Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
CH. 44 – Pedang dari Luzon


__ADS_3

Sorot-sorot mata tajam mengamati tubuh Zhou Fu dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Para militer Shamo agaknya saling berbisik keheranan. Nyatanya, perawakan Zhou Fu tidak mirip dengan perawakan orang Bingdao yang notabene berkulit putih. Kulit Zhou Fu kuning langsat, jelas dia juga bukan berasal dari keturunan orang Shamo yang kebanyakan berkulit gelap.


“Hei, anak muda, siapa kau dan perlu apa kau ke mari?” si pria kekar bertanya sembari menuding Zhou Fu menggunakan pedangnya yang berlumuran darah.


“Jika kalian ingin mencari siapa orang yang membunuh dua belas pendekar Shamo, kalian saat ini sedang melihatnya!” Teriak Zhou Fu lantang, ‘setidaknya aku membunuh tiga diantara dua belas itu’, tambah Zhou Fu dalam hati.


“Ha ha ha, anak ini sedang tidak waras kiranya. Dua belas pendekar kami adalah pendekar-pendekar pilihan. Jika kau bisa mengimbangi satu saja dari mereka, tentu kami akan lari terbirit-birit karenamu!” si pria kekar itu tertawa melecehkan, dan tentu saja disambut dengan senyum kecil oleh Zhou Fu.


“Jika demikian, silakan lari dengan suka rela selagi bisa,” Zhou Fu kini menarik pedang yang ia bawa, pedang itu berkilat-kilat menyilaukan mata yang memandangnya, menandakan juga jika bahan pembuat pedang itu tentu bukanlah bahan sembarangan.


Si pria berjenggot yang bertubuh ramping terlihat mengerutkan kening beberapa saat. Pria itu bernama Ming Tian, salah satu pendekar pedang dari negeri Shamo yang cukup terkenal karena pengetahuannya tentang pusaka pedang yang melegenda.


Ming Tian menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk membuat penelitian tentang aneka pedang pusaka yang ada di seluruh dunia. Mengumpulkannya dalam bentuk informasi yang ia kemas di dalam sebuah kitab pengetahuan pedang. Kitab tersebut kemudian ia salin dengan jumlah ribuan salinan dan kesemuaya dengan sangat cepat habis terjual. Berkat kitab pengetahuan pedangnya itu, Ming Tian dikenal oleh banyak orang di luar negeri Shamo.


Anehnya, pedang yang dibawa oleh Zhou Fu nyatanya belum pernah diketahui oleh Ming Tian. Pedang tersebut memiliki gagang berlapis emas dengan ukir-ukiran kepala singa yang disandingkan dengan bunga-bunga teratai yang bermekaran.  Ming Tian maju mendekati Zhou Fu yang sudah bersiap dengan pedang barunya. Zhou Fu bisa mengenali jika Ming Tian memiliki ilmu bela diri yang jauh lebih baik daripada si pria kekar yang sedang memegangi pedang berdarah.


“Anak muda, kau masih cukup muda untuk mati di tempat ini. Pulang dan kembalilah pada ibumu, tinggalkan pedang emasmu itu dan kuanggap kita tak pernah bertemu,” ucap Ming Tian dengan suara lembut ketika ia sudah berada cukup dekat dengan Zhou Fu.


Zhou Fu tersenyum sinis mendengar gumaman lembut seorang paman di depannya itu. Senyum ramah dari Ming Tian nyatanya semakin membuat Zhou Fu geram. Setidaknya, hanya orang-orang dengan kebusukan di hatinya yang bisa menyunggingkan senyum ramah selagi masih melakukan pembantaian yang keji. Zhou Fu pun menodongkan pedang barunya ke arah Ming Tian, jika tak ada yang menghalang-halangi, ia berjanji akan memenggal kepala paman itu dengan pedang barunya dari Luzon.


“Katakan jika paman adalah orang yang bertanggung jawab akan pembakaran di Yimin, dengan begitu aku akan sangat bersemangat menghabisi paman!” balas Zhou Fu sembari bersiap mengeluarkan jurus.

__ADS_1


Ming Tian tertawa terbahak-bahak lalu memalingkan tubuh ke belakang, memberi isyarat pada pria kekar untuk melemparkan pedang milik pria itu kepadanya. Meski masuk dalam jajaran pendekar pedang, Ming Tian adalah pendekar yang tidak memiliki pedang. Sejarah menyebutkan jika Ming Tian bisa memenangkan pertempuran dengan siapapun meski hanya bermodal pedang pinjaman.


“Baiklah anak muda, sepertinya aku juga perlu mengukur kekuatan pedang pusakamu!” Ming Tian menangkap pedang si pria kekar dengan tangan kirinya. Ia menyembunyikan tangan kanannya di balik pinggungnya sembari berkata,”tangan kananku hanya keluar jika bertemu dengan musuh yang hebat. Kuharap kau tak begitu kecewa, anak muda. Ha ha ha!”


Zhou Fu menyeringaikan senyum lebar, ia mencengkeram pedangnya kuat-kuat lalu berkata lantang.


“Cih! Sudah cukup omong kosongnya! Kita lihat siapa yang kecewa! Hiaaaaat!!!” Zhou Fu maju terlebih dahulu karena rasa gatal di hatinya sudah cukup mengganggu.


Terlihat Zhou Fu telah bergerak dengan lincah memainkan pedangnya. Ia memang tak begitu mengenal jurus-jurus pedang, tetapi insting menyerangnya tidak bisa disepelekan. Zhou Fu memanfaatkan insting menyerangnya itu kemudian ia kombinasikan dengan pedang, dan jadilah ia menghujani Ming Tian dengan serangan yang cukup membuat lawan kewalahan.


Swiiing… Swiiing…  Swiiing…


Suara desing pertemuan dua pedang terdengar memekakkan telinga sebab nyatanya desingan pedang itu saling berbenturan dalam waktu yang nyaris tak berjarak. Ming Tian menangkis serangan-serangan dari Zhou Fu yang cukup agresif. Terlihat ia belum memiliki kesempatan untuk melawan atau memang masih memilih untuk menahan diri. Yang jelas, beberapa militer Shamo bisa melihat jika raut wajah Ming Tian menunjukkan tanda-tanda kekhawatiran.


“Sepertinya bocah itu berasal dari daratan yang belum pernah dijamah oleh tuan Ming. Terlihat tuan Ming tidak mengenali jurus yang dikeluarkan anak muda tersebut,” sahut salah seorang militer Shamo yang juga mulai menyadari jika Ming Tian terlihat sedikit bingung.


“Tidak perlu malu untuk menggunakan tangan kananmu, Paman!” Zhou Fu tersenyum menyeringai sembari melemparkan pedangnya ke udara lalu menangkapnya menggunakan tangan kiri. Kini, ia menggunakan tangan kirinya untuk menghujani Ming Tian dengan serangan acaknya, “oh, aku juga baru ingat jika tangan kananku hanya keluar jika ada musuh yang hebat,” imbuh Zhou Fu membuat wajah Ming Tian semakin kecut.


“Sialan! Jurus-jurusnya sepertinya bukanlah jurus pedang. Pergerakan pedangnya tak bisa kuprediksi sedikit pun! Bagaimana bisa begitu?!” Ming Tian menggerutu dalam hati karena tak mengira jika Zhou Fu memiliki kemampuan yang cukup merepotkan.


“Arrrrgh! Sialan!” Ming Tian melompat mundur begitu pedang Zhou Fu menggores lengan kirinya. Anehnya, goresan di lengan Ming Tian menunjukkan jika pedang Zhou Fu bukanlah pedang biasa. Ada asap keluar dari daging dan pakaiannya yang tergores pedang. Kulit dan dan daging di lengan Ming Tian seolah digores baja yang membara, luka yang ditimbulkan langsung menghitam dan mengeluarkan aroma bakar.

__ADS_1


Zhou Fu yang melihat fenomena aneh itu lantas turut mengerutkan kening juga. Ia tak menyangka jika pedang dari Laut Luzon itu memiliki kekuatan yang demikian.


“Lengan kirimu sudah meleleh, apakah lengan kananmu masih malu-malu untuk keluar, Paman?” Zhou Fu menyeringai penuh kemenangan. Secepatnya ia ingin mengakhiri hidup seluruh pasukan dari Shamo yang ada di Yimin. Setidaknya, dengan peristiwa pembakaran warga yang disengaja, Zhou Fu yakin menghabisi nyawa semua pasukan Shamo adalah tindakan yang tidak keliru.


“Kakak Ming, dia adalah bagianku! Ha ha ha ha!”


Terdengar suara tubuh berkelebat dari udara. Hawa dingin bermunculan seiring dengan kedatangan suara perempuan tersebut. Semua orang Shamo membelalak kaget ketika telinga mereka mendengar suara itu, suara dari perempuan yang merupakan kerabat dekat dari tuan Ming Tian. Zhou Fu cukup mengenali suara liar dan hawa dingin itu.


“Rao Guohoa…” Ming Tian bergumam pelan begitu melihat Rao Guohoa sudah berdiri dengan sigap di depannya.


“A… Ada apa dengan tubumu?” Ming Tian mundur beberapa langkah begitu melihat bentuk fisik Rao Guohoa yang menyerupai mayat hidup. Perempuan itu nyatanya sudah tak memiliki daging sedikit pun di tubuhnya. Ia adalah tengkorak yang dibalut kulit yang menghitam.


“Cuih! Jadi kalian benar-benar bersekutu rupanya?” Zhou Fu meludah, kini ia benar-benar yakin jika orang Shamo pasti memiliki niat buruk di Caihong.


“Kalian sudah saling kenal???” Ming Tian memundurkan langkahnya lagi, melihat Zhou Fu yang tak gentar sedikit pun terhadap kedatangan Rao Guohoa, sepertinya ia telah keliru menilai anak muda itu, “siapa sebenarnya pemuda ini?” Ming Tian bertanya dengan suara pelan, jelas-jelas Rao Guohoa memiliki kesaktian melebihi dirinya, jika pemuda itu bahkan tak takut pada Rao Guohoa, tentu saja dia bukanlah pemuda yang bisa diremehkan.


“Itu juga masih menjadi pertanyaanku. Yang jelas, ia telah mencuri pedang yang kakak berikan kepadaku!” jawab Rao Guohoa dengan raut muka yang sedikit murka, kali itu ia berjanji akan membinasakan Zhou Fu apapun yang terjadi.


\=\=\=\=


Chapter 45-Janji Bertemu di Juda, sudah rilis di yutub yah. Maaf sekali karena harus upload ke yutub terlebih dahulu, itu karena saya tak seberuntung teman-teman author lain yg bisa dpt penghasilan dari Mangatoon.

__ADS_1


Maaf sekali karena saya masih butuh tambahan pendapatan agar bisa tetap menulis. Itulah mengapa novel ini saya up juga di yutub biar ada tambahan2 jajan beli kopi 🙏🙏🙏


Untuk kalian yg sudi membacanya di yutub, saya sampaikan terima kasih sebanyak-banyaknya. Untuk kalian yg tetap menanti tayangnya novel ini di sini, mohon doanya saja agar author bisa dpt rejeki2 yg lain 😊😊😊***


__ADS_2