
Halo... Selamat menunaikan ibadah puasa bagi rekan-rekan yang menjalankan... Nitip info saja, di yutub, cerita ini sudah sampai chapter 68. Di sini masih ada di chapter 64. Silakan tengok yutub iPus Channel untuk membaca chapter 65, 66, 67, dan 68. Semoga kalian semua sehat selalu dan lancar puasanya (bagi yang menjalankan).
____________________________________
CH. 64 –Meninggalkan Desa Malam
Setiap kali kaki Zhou Fu menjejak ke bebatuan gua, ada sebuah tanda sepatu yang menjorok ke dalam seolah bebatuan tersebut hanyalah tanah gembur yang dilewati kaki pasca terjadi hujan. Patriark Yuan Kai mengerutkan alis tepat ketika melihat tanda kaki Zhou Fu bermunculan di permukaan batu. Jangankan dilewati kaki, hantaman tongkat besi saja belum tentu bisa membuat jejak di bebatuan goa di desa Malam.
“Bocah ini memiliki sumber kekuatan lain selain dari tenaga dalam,” patriark Yuan Kai membatin. Dari jejak yang ditimbulkan kaki Zhou Fu yang mampu melubangi batu, jelas itu bukanlah kekuatan dari tenaga dalam aura hijau.
Melihat lubang-lubang berbentuk jejak kaki itu, Patriark Yuan Kai mencoba menghitung berat beban tubuhnya. Ia lupa berapa ribu kilo bobot berat yang ia bebankan di punggung Zhou Fu. Sepertinya karena Zhou Fu tetap bisa berdiri, meski sedikit kesusahan, Patriark Yuan Kai terus dan terus menambah bobot tubuhnya. Sampai ia lupa, sepertinya bukan Zhou Fu yang kewalahan, melainkan permukaan bebatuan di desa Malam yang merasa kelebihan beban.
Secara bertahap, Patriark Yuan Kai mengurangi beban tubuhnya hingga berangsur menurun sampai pada batas beban tubuhnya yang sebenarnya, yaitu hanya sekitar 65 kilo.
“Sepertinya Patriark Yuan sudah tak kuat lagi mengeluarkan jurus penambah beban,” Zhou Fu menoleh ke punggungnya, melemparkan sebuah senyum ejekan pada seorang paman lumpuh yang ia gendong.
“Sialan! Aku bisa saja melindas tubuhmu saat ini juga kalau aku mau!” Patriark Yuan Kai menjewer telinga Zhou Fu seolah pemuda itu adalah putranya sendiri.
Zhou Fu pun refleks mengibaskan kepalanya dan mengaduh meminta ampun. Dalam hati ia memang mengakui, kalau saja Patriark Yuan Kai bersedia melukainya, ia pasti terluka parah saat itu juga. Meski dalam keadaan lumpuh setengah badan, nyatanya Patriark Yuan Kai masih menyimpan kekuatan yang mengerikan di tiap gerakannya.
“Ah, akhirnya sampai juga!” Zhou Fu menghela napas lega ketika telah memasuki sebuah goa lapang yang berisikan kandang-kandang kuda.
“Di sebelah sana! Kuda kesayanganku ada di ujung sana!” Patriark Yuan Kai mengarahkan telunjuknya ke sudut kandang yang paling ujung, “ingat janjimu! Kembalilah dengan selamat dari Juda!”
“Eh? Patriark meremehkan saya?”
__ADS_1
“Selama sepuluh tahun ini, aku tak lagi berkelana bebas di luar sana. Aku tak tahu secara pasti perkembangan kekuatan-kekuatan para kelompok hitam di Juda!” ujar Patriark Yuan Kai dengan nada serius. Sepuluh tahun adalah waktu yang tak sebentar untuk seseorang atau kelompok tertentu meningkatkan kekuatan.
“Jika memang terdesak, saya bisa terjun ke laut! Bukankah tak semua pendekar bisa berjalan di atas air?” jawab Zhou Fu dengan penuh keyakinan.
“Dasar bodoh! Memangnya kau bisa berjalan di air dengan aura hijau?! Sudah kubilang jangan sekali-kali menunjukkan level aura merahmu!” Patriark Yuan Kai terlihat mengomel dengan serius, sebagai pemuda yang pernah mengalami kemalangan nasib akibat kesombongannya dulu, ia ingin mewanti-wanti agar Zhou Fu tak mengulang nasib sialnya.
Zhou Fu tak begitu mendengar kalimat terakhir dari Patriark Yuan Kai sebab pandangannya teralihkan pada sosok kuda hitam yang gagah perkasa. Seekor kuda dengan bulu rambut yang menjuntai hitam legam dan sorot mata tajam yang memesona.
“Kuda ini adalah kuda yang menyelamatkanku dari kematian,” ujar Patriark Yuan Kai seraya mengelus-elus kuda hitam miliknya, “kuharap kejadian serupa tak akan pernah terulang padamu!”
***
“Kakak Zhou, ah di sini kalian rupanya!” Yang Zi datang dengan terengah-engah bersama beberapa pria dari desa Malam. Di tangannya, ada sekarung kadal tebing yang sepertinya memiliki isi paling banyak dari pada karung-karung milik pemuda lainnya.
“Kakak?” Zhou Fu mengerutkan kening, itu adalah untuk yang pertama kalinya ia mendengar Yang Zi memanggilnya dengan sebutan kakak.
Secara tak sengaja, ketika Yang Zi mengarahkan teropongnya ke laut, matanya menangkap sebentuk kapal yang mengibarkan bendera Shamo. Seingatnya, Zhou Fu pernah bercerita jika Shen Shen berada di kapal Guichuan milik bangsawan Feng Yaoshan yang merupakan bangsawan berkebangsaan Shamo.
“Apa menurutmu itu adalah kapal Guichuan?!” Zhou Fu bertanya singkat.
“Tak salah lagi, itu adalah kapal yang kakak Zhou maksud! Aku melihat ukiran tulisan Guichuan ada di kapal itu!” jawab Yang Zi seraya menghampiri Zhou Fu yang sedang menggendong Patriark Yuan Kai.
“Tinggalkan buruanmu. Segera naik ke kuda dan cepat pergi dari sini!” ujar Patriark Yuan Kai sambil memberi isyarat salah seorang pemuda untuk menggendongnya.
“Patriark, maafkan kami dan terima kasih atas semua bantuannya,” Zhou Fu beralih memberikan tubuh Patriark Yuan pada seorang pemuda. Ia lalu melompat menaiki kuda hitam yang sudah dinaiki oleh Yang Zi terlebih dahulu.
__ADS_1
“Nona Yang, terima kasih untuk masakan lezatmu semalam! Aku ingin menikmati masakanmu lagi di lain waktu!” Patriark Yuan Kai melemparkan senyum hangatnya pada Yang Zi.
“Oh tentu! Kami akan mampir kemari setelah menyelamatkan kakakku. Ingat kalian masih punya hutang pesta penyambutan pada kami!” jawab Yang Zi yang langsung dicubit pundaknya oleh Zhou Fu.
“Bicara apa kau gadis kecil! Kita bahkan sudah diberi Kuda gratis oleh mereka!” ucap Zhou Fu pelan lalu menoleh pada beberapa pemuda desa Malam dan Patriark Yuan, memberi anggukan terima kasih dan berpamitan.
Kuda hitam itu meringkik keras. Seolah turut berpamitan, ia memandangi Patriark Yuan dan segenap pemuda dari desa Malam.
“Ikuti aku! Aku akan menunjukkan jalan keluar tercepat dari sini!”
Entah datang dari mana, Yuan Jin tiba-tiba muncul menghadang langkah Zhou Fu dan Yang Zi. Ia berlari dengan kecepatan setara dengan kecepatan harimau lapar, membuat kuda yang dinaiki Zhou Fu dan Yang Zi turut meningkatkan kecepatannya guna mengejar laju Yuan Jin yang telah melaju di depan.
“Mengagumkan! Kuda ini sepertinya lebih unggul daripada Kuma! Siapa nama kuda ini?” Yang Zi bertanya pada Zhou Fu setengah berteriak karena suaranya tertelan angin.
“Memangnya semua binatang harus memiliki nama!” Zhou Fu tak begitu menanggapi pertanyaan Yang Zi sebab ia sedang memerhatikan jalan yang dilalui oleh Yuan Jin. Sebuah lorong-lorong gelap yang memiliki banyak cabang.
“Baiklah, mulai dari ini, kuda ini bernama Fufu!” Yang Zi berteriak lagi, kini sambil menepuk leher kuda hitam yang ia namai Fufu tersebut.
“Fufu? Terserah apa katamu!” jawab Zhou Fu sekenanya. Ia masih sedang memerhatikan laju lari Yuan Jin. Bocah itu bahkan masih memiliki luka di kaki yang belum mengering. Tetapi langkahnya masih cukup gesit.
“Sepertinya desa Malam adalah persembunyian yang cukup bagus bagi Patriark Yuan Kai!” Zhou Fu membatin. Ia berpikir sepertinya ia tak mungkin bisa menghapal lorong-lorong yang akan membawanya kembali ke desa Malam.
***
Sementara itu, di tengah perairan bebas hukum, sebuah kapal sedang berlayar dengan cukup santai. Kapal tersebut mengibarkan bendera dengan lukisan ranting dan akar pohon kering, yang merupakan lambang dari negeri Shamo. Di bagian layar yang terkembang, sebuah tulisan terpampang dengan jelas berbunyi: Kapal Guichuan.
__ADS_1
Tak salah lagi, itu adalah kapal milik bangsawan Feng Yaoshan yang dinaiki Shen Shen bersama dengan kelompok Kelelawar Merah. Tujuan kapal tersebut tentu adalah daratan bebas hukum yang berada di seberang sungai Juda. Di sana jugalah pusat dari organisasi hitam Kelewar Merah berada.