Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
CH. 67 – Wilayah Tepi Sungai Juda


__ADS_3

Selamat pagi, selamat beraktivitas untuk kalian semua. Mengingatkan kembali jika kalian ingin baca chapter lebih jauh, bisa baca di yutub iPus Channel. Atau tetap menunggu rilisnya di Noveltoon juga boleh. Sehat selalu semuanya...


___________________________________


CH. 67 – Wilayah Tepi Sungai Juda


Rao Guohoa melesat menghilang dengan membawa Shen Yang bersamanya. Dari caranya berkomunikasi dengan si pendekar Ahli beraura biru, gelombang air laut yang menghantam rombongannya itu sepertinya adalah rencananya sendiri. Rencana yang dibuat untuk mengeliminasi Feng Yaoshan, mungkin saja. Sebab nyatanya, ketika gelombang tsunami telah usai hanya ada dua orang yang tak muncul dari dalam lautan. Dua orang tersebut adalah Feng Yaoshan beserta satu kasimnya.


“Bagus. Dengan begini, tak akan ada yang tahu jika gadis bangsawan ini telah sekarat!” ujar Rao Guohoa ketika matanya menoleh ke belakang dan sempat melihat tak adanya tanda-tanda kemunculan Feng Yaoshan.


Harga kepala Shen Shen dalam keadaan hidup dibandrol 100 kali lipat lebih mahal ketimbang harga jasadnya yang tak bernyawa. Dan bisa jadi, kalau sampai ada yang membocorkan bahwa gadis itu tak bangun dari pingsan selama seminggu, harga kepala Shen Shen akan diturunkan. Sebagai pemuda yang terlanjur cinta mati pada Shen Shen, Feng Yaoshan tentu akan membocorkan pada semua orang jika gadisnya dalam bahaya. Tentu saja informasi itu bisa membahayakan posisi Rao Guohoa di depan atasannya.


“Kalau begini, aku tinggal mengatakan jika gadis ini hanya sedang tertidur pulas akibat kelelahan. Beres. Hi hi hi!” Rao Guohoa tertawa meringkik membayangkan imbalan yang akan segera ia dapatkan setelah berhasil membawa putri bangsawan Shen Yang.


Tubuh Shen Shen memang tak menunjukkan tanda-tanda sakit atau keracunan. Tabib terhebat pun, jika melihat keadaan Shen Shen akan menganggap jika gadis itu hanya sedang tertidur. Jika seorang tabib mengetahui bahwa Shen Shen telah tidur selama satu minggu tanpa pernah terbangun, bisa dijamin tabib tersebut tak akan menemukan jawaban dari keanehan tersebut.


Pusaka Diadem Naga Perak memang jarang diketahui orang. Wajar jika tak ada orang yang tahu bahwa ada pusaka yang bisa membawa ruh penggunanya untuk tinggal di alam mimpi. Seperti saat ini, Shen Shen sedang terperangkap di alam mimpi tanpa bisa mengembalikan ruh ke jasadnya sebab tubuhnya sedang terpisah dari diadem naga perak yang telah ditanggalkan oleh Feng Yaoshan.


***


Berjam-jam setelah kejadian tsunami yang menghantam rombongan Rao Guohoa, rombongan Zhou Fu dan Yang Zi akhirnya telah tiba di wilayah pinggiran sungai Juda. Tak seperti yang ada di pikiran Yang Zi dan Zhou Fu, wilayah tersebut ternyata cukup ramai dan terlihat sangat biasa saja. Sungguh tak nampak seperti tempat mengerikan yang sering dibicarakan orang-orang.


Wilayah pinggiran sungai Juda lebih mirip seperti pasar yang amat ramai pengunjung. Beraneka ragam toko dan penjual makanan berjajar dengan sangat padat tepat di pinggiran sungai Juda. Dari anak kecil, remaja, dewasa, perempuan, dan orang tua, semuanya sedang menjalankan kegiatan yang sangat normal. Sama sekali tak bakal ada yang mengira jika wilayah itu adalah wilayah yang katanya banyak dihuni oleh kelompok dan sekte hitam.

__ADS_1


“Tuan muda, tuan bisa menitipkan kuda tuan muda di sini jika memang tuan hendak menyebrang sungai Juda,” seorang nenek sepuh yang seperti sakit-sakitan nampak menghadang kuda Zhou Fu yang memang sedang berhenti beberapa saat. Nenek tua tersebut menunjuk ke sebuah gubuk sederhana yang di sebelahnya terdapat rentetan kuda-kuda yang mungkin juga titipan dari para pengelana.


“Mengapa kami harus menitipkan kuda itu di sini? Bukankah kami bisa membawa kuda kami menyebrang menaiki kapal?” Yang Zi menjawab dengan sebuah pertanyaan.


“Tuan dan nona pasti baru pertama ke sini. Biaya menyebrang untuk satu kuda dihargai setara dengan sepuluh kepala manusia, itulah mengapa para pengelana lebih memilih untuk menitipkan kuda mereka di sini. Dan menyewa kuda di seberang sebab biaya sewa lebih murah daripada membayar penyebrangan kuda,” nenek tersebut tersenyum sangat ramah sambil matanya terus mengamati dua anak muda yang ia temuinya itu.


Dalam benak si perempuan tua tersebut, Zhou Fu dan Yang Zi merupakan dua remaja yang tolol sebab kemungkinan besar mereka bisa kembali dari seberang adalah 0%. Nenek tersebut pun merasa cukup gembira sebab kemungkinan besar ia akan memiliki kuda hitam Zhou Fu yang nampak sangat kuat dan terlatih.


“Baiklah, kami akan menitipkan kuda kami di sini. Apakah sore ini ada jadwal penyebrangan, Nek?” Zhou Fu mencoba memastikan sebab ia tiba di tempat tersebut ketika hari sudah menjelang senja.


“Oh, sayang sekali harus saya katakan jika jadwal penyebrangan tercepat adalah besok pagi hari. Jika berkenan, tuan dan nona bisa menginap di kediaman saya. Saya berikan harga yang murah untuk kalian,” jawab nenek tersebut dengan wajah menyeringai.


“Menginap? Ah, kami bisa tidur di sembarang jalan. Lgipula, sepertinya pemandangan di sini bagus. Bukankah begitu, Kakak Zhou?” Yang Zi menoleh pada Zhou Fu.


“Ah, kalian ini bercanda ya? Tempat ini bukanlah tempat yang tepat untuk bertamasya. Bahaya ada di mana-mana. Menginaplah di sini, semakin dekat kalian dengan sungai Juda, semakin banyak pendekar-pendekar jahat yang mengintai,” ucap nenek itu mencoba meyakinkan dua tamunya.


“Baiklah, kami akan menginap!” ujar Zhou Fu memotong ucapan Yang Zi. Usulan nenek tersebut ada benarnya. Lagipula, meski pinggiran sungai Juda terlihat sangat indah, Zhou Fu merasakan getaran-getaran ilmu bela diri yang cukup kuat dan beragam dari arah sana.


“Tapi saya minta satu kamar bersama adik saya ini,” ucap Zhou Fu lagi sembari menempelkan telapak tangannya di atas kepala Yang Zi. Gadis itu menoleh dan melotot, tetapi kepalanya ditekan dengan sangat kuat oleh Zhou Fu, menandakan jika mungkin saja Zhou Fu memang melakukannya untuk sebuah kebaikan.


Ya, Zhou Fu memang sedang mengantisipasi keadaan. Ia melihat nenek renta tersebut memiliki aura biru pekat, lebih pekat dari aura milik Rao Guohoa. Dari cara bicara dan berdirinya yang seperti nenek sakit-sakitan, tentu Zhou Fu berhak mencurigai jika hal tersebut hanyalah pura-pura. Meski telah mencapai usia renta, pemilik aura biru pekat tak mungkin nampak sesusah itu ketika berjalan dan berbicara.


“Tentu. Tentu saja tuan muda…” jawab nenek tersebut lagi-lagi dengan seringai wajah yang gembira. Ia sedang melihat dua anak-anak muda dengan pakaian bagus, kuda bagus, dan mungkin juga harta yang melimpah akan menginap di tempatnya untuk semalam.

__ADS_1


Nenek itu membawa rombongan Zhou Fu ke kediamannya, mengikat Fufu di sebuah kandang kuda lalu mengantar Zhou Fu dan Yang Zi ke sebuah kamar sederhana di kediamannya. Rumah nenek tersebut bisa dibilang cukup sederhana tetapi ditata dengan sangat rapi dan bersih sehingga orang akan tetap merasa nyaman ketika berada di dalamnya.


“Tuan dan nona, silakan beristirahat dulu selagi saya siapkan makanan dan minuman,” nenek itu mempersilakan Zhou Fu dan Yang Zi sebelum akhirnya pamit undur diri untuk membuat hidangan kepada dua tamunya itu.


Setelah dirasa aman, Zhou Fu menutup pintu dan menarik tangan Yang Zi untuk mendekat ke arahnya, “hati-hati dengan nenek itu. Ia memiliki aura biru pekat, warna biru yang bercampur abu-abu kehitaman. Dia adalah penganut ilmu-ilmu sesat. Jangan terkecoh dengan wajah ramahnya!”


“Sialan! Mengapa kakak bersedia menerima tawarannya untuk menginap di sini?!” Yang Zi melotot dengan sedikit kesal.


“Masalahnya, aku merasakan aura yang lebih kuat lagi di area-area yang dekat dengan sungai Juda. Mungkin nenek ini berbahaya, tetapi orang-orang di sana itu sepertinya justru lebih berbahaya!” ujar Zhou Fu mencoba memberi pengertian.


Tok Tok Tok…


Pintu kamar diketuk dengan pelan diikuti dengan suara si nenek tua yang sepertinya sedang membawakan kudapan. Yang Zi membuka pintu dan melihat senyum ramah si nenek menyapanya di balik pintu.


“Nona, makan dan minumlah kudapan ini selagi saya menyiapkan makan malam. Kalian juga bisa berjalan-jalan melihat keramaian jika berkenan,” ucap nenek tersebut sembari menyerahkan sebuah nampan berisi dua piring kudapan dan dua gelas minuman. Di samping kudapan tersebut, tergeletak juga dua buah topeng perak yang sepertinya sengaja diberikan untuk Zhou Fu dan Yang Zi.


“Topeng?” Yang Zi bertanya tepat ketika matanya menangkap dua buah topeng di depannya.


“Ah, ya! Sebagian besar orang yang singgah ke Juda selalu mengenakan topeng. Kalian bisa menggunakannya atau juga memilih tak memakainya. Itu terserah tuan dan nona,” nenek itu tersenyum menjelaskan.


Yang Zi berpikir sebentar lalu menerima semuanya dan menutup pintu dengan segera. Ia menaruh kudapan itu di sebuah meja kecil lantas menarik-narik lengan baju Zhou Fu, “Kakak Zhou, bagaimana kalau kita menghabisi nenek ini sekarang! Aku yakin kita bisa melakukannya!” ucap Yang Zi berbisik.


“Setelah kita mendapatkan kakakmu, kita bisa menghabisinya sesuka hati. Ingat, kita tak boleh bertingkah mencolok. Hindari pertarungan dan bersikap sewajarnya saja,” jawab Zhou Fu dengan satu tangannya meraih air yang disuguhkan oleh si nenek tua, ia nampak menghirup-hirup permukaan gelas lalu berucap,”racun amatir! Haha, jangan sentuh semua makanan ini. Ada racun di dalamnya!”

__ADS_1


“Ah, tapi aku lapar! Bagaimana kalau kita mencari makan di luar sambil menghirup udara segar?” ucap Yang Zi memohon. Zhou Fu pun mengangguk seraya meraih dua topeng yang diberikan si nenek. Menyerahkan satu pada Yang Zi dan menggunakan satunya lagi di wajahnya.


“Semoga ucapan nenek tua itu tentang keberangkatan kapal adalah bohong belaka!” ucap Zhou Fu dalam hati, ia berharap malam itu akan ada kapal yang bisa membawanya dan Yang Zi ke wilayah bebas hukum Caihong.


__ADS_2