
Tak akan ada yang mengira, jika terdapat sebuah desa yang cukup ramai yang berada di dalam perut tebing Caihong. Jika seseorang pernah melihat bongkahan rumah rayap, seperti itu juga penampakan desa Malam. Sebuah tempat yang berada di dalam tanah, dengan lubang-lubang berjajar dan menjorok ke dalam. Lubang-lubang itu tak lain tak bukan adalah rumah-rumah warga yang dibangun dengan cara mencongkel bebatuan tebing dan menciptakan ruang di dalamnya.
Uniknya lagi, lubang-lubang tersebut tidaklah berjajar secara horizontal saja melainkan juga vertikal. Setidaknya ada tiga lubang yang berjajar ke atas dan sekitar lima puluh lubang yang berjajar secara horizontal. Masing-masing terletak di sisi kanan dan kiri dari sebuah poros jalan utama yang merupakan satu-satunya jalan lurus yang ada di desa Malam.
Poros jalan utama tersebut memiliki dua ujung. Di ujung paling kiri terdapat sebentuk patung arca yang dikelilingi pagar-pagar batu berbentuk bulat oval. Patung tersebut merupakan seorang tokoh penting yang telah membangun desa Malam untuk pertama kalinya. Tepat di belakang patung tersebut terdapat sebuah pintu goa yang merupakan salah satu akses keluar dan masuknya warga desa Malam ke dunia luar.
Sementara di ujung poros jalan sisi kanan, terdapat sebuah lobang raksasa setinggi dua puluh meter dengan diameter sepanjang sepuluh meter. Lubang raksasa itu langsung menghadap ke laut bebas, dari lubang itu jugalah seberkas cahaya matahari masuk dan memberi sinar keremang-remangan di dalam desa Malam. Angin segar yang dibawa dari laut lepas juga hilir mudik memasuki lorong desa Malam hingga desa tersebut tetap nyaman ditinggali meski berada di dalam perut bumi.
Ketika baru menginjakkan kakinya ke desa Malam, tepatnya di punggung tugu patung pahlawan, Yang Zi menutupkan kedua telapak tangan ke mulut. Bayangan tentang desa Malam ternyata sama sekali berbeda dengan yang ada di kepalanya.
“Apakah mataku sedang tak sehat?” kini, gadis itu mengucek-ucek dua matanya dengan keras, nyatanya pandangan yang ada di depannya itu sama sekali tak berubah.
“Tak kusangka ada pemukiman seperti ini di dalam tebing,” kini giliran Zhou Fu yang terheran-heran.
Dalam angan-angan Yang Zi, sebuah pemukiman yang berada di dalam perut tebing pastilah memiliki suasana yang suram dan tak nyaman dilihat mata. Lagi pula, apa indahnya tinggal di dalam sebuah lorong-lorong gua gelap yang tak memiliki sumber pencahayaan. Tetapi, asumsi Yang Zi segera berubah ketika matanya menangkap sebuah pemandangan manis akan lumut-lumut hijau dan bunga beraneka warna yang menghiasi seluruh tepi goa.
Di bagian pintu rumah yang berbentuk goa itu, dibuatlah tirai-tirai yang menjuntai dari atas ke bawah yang dibuat dari tali-temali tanaman dengan dihiasi oleh keong-keong darat. Masing-masing pekarangan rumah yang hanya berjarak satu setengah meter dengan poros jalan, dipenuhi dengan batu kerikil yang ditata sedemikian estetik dan menarik, membentuk sebuah lukisan abstrak yang cukup menyenangkan untuk dipandang.
“Sudah kubilang, kakak pasti akan suka dengan desa kami,” Yuan Jin tersenyum riang. Ia lalu melompati pagar-pagar batu yang mengelilingi patung pahlawan.
__ADS_1
Patung itu berdiri dengan tangan kiri menggenggam sebuah batang timbangan. Beban di sisi kanan dan kiri terlihat sangat sejajar. Sementara itu, di bagian kanan tangan patung tersebut, terdapat sebentuk logam pipih bulat yang sepertinya terbuat dari kuningan. Yuan Jin mengambil sebuah pemukul yang ada di satu sisi timbangan, lalu memukulkan benda tersebut sebanyak tiga kali ke logam pipih di tangan kanan pahlawan.
Itu adalah sebuah panggilan kepada segenap warga desa Malam. Sebuah panggilan yang mengandung informasi penting tetapi tidak berbahaya. Beberapa orang mulai muncul dari dalam lubang-lubang rumah. Bunyi gemericik cangkang keong yang saling bertubrukan karena disingkap oleh pemiliknya, nyatanya menimbulkan sebuah suara selaras yang sangat nyaman didengar.
Orang-orang itu berjalan dengan sedikit terburu-buru, mereka sepertinya tak begitu sering mendengar bunyi pengumuman itu didengungkan. Satu demi satu para warga desa Malam mulai mendekat di ujung poros jalan seluas enam meter tersebut. Yuan Jin melompat keluar dari pagar batu, meminta Zhou Fu dan Yang Zi untuk berdiri di sisi kanan dan kiri.
Ada sekitar sembilan puluh warga yang hadir, anehnya, mereka semua membungkuk memberi salam hormat kepada Yuan Jin yang masih cukup belia. Seolah-olah, Yuan Jin merupakan sosok yang harus mereka hormati dengan segenap jiwa.
“Tetua, apa yang terjadi dengan lengan Tetua? Dan siapa tuan-tuan muda tampan ini?” seseorang menanyai Yuan Jin dengan penuh kehati-hatian.
“Tetua???” Yang Zi dan Zhou Fu menggumam bersamaan.
“Dengarkan aku, mereka berdua adalah tamu kehormatanku. Malam ini, mari kita sambut tamu kita ini dengan persembahan terbaik yang bisa kita berikan!” Yuan Jin berbicara seolah-olah dia adalah pemimpin di desa Malam tersebut.
“Jadi, ayahmu adalah patriark di desa ini?” Zhou Fu bertanya ketika Yuan Jin membawa mereka menuju ke kediaman miliknya.
“Ya, tapi ayahku sedang sakit keras selama dua tahun ini. Dua tahun lalu, desa kami berperang melawan militer Caihong di permukaan. Ayahku mengalami luka serius dan kini hanya bisa terbaring di tempat tidur saja,” Yuan Jin bercerita.
“Berperang? Mengapa harus ada perang? Setahuku, militer Caihong tak pernah memerangi orang-orang baik. Oh, jangan katakan jika kalian adalah kelompok hitam yang senang membuat onar!” Yang Zi berhenti melangkah, ia mulai curiga jika desa Malam merupakan pemukiman orang-orang jahat yang senang berbuat onar.
__ADS_1
“Sudahlah, tak penting soal itu. Kita sedang bertamu sekarang,” Zhou Fu menarik lengan Yang Zi agar gadis itu tak ketinggalan melangkah.
Yuan Jin tersenyum ke arah dua tamunya, ia cukup memaklumi anggapan manusia-manusia permukaan terkait dengan status kebaikan warga desa Malam.
“Kakak, apakah kakak pernah melihat induk singa yang menerkam induk rusa?” Yuan Jin melontarkan sebuah pertanyaan pada Yang Zi yang masih menatapnya dengan tatapan menyelidik.
“Tidak. Memangnya kenapa?” Yang Zi balik bertanya.
“Siapa yang jahat di antara mereka. Siapa yang baik di antara mereka? Si induk singa adalah binatang yang baik karena ia bisa menghidupi anaknya agar tak kelaparan. Di saat yang bersamaan, si induk singa adalah binatang yang keji sebab ia telah menghilangkan nyawa seekor induk rusa yang mungkin juga sedang ditunggu-tunggu oleh anaknya,” Yuan Jin mendongeng panjang lebar.
Zhou Fu menyilangkan dua tangannya ke dada, kepalanya menggeleng dua kali sedang bibirnya menyunggingkan satu senyuman kagum. Ia cukup mengerti maksud dari cerita yang dilontarkan Yuan Jin, hanya saja, ia masih cukup heran sebab pemahaman tersebut sudah dimiliki oleh anak yang baru berusia tujuh tahun.
“Jika kau bertanya siapa yang jahat, tentu saja si induk singa! Siapa juga yang menuntut induk rusa untuk bertanggung jawab pada hidup dan mati si singa?!” jawab Yang Zi berkilah.
“Lalu, apakah menurut kakak ada Dewa yang setiap hari mengirim daging panggang untuk memberi makan singa dan anak-anaknya? Ketahuilah, Kakak, tak ada orang jahat dan orang baik di dunia ini. Yang ada hanyalah orang yang dianggap baik dan orang yang dianggap jahat oleh orang lain,” Yuan Jin menjawab dengan panjang lebar.
Zhou Fu lagi-lagi menggeleng kagum. Ia melihat, Yuan Jin bahkan sepertinya lupa jika kaki dan lengannya sedang membutuhkan perawatan segera.
“Adik kecil, sudahlah, tak perlu kau ladeni kakak bodoh ini. Ayo ke kediaman ayahmu dan kukira aku ingin segera menemukan kuda yang kucari,” celetuk Zhou Fu menengahi pembicaraan antara Yang Zi dan Yuan Jin.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Masih ada 1 chapter lagi setelah ini yg super panjang, harap sabar membacanya...