
Ada yang tidak biasa!
Zhou Fu membatin curiga. Cahaya-cahaya yang berpasangan dari dalam reruntuhan itu, nyatanya sedang berbaris dengan amat rapi dan teratur. Cahaya itu berjajar dan saling berkedip bergantian. Itu adalah sepasang mata! Jelas itu adalah sepasang mata, tapi, tidak masuk akal juga jika mereka disebut sebagai sepasang mata!
Kening Zhou Fu berkerut selagi dia terus mengamati sorot-sorot mata tajam di balik reruntuhan kuno. Sebisa mungkin, ia tidak membuat gerakan yang tiba-tiba, sebab sifat naluriah binatang adalah merespon gerakan yang tiba-tiba. Itu pun jika benar bahwa yang sedang bersembunyi adalah makhluk atau binatang.
Logika Zhou Fu mengatakan, kalaupun berpasang-pasang cahaya itu adalah sepasang mata, maka kepala dari tiap-tiap makhluk tersebut tentunya juga besar karena mengikuti ukuran matanya yang berdiameter lima belas centimeter.
Lalu, bagaimana bisa sorot-sorot mata itu justru berjajar berdempetan, seolah mereka adalah makhluk yang memiliki mata tanpa kepala. Jelas itu tidak mungkin. Pertanyaan Zhou Fu selanjutnya adalah, jika itu bukan mata, lantas apa? Jelas-jelas cahaya itu menyorot pada setiap gerak-gerik Zhou Fu dan Shen Shen.
Antara penasaran dan sedikit khawatir, Zhou Fu mencoba untuk menjulurkan tangannya dengan pelan. Pertama-tama, ia melambai-lambaikan tangan ke arah kanan dan kiri, mencoba memastikan apakah sorot-sorot mata itu mengikuti pergerakan arah tangan Zhou Fu.
Ada kekagetan yang tertahan nampak dari wajah Shen Shen ketika ia melihat cahaya cahaya itu bergerak mengikuti arah tangan Zhou Fu yang melambai. Seperti halnya Zhou Fu, Shen Shen juga merasakan ketidakberesan yang dipikirkan Zhou Fu. Seperti mempercayai bahwa itu adalah berpasang-pasang mata, sekaligus meyakini jika itu pastilah bukan mata.
Apakah benar mereka adalah makhluk laut yang tak berkepala? Shen Shen membatin ketakutan.
Zhou Fu menengok ke arah Shen Shen, ia seperti mengajak Shen Shen untuk melangkah perlahan-lahan menuju ke Paviliun Bunga Teratai yang ketiga. Zhou Fu melihat bagaimana makhluk itu merespon gerakan tangannya, hanya sebatas lirikan mata ke kanan dan ke kiri tanpa memberi tanda akan menyerang. Itu artinya, Zhou Fu juga memiliki kesempatan yang sama, untuk melangkah menuju paviliun ke tiga tanpa mendapat serangan.
Zhou Fu menggenggam tangan Shen Shen yang gemetaran, ia memberi isyarat untuk berenang dengan gerak yang pelan-pelan.
Tetapi kemudian…
GGGGRRRRRRRRRRRRRRRR!!!!
__ADS_1
Jantung Shen Shen hampir lepas ketika ia melihat gundukan reruntuhan kuno mulai menunjukkan pergerakan dari makhluk yang ada di dalamnya. Zhou Fu menangkis tangan Shen Shen dan meminta gadis itu untuk menjauh. Sejauh mungkin kalau bisa, perintah Zhou Fu dalam bahasa isyarat.
Sementara itu, bebatuan dari reruntuhan kuno kini saling berjatuhan tak beraturan, mengikuti pergerakan dari makhluk yang ada di balik reruntuhan tersebut. Pertama-tama, Zhou Fu melihat penampakan ekor yang terlihat seperti sirip ikan raksasa. Kemudian perlahan-lahan makhluk itu pun mulai menampakkan diri seutuhnya.
Itu bukanlah reruntuhan dari bangunan besar! Itu adalah bentuk dari makhluk raksasa yang sedang menyembunyikan tubuhnya dengan remah-remah bebatuan bangunan kuno!
Batin Zhou Fu begitu melihat sesosok makhluk setinggi 100 kaki yang kini sedang berhadap-hadapan dengannya. Yang paling mengejutkan Zhou Fu dan juga Shen Shen adalah, cahaya-cahaya yang berpasangan dan seperti mata itu adalah sisik yang berjajar di sekujur tubuh makhluk tersebut. Ya, makhluk itu memiliki sisik-sisik berupa mata, yang pastinya juga berfungsi sebagai indera penglihatan!
Zhou Fu menoleh ke belakang untuk mengusir Shen Shen agar berenang ke tempat yang jauh. Baru setelah melihat Shen Shen hilang dari pandangan, Zhou Fu kembali berhadapan dengan makhluk raksasa yang masih menggeliat seperti baru bangun dari tidur. Makhluk itu kini seolah sedang menunggu pergerakan dari Zhou Fu, dan begitu juga sebaliknya, Zhou Fu juga tak mau gegabah.
Mereka berdua saling berpandang-pandangan. Zhou Fu mengamati bagian kepala makhluk tersebut, makhluk itu memiliki bentuk kepala yang belum pernah dilihat Zhou Fu sebelumnya, seperti perpaduan antara buaya dan naga, tetapi memiliki sungut yang berjumlah puluhan di bagian hidungnya. Makhluk itu juga memiliki sesuatu seperti perpaduan kaki dan sirip yang berjumlah empat yang masing-masing berpasangan.
Jika dilihat secara sekilas, makhluk tersebut seperti buaya yang panjang, dengan kaki menyerupai sirip ikan, kepala seperti naga, dan sisik-sisik berbentuk mata yang bisa melihat dari segala arah.
Mata Zhou Fu terbelalak beberapa saat, seiring dengan ingatannya tentang Haku menyeruak di kepala.
H A K U ! ! !
Tak salah lagi! Itu pasti Haku yang pernah diceritakan oleh kakek Li Xian. Haku adalah binatang mitologi yang dikisahkan oleh kakek Li Xian sebagai monster yang bertugas menjaga kitab yang paling berbahaya di alam semesta. Kitab tersebut, katanya tak boleh dipelajari oleh sembarang manusia.
Kakek Li Xian tidak mengatakan jika sisik Haku berbentuk mata!!!
Batin Zhou Fu sembari mengepalkan dua tangannya. Gambaran tentang Haku yang diceritakan kakek Li Xian di masa kecilnya, nyatanya memiliki kesamaan hingga 90% dengan penampakan makhluk di depannya itu. Zhou Fu pun kemudian mencoba mengingat-ingat sebuah bait yang pernah diperdengarkan kakek Li Xian di telinganya. Sebuah bait yang membersamai kemunculan Haku.
__ADS_1
Tubuh Zhou Fu merinding seketika. Apakah itu artinya kakek Li Xian pernah datang ke Laut Luzon tetapi gagal mengalahkan Haku? Batin Zhou Fu menebak-nebak. Lalu, apakah isi dari gulungan yang dipegang Shen Shen adalah bait yang juga dikatakan kakek Li Xian? Itulah mengapa kakek Li Xian memaksa Zhou Fu untuk menghafal bait Haku di luar kepala? Karena Zhou Fu memang buta huruf?
Zhou Fu mematung beberapa saat untuk mengumpulkan dugaan-dugaan yang sepertinya benar semua. Jika memang demikian, itu adalah saat-saat yang kritis bagi Zhou Fu.
Sebab, legenda mengisahkan jika Haku akan mengamuk dan menghabisi siapa yang berhadapan dengannya. Buku sejarah tak pernah menyebut Haku di dalamnya, sebab nyatanya kurang dari satu persen manusia di bumi yang bisa berhasil bertemu dengan Haku.
Haku hanya diceritakan oleh orang-orang tertentu, yang sempat mendengar tentang kitab misterius yang katanya paling berbahaya di alam semesta. Cara untuk mengalahkan Haku hanya ada dua, yang pertama bertarung dan memenangkan pertarungan dan yang kedua adalah menjinakkan Haku dengan bait syair tentang hati nurani.
Beberapa orang terlahir menjadi yang terpilih. Beberapa lagi, mengambil jalan sebagai yang terpilih. Baik yang pertama atau yang kedua, sama-sama membawa bara api di tangannya. Kegelapan memang memuakkan, tetapi memberi sinar dengan bara di tangan boleh jadi memilukan. Tak ada yang memaksa, tak ada yang menahan, tak ada yang mengusir. Melangkah saja pada jalan-jalan yang dikehendaki hati. Sebab dia lebih tahu dari siapa pun yang merasa tahu.
Sialan!!!
Zhou Fu memukul-mukul kepalanya beberapa kali sebab ia masih merasa gagal menemukan maksud dari syair Haku. Melangkah saja pada jalan-jalan yang dikehendaki hati? Apa maksudnya sedangkan hatiku tak memberi petunjuk apa-apa! Zhou Fu kembali membatin kesal.
Sementara itu, sungut Haku mulai bergerak-gerak. Itu artinya, waktu Zhou Fu untuk berpikir sudah habis. Haku sudah memberinya kesempatan untuk berpikir, tetapi kesempatan itu terbuang sia-sia sebab Haku sudah mulai menampakkan amarahnya.
Sungut Haku yang bergerak-gerak menandakan jika makhluk tersebut akan segera memberi serangan dalam waktu dekat.
***
Jika chapter ini sudah muncul di noveltoon, maka chapter 37 berarti sudah tayang di yutubb… Kalian bisa intip chapter 37 dengan search “Pendekar Benua Timur” di yutubb atau gugell. Demikian, maaf telat update, senin-senin kerjaan numpuk…
__ADS_1