Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
CH. 39 – Kejadian Tak Terduga


__ADS_3

Bebarengan dengan terbukanya mulut patung kepala singa, Shen Shen mengguncang-guncang pundak Zhou Fu dengan keras. Zhou Fu yang sedang bersemangat mengawasi mulut patung singa, terpaksa menoleh ke arah Shen Shen seketika. Alis Zhou Fu berkerut bersamaan sewaktu melihat wajah Shen Shen yang menunjukkan ekspresi menahan sesuatu yang berat dan tertahan.


“Sialan, begitu saja sudah tidak kuat!” Zhou Fu menggerutu dalam hati ketika mendapati wajah Shen Shen sudah menunjukkan tanda-tanda kekurangan oksigen.


Shen Shen tak tahu bagaimana ekspresi Zhou Fu sebab dua matanya sudah terpejam amat rapat, guna memperkuat pertahanan dirinya melawan desakan paru-paru yang membutuhkan asupan udara. Dadanya semakin terasa berat karena ditempa tekanan bawah laut yang mulai terasa.


Sebenarnya, montipora purba juga memiliki efek menangkal rasa tertekan di dada ketika berada di kedalaman. Jika Shen Shen sudah menunjukkan gejala-gejala kehabisan udara, tentu saja efek montipora purba sudah lenyap di tubuhnya. Zhou Fu pun menduga jika efek dari montipora purba mungkin juga disesuaikan dengan ketahanan fisik masing-masing orang sebab ia sendiri masih merasa biasa saja bertahan di dalam air.


“Baiklah, baiklak! Kita ke permukaan segera!” gumam Zhou Fu dalam hati sembari merengkuh sesuatu yang ada di dalam mulut singa yang terbuka.


Sesuatu itu berbentuk peti hitam, dengan ukir-ukiran singa dan bunga teratai di setiap sisi-sisinya. Zhou Fu menggenggam gagang peti hitam itu dengan tangan kanan dan merengkuh pinggang Shen Shen dengan tangan kiri. Gadis itu tentu sudah tak mampu berenang sendiri sehingga Zhou Fu merasa perlu membantunya.


Singkat cerita, Zhou Fu meminta Haku untuk membawa mereka ke permukaan yang entah berapa jauh jaraknya. Benar saja, perjalanan menuju permukaan tidak sesebentar yang Zhou Fu kira, Shen Shen bahkan sudah tak sadarkan diri sebelum mereka sampai di permukaan. Hal tersebut membuat Zhou Fu memeriksa denyut nadi Shen Shen secara berkala untuk memastikan apakah perempuan itu masih menyimpan nyawa di tubuhnya atau tidak.


“Sialan! Aku bahkan tak tahu kapan aku kehilangan persediaan remah montipora!” Zhou Fu menggerutu dalam hati sembari mengepal dua tangan. Merasa sedikit geram karena ia kehilangan remah-remah montipira purba yang ia simpan di dalam jubahnya. Sepertinya persediaan tersebut terjatuh dari jubah Zhou Fu tepat ketika ia dan Shen Shen memasuki pintu berongga udara yang diapit tiga pusaran air itu.


Menit demi menit pun bergerak begitu lambat bagi Zhou Fu. Ia kemudian memberi isyarat pada Haku untuk mempercepat gerakannya. Haku memejamkan mata sebentar tanda ia mengeri isyarat teman barunya itu. Beberapa saat setelah Haku mempercepat gerakannya, tibalah mereka di permukaan, tepatnya di tengah-tengah laut Luzon. Zhou Fu pun meminta Haku untuk tetap membuat kepalanya berada di atas permukaan air agar Zhou Fu bisa melakukan pertolongan pertama pada Shen Shen.


***

__ADS_1


Shen Shen terbangun dalam keadaan tubuh tertutup selimut hangat, di sampingnya ada seorang pelayan perempuan yang sedang menumbuk beberapa obat herbal. Itu adalah pelayan yang ada di kapal Guichuan, kapal milik Feng Yaoshan yang ditumpangi Shen Shen dan Zhou Fu.


“B… Apa yang terjadi? Di mana Zhou Fu?” Shen Shen berucap pelan sembari memijit-mijit keningnya yang terasa pusing. Matanya masih berkunang-kunang dan perutnya terasa mual.


Pelayan yang sedang menunggui Shen Shen segera menghampirinya yang terbaring di ranjang dengan tubuh yang masih lemah. Pelayan itu membungkuk sebentar lalu menjelaskan beberapa hal.


“Nona, tuan muda Zhou yang mengantar nona kemari, lebih tepatnya, kalian berdua diantar oleh seekor makhluk raksasa yang sepertinya jinak. Setelah memastikan keadaan nona yang baik-baik saja, tuan muda Zhou kembali ke dalam laut bersama makhluk itu. Daaan… Dan sampai sekarang belum kembali…”


Alis Shen Shen langsung menyatu seketika, dagunya langsung mendongak dan bibirnya sedikit bergetar, “sampai sekarang? Apa maksudnya sampai sekarang?” Shen Shen menelan ludahnya berulang kali sambil mencoba mengingat-ingat sesuatu.


Pelayan tersebut nampak memalingkan mukanya ke kanan bawah, berusaha sebisa mungkin untuk tak melihat wajah nona muda Shen Yang, karena jawaban yang akan ia berikan pasti akan membuat gadis itu sedih dan bingung.


“Hari itu??? Memangnya berapa lama aku tak sadarkan diri?” Shen Shen mengangkat bahunya, ia yakin jika kejadian membuka mulut patung singa adalah baru kemarin.


“Nona terbaring selama satu minggu. Bukan tidak sadar, nona bangun setiap hari, tapi hanya untuk mengigau. Wajar saja karena demam yang nona alami cukup tinggi sehingga kesadaran nona terganggu. Selama satu minggu ini, tuan muda Zhou belum pernah kembali.”


***


Persediaan air tawar di dalam kapal Guichuan sudah semakin menipis, seluruh awak kapal melakukan penghematan besar besaran agar tidak mengalami kehabisan sumber air minum. Semua awak kapal merasa menjadi anak itik yang kehilangan induknya, mereka sedang melabuh di tepi laut Luzon, tanpa tahu harus berbuat apa.

__ADS_1


Itu adalah hari ke sepuluh dari kepergian Zhou Fu yang tak juga kembali. Shen Shen menunggui kedatangan Zhou Fu di ujung kepala kapal, setiap pagi, siang, sore, dan malam. Menit-menit yang ia lalui seolah menjadi masa-masa kelam yang ingin ia akhiri segera.


Malam itu, malam hari ke sepuluh, Shen Shen mencoba membulatkan tekad. Mungkin perjalanannya bersama Zhou Fu memang harus berakhir di laut Luzon. Semua orang bebas membuat rencana-rencana, tetapi nyatanya hidup memang tak selalu sesuai rencana.


Wajah Shen Shen tertekuk lesu, ia yang saat itu sedang menunggui Zhou Fu di ujung kepala kapal sudah hendak membalikkan badan dan akan pergi tidur, sebelum akhirnya suara gemuruh dari arah tenggara mengusik telinganya.


Shen Shen mencengkeram bagian kayu kapal. Darahnya bersedir hebat, dan hatinya meneriakkan satu doa yang sama, semoga itu dia!


“Shen Shen!!! Lihat yang kubawa! Kau pasti tak akan pernah menyangka semuanya!!!”


Air mata Shen Shen bercucuran ketika suara teriakan itu hinggap di telinganya. Jelas itu adalah suara dari Zhou Fu yang menyebalkan!


Waktu itu hari sangat gelap, Shen Shen tak bisa melihat dengan jelas apa yang dibawa Zhou Fu. Bahkan, Shen Shen pun tak bisa melihat mana sebenarnya tubuh Zhou Fu. Hanya siluet gelap dari seekor makhluk besar yang muncul di pelupuk matanya.


“Sialan! Seharusnya aku tak perlu terlalu mengkhawatirkannya!” Shen Shen mengumpat dalam hati sembari menggigit bibirnya sendiri. Ada perasaan yang sangat gembira, lega, dan kesal yang bercampur menjadi satu di pikiran Shen Shen.


“Sial!!! Dia bahkan nampak begitu bahagia! Percuma saja aku menungguinya dengan derai air mata!” Shen Shen kembali mengumpat dalam hati, sambil berharap agar bekas air matanya cepat hilang. 


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Jangan lupa tonton kelanjutannya di yutub ya, soalnya yg di yutub episodenya lebih jauh dari yg ini. cek aja di pencarian ipus channel atau Pendekar Benua Timur... Makasih...


__ADS_2