rayakan, kini mendadak menjadi sebuah bencana yang benar-benar tak mereka duga sebelumnya.


“Tunggu apa lagi? Cepat lari atau kuhabisi juga nyawa kalian!!!” Rao Guohoa kembali menyeringai menatap tiga cecunguk yang tersisa.

__ADS_1


“A… Ayo kita lari!!!” Salah seorang dari tiga yang tersisa segera mengajak rekan-rekannya bergegas untuk berlari dan melompat dari kapal. Mereka tak menyangka akan mendapat pengampunan dari pendekar keji yang bernama Rao Guohoa.


“Ha ha ha!” Rao Guohoa tertawa menikmati ketakutan tiga manusia lemah yang tak berguna menurutnya.


Tiga pendekar yang mendapat ampunan dari Rao Guohoa akhirnya berhasil mencapai bagian tepi kapal, mereka melompat bersamaan dari atas kapal. Tepat pada saat itu juga, Rao Guohoa sudah melesat bersama mereka. Perempuan itu menebaskan pedang saktinya hingga membuat tiga targetnya menjerit secara bersamaan.


Tiga pendekar tersebut jatuh ke laut menjadi enam bagian. Masing-masing orang terbelah menjadi dua. Mereka pun tak lagi bisa menjerit kesakitan sebab nyawa mereka sudah melayang seiring dengan satu tebasan pedang yang diberikan oleh Rao Guohoa.


“Ha ha ha, jika hidup kalian tak berguna, setidaknya kematian kalian lebih berguna!” Rao Guohoa memasukkan pedangnya ke selongsong, di pikirannya, tiga mayat pendekar yang dibunuhnya itu akan berguna bagi binatang-binatang di lautan, “orang lemah tak memiliki hak untuk berdiri di atas bumi!” Rao Guohoa mengibas-kibaskan tangannya seolah sedang menghilangkan bekas pertarungannya dengan lima pendekar lemah.


“Sekarang, giliran si bocah congkak itu!” Rao Guohoa tersenyum sinis. Ia merasakan ada aura lain yang sempat keluar dari tubuh Zhou Fu.


***


Melihat seorang pendekar perempuan sedang bermain-main dengan lima penculik Shen Shen, Zhou Fu bergegas memasuki bagian dalam kapal untuk menemukan keberadaan Shen Shen. Tak butuh waktu lama bagi Zhou Fu untuk menemukan Shen Shen. Hawa kehidupan memang memiliki semacam getaran yang bisa dirasakan seseorang yang peka terhadap aura.


Zhou Fu memasuki sebuah ruangan yang di dalamnya ada Shen Shen yang sedang tertidur pulas.


“Demi Dewa manapun!!! Bagaimana bisa wajahnya menjadi buruk begini?” Zhou Fu tak bisa menyembunyikan kekagetannya melihat riasan tebal Shen Shen yang cukup mengganggu matanya. Belum lagi beberapa manik-manik yang menempel di rambut, di tangan, di leher dan di kaki Shen Shen kian membuat penampilan Shen Shen lebih mengerikan ketimbang pendekar perempuan yang beberapa saat lalu ditemui Zhou Fu. Tentu saja itu merupakan pendapat Zhou Fu pribadi.


“Hei, bangun dan benahi wajahmu seperti sedia kala!” Zhou Fu mengguncang-guncang pundak Shen Shen untuk membangunkannya.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Follow instagram author di: @Banin.sn


 


__ADS_2