Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
CH. 80 – Kematian tanpa Sebab


__ADS_3

Tembok raksasa sudah terlihat di depan mata. Tembok tersebut merupakan tumpukan bebatuan alam yang disusun sedemikian rupa hingga menjulang setinggi tiga puluh meter. Kabarnya, bebatuan penyusun tembok raksasa itu bukanlah batu biasa melainkan bebatuan yang turun dari langit hingga memiliki ketahanan yang tak bisa diukur oleh kekuatan manusia.


Sejarah mengatakan bahwa nenek moyang manusia zaman dahulu membangun tembok raksasa demi menciptakan kedamaian dunia. Pada waktu tembok tersebut dibangun, peradaban manusia baru saja pulih dari era kekacauan yang maha besar. Itulah mengapa para nenek moyang manusia berbondong-bondong menghabiskan sisa usia mereka demi membangun peradaban baru yang akan menyelamatkan keturunan umat manusia.


Begitulah, tak benar-benar ada yang tahu siapa dan bagaimana cerita asli di balik dibangunnya tembok raksasa tersebut. Yang jelas, saat ini tembok tersebut merupakan sebuah garis pembatas antara dua jenis manusia, yaitu manusia biasa dan manusia terhormat dari kalangan bangsawan.


“Jadi, kakekku pernah tinggal di tempat seperti ini?” Zhou Fu bergumam dalam batin seraya satu tangannya menyentuh dagu dan satu tangan lainnya memegang tali kemudi kuda. Ia membayangkan kemungkinan-kemungkinan tentang kehidupan kakek Li Xian. Apakah kakeknya seorang keturunan bangsawan? Atau, apakah kakeknya adalah orang penting dari kerajaan? Atau, apakah kakeknya hanya merupakan berandalan yang mengganggu kedamaian wilayah bangsawan?


Khayalan Zhou Fu tentang kakek Li Xian segera sirna ketika hamparan pemandangan kota menyergap matanya. Zhou Fu cukup takjub dan terkejut melihat tatanan kota di dalam tembok raksasa. Rumah-rumah dan pepohonan diatur sedemikian rupa hingga membuat mata termanjakan ketika melihatnya. Tak ada gubuk reyot, tak ada pedagang kecil yang berjualan di sembarang tempat, tak ada pengemis berkeliaran. Semua hal yang ada di dalam tembok raksasa adalah segala sesuatu yang enak dipandang mata.


“Tuan Kusir kuda, apakah rumah kalian masih jauh?” tanya Zhou Fu pada Feng Yaoshan ketika ia mulai merasa aneh sebab perjalanan mereka tak juga berhenti meski telah berjalan bermil-mil jauhnya dari posisi pintu masuk tembok raksasa.


“Jauh katamu? Kita bahkan belum mencapai seperempat perjalanan!” Feng Yaoshan menjawab dengan kening berkerut-kerut. Ia makin penasaran dari mana asal Zhou Fu hingga remaja itu tak mengerti susunan wilayah tembok raksasa Caihong.


“Tuan Muda, sepertinya teman Tuan Muda ini baru pertama kali ke Caihong. Jika berkenan, saya akan menjadi pemandu teman Tuan Muda,” seorang pengawal berkuda tampak mencoba beramah tamah pada Feng Yaoshan dan Zhou Fu. Feng Yaoshan pun menganggukkan kepala dan membiarkan pengawal itu menjelaskan banyak hal kepada Zhou Fu.


“Tuan Muda, boleh saya tahu nama Tuan?” tanya pria berkuda itu seraya mendekatkan kudanya pada kuda Zhou Fu.


“Saya Zhou Fu… Paman?” Zhou Fu membalas dengan pertanyaan pula.


“Panggil saja saya pengawal Jing, Tuan Zhou. Kelihatannya Tuan berasal dari negeri yang jauh, saya penasaran dari mana Tuan Muda Zhou berasal.”


“Oh, sama. Saya juga penasaran,” jawab Zhou Fu singkat. Jawabannya tersebut setidaknya telah membuat pengawal Jing terhenyak sesaat, lalu pengawal itu pun bertanya kembali.

__ADS_1


“Ya, beberapa orang memang tak mengenal tanah kelahiran mereka. Tapi setidaknya, semua orang memiliki rumah. Kalau boleh tahu, di manakah rumah Tuan Muda Zhou?”


“Pengawal Jing, anda baru saja berbicara dengan orang yang juga tak memiliki rumah. Ngomong-ngomong, bukankah seharusnya pengawal Jing menjelaskan pada saya tentang wilayah tembok raksasa ini?” Zhou Fu membelokkan percakapan, jika diterus-teruskan sepertinya pengawal itu hanya ingin mengorek informasi tentangnya.


“Ah, maafkan saya yang pelupa ini, Tuan Muda. Jadi, saat ini kita sedang berada di lapis terluar Negeri Bangsawan. Ini adalah kota dari bangsawan Kelas Tujuh. Itu artinya, di lapis ke dua nanti kita akan tiba di wilayah bangsawan Kelas Enam. Begitu seterusnya sampai pada lapis ke tujuh yaitu kediaman Tuan Muda Feng.”


“Apa? Lapis ke tujuh? Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke sana?”


“Jika malam ini kita tidak beristirahat, maka kita akan tiba di wilayah bangsawan Kelas Satu dua hari ke depan.”


“Kami tak butuh beristirahat, kita lanjutkan perjalanan ini tanpa menginap.”


Belum sempat pengawal Jing menjawab perintah Zhou Fu, perhatian mereka tertuju pada ribut-ribut dari arah depan. Tiba-tiba, barisan prajurit di bagian depan terlihat berhenti mendadak. Karena penasaran, Zhou Fu memacu kudanya untuk memeriksa keadaan.


Ketika memasuki kediaman keluarga yang mati serempak itu, Zhou Fu dan pengawal Jing segera melihat ada dua orang tabib yang sedang berbicara di depan kerumunan warga. Dua tabib pemerintah tersebut memberikan laporan jika mereka tak menemukan keanehan dari tubuh empat mayat di rumah itu. Dua tabib itu juga menegaskan jika mereka telah berbuat semampu mereka dan selebihnya, mereka mengatakan jika kematian empat orang itu tiada lain tiada bukan adalah kehendak takdir.


“Tuan tabib, bisa saya melihat empat mayat itu?” Zhou Fu tampak menyela pidato si tabib. Awalnya, tabib tersebut hendak menolak permintaan Zhou Fu sebab Zhou Fu tak memakai atribut kebangsawanan. Tetapi, setelah melihat Zhou Fu datang bersama dengan prajurit militer Caihong, mereka tak berani menolak permintaan Zhou Fu.


“Silakan, silakan Tuan Muda melihatnya,” satu tabib mempersilakan Zhou Fu untuk membuka kain penutup dari mayat-mayat yang digeletakkan di atas lantai.


Zhou Fu memeriksa salah satu mayat di keluarga tersebut. Kecurigaannya benar, dari jejak yang ditimbulkan di tubuh para korban, bisa dipastikan satu keluarga itu tengah mengalami keracunan jamur. Yaitu jamur yang sama yang pernah ditemukan Zhou Fu di dalam kapal orang-orang Shamo.


“Pengawal Jing, kita akan bermalam di sini. Kuharap pengawal Jing segera memberi tahu para rombongan,” ucap Zhou Fu kepada pengawal Jing dan segera dibalas dengan anggukan oleh orang tersebut. “Oh ya, saya ingin pengawal Jing membubarkan kerumunan warga sebab ada hal yang ingin saya bicarakan secara pribadi dengan tuan-tuan tabib ini,” lanjut Zhou Fu.

__ADS_1


“Baik, Tuan Muda Zhou. Saya akan menjalankan perintah Tuan!” jawab pengawal Jing patuh, ia merasa harus mematuhi perintah Zhou Fu sebab Tuan Muda Feng Yaoshan sendiri terlihat tak berani menentang ucapan Zhou Fu.


“Tuan tabib, ada banyak hal yang ingin saya tanyakan pada tuan-tuan sekalian!” ucap Zhou Fu sesaat ketika kerumunan warga mulai menipis.


Dua tabib di depannya itu terlihat menampilkan ekspresi yang khawatir. Membuat Zhou Fu semakin yakin akan asumsinya.


“Dari perubahan wajah kalian, sepertinya saya tak perlu bertanya secara rinci. Mengapa kalian mengatakan jika tak ada keanehan di tubuh mayat-mayat ini?” Zhou Fu bertanya menyelidik.


Benar saja, dua tabib itu mulai berkeringat dingin. Baru kali itu mereka mendapat hambatan ketika memeriksa keadaan bangsawan-bangsawan yang mati mendadak. Dua tabib itu terlihat saling dorong, seperti saling memerintah siapa yang harus menjawab pertanyaan Zhou Fu.


“Tu… Tuan Muda, saya memiliki beberapa keping emas di kantong saya. Apakah itu sudah cukup atau masih kurang?” tanya salah seorang tabib antara ragu, takut, dan khawatir. Ia yakin tak ada satu orang pun di muka bumi yang tak menyukai uang, kecuali jika mereka tak waras.


“Keping emas katamu???” Zhou Fu tampak melotot ke arah mereka berdua.


“M… Maaf, jika kami keliru, Tuan. Oh, saya memiliki seorang putri yang cantik jelita. Tuan bisa berkunjung ke kediaman saya dan lihatlah sendiri betapa moleknya putri saya!” si tabib yang kedua giliran mencoba keberuntungannya lewat penawaran anak perempuannya. Menurutnya, jika seorang laki-laki tak tergoda dengan uang, bisa jadi mereka akan tergoda dengan perempuan.


“Tuan-tuan, pertanyaan saya masih belum kalian jawab!” Zhou Fu mengingatkan kembali, “jangan mengalihkan pembicaraan, cukup jawab pertanyaan yang saya ajukan!” ucap Zhou Fu dengan nada datar.


“Kami… Kami hanya menjalankan tugas, Tuan…” ucap salah seorang tabib lalu serentak mereka berdua bersujud ke lantai, “Tuan, ampuni kami. Kami hanya mengerjakan apa yang sudah diperintahkan kepada kami…”


Di saat yang bersamaan, seorang pria berjenggot datang memasuki kediaman tersebut dengan dikawal oleh beberapa pengawal elite.


“Siapa yang berani-beraninya mengusik wilayah kekuasaanku?” pria itu membentak murka, dari sorot matanya, jelas bisa dilihat jika bentakannya itu ia tujukan pada Zhou Fu.

__ADS_1


__ADS_2