Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
CH. 83 – Keputusan Terakhir


__ADS_3

Tak ada satu pun kejadian di muka bumi yang terjadi begitu saja. Bahkan, sebuah kebetulan sekalipun katanya adalah sesuatu yang sudah direncanakan. Sebagaimana kasus Zhou Fu yang keluar dari pulau Youhi untuk mengantar Nona Shen Yang, perjalanannya menuju ke Caihong justru membawanya pada serpihan teka-teki tentang identitas dirinya sendiri. Sepertinya, takdir memang ingin menunjukkan sesuatu pada Zhou Fu lewat perjalanannya memulangkan Nona Shen Yang.


Zhou Fu terduduk diam di sudut ruangan, pikirannya sedang sibuk menimbang-nimbang beberapa hal. Misi menyelamatkan Shen Shen sudah hampir selesai dengan sempurna. Akan menjadi sangat mudah baginya untuk kembali pulang ke pulau Youhi dan melanjutkan latihan bersama kakek Li Xian. Tetapi sialnya, pikirannya sedang diselimuti rasa penasaran yang mungkin akan selalu menghantui kepalanya jika ia memilih untuk pulang ke Youhi. Rasa penasaran memang kerap membuat hati seseorang terbolak-balik dalam kebimbangan.


Zhou Fu yang awalnya tak pernah terlalu memikirkan jati dirinya, kini mendadak justru amat penasaran dengan asal usul kehidupannya. Pertemuannya dengan Patriark Yuan Kai membuatnya mencurigai jika ia memang sengaja disembunyikan atas sebab kemampuan khususnya yang bisa membaca Shufashen. Lalu, penasarannya pun kian bergulir membesar ketika Zhao Yunlei menceritakan tentang pasukan elite khusus dari negeri seberang yang ditugaskan untuk menemukan pembaca Shufashen.


Itu artinya, Shufashen merupakan isu global yang tak hanya melibatkan satu negeri. Dan dalam hatinya, Zhou Fu tiba-tiba merinding, membayangkan bahwa dirinya merupakan salah satu tokoh penting dalam pusaran isu yang menggemparkan jagat dunia tersebut. Tetapi, lagi-lagi Zhou Fu harus menelan ludah sebab ia bahkan tak mengerti apapun tentang isu Shufashen.


“Tuan Muda, sampai kapan Tuan Muda akan tetap di sini? Tidakkah Tuan Muda ingin tidur di penginapan saja? Mayat-mayat ini biarkan saya yang mengurusnya!” Pengawal Jing tiba-tiba sudah muncul di hadapan Zhou Fu. Zhou Fu tak sadar sejak kapan Pengawal Jing ada di sana sebab ia memang sedang melamun cukup panjang.


“Oh, Pengawal Jing. Maaf, sepertinya saya ingin sendirian dulu! Pengawal Jing silakan kembali saja di penginapan, saya sedang tidak ingin tidur malam ini,” tukas Zhou Fu seraya berdiri dan mempersilakan pengawal Jing untuk kembali ke penginapan.


“Baiklah, Tuan Muda. Saya akan kembali ke penginapan dan besok pagi kita akan melanjutkan perjalanan. Terkait dengan jasad-jasad ini, bukankah sebaiknya kami perlu membereskannya dulu?” pengawal Jing bertanya kembali.


“Ya, kalian boleh membereskan jasad-jasad ini. Lagi pula saya sudah menemukan pihak-pihak yang perlu bertanggung jawab atas kasus ini. Oh ya, selagi kalian membereskannya, saya akan berjalan-jalan sebentar mencari udara segar,” ucap Zhou Fu lalu pergi keluar ruangan.


Pengawal Jing menganggukkan kepala. Ia mengamati punggung Zhou Fu hingga punggung itu menghilang dari pandangan. Ia menaruh rasa penasaran yang kucup kuat pada remaja yang baru saja pergi itu. Dari cara Feng Yaoshan menaruh takut pada Zhou Fu, pengawal Jing sempat berpikir jika Zhou Fu mungkin merupakan putra mahkota dari negeri di luar Caihong. Jika demikian adanya, maka tak heran ia pun melihat adanya kharisma yang keluar dari tiap-tiap kalimat yang Zhou Fu ucapkan.


***


Ketika berjalan menyusuri area pemukiman yang sepi, ada sekelebat bayangan yang seperti sedang mengikuti Zhou Fu. Zhou Fu pun menghentikan langkahnya, mencoba memberi kesempatan pada bayangan itu untuk menampakkan diri. Tetapi setelah sekian waktu tak ada tanda-tanda pergerakan, Zhou Fu pun berdehem dan seolah berbicara dengan udara.

__ADS_1


“Ayo, keluarlah. Aku tahu kau ada di sekitar sini…” ucap Zhou Fu dengan suara yang tak begitu keras, malam masih cukup sunyi hingga suara pelan pun akan terdengar keras di saat-saat yang seperti itu.


Karena masih tak ada pergerakan dari seseorang yang sedang menguntitnya itu, Zhou Fu mencoba memancing orang itu untuk keluar lagi.


“Ayolah, bukankah kita tak sedang main petak umpet? Shen Shen?!” ucap Zhou Fu dengan sebuah senyum kecil di bibirnya. Bayangan berkelebat itu pun mendekat, semakin dekat dan kini tengah berada tepat di belakang punggung Zhou Fu.


“Kau? Bagaimana bisa kau tahu?” tanya Shen Shen setelah ia berdiri di balik punggung Zhou Fu. Zhou Fu pun membalikkan badan, pemuda itu kini berhadap-hadapan dengan Shen Shen yang terlihat manyun dan juga manja.


“Sepertinya latihanmu di alam mimpi cukup membuahkan hasil?” Zhou Fu meraih tangan Shen Shen dan mencoba memeriksa kekuatan otot di lengan gadis itu, “tidak buruk. Kau sudah menguasai dasar-dasar bela diri rupanya.” Zhou Fu tak menyangka jika Shen Shen benar-benar akan melakukan latihan bela diri ketika mengenakan pusaka Diadem Naga Perak yang ia dapat dari Laut Luzon.


“Hei, kau belum menjawab pertanyaanku! Mengapa kau tahu aku yang sedang mengikutimu?” tanya Shen Shen seraya menggoyangkan lengannya untuk menyingkirkan tangan Zhou Fu yang sedang memeriksa urat-urat di tangannya.


“Bodoh! Kita sudah berdua cukup lama, setidaknya bagiku, dan itu cukup untuk bisa mengenali aura tubuhmu dari jarak yang tak terlalu jauh,” jawab Zhou Fu seraya membalikkan badannya dan  membelakangi Shen Shen. Shen Shen berjalan cepat mengiringi langkah Zhou Fu.


Zhou Fu berhenti sejenak, alisnya sedikit berkerut lalu ia pun bergumam, “tidak. Aku tidak ingin bertanya, memangnya kenapa? Jika kau ingin bercerita, katakan saja selagi aku tak sedang sibuk.”


“Harusnya kau bertanya, atau paling tidak merasa penasaran mengapa ada gadis cantik yang mengikutimu!” celetuk Shen Shen kesal.


“Apa pentingnya itu? Masih ada hal-hal yang lebih penting untuk dipikirkan!” jawab Zhou Fu datar.


“Sial! Apakah itu artinya kau sama sekali tak menghiraukan aku?” Shen Shen berhenti melangkah, ia kesal karena sepertinya ia memiliki perasaan yang aneh pada remaja yang bahkan usianya terpaut jauh darinya itu. Dan kemudian ia lebih kesal lagi sebab remaja itu bahkan sedikit pun tak menghiraukan kehadirannya.

__ADS_1


“Apa maksudmu tak menghiraukanmu, Nona Shen? Kau lupa siapa yang sudah repot-repot mengantarmu pulang ke Caihong? Ah, jika bukan karena dirimu, mungkin saat ini aku sudah menguasai beberapa jurus baru dari guruku!”


“Jadi, kau menyesal telah memilih keputusan yang keliru?” Shen Shen tiba-tiba berkaca-kaca, rasanya sungguh menyebalkan ketika berhadapan dengan laki-laki yang tak memiliki selera dengan perempuan cantik.


“Hei… Apa maksudmu? Berhentilah bersikap seperti anak-anak, aku tak pernah menyesal dengan keputusan yang telah kuambil. Begitu juga dengan keputusan yang akan segera kuambil…”


Shen Shen mendongak ke atas, melihat kembali pada sorot mata Zhou Fu yang terlihat sedikit bimbag.


“Keputusan yang akan kau ambil? Apa?” Shen Shen bertanya.


“Aku tak akan meninggalkan Caihong sampai aku menemukan jawaban dari pertanyaanku!” tegas Zhou Fu, antara yakin dan ragu.


“Benarkah? Bagus. Aku akan mengajakmu berkeliling kota!” seru Shen Shen kembali bersemangat.


“Oh, tidak. Bukan itu maksudku. Aku memang akan menetap di sini beberapa waktu, tapi bukan berarti tinggal bersamamu, Nona Manja! Sepertinya aku hanya akan berkelana dari kota ke kota, sampai pertanyaan-pertanyaan di kepalaku bisa terjawab.”


“Memangnya apa yang menjadi pertanyaanmu? Aku akan membantu sebisaku!” ucap Shen Shen seolah ia belum ingin berpisah dengan Zhou Fu.


“Ah, mana mungkin kau tahu! Coba jawab, siapa ayahku? Siapa ibuku? Siapa aku? Kau tahu?” Zhou Fu mengangkat bahu, seolah menantang Shen Shen untuk menjawab pertanyaannya.


“Sial, coba beri pertanyaan yang lain!”

__ADS_1


Zhou Fu tertegun sejenak, lalu ia mendekatkan bibirnya di telinga Shen Shen, “baiklah, aku ingin tahu apakah kau mengerti atau setidaknya pernah mendengar tentang Shufashen?”


__ADS_2