Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
87. MAO MINGZAO


__ADS_3

Dan, duduklah sesosok pria dengan tubuh sebesar empat kali  tubuh manusia dewasa, setinggi satu setengah pria dewasa. Pria besar itu menjentik-jentikkan jari ke sisi kursi singgasananya yang megah tatkala Zhou Fu mulai memasuki ruangan. Tak begitu jelas bagaimana ekspresi mukanya sebab seluruh bagian wajah dari pria itu tertutup oleh sebentuk topeng singa emas. Bahkan, dua bola mata dari pria itu juga tak terlihat sama sekali.


Di dalam ruangan tersebut, setidaknya ada sembilan topeng singa emas yang  tengah berjajar cukup rapi. Itu artinya, ada sembilan manusia yang sedang menutupi wajahnya dengan topeng serupa. Tinggi dan besar dari delapan orang-orang bertopeng itu cukup wajar hingga kian membuat ukuran si pria di singgasana terlihat bak raksasa.


“Apakah ini adalah hari topeng sedunia?” celetuk Zhou Fu demi memecah keheningan. Suasana di dalam ruangan itu sangat hening dan membuat canggung. Tak seorang pun memberinya sapaan sekaligus ia juga merupakan orang yang tak begitu pandai berbasa-basi.


“Ehem!” pria bertopeng yang paling dekat dengan Zhou Fu berdeham.


Di ruang tersebut, ada delapan pria bertopeng emas yang duduk saling berhadap-hadapan seolah dalam posisi menyambut si tamu undangan yang berjalan di antara mereka. Dehaman salah seorang pria itu setidaknya membuat Zhou Fu berpikir jika ia telah keliru berbasa-basi.


“Hormat pada Paduka Yang Mulia!” seseorang berdiri mencondongkan tubuhnya kepada pria besar di singgasana, “anak muda ini, dia, dialah si anak muda yang menghabisi Wei Sihao,” ucapnya dalam rangka memperkenalkan Zhou Fu pada pimpinan tertinggi dalam divisi pertahanan militer Caihong, Mao Mingzao.


Pria yang memperkenalkan Zhou Fu tersebut adalah pria yang sama dengan seseorang yang bersembunyi mengawasi pertarungan Zhou Fu dan Wei Sihao di perbatasan sungai Juda. Sekaligus, pria yang sama yang berada di kedai di pemukiman Bunga Krisan.


Sementara itu, Mao Mingzao masih dalam posisi yang sama, menjentik-jentikkan jari tangan kanannya ke kursi singgasana hingga menimbulkan suasana yang kembali canggung karena hanya ada hening nan sunyi. Beberapa pria bertopeng saling berpandangan, lalu seseorang kembali berdeham, tetapi kali ini dehamannya lebih keras, bertenaga, juga menggelegar.


“Ehem!!!”


Zhou Fu merasa sedikit aneh pada pemandangan di depannya. Ia ingin menggeleng-gelengkan kepala tapi tentu itu tak sopan. Ia akhirnya mengerti jika dehaman pria yang pertama kali ia dengar itu adalah sebuah kode yang diberikan untuk seseorang di singgasana, Mao Mingzao.

__ADS_1


Sebuah kode yang diharapkan akan membangunkan raksasa yang tertidur di singgasana itu. Ya, Mao Mingzao sedang ketiduran, seperti biasanya, pria itu memang kerap tertidur di sembarang tempat di sembarang waktu. Dalam posisi terjaga dan tertidur, Mao Mingzao memang kerap menjentik-jentikkan jari, hingga membuat orang-orang tak begitu mengerti apakah ia sedang tidur atau sedang terjaga.


“Apakah saya perlu membangunkan beliau?” Zhou Fu bertanya sekenanya, ia tak menyangka jika pertemuan yang sempat membuat jantungnya berdebar-debar itu hanya sebatas pertemuan dengan sosok bertubuh tambun dan tukang tidur. Ia merasa jika kekhawatirannya selama ini mungkin terlalu dibesar-besarkan oleh pikirannya sendiri.


“EHEM!!!”


Kode ke tiga itu akhirnya membuat Mao Mingzao terbangun dari tidurnya. Pria bertubuh gemuk itu menggeliat seolah ia sedang berada di atas ranjang tempat tidurnya sendiri. Tak lupa, pria itu pun menguap dengan sangat fasih seolah tak ada seorang pun yang ada di depannya. Baru setelah ia berada dalam posisi sadar, segera ia memperbaiki posisi duduknya dan mulai fokus melihat ke depan.


“Apakah ini sudah malam? Ah, aku rasa aku mengantuk dan ingin tidur,” ucapnya sambil kembali menguap.


“Paduka Yang Mulia, anda baru saja terbangun dari tidur. Dan ini masih pagi,” seorang pria bertopeng mengoreksi.


“Benarkah? Ah, kukira hari sudah malam. Hei, coba lihat, siapa anak kecil di sana itu?” katanya sambil menudingkan jari raksasanya ke titik di mana Zhou Fu berdiri.


“Dia adalah anak muda yang menghabisi Wei Sihao, Paduka!”


“Oh, ini rupanya…” Mao Mingzao mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegap dan serius. Pandangannya mulai ia fokuskan pada Zhou Fu yang berdiri dengan malas beberapa meter darinya.


Ketika sorot matanya terfokus pada Zhou Fu, Zhou Fu mulai merasa aneh dengan suasana di ruangan tersebut. Pria gemuk itu mengeluarkan sebuah aura mencekam dengan intensitas yang terus dan terus ditambah. Membuat Zhou Fu merasa dirinya terintimidasi meski pria itu bahkan hanya sedang duduk bersantai di posisinya.

__ADS_1


Tak hanya memberi rasa intimidasi, Zhou Fu juga mulai merasakan jika dua kakinya kini tengah menempel di permukaan lantai. Ia tak mampu menggerakkan kaki-kakinya meski hanya seperempat jengkal. Dua tangannya juga bernasib sama, tak satu pun dari tangan itu bisa ia gerak-gerakkan. Singkatnya, tubuh Zhou Fu kini membujur kaku seperti arca.


“Sial, sedikit pun kekuatanku tak bisa menghalau aura sialan ini!” geram Zhou Fu dalam batin. Kini ia baru tahu jika kekhawatiran yang sempat menggelayut di kepalanya bahkan jauh lebih ringan ketimbang kenyataan yang kini sedang ia hadapi.


Pria tambun itu bukanlah orang sembarangan. Tentu saja, ia adalah pimpinan tertinggi dalam divisi pertahanan militer Caihong. Meski Mao Mingzao bukanlah orang berkedudukan paling tinggi di Caihong, setidaknya dengan kekuatan di tangannya, ia bisa mengerahkan seluruh jajaran militer Caihong untuk tunduk di bawah kuasanya.


“Jadi, menurutmu mengapa kami memanggilmu ke mari?” tanyanya dengan suara yang jauh berbeda dengan beberapa saat sebelumnya.


“Sesuai surat undangan, Paduka ingin menawari saya untuk menjadi raja di wilayah persemakmuran pemerintahan Caihong. Atau, Paduka memberi saya kesempatan untuk menduduki posisi penting dalam militer Caihong. Apakah jawaban saya ada yang keliru?” tanya Zhou Fu yang kini sudah mulai memasang tubuh waspada.


Tubuh Zhou Fu masih tak bisa bergerak, tapi ia yakin jika pengaruh tersebut tak akan bertahan lama sebab untuk mengintimidasi lawan dengan kekuatan sebesar itu, ditambah dengan perlawanan dari Zhou Fu yang cukup besar, Zhou Fu yakin ia akan segera terlepas dari intimidasi aura Mao Mingzao.


“Benar… Ah, benar sekali… Tak ada yang salah dari semuanya, tapi, aku tahu kau berbohong. Ceritakan dengan seksama, bagaimana dugaan-dugaan yang muncul di kepalamu, anak muda. Ceritakan dengan sangat terperinci. Aku ingin mendengarkan semuanya,” ucap Mao Mingzao seraya menjentik-jentikkan jarinya lagi.


Bersamaan dengan berakhirnya kalimat Mao Mingzao itu, sebuah aliran listrik seperti menjalar ke tubuh Zhou Fu. Bergerak dengan cepat merambat ke pusat otaknya, menciptakan sebuah gelombang-gelombang kejut yang menyiksa bagian-bagian penting di kepalanya.


“Ya, saya memiliki beberapa dugaan lain terkait dengan pemanggilan saya ke sini,” ucap Zhou Fu sambil menelan ludah. Ia merasa jika bahaya besar sedang menantinya di depan mata. Permintaan Mao Mingzao mengandung sihir yang membuat tubuhnya tak mampu menolak permintaan itu. Bibirnya bergerak dengan tanpa persetujuan dari hati dan pikirannya, seolah seluruh tubuhnya kini sedang dikuasai dan dikendalikan oleh Mao Mingzao.


“Oh, bagus sekali. Ayo, ayo ceritakan semuanya padaku,” ucap Mao Mingzao dengan senyum seringai dari balik topengnya. Zhou Fu menelan ludah lagi, mencoba menolak untuk menjawab, tapi sialnya lagi, bibirnya sudah bersiap-siap untuk memberi pengakuan.

__ADS_1


***


Konflik utama dari novel ini baru akan muncul setelah bab 100, beberapa misteri juga mulai terkuak di bab-bab setelah 100. Kalian bisa membaca lanjutannya di yutub iPus Channel atau aplikasi G00dN0V3L. Trims... Salam, dari author, Banin SN/Hashirama Senju.


__ADS_2