Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
CH. 72 – Serangan Pendekar Zhongjian


__ADS_3

“Fu’er, tidak bisakah kau menyingkirkan makhluk ini  dariku?” ucap Shen Shen seraya memundurkan kepalanya untuk membuat jarak dari Feng Yaoshan. Ketika masih di Dengguang, Shen Shen menunjukkan sikap hangat dan hormatnya pada Feng Yaoshan, tetapi setelah dari pulau Yimin, agaknya terjadi sesuatu dan Shen Shen terlihat sudah tak menghormati kakak tingkatnya itu.


“Shen Yang-ku, aku sudah meminta maaf seribu kali soal hal itu. Ayolah, itu hanya kesalahan kecil,” dua telapak tangan Feng Yaoshan menyatu layaknya seorang berdoa, ia memohon gadis itu memaafkan kekhilafannya beberapa hari lalu.


Zhou Fu mengerutkan alis melihat dua orang manusia yang sedang berisik di depannya. Saat itu mereka masih duduk melingkar menghadap meja makan, beristirahat sejenak untuk memberi waktu bagi perut memproses makanan,”Kesalahan? Shen Shen, dia berbuat buruk padamu?” tanya Zhou Fu.


Pada saat yang bersamaan, Yang Zi dan pengawal Feng Yaoshan terlihat mengepalkan telapak tangan mereka kuat-kuat. Yang Zi seperti memiliki gambaran buruk kejahatan Feng Yaoshan terhadap kakaknya, sementara si pengawal nampak seperti geram pada tuan mudanya yang kerap bertindak tanpa berpikir.


“Kalian tahu, orang ini menempelkan mulutnya ke bibirku ketika aku pura-pura tidur di kapal Guichuan!!! Sialaan!” seru Shen Shen seraya menunjukkan ekspresi seperti mau muntah. Ia sudah menahan untuk marah selama beberapa saat sebelumnya karena memang belum memiliki cukup tenaga untuk marah.


“Ha? Menempelkan bibir??? Yang Zi, apakah itu merupakan sesuatu yang buruk?” Zhou Fu menggaruk kepalanya sebentar, ia baru mendengar tentang hal tersebut jadi akal sehatnya tidak begitu bisa menilai apakah hal itu buruk atau cukup buruk untuk dilakukan.


“Ehm… Ehm… Bagaimana ya…?” giliran Yang Zi yang garuk-garuk kepala, setidaknya apa yang dilakukan Feng Yaoshan ternyata tak seburuk dugaannya sebelumnya.


“Apa katamu?!! Tentu saja buruk!!! Sangat buruk, jika dia yang melakukan!” Shen Shen menuding hidung Feng Yaoshan yang kembang kempis, “dan tidak begitu buruk jika orang lain yang melalakukan, Kau misalnya!” tambah Shen Shen kini sambil menunjuk Zhou Fu dengan ekspresi salah tingkah. Entah ia berkata jujur, atau mengatakannya demi membuat Feng Yaoshan sakit hati, tak ada yang tahu.


“Aku? Melakukannya? Demi apa?” Zhou Fu bertanya serius sementara Yang Zi dan pengawal Feng Yaoshan nampak berdeham karena merasa canggung dengan ucapan Shen Shen.


“Sialan kalian berdua sama-sama menyebalkan!” Shen Shen bangkit berdiri dan mendengus kesal.

__ADS_1


“Wah, sedang ada pesta besar rupanya!” ucap seseorang dari arah pintu, bersamaan dengan hal tersebut sebuah aura pekat mulai merayap memenuhi ruangan. Yang Zi menarik lengan kakaknya dan memberi isyarat pada Shen Shen untuk sembunyi di belakang punggungnya sementara Zhou Fu dan pengawal Feng Yaoshan nampak berjalan ke depan.


“Siapa dan untuk apa kau datang kemari?” tanya pengawal Feng Yaoshan dengan nada datar.


“Oh ya, karena sepertinya kalian berdua akan mati di tanganku, tak ada salahnya aku memperkenalkan diri!” orang itu tersenyum sinis, dia adalah seorang laki-laki berbadan tegap berusia sekitar tiga puluh sembilan tahun, berwajah rupawan dengan bibir berwarna hitam, “namaku Wei Sihao, dari distrik Zhongjian. Kuharap kalian sudah tahu bagaimana kemampuan para pendekar dari Zhongjian!”


“Banyak bicara! Ayo kita berkelahi saja!” geram Zhou Fu dengan tangan mengepal, tetapi pengawal Feng Yaoshan menekan dada Zhou Fu, seperti memberi isyarat untuk mundur beberapa langkah.


“Jangan gegabah, dia adalah Wei Sihao! Jika dinalar, kekuatan kita berdua tak bisa mengalahkan dia yang seorang!” bisik pengawal Feng Yaoshan pada Zhou Fu.


Wei Sihao mendapat julukan pendekar tulang besi dari Zhongjian, salah satu distrik di wilayah bebas hukum di seberang sungai Juda. Nama Wei Sihao cukup dikenal bahkan di Caihong pusat. Namanya menjadi salah satu daftar buronan dengan harga kepala yang cukup tinggi.


“Paman, paman boleh mundur jika tak yakin. Aku akan menghadapinya seorang diri!” celetuk Zhou Fu seraya menyingkirkan tangan si kasim dengan sopan.


“Ah, tidak! Aku tak sepicik itu, ayo kita hadapi bersama! Pendekar Wei, kami tidak pernah berurusan denganmu, atas dasar apa pendekar Wei menghadang kami?” si kasim bertanya.


“Soal itu, aku mendengar dari seseorang jika ada perkumpulan manusia sampah di perbatasan. Kau tahu, aku benci sampah! Cuih!” ucap Wei Sihao seraya meludah ke tanah. Wei Sihao berbohong, ia sebenarnya ditantang oleh seseorang untuk menghabisi sekumpulan keturunan bangsawan di tempat itu.


Semenjak kegagalannya menembus tembok raksasa Caihong, ia menjadi sosok pembenci bangsawan. Ia bahkan rela menghabisi bangsawan Caihong meski tanpa imbalan sedikit pun.

__ADS_1


“Sampah katamu? Mari kita lihat siapa diantara kita yang lebih pantas masuk tempat sampah!” geram Zhou Fu kesal.


“Menarik sekali! Kuberi tahu kalian, beberapa pendekar lebih memilih mengakhiri hidup mereka dengan tangannya sendiri ketika bertemu denganku. Dan kalian dengan cukup berani ingin melawan? Oh, sungguh hiburan yang menyenangkan,” ucap Wei Sihao si Pendekar Raja dengan tingkatan aura berwarna merah. Dia adalah sedikit dari beberapa gelintir pendekar yang mencapai aura merah di usianya yang masih muda.


“Karena kau yang memulai, ayo silakan unjuk gigi dahulu!” tantang Zhou Fu, ia ingin melihat jurus seperti apa yang dimiliki oleh pendekar beraura merah itu.


“Baiklah, tak perlu basa-basi lama-lama!” seru Wei Sihao. Sesaat setelahnya, seperti menghilang dari pandangan, Wei Sihao sudah berada cukup dekat dengan Zhou Fu dan si kasim. Pendekar itu seperti mampu menghilang dan muncul tiba-tiba karena ilmu meringankan tubuhnya memang sudah mendekati puncak sehingga gerakan-gerakannya terlalu cepat untuk ditangkap mata.


“Rasakan ini!” Wei Sihao mengepalkan tangannya lalu menghantamkan sebuah pukulan ke dada pengawal Feng Yaoshan. Karena gerakannya sangat cepat, pengawal Feng Yaoshan tak memiliki waktu untuk bertahan atau bahkan menangkis serangan.


“Aaaaarrrrrggghhh!!!” pengawal Feng Yaoshan itu terpelanting ke belakang dengan cukup kuat hingga punggungnya menghantam meja makan dan membuat meja itu terbelah menjadi dua. Pengawal tersebut merintih kesakitan seraya memegangi tulang rusuknya di bagian kanan, “rusukku… Rusukku…” rintih si pengawal begitu ia yakin tulangnya mengalami keretakan akibat pukulan tangan besi.


“Nah, dia yang kemampuannya berada di atasmu saja bisa keok dengan sekali pukulan. Kau lihat aku baru memukulnya dengan tangan kiri. Jika tangan kananku yang kupakai, mungkin tulang-belulangnya sudah remuk tak berbentuk!” seru Wei Sihao mengintimidasi Zhou Fu.


Ia sengaja memukul pengawal Feng Yaoshan terlebih dahulu sebab ia melihat aura pendekar itu memang berada di level lebih tinggi dari Zhou Fu. Dengan demikian, ia sama saja memberi kesan yang mengerikan pada Zhou Fu.


“Dasar pendekar banyak bicara! Jangan sentuh siapapun jika kau belum mengalahkan aku!” ucap Zhou Fu dengan nada marah.


Wei Sihao melotot tak percaya. Ia kemudian menganggap jika bocah muda di depannya itu memang tak tahu apa-apa soal tingkatan kekuatan. Tentu, bagi seorang pendekar mentah dengan aura hijau seperti itu seharusnya sudah terkencing-kencing melihat orang yang lebih kuat darinya sudah kalah hanya dengan satu kali pukulan.

__ADS_1


“Bocah sinting! Cuih!” Wei Sihao meludah lagi, “akan kurobek mulut congkakmu itu!” geram Wei Sihao pada Zhou Fu yang masih tak menampakkan kekhawatiran atau ketakutan di wajahnya.


__ADS_2