
Suasana di pelabuhan Caihong cukup ramai dan sibuk. Petugas-petugas pelabuhan sedang mengarahkan kapal-kapal yang akan mendarat di Caihong dan sekaligus mengawal kapal-kapal yang akan meninggalkan Caihong. Siang itu, ada sekitar lima kapal yang datang bersamaan dengan kapal Merak Biru. Empat kapal lainnya sepertinya berisi bangsawan-bangsawan Caihong yang sedang pulang dari berlibur ke luar pulau. Hal tersebut terlihat dari cara para petugas pelabuhan memperlakukan mereka dengan sangat hormat dan hati-hati.
Berbeda dengan empat kapal itu, rombongan Zhou Fu dan Zhao Yunlei sama sekali tidak mendapatkan perlakuan khusus. Semisal, tak ada pelayan yang tergopoh memayungi Zhao Yunlei meski matahari sedang terik-teriknya. Sementara di kapal-kapal yang lain, semua penumpang perempuan segera dihampiri pelayan berpayung yang bertugas menghalau sinar matahari mengenai kulit-kulit mulus para bangsawan yang cantik-cantik jelita.
“Sebutkan kalian berasal dari mana dan apa tujuan kalian ke Caihong?” salah seorang petugas pelabuhan tengah menghadang langkah Zhou Fu dan Zhao Yunlei yang baru saja menginjakkan kaki ke daratan Caihong.
“Aku sedang mengantar nona ini untuk mendaftar menjadi warga Caihong, kami berasal dari pulau Yimin.” jawab Zhou Fu datar.
“Tunjukkan identitas, surat rekomendasi, dan harta yang diperlukan untuk pergantian kewarganegaraan,” petugas itu memberi perintah sembari menyiapkan alat tulisnya. Sepertinya dia adalah juru tulis yang memang tugasnya adalah mencatat hal-hal seperti itu.
Salah satu pelayan Zhao Yunlei langsung menunjukkan semua berkas yang diminta. Setelah melakukan pengecekan, petugas tersebut membawa Zhou Fu dan Zhao Yunlei menuju ke Maundo, gerbang masuk ke Caihong. Zhao Yunlei pun berpamitan kepada pelayan sekaligus awak kapal Merak Biru, meminta mereka untuk menyapaikan kabar baik kepada pamannya bahwa ia telah tiba di Caihong dengan selamat.
***
Pelabuhan Caihong merupakan sebuah lereng tebing yang dibangun dengan derajat kemiringan 5% sehingga nampak seperti sebuah lahan terasering yang diisi bangunan-bangunan berdinding bebatuan pegunungan. Lahan miring itu bisa dibilang cukup unik dan menarik, di mana ada banyak manusia yang saling hilir mudik dari satu posko ke posko yang lain. Ada yang berjalan kaki, ada yang berkuda, dan ada juga yang menggunakan kereta kuda.
Para petugas pelabuhan memiliki seragam yang sama yaitu berpakaian serba abu-abu dan mengenakan ikat kepala hitam dengan sebuah tulisan menonjol di bagian dahi. Dari kejauhan, kesibukan yang terjadi di pelabuhan Caihong tak jauh berbeda dengan pemandangan seseorang yang melihat kawanan rayap pekerja sedang hilir mudik menjalankan tugasnya.
Zhao Yunlei berjalan dengan terus mengibas-ngibaskan dua tangannya ke wajah, terik matahari sukses membuat pipi-pipinya mengalami ruam merah. Melihat kejadian tersebut, petugas pelabuhan memberi saran agar Zhao Yunlei memesan jasa pembawa payung, dan tentu saja langsung diiyakan oleh perempuan tersebut. Sementara itu, seperti tak begitu memerhatikan rekannya, Zhou Fu nampak sibuk mengamati bangunan-bangunan yang ada di lereng tebing tersebut.
__ADS_1
“Paman, bagaimana jika air laut sedang pasang atau surut, atau bahkan ada badai air yang mendadak muncul, bukankah pelabuhan ini akan hancur diterjang badai?” Zhou Fu bertanya sedikit heran sebab nyatanya daratan Caihong tidak memiliki pesisir pantai, yang itu artinya tentu saja laju ombak akan langsung bertemu dengan lereng tebing yang berisi posko-posko petugas pelabuhan.
“Oh, berarti Tuan Muda baru pertama kali mengunjungi Caihong, apakah aku salah? Pelabuhan Caihong memiliki tujuh lapis bangunan, saat ini air laut sedang dalam keadaan normal, kita sedang berada di lapis ke tiga. Jika air laut sedang pasang, maka kapal-kapal akan melabuh di pelabuhan lapis ke lima atau enam, di sana itu!” petugas pelabuhan menunjuk sebuah lahan miring yang berada cukup jauh di atas Zhou Fu berdiri.
“Kami memiliki akses cepat untuk naik atau turun ke tiap-tiap lapis pelabuhan, nanti tuan muda akan mengerti karena kita juga akan menggunakan akses tersebut untuk sampai ke Maundo,” jelas petugas tersebut sebagai jawaban atas pertanyaan Zhou Fu.
Tak berapa lama, Zhou Fu dan Zhao Yunlei sampai pada sebuah pintu masuk berbentuk goa yang memiliki penerangan dari pantulan-pantulan sinar matahari. Sepertinya, sinar tersebut dipantulkan secara terus-menerus menggunakan cermin-cermin yang sudah disusun sedemikian rupa. Lebar goa tersebut adalah sekitar empat meter, maka udara di dalam goa tidak begitu pengap meski Zhou Fu dan Zhao Yunlei sudah berjalan sekitar 300 meter.
Sebelumnya, semua barang bawaan Zhao Yunlei dihentikan di pintu goa dan diproses oleh petugas lain yang mengurusi bagian perlengkapan-perlengkapan calon bangsawan. Semua barang Zhao Yunlei lantas dimasukkan ke dalam sebuah kotak kayu besar yang memiliki dua roda di kanan dan kiri, kereta kayu itu di dorong oleh petugas menuju ke sisi pintu goa yang lain.
“Mari belok ke kanan, Tuan dan Nona!” petugas yang membawa Zhou Fu dan Zhao Yunlei membimbing mereka menuju ke sebuah anak tangga dengan derajat kemiringan yang cukup curam. Mereka semua melangkah dengan menimbulkan pantulan suara langkah kaki yang sedikit menggema. Terdengar agak menyeramkan tetapi juga merdu di telinga.
Di pelabuhan Caihong, terdapat lebih dari lima puluh pintu masuk berbentuk goa-goa yang tidak semua goa itu membawa seseorang menuju Maundo. Hanya orang-orang yang memenuhi syarat tertentu yang akan digiring petugas menuju ke Maundo.
Zhao Yunlei dan Zhou Fu tak bisa menahan diri untuk takjub ketika melihat gerbang Maundo yang cukup besar. Mereka berdua seolah seperti seekor semut yang memasuki pintu raksasa. Di bagian dalam gerbang Maundo, nampak kerumunan orang yang lebih ramai dari pelabuhan, itu adalah sebuah pemukiman warga Caihong yang tidak masuk dalam keluarga bangsawan.
Berpuluh-puluh kilo meter dari pemukiman yang ada di Maundo itu, terdapat sebuah tembok besar yang memisahkan rakyat jelata dengan keluarga bangsawan. Di sana itulah tujuan Zhao Yunlei berada, menjadi seseorang yang tinggal di dalam lingkaran bangsawan dan melakukan investigasi sesuai dengan perintah ketua Pasukan Lima.
“Tuan dan Nona, kita sudah tiba di Maundo. Proses pengajuan pergantian kewarganegaraan biasanya akan memakan waktu satu hari penuh. Untuk itu, kalian harus menemukan penginapan terlebih dahulu sembari menunggu mendapatkan surat dari biro imigrasi,” jelas si petugas pelabuhan setelah ia mengantar Zhao Yunlei dan Zhou Fu di biro imigrasi di Maundo.
__ADS_1
Terlihat oleh mereka, barang bawaan Zhao Yunlei nyatanya sudah tiba di sana mendahului pemiliknya. Zhou Fu dan Zhao Yunlei menyampaikan ucapan terima kasih kepada petugas pelabuhan yang mengantar, tetapi sepertinya petugas tersebut tak begitu senang mendapat ucapan terima kasih dari dua tamunya.
“Tamu-tamu yang pelit!” gerutu petugas tersebut mana kala ia sudah berjalan jauh memunggungi dua tamunya itu.
“Nah, sepertinya kita harus berpisah di sini!” Zhou Fu menarik napas dalam, mempersiapkan perpisahannya dengan Zhao Yunlei. Akan tetapi, Zhao Yunlei segera menarik lengan Zhou Fu.
“Bukankah semua hartamu ada di kapal Guichuan? Kau akan kesulitan berkelana tanpa uang! Aku akan memberimu beberapa keping emas untuk kau bawa ke Juda! Setidaknya, kau harus membeli kuda yang bagus untuk mempermudah perjalananmu ke Juda!” bisik Zhao Yunlei pelan.
“Ah, aku akan mencari uang sebentar ke pemukiman. Biasanya tak begitu sulit untuk mendapatkan beberapa keping emas! Baiklah, aku tak punya banyak waktu, jaga dirimu baik-baik, jangan mencolok. Tetaplah menjadi nona Zhao yang lemah lembut,” gumam Zhou Fu panjang lebar sembari menepuk-nepuk pundak gadis itu lembut.
Meski ia yakin Zhao Yunlei memiliki kekuatan yang bisa diandalkan, tetapi tetap saja fisik gadis itu cukup rapuh dan mengkhawatirkan.
“Kita bertemu lagi di Maundo satu bulan ke depan, berani?” Zhao Yunlei tersenyum dan menantang Zhou Fu untuk saling bertemu.
“Satu bulan katamu? Apakah kau meragukanku? Haha, baiklah, satu bulan dari sekarang kita bertemu lagi. Ingat, jaga dirimu baik-baik nona Zhao!” Zhou Fu berpamitan untuk yang terakhir kalinya. Ia ingin berburu koin emas lewat ajang-ajang pertarungan liar yang biasanya selalu ada di masing-masing wilayah. Dengan begitu, ia akan mengantongi beberapa keping emas dan mampu membeli kuda terbaik untuk dibawa ke Juda.
\=\=\=\=\=
Satu kalimat dari saya, Terima Kasih....
__ADS_1