Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
CH. 71 – Bangsawan Kelas Satu


__ADS_3

CH. 71 – Bangsawan Kelas Satu


Kalimat yang keluar dari mulut Shen Shen telah berhasil membuat Yang Zi dan Zhou Fu tertawa lega. Bahkan, Feng Yaoshan yang tadinya berada dalam keadaan setengah sadar pun kini terlihat berusaha bangun dan nampak ingin menyampaikan sebuah kalimat.


“Shen Yang-ku tidak boleh kelaparan. Beri dia makanan yang banyak, cepaat…” ucap Feng Yaoshan dengan terbata-bata.


“Tidak. Dia belum boleh diberi makanan!” jawab Zhou Fu seraya menyalurkan aliran tenaga dalam ke tubuh Shen Shen, “tubuhnya masih terlalu lemah. Kemungkinan ia bahkan belum kuat mengunyah. Akan berbahaya jika ia tersedak makanannya sendiri. Aku akan memulihkan tenaganya dulu.”


“Kakak, apa yang bisa kubantu? Apakah kakak Zhou memerlukan sesuatu?” tanya Yang Zi pada Zhou Fu. Ia memang tak terbiasa untuk diam dan melihat saja, jika tangannya bisa membantu sesuatu maka gadis itu pasti akan senang memberi bantuan.


“Kau bisa memberi pertolongan pada anak bangsawan itu, dia tadi terjatuh dari tebing dan pantatnya menghantam bebatuan. Sepertinya itu cukup menyakitkan. Keadaan pengawalnya tak memungkinkan untuk memberi pertolongan padanya, jika kau bersedia, kau bisa menyumbangkan kekuatanmu,” ucap Zhou Fu sambil menunjuk ke arah Feng Yaoshan yang terkulai lemah.


“Jadi, tuan muda jatuh dari ketinggian?” tanya pengawal Feng Yaoshan.


“Ah, bocah sialan… Sudah kubilang tak perlu mengatakannya…” ucap Feng Yaoshan mendengus kesal.


“Tenang, Shen Yang-mu tidak akan mendengarnya!” jawab Zhou Fu menimpali.


“Siapa bilang… Tubuhku memang lemah, tapi telingaku tidak tuli…” gumam Shen Shen seperti seorang yang sedang mengigau.


“Ha ha, sudah sudah… Tak perlu ribut lagi, yang penting kita semua selamat dan besok kita bisa berangkat bersama-sama untuk pulang ke Caihong!” Yang Zi menengahi.


“Besama-sama??!!” ucap Zhou Fu dan Feng Yaoshan bersamaan. Meski tak menyimpan dendam pada Feng Yasohan, tetapi Zhou Fu tak begitu tertarik untuk melakukan perjalanan bersama anak bangsawan itu. Menurutnya, keberadaan Feng Yaoshan hanya akan menambah beban di pundaknya.


Begitu juga dengan Feng Yaoshan, meski ia tak membenci Zhou Fu, ia juga tak tertarik untuk pergi bersama-sama dengan Zhou Fu. Ia hanya ingin kembali ke Caihong bersama Shen Shen dan pengawalnya.


“Ya! Bersama-sama! Keberadaan tuan muda Feng Yaoshan akan menguntungkan perjalanan kita ke Caihong. Sebagai bangsawan kelas satu, dia memiliki banyak hak istimewa yang berlaku di seluruh daratan Caihong,” jelas Yang Zi, ia kini telah berada di sisi Feng Yaoshan dan bersiap memberi bantuan penyembuhan pada pria itu.


“Ya, apa yang dikatakan nona ini benar. Akan lebih baik jika kita bersama-sama,” si kasim yang masih terluka itu pun lebih setuju jika mereka semua melakukan perjalanan bersama. Tentu keberadaan Zhou Fu di pihak yang sama akan cukup membuat tugasnya lebih ringan.


“Baiklah baiklah… Berarti mulai besok bebanku berjumlah empat. Bagus, kuharap keluargamu akan memberiku imbalan yang berlimpah!” ucap Zhou Fu mengakhiri musyawarah pada waktu itu.

__ADS_1


“Jika kau tak berniat mengejar Shen Yang-ku, aku bisa membangunkan sebuah istana untukmu!”


***


Sinar matahari terasa hangat ketika menyentuh kulit Shen Shen yang pucat. Gadis itu saat ini sedang berada di punggung Zhou Fu, masih terkulai tak berdaya tetapi kesadarannya sudah pulih sempurna. Setelah berbulan-bulan berkelana di dunia tanpa matahari, Shen Shen terlihat sangat senang bisa bertemu kembali dengan matahari. Mulutya nampak ingin mengucapkan kata-kata, tetapi kelelahan dan kelaparan menghalangi bibir itu untuk berbicara.


Pagi itu, satu rombongan yang berjumlah lima orang itu sedang berjalan bersama-sama menuju ke penginapan di mana Zhou Fu menitipkan kudanya. Setiap jengkal langkah mereka, menjadi pusat perhatian dari warga sekitar sungai Juda. Wajar saja, sebab itu adalah untuk yang pertama kalinya mereka melihat seorang keturunan keluarga bangsawan kelas satu, singgah di daerah perbatasan.


“Kudengar, keluarga bangsawan kelas satu bahkan tak pernah menginjakkan kakinya di tanah. Sepertinya kabar itu tidak benar!” bisik seorang pria pada rekannya.


“Ya. Aku juga pernah mendengarnya. Mungkin dia mengalami nasib buruk dalam perjalanan. Bukankah aneh seorang putra bangsawan kelas satu berkeliaran di tempat ini?” jawab temannya menimpali.


Obrolan dua pria itu bisa didengar oleh semua orang dalam rombongan Zhou Fu, Zhou Fu yang penasaran pun akhirnya bertanya.


“Hei, bagaimana bisa seorang manusia hidup tanpa menginjak tanah?” tanya Zhou Fu pada Feng Yaoshan.


“Itu wajar terjadi di lingkungan keluarga bangsawan kelas satu, tapi dulu. Generasi-generasi terdahulu kami sepertinya cukup kurang ajar. Mereka berjalan di atas tandu yang dibopong oleh para pengawal, dan merasa hanya masyarakat di kasta rendah yang menginjakkan kakinya di atas tanah.”


Yang Zi pun bercerita tentang masa muda ayahnya yang gemar melakukan protes pada pemerintah pusat terkait dengan hak-hak istimewa bangsawan kelas satu yang hampir menyamai kedudukan dewa. Ayah Yang Zi memiliki cukup banyak pendukung hingga ia pun kemudian berhasil menduduki sebuah jabatan penting di dalam wilayah bangsawan Caihong.


“Bukankah itu artinya ayahmu akan dimusuhi oleh anggota bangsawan kelas satu?” Zhou Fu mengerutkan alis, mulai berpikir tentang dalang di balik kisruh penculikan Shen Shen dan Yang Zi.


“Itulah yang ingin aku buktikan. Sayang, meski beberapa petunjuk sudah aku dapatkan, ayah tetap bersikeras jika posisinya baik-baik saja,” ujar Yang Zi.


“Itu tidak benar! Kami dari keluarga bangsawan kelas satu cukup menghargai pergerakan yang dipimpin oleh ayahmu,” jawab Feng Yaoshan yang seolah tak terima anggota kelas kebangsawanannya dicurigai.


“Kita lihat saja nanti!” Zhou Fu bergumam pelan.


***


Si nenek tua pemilik penginapan terlihat gemetaran begitu mendengar jika dua tamunya itu ternyata memiliki hubungan erat dengan tuan muda bangsawan Caihong. Tubuhnya nampak bergetar-getar ketika menyambut lima orang dalam satu rombongan itu di penginapan sederhananya.

__ADS_1


“Tak usah khawatir begitu, Nek. Kami datang bukan untuk menghukummu!” ucap Yang Zi sembari tersenyum dan menepuk-nepuk pundak si nenek, “cukup buatkan kami kudapan dan sarapan pagi, tuan muda ini akan mengampuni kesalahan nenek.”


“Dia hendak meracuni kami sebelumnya!” celetuk Zhou Fu ketika melihat Feng Yaoshan nampak bingung dengan keadaan di depannya.


“M…. Maafkan saya tuan… Saya tak akan mengulanginya lagi… Ampuni nyawa saya…” ucap nenek tersebut ketakutan.


“Buatkan kami makanan dulu, baru nanti dosamu diampuni!” tukas Zhou Fu.


Nenek tersebut pun berterima kasih berkali-kali, ia lantas undur diri dan bersiap-siap membuat makanan. Setelah beberapa saat berselang, nenek tersebut menyuguhkan aneka masakan pada tamu-tamunya.


“Semuanya tak ada yang dibubuhi racun?” Zhou Fu bertanya.


“Ya, tuan muda. Maafkan atas kesalahan saya kemarin.”


“Baiklah, coba cicipi dulu!” Feng Yaoshan mempersilakan nenek itu mencicipi. Nenek itu pun menurut dan ia mulai memasukkan beberapa makanan ke mulutnya. Selang beberapa lama, tak terjadi apa-apa karena memang taka da racun di sana.


“Bagus. Tetap di sini dan jangan ke mana-mana!” perintah Zhou Fu pada nenek tersebut.


Kini, semua orang saling melahap hidangan dengan sangat bersemangat. Kecuali Feng Yaoshan, pemuda itu memilih duduk bersebelahan dengan Shen Shen dan terlihat sedang sibuk mengambilkan aneka masakan ke mangkuk Shen Shen. Meski gadis pujaannya itu masih tak mau berbicara padanya, ia cukup senang hanya demi melihat gadisnya makan dengan lahap.


Setelah semuanya selesai santap pagi, Zhou Fu berdiri dari kursinya dan dengan gerakan yang hampir tak tertangkap mata ia menghunuskan pedangnya tepat di jantung si nenek pemilik penginapan.


“Ini hadiah untuk nenek!”


Jlebbb!


Nenek itu pun tewas sebelum bisa memahami keadaan. Semua orang kaget dengan apa yang dilakukan oleh Zhou Fu.


“Dia telah membunuh banyak nyawa tak bersalah. Jika tak dihabisi sekarang, bisa saja korbannya akan bertambah banyak! Anggap saja ini sebagai pembalasan dari korban-korban yang telah ia celakai selama ini!” ucap Zhou Fu menjelaskan pada rekan-rekannya.


“Ya, keputusan tuan muda ada benarnya,” pengawal Feng Yaoshan mengangguk-angguk membenarkan tindakan Zhou Fu. Orang jahat memang sesekali tak perlu diampuni sebab pengampunan bisa jadi hanya akan memberi mereka kesempatan untuk berbuat jahat kembali.

__ADS_1


“Baiklah terserah apa katamu. Yang jelas, aku sudah siap untuk kembali ke Caihong. Ayo kita bergegas!” ucap Feng Yaoshan dengan penuh semangat.


__ADS_2