
Sebagaimana yang digambarkan dalam peta milik Feng Yaoshan, kapal Guichuan hanya tinggal melewati tiga pulau lagi untuk tiba di Maundo yaitu satu-satunya tempat yang harus dilewati untuk masuk ke Caihong. Andai saja kapal Guichuan tidak sedang mengalami krisis air minum, Zhou Fu sudah meminta awak kapal untuk berlayar langsung menuju Maundo. Sayangnya, seluruh penumpang yang menaiki kapal Guichuan sudah berpuasa minum air sejak lima hari sebelumnya.
Untuk itu, Zhou Fu memerintahkan awak kapal agar mencari pulau terdekat guna mengisi persediaan air minum mereka. Pulau terdekat yang dituju adalah pulau Yimin, sebuah pulau yang menurut peta dari Feng Yaoshan merupakan pulau yang bersih dari sekutu Asosiasi Naga Perak.
Pulau Yimin sendiri sebenarnya merupakan pulau terdekat ke dua setelah pulau Baisha. Hanya saja, pulau Baisha merupakan pulau yang dihuni oleh kelompok organisasi Kelelawar Merah. Mengingat Rao Guohoa masih hidup, Zhou Fu memilih untuk menghindari pulau Baisha sementara waktu. Sehingga berlayarlah kapal Guichuan menuju pulau Yimin pada malam hari itu.
Tok tok tok…
Suara pintu ruangan Shen Shen diketuk dari luar, membuat Zhou Fu yang sedang bermeditasi di dalamnya terpaksa menghentikan aktivitasnya sejenak. Zhou Fu berdeham untuk memberi tanda bahwa si pengetuk pintu diperbolehkan masuk olehnya. Mendengar isyarat dari Zhou Fu, salah seorang pelayan yang sekaligus awak kapal berjalan tegopoh-gopoh mendekat. Raut wajahnya terlihat sedang tidak baik-baik saja. Ia berjalan setengah menunduk dengan langkah terburu-buru.
“Tuan muda, lihatlah keluar! Sepertinya kita tidak bisa singgah ke pulau Yimin!” ujar awak kapal tersebut sembari menunjuk-nunjuk ke luar untuk mengajak Zhou Fu segera memeriksa sesuatu.
Zhou Fu mengerutkan dua alisnya sebelum akhirnya bangkit berdiri dan mengikuti si awak kapal untuk keluar ruangan. Zhou Fu mempercepat langkahnya begitu hidungnya mencium sesuatu yang tidak biasa. Ia mendahului si awak kapal, berjalan cepat menuju dek kapal lalu melompat ke atas tiang kapal dan bergelantungan di atas sana selama beberapa saat.
Waktu itu, malam masih sangat pekat, meski demikian mata Zhou Fu cukup jeli untuk melihat keanehan yang sedang terjadi bermil-mil jauhnya. Sedang terjadi sesuatu yang mengerikan di pulau Yimin. Gumpalan asap pekat sedang berkumpul tepat di bawah langit pulau Yimin. Baunya bahkan sudah tercium di hidung Zhou Fu beberapa saat sebelumnya.
“Apakah ada gunung berapi di pulau Yimin?” Zhou Fu bertanya dengan berteriak pada awak kapal yang ada di bawahnya.
“Tidak. Yimin tak memiliki satu pun gunung berapi, Tuan muda!” jawab si awak kapal dengan gelengan kepala beberapa kali, wajahnya masih sangat masam. Sepertinya, dia sudah sangat berharap akan segera mendapatkan air minum di pulau Yimin.
“Apakah Yimin memiliki hutan kering? Apakah itu kebakaran hutan?” Zhou Fu bertanya, tetapi tidak kepada siapapun, hanya pada dirinya sendiri.
“Tidak, Tuan muda! Pulau Yimin bahkan tidak memiliki hutan. Yimin adalah pulau yang sangat padat penduduk, saking padatnya semua hutan di sana dibuka sebagai pemukiman! Asap itu adalah… Asap itu adalah…” celetuk si awak kapal yang seperti ingin meneriakkan sesuatu tetapi tertahan.
“Tidak mungkin!” tukas Zhou Fu keras, “asap yang mengepul di atas pulau Yimin begitu luas dan tebal. Untuk menciptakan asap setebal itu, setidaknya harus ada sesuatu yang terbakar melebihi separuh bagian dari pulau tersebut!” Zhou Fu bergumam setengah marah, karena dalam hatinya tak mau menerima fakta jika si awak kapal memang menganggap pemukiman di pulau Yimin sedang terbakar hebat.
__ADS_1
“Sepertinya pulau Yimin sedang diserang, Tuan muda! Tidak mungkin kebakaran yang tidak disengaja bisa semengerikan itu. Pasti itu adalah pembakaran yang sengaja!” ujar si awak kapal menegaskan.
Mata Zhou Fu terbelalak seketika, dua tangannya mengepal kuat-kuat, “sebuah pemukiman padat penduduk sedang dibakar dengan sengaja? Apa maksudnya? Siapa yang melakukannya?”
Si awak kapal menjatuhkan diri ke lantai kayu dengan dua lutut tertekuk. Dua tangannya kemudian menelungkup rapat di wajahnya. Dari pundaknya yang bergoyang-goyang, tentu Zhou Fu tahu jika laki-laki tersebut sedang menangis. Zhou Fu pun turun dari tiang kapal untuk bertanya sesuatu.
“Apakah itu tanah kelahiranmu, Paman?” Zhou Fu bertanya dengan suara pelan. Sebelumnya, Zhou Fu mengira awak kapal tersebut terlihat masam karena harapannya untuk menemukan air minum kandas. Tetapi, setelah melihat kesedihan yang ditunjukkan awak kapal itu, sepertinya sangat mungkin jika Yimin adalah tanah kelahiran pria itu.
“Bukan… Tapi, anak dan istriku ada di Yimin, hiks… Sepertinya mereka sudah menjadi abu.”
Si awak kapal pun kemudian bercerita pada Zhou Fu jika tak jarang pulau-pulau kecil di sekitar Caihong mengalami penyerangan dari kelompok lain. Sistem keamanan yang ada di luar Caihong memang sangat lemah di mana mereka tak memiliki pemerintahan yang resmi, sehingga kelompok-kelompok jahat bisa saja berkeliaran tanpa dihantui hukuman dari pihak pemerintah.
Alasan keamanan yang riskan itulah yang kemudian membuat banyak orang bekerja banting tulang demi bisa mendaftar untuk menjadi warga Caihong. Dengan memiliki identitas sebagai warga Caihong, orang-orang akan bisa menempati wilayah Caihong yang terkenal makmur dan subur. Jika memiliki dana berlebih, seseorang bahkan langsung bisa mendaftar untuk menjadi anggota keluarga bangsawan Caihong.
***
Kapal Guichuan sudah semakin dekat dengan pulau Yimin. Telinga Zhou Fu mulai mendengar suara-suara teriakan dan tangisan dari anak kecil dan perempuan. Malam yang tadinya sunyi, kini menjadi berisik dengan kebisingan yang cukup mengganggu telinga. Siapapun pasti tak mau mendengar suara jerit tangis dan ketakutan yang saling tumpang tindih tersebut.
“Hanya orang baik yang hatinya terusik ketika mendengar teriakan permintaan tolong dari seseorang. Jika hatimu terusik, lakukan sesuatu dengan segera, karena orang baik memiliki peluang menyesal lebih banyak ketimbang orang jahat!”
Pulau Yimin sudah sangat dekat, dan sesuatu yang ada di dada Zhou Fu seperti ingin mencuat keluar. Ucapan-ucapan dari kakek Li Xian pun bermunculan di kepalanya. Zhou Fu pun mulai berpendapat jika mungkin saja dia termasuk dalam kelompok orang baik karena hati dan seluruh tubuhnya merasa tak nyaman dan tak sabar mendengar jerit tangis dari warga di pemukiman Yimin.
“Aku akan turun di sini, bawa kapal ini ke titik ini, tunggu kedatanganku dalam waktu selambat-lambatnya dua hari. Jika aku tak juga datang, bawa Shen Shen ke Maundo dengan hati-hati,” Zhou Fu memberi pesan pada beberapa awak kapal sembari menunjuk ke gambar dalam peta Feng Yaoshan.
“Bagaimana jika nona Shen menanyakan tuan muda?” salah seorang awak kapal bertanya serius.
__ADS_1
“Kukira, sebentar lagi Shen Shen akan terbangun. Beri tahu saja jika aku harus mengurus sesuatu yang penting. Katakan padanya untuk mengenakan diadem naga perak selama aku pergi.” Setelah mengucapkan beberapa kalimat, Zhou Fu meninggalkan kapal Guichuan dengan membawa satu pedang pusaka yang ia dapatkan dari bawah laut Luzon.
***
Pesisir pulau Yimin menghembuskan angin yang cukup panas meski saat itu hari masih malam. Di malam hari, hawa yang ada di pesisir pantai seharusnya cukup dingin menusuk tulang. Itu artinya, kebakaran yang terjadi di Yimin merupakan kebakaran yang cukup mengerikan.
“Toloooong…. Tolooong kami…. Tuan….”
Terlihat seorang bibi paruh baya sedang lari terbirit-birit dengan menggendong anak kecil perempuan yang tubuhnya sedang dilahap api. Tanpa banyak bertanya, Zhou Fu melesat dan mengambil anak perempuan itu untuk ia benamkan di air beberapa saat. Anak perempuan itu, sejatinya sudah tak bernyawa, si bibi yang menggendongnya sepertinya juga sudah memahaminya.
Zhou Fu membenamkan tubuh si gadis cilik ke air untuk membuat jasadnya bisa dipeluk dengan nyaman oleh si ibu. Benar saja, si bibi paruh baya itu segera merebut jasad yang digendong Zhou Fu lalu mendekapnya dengan derai air mata.
“Orang-orang Shamo itu biadab! Hiks… Mereka membinasakan ribuan nyawa atas nama balas dendam yang belum terbukti… Hiks… Putriku…”
Zhou Fu kaget dengan ratapan si bibi. Orang Shamo? Ia membatin sebentar, dan balas dendam? Ada beberapa pertanyaan yang mengganggu pikirannya, tetapi itu tak penting untuk saat itu. Zhou Fu pun melesatkan tubuhnya untuk masuk ke dalam kepulan asap yang ada di pulau Yimin.
“Satu detik keterlambatanku, bisa jadi membuat satu nyawa melayang percuma,” batin Zhou Fu sembari terus menerjang kepulan asap yang menusukkan aroma daging bakar.
\=\=\=\=\=\=\=\=
***Chapter 43 dengan judul Tawaran Militer Shamo sudah tayang di yutub.
Oh ya, buat kalian yg mungkin waktunya sangat terbatas, saya membuat audio story untuk cerita2 silat jadul seperti cersilnya Kopingho dll. Nah audio itu ada tulisan dan suaranya, jadi bisa didengar pakai headset dan disambi bekerja. Kunjungi saja channel yutub iPus Channel ya...
Trims***...
__ADS_1