Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
CH. 19 – Tamu di Dalam Kapal


__ADS_3

“Jika kapal tersebut sudah melaju sekitar satu jam sebelumnya, berapa jauh jarak antara kapal ini dan kapal tersebut?” Zhou Fu bertanya untuk memastikan satu hal.


Petugas kapal nampak berpikir beberapa saat lalu menjelaskan beberapa kemungkinan jarak kapal yang dimaksud Zhou Fu. Ia tak bisa memberi satu jawaban pasti karena laju kapal bisa dipengaruhi oleh beberapa hal.


“Hem… Dengan jarak seperti itu, kukira aku masih bisa memanfaatkan kekuatanku,” Zhou Fu menjawab penjelasan petugas kapal dengan anggukan kepala pelan sembari dua tangan menyilang di dada. Ia sedang menghitung berapa kecepatan yang ia butuhkan untuk bisa menyusul kapal Shen Shen dengan cara berlari di atas air.


Kemampuan berlari di atas air biasanya baru dikuasai oleh pendekar-pendekar yang sudah berusia di atas tiga puluh tahun karena hal tersebut berhubungan dengan kemampuan seseorang dalam menaikkan tingkatan tenaga dalamnya. Zhou Fu termasuk remaja yang beruntung sebab ia dipertemukan dengan guru handal yang bisa membuatnya mampu berlari di atas air ketika usianya menginjak sepuluh tahun.


“Oh ya, kapal tersebut bergerak ke arah tenggara seingatku, sebetulnya apakah Tuan Muda salah naik kapal dan seharusnya ada di kapal tersebut? Jika memang demikian, mohon maaf sepertinya tidak ada cara untuk mengejar kapal tersebut,” ujar si petugas dengan mengerutkan dahi, ia merasa sedikit tak enak hati jika dugaannya benar.


“Ya, sebetulnya aku memang harus ada di kapal tersebut. Ngomong-ngomong terima kasih atas informasinya, Paman. Kukira aku harus mengejar kapal tersebut sendirian. Permisi.” Zhou Fu mundur lalu bergegas menuju ke ujung kapal untuk menjatuhkan dirinya ke atas air laut yang bergelombang.


“Sinting, apakah remaja itu sedang mencoba bunuh diri?” petugas kapal langsung berlari untuk melihat Zhou Fu yang menjatuhkan diri dari atas kapal. Langkah petugas tersebut juga diiringi dengan teriakan beberapa penumpang yang turut kaget melihat kenekatan Zhou Fu.


Ketika tubuh Zhou Fu berhasil melayang di atas air dan berlari sebagaimana seseorang berlari di atas tanah, barulah orang-orang menyadari jika remaja yang barusan berada di kapal mereka bukanlah remaja sembarangan.


“Ck…ck…ck… Baru kali ini aku melihat seorang remaja yang bisa berjalan di atas air, apakah dia itu sebenarnya pendekar tua yang sudah meminum ramuan awet muda?” si petugas kapal berdecak kagum dan tak bisa berhenti menggeleng-gelengkan kepala karena keheranan.


Sementara itu, Zhou Fu terlihat sedikit menggerutu karena ia sudah membayar sekian koin perak untuk perjalanan kapal yang seharusnya santai. Bukannya bersantai, ia seperti berada di pulau Youhi kembali di mana ia harus mengeluarkan keringat untuk menyeberangi lautan. Ditambah lagi, arah tenggara ternyata merupakan arah yang sedang berlawanan dengan arah angin. Itu artinya, Zhou Fu harus mengeluarkan tenaga berlebih untuk melakukan dua hal sekaligus yaitu membuat tubuhnya melayang di atas air sekaligus melawan laju angin yang menabrak langkahnya.

__ADS_1


“Jika kecepatan angin terus bertambah seperti ini, bisa-bisa tenaga dalamku menipis sebelum mencapai kapal Shen Shen. Aku harus menemukan solusinya!”


***


Di dalam sebuah kapal besar yang hanya bersisi enam penumpang itu, terdapat satu perempuan yang tertidur di bilik kosong. Entah ditidurkan, atau memang tertidur karena lelah. Yang jelas lima penumpang di antaranya sedang berkumpul bersama minum arak di sebuah ruang terbuka di sisi depan kapal. Mereka minum arak untuk dua hal sekaligus, yang pertama untuk menghangatkan badan dan yang kedua adalah untuk merayakan keberhasilan mereka menangkap perempuan bernilai jual tinggi.


“Beruntung kita segera mengubah riasan nona Shen Yang, dengan begitu ia tak bakal dikenali oleh kelompok lain yang mungkin sedang berkeliaran di sekitar pulau Jidong,” ujar salah seorang yang beberaa saat lalu memasukkan Shen Yang ke sebuah rumah bordil.


“Ya, kudengar semenjak ayah nona Shen Yang menaikkan harga kepala untuk putri-putrinya, semakin banyak sekte dan kelompok-kelompok yang memburu keberadaan nona Shen Yang dan nona Yang Zi.”


“Ketua, apa rencana ketua? Menyerahkan nona Shen Yang ke markas atau membawanya langsung ke Caihong?” seorang yang paling muda bertanya pada pemimpin kelompok mereka.


“Aku juga sedang berpikir tentang itu. Jika kita membawa nona Shen Yang ke Caihong, kita akan mendapat upah yang sangat tinggi. Tetapi, tentu risikonya juga sangat besar. Kita bisa terbunuh di tengah perjalanan atau bisa juga nona Shen Yang lepas dari tangan kita,” si pemimpin tersebut menghentikan bicaranya untuk meneguk arak yang ada di tangan kanannya. Setelah satu tarikan napas panjang, pemimpin tersebut melanjutkan unek-unek di kepalanya.


“Jika kita ingin aman, kita bisa menyerahkan nona Shen Yang ke markas besar. Itu adalah jalan yang nilai risikonya kecil tetapi nilai upahnya juga lebih kecil. Aku sendiri sebenarnya lebih tertarik untuk membawa nona Shen Yang ke markas besar,” ujar si pemimpin menutup penjelasannya.


Para anggota saling pandang satu sama lain untuk mencapai sebuah kesepakatan bersama. Sebelum mereka sampai pada sebuah keputusan, kapal besar mereka seperti menabrak sesuatu. Kapal bergejolak hingga membuat arak-arak di meja mereka bergulir jatuh ke lantai.


Lima pendekar di kapal tersebut segera berdiri memasang badan siaga. Tak berapa lama setelah kapal itu bergejolak, lima orang pendekar itu merasakan aura dingin yang pekat. Itu adalah sebuah hawa yang biasa dilepaskan oleh pendekar berilmu untuk memberitahu kedatangan mereka.

__ADS_1


Suara langkah kaki yang tergesa-gesa menyusul hawa dingin yang mulai memenuhi seluruh penjuru kapal. Lima pendekar yang baru saja merayakan pesta suka cita itu mendadak ciut nyalinya. Mereka tak menduga akan dihadang musuh secepat itu, lebih-lebih tak menyangka jika akan dipertemukan dengan musuh yang sepertinya berada jauh di atas mereka ilmunya.


“Hhhh…Hhhhh…Hhhh…”


Terdengar suara napas yang terengah-engah dari arah utara. Lima pendekar yang sedang ciut nyalinya, kini kian bergetar sebab sepertinya orang yang berilmu tinggi itu sudah semakin dekat dengan mereka.


“Hhhh… Hhhh…. Hhh… Akhirnya kutemukan kalian!” Zhou Fu berteriak sembari masih sibuk mengatur napasnya yang masih tersengal-sengal. Ia tak menyangka jika akan ada badai angin yang menghalau langkahnya di jalan. Tenaganya sudah berkurang sebagian akibat pertempurannya melawan alam.


“Bocah remaja itu….” Satu dari lima pendekar yang menangkap Shen Shen tercekat tak percaya. Ia tak menyangka jika Zhou Fu yang sebelumnya nampak sangat lemah ternyata justru mampu menyusul kapal mereka entah bagaimana caranya.


“Ket…Ketua… Bocah itu adalah remaja yang sebelumnya bersama-sama dengan nona Shen Yang,” salah seorang pendekar memberi tahu pemimpin mereka.


“Bbbbocah… Siapa kkkau sebenarnya?” si pemimpin kelompok itu ternyata juga tak bisa menyembunyikan kekhawatiran di kepalanya.


Hawa dingin yang menyelimuti kapal nyatanya semakin pekat dan semakin membuat semua orang bergetar-getar kedinginan.


Zhou Fu yang sudah bisa mengatur napas kini mulai berkonsentrasi untuk menghadapi musuh-musuhnya.


“Hei, siapa yang melepaskan aura pekat ini? Sepertinya bukan kalian berlima!” Zhou Fu baru menyadari jika tubunya dilewati oleh sebuah hawa dingin yang jelas-jelas bukan ditimbulkan dari hembusan angin malam.

__ADS_1


Mendengar jawaban dari Zhou Fu, lima pendekar penculik Shen Shen menjadi saling berpandangan kebingungan.


__ADS_2