Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
CH. 35 – Cahaya di Balik Reruntuhan Kuno


__ADS_3

Zhou Fu membuka matanya perlahan-lahan untuk mengintip isi dari pipa emas di genggaman tangannya. Shen Shen melihat dua alis Zhou Fu menyatu seketika sesaat setelah pemuda itu menengok isi dari tabung keemasan. Zhou Fu menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali sembari menunjukkan isinya pada Shen Shen.


K O S O N G ! ! !


Itulah sebuah kata yang seolah diserukan oleh Zhou Fu ketika mendapati tabung keemasan yang digenggamnya ternyata tidak berisi apa-apa. Tangan Shen Shen meraih benda tersebut dan mengintip berulang kali ke dalamnya sebelum akhirnya ia juga menggeleng-gelengkan kepala kecewa.


Sudah kuduga, pasti ada orang lain yang sudah pernah mengambilnya. Begitulah kalimat Shen Shen yang diungkapkan lewat bahasa tubuh kepada Zhou Fu. Shen Shen pun kemudian menarik tangan Zhou Fu, mengajak pemuda itu untuk menjelajahi hamparan peninggalan kuno yang tenggelam oleh laut Luzon itu.


Mereka berdua mulai meninggalkan Paviliun Bunga Teratai dan menyisir peninggalan-peninggalan kuno di sana. Hanya saja, tak seperti Paviliun yang mereka lihat pertama kali, beberapa peninggalan lainnya ternyata hanya berwujud rupa-rupa reruntuhan. Beberapa reruntuhan bahkan sudah tak bisa lagi dikenali bagaimana wujud awal bangunannya.


Yang jelas, saat itu sisa reruntuhan yang mereka saksikan tak lebih dari sebuah habitat ikan-ikan laut yang pandai berkamuflase. Bahkan, beberapa kali, Shen Shen terlihat berjingkat dan kaget ketika sesosok benda yang dia kira sebagai bebatuan ternyata memiliki sirip dan mulut bergerigi. Rupa-rupa jenis ikan, udang, dan juga gurita sesekali berseliweran dan membuat Shen Shen sedikit bergidik ngeri. Bagaimana tidak, hewan-hewan laut yang meninggali reruntuhan kuno itu nyatanya memiliki bentuk dan warna yang menyeramkan.


Lihat itu!!!


Zhou Fu menarik pundak Shen Shen dan meminta gadis itu untuk melihat ke jari telunjuknya menjulur. Shen Shen mengikuti arah jari telunjuk Zhou Fu, dan kaget ketika melihat beberapa puluh meter dari tempat mereka berada, ada sebentuk atap lancip yang mirip dengan atap Paviliun Bunga Teratai yang beberapa saat lalu mereka tinggalkan.


Ada berapa Paviliun di tempat ini? Gumam Shen Shen dalam hati. Ayo kita segera ke sana! Ajak Shen Shen dengan bahasa isyarat yang kemudian diiyakan oleh Zhou Fu. Mereka berdua kini berenang menuju sebuah sebuah bangunan yang bagian atapnya mirip dengan Paviliun Bunga Teratai.

__ADS_1


Benar. Bangunan itu adalah sebuah paviliun yang hampir sama persis dengan bangunan yang beberapa saat lalu mereka tinggalkan. Langkah pertama yang mereka lakukan adalah mengecek bagian gigi gerigi patung kepala singa yang ada di bagian atap paviliun.


Sesuai dugaan mereka lagi, patung kepala singa itu juga memiliki satu buah gigi yang berfungsi sebagai tuas pembuka. Tak menunggu lama, Zhou Fu menarik tuas itu dan menunggu mulut patung singa menganga lebar.


Cekleeeeeek!!!


Tangan Zhou Fu menjulur ke bagian dalam mulut singa untuk mengambil pipa keemasan di dalamnya. Ketika tangannya mengangkat tabung keemasan itu, bibir Zhou Fu menyunggingkan sebuah senyum kecil karena ia merasa jika tabung tersebut terasa lebih berat daripada tabung sebelumnya.


Pasti yang ini ada isinya! Batin Zhou Fu bersemangat lalu segera membuka tabung itu, dan tentu saja, menemukan isinya. Mata Zhou Fu berbinar-binar ketika menarik gulungan yang ada di dalam tabung itu tetapi sesaat setelahnya, kepala Zhou Fu kembali menggeleng kecewa. Ia pun menyerahkan gulungan itu pada Shen Shen.


Dahi Shen Shen berkerut ketika menerima gulungan yang diulurkan oleh Zhou Fu kepadanya. Shen Shen tak begitu menyangka jika isinya adalah sebuah gulungan yang nampak seperti surat penting. Gulungan itu terbuat dari kulit sapi yang dikeringkan, lalu seperti digores-gores dengan besi panas hingga membentuk sebuah tulisan.


Shen Shen meresapi bait-bait tersebut untuk waktu yang tak sebentar, membuat Zhou Fu semakin gelisah karena ia sama sekali tak mengerti isi dari goresan-goresan dalam gulungan yang barusan ia temukan.


Setelah beberapa waktu meresapi isi dari bait yang i abaca, nyatanya wajah Shen Shen menunjukkan kegelisahan yang lebih besar ketimbang Zhou Fu. Shen Shen memijit-mijit keningnya yang terasa pening, ia sedang kebingungan bagaimana cara membacakan isi gulungan tersebut kepada Zhou Fu yang buta huruf.


Sebisa mungkin, Shen Shen membahasakan isi gulungan itu dengan gerakan tangan pada Zhou Fu. Sayangnya, Zhou Fu tetap gagal memahami apa yang diutarakan Shen Shen lewat bahasa tubuh. Pada akhirnya Zhou Fu meminta Shen Shen untuk membawa gulungan itu bersama mereka dan melanjutkan perjalanan menjelajahi reruntuhan kuno.

__ADS_1


Perjalanan Zhou Fu dan Shen Shen akhirnya terhenti ketika mereka terhadang oleh sebuah anak tangga yang mengarah ke bawah tanah. Ada dua batang tiang yang jatuh hampir menyilang dan membuat akses menuju tangga bawah tanah itu tertutup. Untuk beberapa saat, Zhou Fu terlihat mengusap-usap bagian tiang yang runtuh itu.


Ayo kita tinggalkan tempat ini! Zhou Fu menarik lengan Shen Shen, dan mengajaknya untuk berenang lurus ke depan. Lagi-lagi, mata mereka berdua menemukan sebentuk struktur bangunan yang menyerupai paviliun Bunga Teratai. Jarak pandang mereka yang terbatas, paviliun itu hanya terlihat sisi kepala singanya saja. Mereka tak bisa mengira-ngira seberapa jauh paviliun itu berada dari jarak mereka berdiri.


Mungkin ada gulungan lain yang bisa memberi kita sebuah petunjuk! Tukas Shen Shen dalam bahasa isyarat. Tentu saja ia tak yakin apakah Zhou Fu memahaminya atau tidak, yang jelas Shen Shen kini yang menarik Zhou Fu untuk membawanya pada bangunan paviliun bunga teratai yang ketiga.


Sebelum mereka tiba di tempat yang mereka tuju, tepat di sisi kanan mereka berdua, terlihat ada sebuah reruntuhan yang cukup besar yang menandakan jika reruntuhan itu merupakan sisa-sisa dari bangunan yang lebih besar daripada yang lain.


Tetapi, bukan reruntuhan besar itu yang menghentikan langkah Zhou Fu dan Shen Shen, melainkan sebuah pemandangan yang cukup mengerikan terlihat dengan sangat jelas dari dalam reruntuhan itu. Pemandangan menyeramkan yang mengganggu pikiran mereka adalah cahaya-cahaya terang yang menyala-nyala dari dalam kegelapan.


Cahaya terang itu berjajar berpasangan, menyala dengan sangat tajam di tengah-tengah gelapnya reruntuhan bangunan. Jika diamati dengan seksama, cahaya-cahaya yang berpasangan itu adalah sepasang mata yang memiliki diameter sekitar lima belas centimeter.


Tentu saja, jika matanya saja sebesar itu, makhluk tersebut pastilah cukup besar. Pertama-tama, Zhou Fu memberi isyarat pada Shen Shen untuk bersembunyi di belakang punggungnya sementara Zhou Fu sedang mencoba menghitung jumlah cahaya-cahaya yang berpasangan itu.


Puluhan, entah juga ratusan! Berpasang-pasang mata itu, sesekali nampak berkelap-kelip karena sedang berkedip. Meski berkedip, Zhou Fu dan Shen Shen yakin jika makhluk-makhluk itu sedang mengawasi mereka berdua dari balik gelapnya reruntuhan.


Shen Shen nampak menarik-narik pundak Zhou Fu karena merasa takut dan seolah meminta agar Zhou Fu segera berbuat sesuatu.

__ADS_1


 


__ADS_2