
Sebenarnya, Zhou Fu tak memiliki urusan dengan kematian sekeluarga bangsawan itu. Andai saja ia tetap melanjutkan perjalanan menuju ke kediaman Shen Shen, itu akan jauh lebih baik. Tetapi, ketika ia mulai mencurigai tentang adanya dalang di balik dalang terkait kematian tersebut, perhatiannya tertuju pada kasus itu. Kasus yang mungkin akan membuatnya percaya pada kecurigaan Patriark Yuan Kai tempo dulu.
“Maaf, sepertinya aku tak bisa menepati janjiku Patriark Yuan. Aku akan sedikit lebih lama di sini,” gumam Zhou Fu dalam batin tepat ketika ia melihat mayat-mayat satu anggota keluarga bangsawan itu.
Sayangnya, ketika ia masih melakukan introgasi pada dua tabib yang menangani kasus itu, seseorang berjenggot datang. Pria berjenggot itu marah-marah dan menunjukkan eskpresi tidak senangnya pada Zhou Fu. Dari gaya bicaranya, jelas orang itu adalah orang penting dan berkuasa, atau bisa juga dibilang orang yang merasa punya kuasa.
“Maaf, Tuan. Siapapun anda, saya sedang ingin meluruskan kasus kematian keluarga ini!” jawab Zhou Fu dalam rangka menanggapi kemarahan si pria berjenggot itu.
“Apa telingaku tak salah dengar? Hei, bisa apa bocah kecil sepertimu ini? Kembalilah ke ketiak ibumu jika kau benar-benar masih ingin hidup enak!” hardik pria berjenggot tersebut pada Zhou Fu yang memang masih dianggap bocah tak berpengalaman.
“Tuan, percayalah. Saya menemukan ketidakberesan dari mayat-mayat satu anggota keluarga ini. Dan merupakan sesuatu yang keliru jika seorang tabib justru memberikan penjelasan yang tidak benar kepada para warga!”
“Ha ha ha, bicaramu ngelantur ke mana-mana bocah ingusan! Usap kembali ingusmu dan pergilah dari sini. Tempat ini bukan tempat bermainnya anak ingusan!” pria berjenggot itu berkacak pinggang seraya mengajak para pengawalnya untuk menertawakan Zho Fu.
“Jika sudah puas tertawanya, silakan pergi dari sini sebab saya benar-benar masih ada urusan dengan dua tabib ini! Kalian sebaiknya tak mengganggu saya!” Zhou Fu mulai kesal dan berbicara dengan nada serius.
Bukannya menanggapi dengan serius, si pria berjenggot justru makin terpingkal-pingkal menertawai Zhou Fu. “Ha ha ha! Bocah sepertimu memangnya bisa apa?!!”
“Saya bisa membuat Tuan menjadi mayat seperti mereka, jika Tuan serius bertanya saya bisa apa. Tapi tentu saya tak akan melakukannya, jadi tuan tak perlu khawatir. Cukup beri saya waktu untuk menuntaskan tanya jawab dengan tuan-tuan tabib ini, nyawa Tuan saya ampuni!” ucap Zhou Fu seraya menunjuk ke arah dua tabib yang sampai saat ini masih menunjukkan ekspresi tak tenang.
“Bajingan kau bocah kecil! Kalau saja suasana hatiku tak sedang sangat baik, akan kuhabisi kau tanpa ampun! Berterima kasihlah padaku karena aku yang akan mengampuni nyawamu malam ini!” tegas pria berjenggot dengan satu jari menunjuk-nunjuk ke kening Zhou Fu. Dia memang murka pada Zhou Fu, tetapi melihat Zhou Fu masih cukup muda, ia beranggapan jika Zhou Fu mungkin saja hanya seorang anak anggota bangsawan baru yang masih tak mengerti tata krama.
__ADS_1
“Tuan Ye, kami sudah menjalankan tugas kami. Apakah kami bisa pulang kembali?” salah seorang tabib terlihat menampakkan ekspresi memohon ke arah pria berjenggot yang ia panggil dengan sebutan Tuan Ye. Tuan Ye merupakan pemimpin di desa tersebut.
“Tentu saja, kalian bisa pulang. Jangan pedulikan bocah tak punya tata krama ini. Aku yang memberi wewenang di daerah ini. Pulanglah kalian!” seru Tuan Ye seraya memberi isyarat pada dua tabib itu untuk meninggalkan kediaman si keluarga bangsawan yang tewas bersamaan.
“Sudah kubilang aku masih ingin bertanya pada kalian!” Zhou Fu langsung menghadang langkah para tabib itu menggunakan pedang miliknya.
Melihat keadaan tersebut, Tuan Ye murka dan memanggil tiga pengawalnya untuk memberi pelajaran pada Zhou Fu.
“Bocah sialan! Terpaksa pengampunanku kutarik kembali! Pengawal, ajari dia tata krama! Sepertinya orang tuanya lupa tak mengajarkan tata krama sejak kecil!” pekik Tuan Ye seraya memanggil tiga pengawalnya untuk mendekat.
Tiga pengawal Tuan Ye maju serentak untuk memberi pelajaran pada Zhou Fu, tetapi pada saat yang bersamaan pengawal Jing datang bersama Feng Yaoshan. Tuan Ye menoleh ke belakang dan melihat kedatangan dua pria ke arah tempatnya berada. Tuan Ye terperanjat kaget ketika melihat sosok pemuda yang mengenakan atribut Bangsawan Kelas Satu. Ia pun bersujud dengan gemetar, diikuti juga dengan dua tabib di tempat tersebut.
Feng Yaoshan mengernyitkan kening, karena ia belum mengerti keadaan yang terjadi, ia hanya bisa menyisir ruangan tersebut, mengamati orang-orang yang ada di tempat itu dan masih tak memahami apa yang sedang terjadi.
“Bangkitlah! Siapa katamu tadi? Berandal kecil? Dia?” Feng Yaoshan bertanya seraya mengarahkan jari telunjuknya ke arah Zhou Fu.
Tuan Ye bangkit lantas menganggukkan kepalanya, “benar, Tuan Muda! Saya akan segera membereskannya! Maaf atas keributan kecil ini!”
“Anak Bangsawan! Kau cukup berkuasa, bukan?! Suruh paman berjenggot ini pergi dari sini! Dia mengganggu urusanku dari tadi!” Zhou Fu menudingkan telunjuknya ke arah Feng Yaoshan.
“Bajingan jaga mulutmu! Beraninya Kau memberi perintah pada Tuan Muda!” Tuan Ye melotot menunjukkan wajah murka pada Zhou Fu.
__ADS_1
“Ehm… Bagaimana ya… Seperti yang dia katakan, Tuan telah mengganggunya. Pergilah dari sini!” perintah Feng Yaoshan sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
Sementara itu, Tuan Ye langsung terperanjat kaget ketika mendengar perintah dari Tuan Bangsawan Kelas Satu. Pria berjenggot itu terlihat masih bingung dengan keadaan. Ia pun bertanya pada Feng Yaoshan apakah Feng Yaoshan tidak keliru memberi perintah.
“Jika Tuan masih sayang dengan nyawa Tuan, minta maaflah pada bocah itu sebelum pergi dari sini!” jawab Feng Yaoshan menanggapi pertanyaan Tuan Ye yang masih bingung.
Tuan Ye pun mulai berkeringat dingin, jika seseorang yang amat memiliki kuasa seperti Bangsawan Kelas Satu itu menuruti perintah remaja yang beberapa saat lalu ia sebut bocah ingusan, ia tak bisa membayangkan ada tingkatan kasta mana remaja itu berada.
“Aku malas melihat wajahnya, tak perlu minta maaf. Pergi saja dari sini secepatnya sebab urusanku adalah dengan tabib-tabib ini!” gumam Zhou Fu dengan ekspresi tak begitu berminat pada Tuan Ye.
Tubuh Tuan Ye gemetar hebat, ia berulang kali membungkuk dan mengucap terima kasih pada Zhou Fu sebelum ia melangkahkan kakinya keluar dari tempat itu dengan tubuh bergetar-getar. Tuan Ye merasa cukup beruntung ketika satu kakinya telah melangkah keluar dan tak terjadi apa-apa pada tubuhnya. Ia sempat mengira jika setidaknya tubuhnya akan dilempar benda tajam sebagai hukuman atas ketidaksopanannya terhadap remaja misterius yang mungkin sangat berkuasa itu.
“Hei, kekacauan apa yang barusan kau buat, Saudara kecilku?” tanya Feng Yaoshan setengah menggerutu pada Zhou Fu ketika Tuan Ye dan pengawalnya telah pergi.
“Sepertinya aku tertarik dengan kasus kematian keluarga ini. Kalian tak keberatan bukan jika kita menginap semalam?” Zhou Fu bertanya seraya membuka kembali tudung penutup empat mayat di depannya.
“Huft, kalaupun kami keberatan, memangnya itu bisa menghentikanmu?” ujar Feng Yaoshan sembari mendengus kesal.
“Baiklah, kalian carilah penginapan. Aku akan menyusul setelah urusanku dengan tuan-tuan tabib ini selesai!”
Feng Yaoshan mengakat kedua bahu seolah isyarat tubuh itu bermakna ‘ah, terserah apa katamu!’. Setelanya, putra bangsawan itu pergi meninggalkan rumah itu bersama pengawal Jing. Bersamaan dengan hal tersebut, si dua tabib terlihat ketakutan dan mulai menyiapkan beberapa pengakuan yang mereka susun di kepala mereka.
__ADS_1