
“Kitab Tujuh Kesatria Langit telah diambil dari tempatnya berada. Itu adalah kitab yang dimusnahkan dari sejarah demi kepentingan tertentu. Pada akhirnya daratan Luzon pun ditenggelamkan atas nama kebaikan bagi umat manusia. Orang-orang di masa kini hanya mengenal Luzon sebagai lautan diam yang memisah daratan Caihong dan Shamo. Lebih dari itu, daratan Luzon seperti sengaja dibuang dari sejarah. Kini kitab tersebut hilang dari persembunyiannya, kekacauan mungkin akan terjadi. Atas nama kebaikan, temukan Kitab Tujuh Kesatria Langit dan kubur sedalam-dalamnya dari kehidupan.”
Itu adalah bait-bait tulisan yang ada di gulungan yang sedang dibaca Shen Shen. Di akhir pesan tersebut, tertulis tahun dibuatnya yaitu sekitar dua tahun sebelumnya, dan disebutkan juga jika pesan tersebut ditulis oleh perwakilan pasukan tujuh. Pasukan yang katanya memiliki tugas menjaga kitab kuno itu dari pendekar yang memiliki niat jahat. Markas pasukan tujuh berada di daratan Bingdao, dan saat ini sedang menyelidiki hilangnya kitab Tujuh Kesatria Langit.
“Fu’er, apakah menurutmu pesan dalam gulungan ini merupakan sebuah kebenaran?” Shen Shen meletakkan gulungan di tangannya dan beralih melihat ke arah Zhou Fu yang terlihat memikirkan sesuatu.
“Kukira, aku perlu menanyakannya pada kakek Li Xian. Ia memberi tahuku soal syair Haku, syair yang mungkin isinya sama dengan yang kita temukan di paviliun ke dua tempo hari itu. Itu artinya, tentu kakek Li Xian memiliki pengetahuan tentang kitab Tujuh Kesatria Langit. Dan, kukira juga, syair tersebut tidak berhubungan dengan Haku, tetapi berhubungan dengan kitabnya!” Zhou Fu berpendapat.
“Sebaiknya, kita simpan dulu masalah ini dan mulai memikirkannya lagi di lain waktu,” tukas Zhou Fu menambahi sebab perkara peradaban yang tenggelam dan kitab legenda yang hilang itu sepertinya merupakan persoalan yang yang tidak sepele.
***
Kapal Guichuan sudah hampir memasuki perairan Caihong di siang itu. Itu adalah hari ke sembilan terhitung dari kembalinya Zhou Fu ke kapal Guichuan setelah berburu peninggalan kuno di labirin bawah laut Luzon. Selama sembilan hari itu, Zhou Fu dan Shen Shen sibuk mempelajari penggunaan beberapa pusaka yang telah ditemukan di laut Luzon.
Salah satu pusaka yang ternyata sudah diincar Shen Shen akhirnya berhasil ditemukan oleh Zhou Fu, pusaka tersebut adalah Diadem Naga Perak. Sebuah pusaka yang konon katanya dulu dimiliki oleh seorang putri bangsawan. Disebutkan dalam dongeng, jika diadem tersebut adalah hadiah dari rekan ayah si putri bangsawan yang menginginkan kematian putri tersebut.
Itu adalah diadem atau mahkota yang bisa membuat pemakainya tidur dan tak mungkin bisa bangun kembali. Untungnya, si putri bangsawan justru berhasil menjadi pendekar hebat setelah mengenakan diadem naga perak tersebut.
__ADS_1
Usut punya usut, diadem itu bisa membawa pemakainya untuk masuk dan terperangkap ke dimensi mimpi. Dimensi mimpi yang diciptakan diadem naga perak memiliki perbedaan waktu dengan dimensi dunia nyata, di mana satu malam dalam dunia nyata sama dengan satu bulan dalam dimensi mimpi.
Jika seseorang tak kunjung berhasil membangunkan dirinya dari dimensi mimpi, maka ia akan terperangkap di dimensi tersebut tanpa pernah bisa kembali ke dunia nyata. Beruntung si putri bangsawan mememiliki pengalaman mengendalikan mimpi atau yang biasa disebut masyarakat modern sebagai lucid dream. Sebuah keadaan yang membuat seseorang menyadari jika ia sedang berada di alam mimpi dan memiliki kemampuan untuk membangunkan dirinya sendiri dari alam mimpi.
Pengetahuan tentang pengendalian mimpi itulah yang kemudian dimanfaatkan oleh putri bangsawan untuk mempelajari dan berlatih ilmu bela diri di dalam mimpi. Satu malam dalam dunia nyata adalah setara dengan satu bulan di dimensi mimpi, si putri bangsawan akhirnya berhasil menguasai beberapa ilmu bela diri hanya dalam waktu yang cukup singkat.
“Setelah aku menguasai dasar-dasar ilmu bela diri, aku akan tidur dan mengenakan diadem naga perak, lalu kupastikan esok harinya ketika aku bangun, kemampuanku sudah berkembang!” tukas Shen Shen selagi memperagakan beberapa gerakan ilmu bela diri dasar yang diajarkan Zhou Fu padanya.
“Apakah kau benar-benar yakin jika pusaka itu masih bisa digunakan?” tanya Zhou Fu sembari membenarkan beberapa gerakan tangan Shen Shen yang kurang tepat. Dengan kemampuan Shen Shen yang seperti itu, Zhou Fu sebenarnya ragu apakah Shen Shen bisa memiliki ilmu bela diri atau tidak. Meski demikian, ia tak ingin merusak semangat Shen Shen yang meledak-ledak.
“Kita lihat saja nanti malam, dan akan kubuktikan besok pagi setelah aku bangun!” jawab Shen Shen singkat, ia seperti sudah tak sabar untuk menjajal kemampuan dari pusaka diadem naga perak yang didapatkan Zhou Fu dari Luzon.
“Tentu saja. Aku sudah pernah mempelajari caranya-caranya, dan sekaligus pernah mempraktikkannya. Apa kau meragukanku?” Shen Shen bertanya balik.
“Sedikit. Baiklah, sebagai guru bela dirimu, aku memerintahkanmu untuk tidak memakai diadem itu malam ini. Aku menugaskanmu untuk tidur seperti biasa lalu bangunkan dirimu tepat di sepertiga malam. Aku tidak tidur malam ini untuk memastikan apakah kau benar-benar bisa melakukannya!” Zhou Fu memberi perintah.
“Menundanya lagi? Ini adalah hari ke sembilan kau menyuruhku untuk menundanya lagi!” Shen Shen berhenti melakukan gerakan dan menunjukkan ekspresi tak senang pada gurunya yang masih remaja.
__ADS_1
“Yang kemarin-kemarin itu, gerakanmu masih salah total! Apa jadinya jika kau mempelajari gerakan keliru selama berminggu-minggu? Sama saja kau memperparah kemampuanmu sendir! Dasar!” tukas Zhou Fu mengingatkan.
“Baiklah… Baiklaah!” Shen Shen terlihat mendengus kesal tetapi kemudian ia menyetujui perintah Zhou Fu.
Malam pun tiba dan Shen Shen sudah bersiap untuk tidur seperti biasa sementara Zhou Fu menunggu di sebuah pojokan ruangan. Sembari menanti datangnya sepertiga malam, Zhou Fu melakukan olah tenaga dalam untuk meningkatkan kemampuannya.
“Ingat, jika aku berhasil bangun di sepertiga malam setelah tertidur pulas, kau harus berjanji untuk mengizinkanku menggunakan diadem naga perak besok!” Shen Shen mengingatkan Zhou Fu lagi, setelah sebelumnya ia sempat memejamkan mata sebentar.
Zhou Fu yang sedang bermeditasi, terpaksa melotot sebentar untuk memperingatkan Shen Shen agar tak mengganggunya berlatih meningkatkan ilmu tenaga dalam. Zhou Fu pun akhirnya terpejam kembali dan melakukan olah tenaga dalam setelah keadaan dirasa tenang.
“Apakah kakek Li Xian memiliki keterlibatan dengan peradaban di laut Luzon? Apakah kakek Li Xian merupakan keturunan dari masyarakat Luzon yang ditenggelamkan itu?”
Konsentrasi Zhou Fu tiba-tiba terusik oleh praduga-praduga yang muncul di kepalanya. Ada beberapa dugaan yang bermunculan di kepala Zhou Fu terkait mengapa kakeknya selalu bersembunyi dari kehidupan luar.
“Tetapi, bukankah kakek Li Xian pernah bercerita jika ia tinggal di Caihong? Apakah itu artinya dia menjadi penyusup di negeri Caihong dan setelah terungkap jati dirinya, kakek Li Xian keluar dari Caihong dan bersembunyi?” pikiran Zhou Fu mulai sibuk menerka-nerka.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=
Chapter 42 - Kejadian di Pulau Yimin sudah rilis di yutub. Silakan tengok-tengok ke sana...