Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
CH. 65 – Sesuatu Terjadi Pada Shen Shen


__ADS_3

Di yutub, chapter PBT sudah sampai 72. Silakan mampi ke sana untuk membaca lebih jauh. Terima kasih...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


CH. 65 – Sesuatu Terjadi Pada Shen Shen


Seorang pria tampan dengan pakaian cukup mewah terlihat sedang duduk menunggui sosok perempuan yang terkulai tak bergerak. Setidaknya ia tengah menunggui gadis itu selama lima hari atau lebih, ia bahkan lupa. Yang ia ingat adalah, gadis itu membuang muka padanya. Tak mau berbicara padanya. Dan beberapa saat setelah itu, gadis tersebut terkulai tak sadarkan diri begitu saja selama hampir satu minggu.


Dialah tuan muda Feng Yaoshan, si putra bangsawan kelas satu yang juga merupakan keturunan keluarga berpengaruh dari Shamo. Tak ada yang lebih membahagiakan hatinya kecuali ketika ia mendapat kabar bahwa kelompok Kelelawar Merah berhasil mengambil alih kembali kapal Guichuan bersama dengan nona Shen di dalamnya.


Tapi kemudian, tentu kebahagiaannya lenyap seketika tatkala ia menyaksikan nona Shen Yang menjadi mayat yang bernapas. Gadis itu tak bertemu ajal, tetapi ruhnya entah berada di mana sebab dibangunkan bagaimanapun juga, nyatanya nona Shen tak juga membuka mata. Ia tetap terkulai lemah seperti seonggok mayat, tetapi dengan hidung masih bernapas.


Tak ada satu orang pun yang mengetahui apa yang sedang terjadi pada nona Shen Yang. Tak hanya Feng Yaoshan yang merasa khawatir pada hal tersebut. Nyatanya, Rao Guohoa selaku pemimpin misi di kelompok Kelelawar Hitam juga merasakan kekhawatiran yang sama. Pemimpin pusat organisasi Kelelawar Merah bisa melenyapkan nyawanya dalam sekali kedipan mata jika misinya tak berjalan dengan sempurna.


“Jika terjadi apa-apa pada Shen Yang-ku, aku akan meminta ayah untuk melenyapkan kelompok Kelelawar Merah! Pasti mereka yang membuat Shen Yang-ku seperti ini!” geram Feng Yaoshan dari dalam sebuah kamar luas yang dihuni Shen Shen. Ia tak sendiri, ada seorang kasim setia yang mendampinginya.


“Ssst… Harap tuan muda berhenti bicara begitu! Kita sedang berada di perairan bebas hukum, dan sebentar lagi akan tiba di daratan bebas hukum juga,” si Kasim menunduk meminta tuan mudanya untuk berhenti membicarakan topic tersebut.


“Memangnya kenapa, aku tetaplah bangsawan kelas satu di manapun aku berada!” Feng Yaoshan Berkilah.


Si kasim menggeleng-gelengkan kepala, tuan mudanya memang terlalu dimanja dengan tahta dan kekuasaan. Padahal, tahta sama sekali tak berguna di wilayah bebas hukum. Di sana, seorang kasim bahkan bisa saja membelot dan membantai majikan mereka. Sebab alat ukur kasta di wilayah bebas hukum bukanlah harta dan tahta melainkan kekuatan. Siapa kuat, merekalah yang berkuasa.


“Tuan Muda Feng, tidakkah tuan muda ingin tahu mengapa ayah tuan muda tak pernah mau menginjak daratan bebas hukum? Sebab di sana, seorang budak rendahan memiliki hak untuk memenggal kepala bangsawan jika memang ada kesempatan!”

__ADS_1


Mendengar peringatan dari kasimnya, Feng Yaoshan menelan ludah berulang kali. Sedari awal, kasimnya itu memang tak menyetujui keputusan Feng Yaoshan untuk menaiki kapal Guichuan yang akan berlayar ke Juda. Tapi Feng Yaoshan memang keras kepala, cinta butanya pada Shen Shen membuatnya rela berada di wilayah yang cukup mendatangkan risiko besar.


“Jika sebelum ini Rao Guohoa bersikap hormat pada tuan muda Feng, jangan harap sikap itu tetap ada ketika kita mendarat nanti. Tuan muda tahu sendiri, kejahatan di daratan bebas hukum sejahat apapun tidak bisa diproses hukum di pengadilan Caihong,” imbuh si kasim memberi peringatan pada majikannya.


Feng Yaoshan mengangguk pelan, tentu saja dengan terpaksa. Ia kemudian mengelus-elus rambut Shen Shen yang hitam legam, yang di atasnya terdapat sebuah mahkota kecil berwarna keperakan. Demi memudahkan tangannya untuk membelai rambut nona Shen, Feng Yaoshan melepas mahkota itu dari kepala Shen Shen.


“Mahkota ini, aku tak melihat Shen Yang mengenakannya ketika kami bertemu di Dengguang,” ujar Feng Yaoshan seraya melepas mahkota itu dari kepala Shen Shen.


***


“Selamat jalan, Kakak!” seru Yuan Jin memberi salam perpisahan pada Yang Zi dan Zhou Fu yang telah sampai di permukaan.


“Nanti kami akan mampir untuk menagih pesta penyambutan!” Yang Zi berteriak melambai balik ke arah bocah kecil itu.


Kuda hitam itu kini melaju di sebuah jalan setapak yang juga masih merupakan jalur Jurang Neraka. Sebelumnya, Yuan Jin telah memberi arahan pada Yang Zi terkait jalur-jalur yang tak begitu berisiko dan Yang Zi telah memahaminya.


“Kakak Zhou, aku masih bisa melihat keberadaan kapal Guichuan! Mereka berlayar dengan cukup lambat kukira!” Yang Zi berseru setelah mereka melaju sekitar lima mil di jalur Jurang Neraka. Tangannya masih memegang teropong yang ia dapat dari salah seorang pemuda di desa Malam.


“Bagus, pantau terus keberadaan kapal itu. Kita harus bisa menghadang mereka sebelum kapal itu mencapai daratan!” balas Zhou Fu menimpali. Sebelumnya, Patriark Yuan Kai telah memberi peringatan pada Zhou Fu untuk menghindari wilayah bebas hukum Caihong.


Jika memungkinkan, patriark Yuan Kai meminta Zhou Fu untuk merebut putri bangsawan Shen Yang, sebelum kapal yang membawanya tiba di daratan. Pendekar dengan rupa-rupa kebengisan setidaknya telah berkumpul di wilayah bebas hukum tersebut. Dan bisa jadi, beberapa di antara mereka merupakan kelompok-kelompok rahasia yang memburu keberadaan pendekar pembaca Shufashen.


“Tujuan mereka sepertinya adalah air terjun Juda! Itu adalah tumpahan air sungai Juda yang langsung terjun bebas ke laut,” Yang Zi bergumam seraya masih menempelkan sebuah teropong di mata kanannya.

__ADS_1


“Mungkin ada pelabuhan rahasia di sekitar air terjun Juda!” Zhou Fu bergumam.


“Ya, kurasa juga begitu.”


“Apakah kau bisa melihat adanya tanda-tanda pelabuhan atau sesuatu sejenisnya?” Zhou Fu bertanya lagi dengan masih memacu kuda dan tangan kiri melingkar di perut Yang Zi.


“Tidak. Ah, belum. Kalaupun kita tak bisa menghadang mereka di laut, kita bisa menghadang mereka dalam perjalanan mereka mendaki tebing!” gumam Yang Zi, “Fufu, lebih cepat lagi!” Yang Zi meneriaki kuda hitam yang mereka tunggangi.


Zhou Fu mencengkeram erat perut Yang Zi untuk menjaga keseimbangan gadis itu. Yang Zi memang harus terus dipegangi karena tangan dan matanya sedang berkonsentrasi mengawasi pergerakan kapal Guichuan.


***


Di sebuah padang rumput  yang sangat luas, seorang gadis cantik sedang merebahkan tubuhnya di atas rerumputan hijau. Sesekali tangan mulus gadis itu nampak mencabuti rumput-rumput hijau yang dirasanya tumbuh terlalu tinggi. Sesekali ia menguap panjang dan nampak kebosanan.


Dialah Shen Shen yang sedang berada di dunia antah berantah. Sebuah dunia berbeda yang diciptakan oleh pusaka kuno Diadem Naga Perak. Shen Shen telah berada di alam itu selama berbulan-bulan sebab satu hari di dunia nyata setidaknya setara dengan satu bulan di alam mimpi itu.


Kesendirian yang cukup lama membuat gadis itu nampak cemberut dari hari ke hari. Seperti pada saat itu, ia nampak mencabuti rerumputan dengan bibir yang terus menggerutu. Meski dilanda kebosanan, ia tetap enggan membangunkan tubuhnya sebab ketika ia bangun, ia akan melihat manusia-manusia yang tak ia sukai.


Pada waktu itu, ketika Shen Shen sedang bermalas-malasan di atas padang rerumputan, ia melihat sebuah kegelapan merangkak dari kejauhan. Kegelapan itu merambat dengan pelan tapi pasti, mendekat ke arah dia berada. Semakin dekat dan semaki dekat hingga Shen Shen bisa melihat kegelapan yang pekat itu sedang berjalan menjemputnya.


Shen Shen pun bangkit berdiri, ia panik dan mulai berlari sekencang yang ia bisa menuju ke arah yang berlawanan dengan kegelapan itu berada. Nampak dari belakang, kegelapan itu masih merambat mendekatinya. Perasaan Shen Shen mulai tak tenang, ia khawatir jika hal tersebut merupakan pertanda yang sangat buruk.


“Sial! Apa yang terjadi di dunia nyata! Bangun! Tubuhku, bangun! Ayo cepat bangun!” Shen Shen memukul kepalanya dengan sangat keras untuk membangunkan tubuhnya sendiri. Tapi, tak terjadi apa-apa. Ia masih dikejar kegelapan.

__ADS_1


__ADS_2