Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
CH. 62 – Rahasia Shufashen


__ADS_3

Nama yang disebut oleh tabib Wu Quibai sama persis dengan nama kakek dari Zhou Fu. Ketika mendengar nama itu diucapkan oleh tabib Wu Quibai, Zhou Fu mencoba meyakinkan dirinya jika bisa jadi hal tersebut hanyalah sebuah kebetulan belaka.


Tetapi, fakta bahwa kakeknya telah bersembunyi selama empat belas tahun, lagi-lagi membuatnya khawatir jangan-jangan Li Xian yang melukai patriark Yuan Kai adalah Li Xian yang sama yang telah merawat dan membesarkan Zhou Fu selama ini.


“Jika kau ingin melihat iblis dalam wujud manusia, kau bisa bertemu dengan Li Xian,” tabib Wu Quibai melanjutkan ucapannya, “tak ada hal baik yang bisa diceritakan dari pendekar satu ini. Begitu juga, tak ada  yang menyukainya, meski itu sesama iblis sekalipun! Bahkan…


“Tabib Wu, sepertinya saya sudah lebih baik sekarang. Saya ingin melihat keadaan patriark Yuan Kai dan teman saya. Bisakah saya pergi sekarang?” Zhou Fu bangkit dari posisi bersila ke posisi berdiri. Ia sengaja memotong pembicaraan tabib Wu Quibai karena tak ingin membuat pikirannya terganggu.


Sepertinya ia berubah pikiran tentang keingintahuannya akan kakek Li Xian. Lebih tepatnya, ia takut mendengar cerita yang tak menyenangkan tentang riwayat seseorang yang bernama Li Xian itu. Meskipun, belum tentu Li Xian tersebut adalah kakeknya sendiri.


“Oh, tentu saja, Tuan Muda. Saya juga sudah menyiapkan pakaian baru untuk tuan muda, sepertinya perjalanan tuan muda tak begitu lancar sehingga pakaian tuan muda robek di sana-sini.”


Tabib Wu Quibai berdiri dan melangkah menuju sebuah meja batu yang di atasnya tergeletak pakaian berwarna biru terang berbahan sutera pilihan.


“Pakaian ini, konon hanya akan berjodoh dengan pemiliknya. Aku memilikinya sudah lebih dari lima puluh tahun dan belum pernah bisa memberikannya pada siapapun. Bukan karena tak mau, tapi tak ada yang cocok. Semoga pakaian ini pas untuk tubuh tuan muda,” Tabib Wu Quibai meraih pakaian sutera berwarna biru terang tersebut dan memberikannya pada Zhou Fu yang bertelanjang dada.


“Tabib Wu, sepertinya keberadaan saya di desa ini cukup merepotkan kalian. Semoga Tabib Wu berkenan menerima maaf dari saya,” Zhou Fu meraih pakaian sutera yang diulurkan oleh sang tabib lalu ia menundukkan kepala untuk berterima kasih sekaligus memohon maaf.


Seperti harapan tabib Wu Quibai, pakaian sutera miliknya itu ternyata cukup pas di tubuh Zhou Fu. Menandakan jika pakaian tersebut memang berjodoh dengan remaja muda yang menurutnya cukup berbakat di dunia bela diri itu.


“Ah, tampan sekali. Sepertinya Dewa terlalu bermurah hati pada Tuan Muda,” Tabib Wu Quibai melemparkan senyum cukup ramah dalam rangka memuji kerupawanan Zhou Fu, andai ia memiliki cucu perempuan, ia mungkin akan sangat menginginkan cucunya berjodoh dengan Zhou Fu. Pemuda rupawan yang berilmu dan bertata krama, tak banyak pria-pria yang memiliki komposisi komplit seperti itu.


***


Ketika Zhou Fu keluar dari kediaman tabib Wu Quibai, ia baru sadar jika hari sudah menjelang pagi. Itu artinya ia menghabiskan satu malam penuh di kediaman tabib Wu Quibai. Tabib Wu Quibai melihat keterkejutan di wajah Zhou Fu mana kala melihat sebuah cahaya oranye samar-samar mulai nampak di ujung poros jalan.

__ADS_1


Suasana poros jalan di desa Malam waktu itu cukup sepi saat itu. Tak nampak sisa-sisa pesta penyambutan sebagaimana yang sebelumnya diinstruksikan oleh Yuan Jin, putra patriark Yuan Kai. Pesta tersebut memang terpaksa dibatalkan karena Zhou Fu dan Yang Zi memang sedang dalam keadaan tak memungkinkan untuk mengikuti pesta penyambutan.


“Saya tidak ikut ke dalam, sepertinya Patriark Yuan ingin berbicara banyak pada Tuan Muda. Silakan tuan muda masuk dan saya akan pulang,” tabib Wu Quibai menghentikan langkahnya tepat di muka goa milik Patriark Yuan Kai. Tanpa menunggu jawaban dari Zhou Fu, tabib tersebut mundur beberapa langkah dan memberi isyarat pada Zhou Fu untuk masuk sendirian.


Zhou Fu mengangguk lalu menyingkap tirai goa dengan cukup hati-hati untuk menghindari bunyi berisik yang ditimbulkan dari pergerakan tirai. Ia lalu masuk ke ruang utama dan mendapati reruntuhan goa yang beberapa saat lalu terhantam tubuhnya, kini telah tersusun dengan sangat rapi dan kembali menjadi diding pembatas yang kokoh.


“Oh, soal itu, teman kakak yang membenahinya. Dia adalah perempuan yang sangat cekatan,” Yuan Jin berjalan dari balik dinding goa, ia melihat Zhou Fu sedang berdiri terheran-heran memandang ke dinding goa.


“Teman perempuan?” Zhou Fu bertanya kaget karena setahunya, Yang Zi masih nampak seperti pria ketika mereka berdua tiba di desa Malam.


“Ya, kakak Yang Zi yang membereskannya. Ia juga membuat masakan untuk kami. Untuk kakak juga, tapi setelah menunggu semalaman, dia memakan bagian kakak. Wajahnya terlihat kesal waktu itu.”


“Oh ya, di mana kakak Yang Zi sekarang?” tanya Zhou Fu penasaran sebab ia tak melihat tanda-tanda Yang Zi ada di sana.


“Berburu kadal tebing bersama beberapa pemuda dari desa kami,” Yuan Jin tersenyum kecil, mengingat sosok Yang Zi yang gesit dan tak bisa diam.


“Kau seharusnya khawatir dengan dirimu sendiri! Bagaimana lukamu? Apakah tabib Wu sudah membereskannya?” terdengar suara dari dalam, tepatnya dari ruangan Patriark Yuan Kai.


“Patriark… Bagaimana keadaan Patriark sekarang?” Zhou Fu bergegas memasuki ruangan patriark Yuan Kai untuk melihat keadaan pria itu.


“Seharusnya lebih baik daripada dirimu,” Patriark Yuan Kai menoleh ke arah Zhou Fu yang baru saja tiba, alis patriark Yuan Kai terangkat beberapa saat ketika mendapati Zhou Fu bahkan tidak terlihat terluka sedikit pun, “oh, aku keliru. Ternyata keadaanmu yang lebih baik. Syukurlah, jelas kau telah dibesarkan oleh orang yang tepat.”


Mendengar kalimat terakhir dari Patriark Yuan Kai, Zhou Fu tiba-tiba merasa tak enak hati. Khawatir kalau-kalau memang benar kakeknyalah yang telah membuat pria muda di depannya itu lumpuh seumur hidup.


“Patriark Yuan, mengapa patriark menginginkan saya berada di sini?” Zhou Fu mencoba membelokkan pembicaraan, ia mendekat dan duduk di sebuah kursi kayu yang sepertinya dipakai oleh Yuan Jin untuk menunggui ayahnya.

__ADS_1


Patriark Yuan Jin nampak memberi isyarat pada putranya untuk meninggalkan dirinya dan Zhou Fu berdua. Karena Yuan Jin menunjukkan ekspresi khawatir, patriark Yuan Kai tersenyum kecil, “tenang, kali ini kami tidak akan berduel lagi,” ujarnya meyakinkan Yuan Jin kecil.


“Ingkar janji adalah perbuatan seorang pengecut, ingat itu, Ayah!” Yuan Jin nampak mengacungkan jari telunjuknya pada patriark Yuan Kai sebelum akhirnya ia hilang di balik dinding pembatas.


Patriark Yuan Kai beralih melihat Zhou Fu, “keberadaan kita sangat langka. Ya, aku juga bisa membaca Shufashen. Seumur hidupku ini, kau adalah orang pertama yang kutemui yang sama-sama mengerti Shufashen. Ayah angkatku, tabib Wu Quibai maksudku, dia selalu memintaku untuk menyembunyikan kemampuanku tersebut. Kau juga demikian, jika seseorang mengetahui bahwa kau bisa membaca Shufashen, kau bisa mengalami hal yang lebih buruk dari pada aku, anak muda!”


“Mengapa demikian?”


“Itulah yang juga ingin kuketahui. Seumur hidup aku ingin menemukan rahasia Shufashen. Dan, lihat keadaanku ini. Aku gagal di tengah jalan. Aku mengukir tulisan ini di dadaku, dengan harapan putraku akan mampu mengenalinya, lalu meneruskan perjalanan menemukan Shufashen. Nyatanya, kau adalah orang pertama yang bisa membacanya,” ujar Patriark Yuan Kai seraya menunjukkan lagi tanda ukiran di dadanya.


“Apa yang membuat Patriark yakin kita harus menemukan Shufashen?” Zhou Fu mengerutkan alis sebab belum menemukan titik terang yang benar-benar bisa meyakinkan dirinya tentang seberapa penting Shufashen harus ditemukan.


“Jika kau ingin tahu seberapa penting Shufashen di jagat persilatan ini, umumkan kepada semua orang bahwa kau bisa membaca Shufashen dan kupastikan kau akan segera kehilangan nyawa tak lama setelahnya. Mengingat betapa kelompok-kelompok tertentu sangat khawatir pada kehadiran seseorang seperti kita, tentu kau bisa mengira-ngira sendiri seberapa genting Shufashen itu sendiri.”


Zhou Fu berpikir sejenak, mencoba mengingat kembali pada sebuah reruntuhan-reruntuhan kuno yang ada di bawah laut Luzon. Tentang bagaimana ia bisa sampai ke sebuah labirin rahasia, dan bagaimana ia bisa selamat dari ruangan yang penuh dengan jebakan-jebakan mematikan.


Ia ingat, waktu itu ia bisa melewati semuanya dengan lebih mudah karena ia membaca tanda-tanda. Dan jika diingat lagi, tanda-tanda itu memiliki pola yang sama dengan tanda di kaki Haku dan tanda di dada Patriark Yuan Kai.


“Patriark, sepertinya aku sudah pernah mengunjungi suatu lokasi yang menyimpan Shufashen di dalamnya,” Zhou Fu berujar seraya masih mengumpulkan ingatannya ketika berada di bawah laut Luzon.


“Benarkah? Di mana? Bagaimana? Seperti apa?”


“Di Peradaban yang Tenggelam, di bawah perairan Luzon!”


Patriark Yuan Kai menelan ludah berulang kali. Sorot matanya berbinar. Akhirnya ia memiliki harapan untuk menguak rahasia Shufashen. Sebuah misteri yang telah membuatnya diburu banyak pendekar hebat hingga berujung mengalami kelumpuhan seumur hidup.

__ADS_1


***


Selamat menunaikan ibadah puasa semuanya… 


__ADS_2