Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
CH. 24 – Pemilik Sah Pusaka Hitam


__ADS_3

Zhou Fu dan Shen Shen masih mengapung di tempat yang sama selagi menunggu kabar dari tiga petugas kapal yang membantu mereka. Hari sudah siang dan tiga petugas yang telah membawa harta terakhir Zhou Fu itu tak kunjung menampakkan batang hidung mereka.


Shen Shen mengusap keringat yang mulai mengucur di dahinya, sesekali ia juga melirik Zhou Fu yang sedang sibuk berlatih mengayun-ayunkan pedang. Ada sebuah ekspresi kesal yang nampak di wajah Shen Shen ketika lirikannya sama sekali tak membuat Zhou Fu bereaksi. Selagi Shen Shen mencuri-curi pandang, sedetik pun Zhou Fu tak pernah mengarahkan matanya pada Shen Shen. Zhou Fu sedang menikmati mainan barunya yaitu pedang pusaka milik Rao Guohoa.


Usaha Shen Shen untuk mendapatkan perhatian dari Zhou Fu tak membuahkan hasil. Karena merasa triknya tak bekerja, Shen Shen terpaksa mengubah strategi, ia pun menarik napas panjang sebelum meneriakkan sebuah kalimat panjang pada Zhou Fu.


“Kita sudah mengapung di sini cukup lama! Matahari kini berada tepat di atas kepala, dan kita hanya mengapung di sini tanpa melakukan apa-apa? Kau masih waras bukan?” Shen Shen memanyunkan bibirnya karena tak bisa menahan kesal, “aku benci panas. Aku benci berkeringat! Aku juga lapar dan kehausan! Apakah kau tidak bisa melakukan sesuatu?” cerocos Shen Shen dengan kedua tangannya bergerak ke sana ke mari untuk memperjelas rasa kesalnya.


Zhou Fu menghentikan ayunan pedangnya sejenak, lalu mengarahkan ujung pedang itu tepat di dagu Shen Shen. Tak ada sepatah kata pun yang diucapkan Zhou Fu, membuat Shen Shen mendadak diserang kekhawatiran yang janggal. Shen Shen menelan ludah perlahan, keringatnya makin bergulir seiring dengan ujung pedang Zhou Fu yang belum berpindah dari dagunya.


“Kau lapar? Sama. Kau haus? Sama. Kau lelah? Sama. Bagaimana kalau kau mencarikanku makanan, membawakanku minuman?” Zhou Fu tiba-tiba berbicara dengan nada yang cukup datar.


Shen Shen mencengkeram bajunya dengan kedua tangan. Ia tak pernah menduga jika Zhou Fu akan mengatakan hal yang tak pernah ia kira sebelumnya. Shen Shen pun baru tersadar jika Zhou Fu bukan pesuruhnya, bukan bawahannya, bukan juga pengawalnya. Hidup sebagai putri bangsawan telah membuat Shen Shen memiliki tabiat yang manja, suka mengeluh, dan menuntut untuk selalu dipuaskan. Ia lupa jika Zhou Fu bahkan tak memiliki kewajiban untuk menolongnya.


“M… Maaf… A… Aku sepertinya lancang…” Shen Shen mengucapkan kalimat yang sepertinya baru pertama kali keluar dari mulutnya selama ini. Ia merasa bersalah karena telah membuat repot orang baik yang bahkan bersedia menolongnya meski harus melewati banyak rintangan.


Pedang di dagu Shen Shen masih tak bergeser sedikit pun. Zhou Fu tersenyum sinis melihat Shen Shen yang berkeringat ketakutan. Sebuah senyum janggal yang bahkan belum pernah muncul di wajah Zhou Fu. Melihat senyum mengerikan di wajah Zhou Fu itu, Shen Shen merasa ada yang tidak beres saat itu.

__ADS_1


Ia memberanikan diri untuk menangkis pedang Zhou Fu sekuat yang ia bisa. Shen Shen melempar pedang Zhou Fu dengan telapak tangan kanannya hingga pedang itu terlepas dari genggaman Zhou Fu.


“Lepaskan pedang itu dari genggamanmu!” Shen Shen berteriak histeris.


Akibat dari gerakan Shen Shen yang tiba-tiba itu, telapak tangan Shen Shen mengucurkan darah segar. Ia mengaduh keras sembari mengibas-kibaskan tangannya yang terluka. Ia berharap keanehan yang terjadi pada Zhou Fu segera menghilang seiring dengan terlepasnya pedang Rao Guohoa dari tangan Zhou Fu.


Zhou Fu melihat pedang barunya yang tergeletak di balok remahan kapal yang ia naiki, lalu matanya bergerak untuk melihat ke telapak tangan Shen Shen yang berdarah. Hal yang pertama dilakukan Zhou Fu kemudian adalah memijit-mijit keningnya yang terasa pening.


“Kurasa ada yang tidak beres dengan pedang ini, apakah tanganmu baik-baik saja?” Zhou Fu masih memijit keningnya karena rasa pusing di kepalanya belum juga sirna.


“Tidak. Tentu saja aku tidak sedang baik-baik saja. Kau lihat sendiri tanganku berdarah. Aku tak pernah tergores pedang sebelumnya, dan rasanya tidak menyenangkan,” gerutu Shen Shen yang sudah kembali menjadi gadis manja dan gemar mengeluh.


“Gawat! Jangan-jangan ini adalah jenis pusaka hitam yang pernah diceritakan kakek!” Zhou Fu menunduk mengamati detail fisik dari pedang milik Rao Guohoa.


Kakek Li Xian pernah memberi tahu Zhou Fu untuk berhati-hati pada suatu jenis pusaka hitam. Sebuah benda pusaka dikatakan sebagai pusaka hitam jika pusaka tersebut mampu memberikan dorongan aura negatif pada penggunanya. Dorongan aura negatif adalah jenis kekuatan yang disukai oleh pendekar-pendekar beraliran hitam. Ada sebuah detail informasi yang sangat diingat Zhou Fu tentang suatu jenis pusaka hitam, yaitu sebuah penolakan yang diberikan oleh pusaka tersebut sebab digenggam oleh pemilik yang tidak sah.


Pusaka tertentu seperti memiliki ruh dalam bentuk energi, energi itu mampu mengenali siapa pemiliknya dan hanya patuh pada pemilik sahnya saja. Seseorang dikatakan sebagai pemilik sah jika memenuhi dua syarat, syarat yang pertama adalah si pemilik terdahulu memberikan dengan suka rela pusaka tersebut pada si pemilik baru. Syarat kedua adalah, si pemilik terdahulu telah kalah dan tewas di tangan si pemilik baru.

__ADS_1


“Kurang ajar!” Zhou Fu berteriak dengan marah sembari menendang pedang pusaka Rao Guohoa ke laut lepas. Kepalanya menggeleng-geleng tak percaya, “perempuan itu masih hidup!” ujar Zhou Fu dengan sorot mata yang masih tak percaya.


Shen Shen mendongak kaget. Bukan hanya kaget, bulu kuduknya mengembang seketika, “apa maksudmu dia masih hidup?” Shen Shen bertanya ketakutan.


“Ketika aku menggenggam pedang miliknya, aku merasakan sebuah energi yang terpancar dari pedang tersebut. Energi itu sengaja dikirimkan untuk memberi sinyal pada pemilik sahnya. Kata kakekku, energi semacam itu hanya akan muncul jika pemilik sah pusaka tersebut masih bernyawa,” Zhou Fu menjelaskan pengetahuan yang ia dapat dari kakek Li Xian kepada Shen Shen.


“Jika ia masih hidup, berarti kekuatannya akan berlipat kali lebih besar dari yang semalam?” Shen Shen menyilangkan dua tangannya ke pundak karena bergidik ngeri.


“Ya. Kurasa kita sudah tak bisa berlama-lama lagi di sini. Aku juga khawatir jangan-jangan terjadi sesuatu yang buruk dengan tiga paman yang membantu kita itu, tak ada pilihan lain!”


Zhou Fu memberi isyarat pada Shen Shen untuk bersiap-siap. Mereka akan menjalankan rencana cadangan karena rencana awal mereka nyatanya tidak berjalan dengan lancar.


 


\=\=\=\=\=


Sorry up dikit dan telat, rundown acara saya untuk besok ternyata cukup padat. Oh ya kemarin yang tanya besok saya di sidoarjo mana, lokasi acara saya ada di Hotel Sinar 1 Juanda…

__ADS_1


Maaf ya kalau isi chapternya jelek…


Untuk yang mungkin kesal karena tokoh jahatnya ga mati-mati, harap jangan buru-buru menganggap MC ga bisa mengalahkannya ya. Itu karena bibi Rao Guohoa ini memang salah satu antagonis berpengaruh dalam seluruh rangkaian cerita. Jadi emang ga boleh buru-buru mati ya...


__ADS_2