Pendekar Benua Timur

Pendekar Benua Timur
Ch. 69 – Rencana Feng Yaoshan


__ADS_3

Menginformasikan jika di yutub sudah sampai 77 chapter. Ketik aja di pencarian, ‘Pendekar Benua Timur’ atau iPus Channel. Di noveltoon bakal up lagi senin depan. Selamat hari Senin dan selamat beraktivitas…


____________________________________


Ch. 69 – Rencana Feng Yaoshan


Perjalanan menyebrangi sungai Juda memakan waktu sekitar satu jam. Selama satu jam tersebut Zhou Fu dan Yang Zi telah mencuri dengar begitu banyak informasi tentang Shen Shen yang akan dibawa ke markas Kelelawar Merah. Dari pembicaraan Feng Yaoshan, diketahui bahwa markas Kelelawar Merah hanya berjarak sekitar sepuluh mil dari sungai Juda, dan terhitung lebih dekat daripada yang dipikirkan oleh Zhou Fu sebelumnya.


Di markas pusat tersebut, setidaknya ada sekitar seratus ribu anggota organisasi yang hidup membentuk satu pemukiman layaknya sekte. Untuk memasuki area tersebut, seseorang haruslah memiliki lencana anggota Kelelawar Merah atau lencana khusus yang mereka keluarkan untuk tamu-tamu tertentu yang sudah mereka kehendaki. Tanpa lencana tersebut, seorang tamu tak akan bisa melewati gerbang masuk ke markas organisasi mereka.


Kabar baiknya, Feng Yaoshan memiliki lencana khusus sementara kabar buruknya, baik Zhou Fu maupun Yang Zi sama-sama tak memiliki lencana tersebut. Awalnya Zhou Fu mengira jika markas pusat Kelelawar Merah hanya ditinggali tak lebih dari seribu pendekar. Ketika mendengar dari mulut Feng Yaoshan bahwa markas itu dihuni oleh seratus ribu pendekar, Zhou Fu nampak memijit keningnya yang tertutup topeng.


“Bagaimana bisa menerobos mereka hanya dengan kekuatan aura hijau atau biru?” Zhou Fu membatin menghela napas dalam.


“Aku tahu apa yang Kakak pusingkan, sudahlah ayo kita turun dulu!” Yang Zi berbisik pada Zhou Fu yang terdiam dan seperti tak sadar jika kapal mereka telah berhenti.


“Eh, iya… Baiklah,” jawab Zhou Fu dengan pandangan ia fokuskan pada pergerakan Feng Yaoshan dan kasimnya. Kini, tentu misinya menyelamatkan Shen Shen akan sangat bergantung pada keberadaan pemuda bangsawan itu.


Rombongan Feng Yaoshan dan Zhou Fu kini telah menuruni kapal, Zhou Fu pun memberi isyarat pada Yang Zi untuk mengekor langkah yang dipilih oleh Feng Yaoshan bersama Kasimnya. Dua orang itu berjalan menuju ke sebuah tempat yang bernama Biro Pengawal Juda.


“Tidak bisakah kita berangkat besok pagi, Tuan Muda?” si kasim bertanya pada Feng Yaoshan yang melangkahkan kakinya menuju ke Biro Pengawal Juda. Si kasim memang nampak terluka di bagian lengan kanan dan kaki kiri. Dari caranya bertanya, sepertinya dia sedang membutuhkan rehat untuk semalam.


“Kalau bisa hari ini mengapa harus menunggu besok? Membuang-buang waktu saja!” jawab Feng Yaoshan tanpa mau memedulikan keadaan kasimnya yang terlihat kelelahan. Padahal, luka-luka dan kelelahan yang dialami kasim tersebut tak lain tak bukan adalah bentuk perjuangannya menyelamatkan Feng Yaoshan ketika hendak dicelakai oleh orang suruhan Rao Guohoa.


“Sepertinya mereka akan memesan kereta kuda, apakah kita juga perlu memesan kereta atau kuda?” Yang Zi berbisik pada Zhou Fu, mereka berdua membuat jarak yang lumayan jauh dari Feng Yaoshan tetapi karena hari sedang sepi, mereka cukup bisa mendengar kalimat-kalimat dari Feng Yaoshan.


“Ssssttt… Kita menginap saja di sekitar sini,” jawab Zhou Fu singkat.


“Menginap??? kita tak turut mengikuti mereka ke markas Kelelawar Merah?” Yang Zi mengerutkan alis, kaget dengan jawaban Zhou Fu yang tak berniat untuk membuntuti Feng Yaoshan sebagaimana dirinya.


“Tolol! Kau tak dengar ya, kapal yang kita gunakan tadi akan berlayar lagi tengah malam nanti. Pemuda itu sepertinya sangat yakin jika ia akan kembali ke sini sebelum tengah malam dengan membawa serta kakakmu!”

__ADS_1


“Lalu?”


“Lalu bagaimana?” tanya Zhou Fu.


“Bagaimana jika dia tak kembali sebelum tengah malam?”’


“Jika demikian yang terjadi, baru kita yang bergerak. Setidaknya, keberadaan dia di sini bisa meringankan pekerjaan kita!” jawab Zhou Fu seraya memberi kode kepada Yang Zi untuk mengamati Feng Yaoshan dan si kasim yang kini telah keluar dari Biro Pengawal Juda dengan sebuah kereta Kuda. Kereta Kuda itu melaju dengan kecepatan maksimal seolah sedang diburu waktu.


“Kita harus bergegas. Shen Yang-ku bisa mati jika tak segera mendapat pertolongan!” celetuk Feng Yaoshan dari dalam kereta kuda kepada kasimnya. Si kasim merasa mual perutnya setiap kali majikannya menyebut nama nona Shen sebagai Shen Yang-ku. Ia merasa jika tuan mudanya tergila-gila hingga hampir gila betulan kepada sosok gadis yang bernama Shen Yang.


“Iya, Tuan Muda. Kita pasti bisa menyelamatkan nona Shen!” jawab si Kasim singkat.


***


Wilayah bebas hukum di seberang sungai Juda  dibagi menjadi tiga wilayah besar, yaitu distrik Jinwei, distrik Zhongjian, dan distrik Beibu. Markas Kelelawar Merah berlokasi di distrik Jinwei, distrik yang paling dekat dengan sungai Juda. Karena letak geografisnya yang strategis, distrik Jinwei menjadi wilayah dari sekte-sekte hitam dengan anggota yang paling banyak.


“Tuan muda, kita hampir sampai. Harap tuan muda mempersiapkan diri,” ucap kasim Feng Yaoshan ketika kereta kuda mereka telah berjarak setidaknya dua puluh meter saja dari gerbang utama markas organisasi Kelelawar Merah.


Meski demikian, agaknya kecintaannya pada Shen Yang memang membutakan Feng Yaoshan. Malam itu, ia turun dari kereta kuda dan menghampiri para penjaga markas organisasi Kelelawar Hitam.


“Siapa Kalian?! Ada keperluan apa kalian datang kemari?” dua orang pengawal memblokir langkah Feng Yaoshan dan si kasim.


“Ini. Biarkan aku masuk!” Dengan ekspresi geram, Feng Yaoshan mengeluarkan sebuah lencana dari balik jubahnya. Seharusnya, lencana itu bisa membawanya masuk ke dalam markas dengan mulus, tapi sepertinya malam ini berbeda. Wajah-wajah pengawal Markas Kelelawar Merah tetap tidak ramah.


“Tidak ada seorang tamu pun yang diperkenankan masuk malam ini! Harap Tuan Muda mengerti!” jawab dua pengawal serempak begitu mereka mengetahui jika Feng Yaoshan merupakan putra dari orang penting.


Feng Yaoshan sudah menduga hal tersebut sehingga ia melakukan rencana cadangannya. Ia nampak membisikkan sesuatu pada dua pengawal tersebut sehingga membuat dua pengawal itu tertegun beberapa saat. Mereka bingung hendak memberi keputusan seperti apa.


“Nah, jika kalian bingung, kalian cukup mengantar kami masuk dan biarkan tetua-tetua di sana yang memutuskan. Bagaimana?” Feng Yaoshan tersenyum melihat rencananya sepertinya akan berhasil.


Karena memang kesulitan memberi keputusan, dua pengawal itu akhirnya memilih untuk mengawal Feng Yaoshan untuk menemui para petinggi organisasi Kelelawar Merah. Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya mereka sampai di sebuah bangunan besar yang cukup sepi, di dalam bangunan tersebut kini sedang ada rapat khusus yang melibatkan para petinggi-petinggi organisasi. Dan ke sanalah Feng Yaoshan diantar.

__ADS_1


Tok Tok Tok…


Pintu ruangan diketuk pelan oleh pengawal dan segera dibuka oleh seorang pengawal dari dalam. Pengawal yang membawa Feng Yaoshan itu membisikkan sebuah kalimat yang akhirnya membuat pengawal dari dalam itu memohon untuk pamit sebentar, meminta persetujuan dari para petinggi apakah keberadaan Feng Yaoshan layak diperhitungkan atau tidak.


Selang beberapa saat, pengawal itu datang kembali. Dan memberi kabar bahwa Feng Yaoshan boleh masuk dan diberi waktu tak lebih dari setengah jam saja.


“Wah wah waaah…. Sepertinya kita sedang kedatangan tamu penting!” ucap salah seorang tetua dengan sinis, dari caranya menyapa, sepertinya ia merupakan orang yang tak menyukai keluarga Feng Yaoshan.


“Tuan Muda, apa yang membawamu kemari?” wakil ketua organisasi Kelelawar Merah bertanya, pria itu bernama Liu Chang, berusia empat puluhan tahun. Dia adalah pendekar yang memiliki tenaga dalam aura biru pekat bercampur hitam. Pertanda jika tenaga dalamnya itu diperoleh dengan jalan ilmu-ilmu sesat.


“Singkat saja. Aku ingin membawa Shen Yang-ku pulang. Berikan gadis itu padaku, dan aku tak akan bermain-main dengan kalian!”


Suara tawa menggelegar memenuhi ruangan, “bocah ingusan ingin menantang kumpulan singa rupanya! Apakah kau masih waras, anak muda? Kau bicara dengan siapa dan berada di mana? Kau paham?” salah seorang tetua tertawa meledek.


“Tuan muda, apa yang membuatmu yakin untuk datang ke sini dan membawa gadis itu pergi?” Liu Chang mendekati Feng Yaoshan, ia paham betul jika Feng Yaoshan memiliki ilmu bela diri yang jauh dari orang-orang di ruangan tersebut. Sebagai seseorang yang berpengalaman, Liu Chang wajib melakukan antisipasi terhadap semua kemungkinan.


Di dalam benak Liu Chang, ia berharap jika keberanian Feng Yaoshan ke sana hanya dilandasi dengan cinta buta pada perempuan bernama Shen Yang. Dengan begitu, ia bisa menggunakan tangannya untuk melenyapkan Feng Yaoshan selama-lamanya.


“Kalian, dengarkan ucapanku baik-baik!” Feng Yaoshan bersiap memberi pidato, puluhan orang yang berada di dalam ruang tersebut mencibir dan meremehkan. Sebelum akhirnya Feng Yaoshan menyampaikan kabar yang membuat mereka sedikit khawatir.


Feng Yaoshan bercerita jika ia telah memerintahkan beberapa puluh orang terpilih di seberang sungai Juda untuk pergi ke Caihong Pusat dan menemui keluarganya. Puluhan orang tersebut membawa surat yang sama yaitu memberi kabar penyerangan dan percobaan pembunuhan terhadap dirinya yang dilakukan oleh kelompok Kelelawar Merah yaitu Rao Guohoa dan orang suruhannya.


Feng Yaoshan juga menyebutkan jika ia meninggalkan wasiat kepada keluarganya untuk melenyapkan organisasi Kelelawar Merah atas insiden yang mungkin saja telah merenggut nyawa putra mereka pada saat itu.


Liu Chang nampak tak begitu baik raut mukanya. Ia menoleh geram pada sosok Rao Guohoa yang saat itu memang terlihat bersembunyi di barisan belakang. Rao Guohoa pucat wajahnya, ia memang mendengar kabar dari saksi mata jika orang suruhannya bertarung dengan kasim Feng Yaoshan hingga di batas daratan Caihong di seberang sungai Juda. Tentu kejahatan di wilayah tersebut bisa dikenai hukuman.


“Sebenarnya, tak perlu menggunakan alasan penyeranganku saja keluargaku tentu bisa melumpuhkan organisasi yang tak tahu balas budi ini!” Feng Yaoshan menimpali, “tapi, aku memiliki penawaran yang bagus untuk kalian semua. Kabar tentang percobaan pembunuhanku itu tak akan pernah kubocorkan pada keluargaku dengan syarat kalian menyerahkan nona Shen padaku dan membiarkanku menyebrang dengan selamat. Waktuku tak sebentar! Silakan kalian segera memberi keputusan!” Feng Yaoshan terlihat sedikit mengancam.


Tawa ejekan di ruangan tersebut meredam seketika dan berganti menjadi keheningan yang menyenangkan hati Feng Yaoshan. Ibu Feng Yaoshan memang bukan orang sembarangan, selama ini, ibunyalah yang memberi dukungan penuh pada organisasi Kelelawar Hitam mulai dari sumbangan sumber daya, harta, dan juga perlindungan-perlindungan hukum. Karena tak mau gegabah, Liu Chang mengajak para anggota pentingnya untuk bermusyawarah.


***

__ADS_1


Dari arah markas Kelelawar Merah, keluarlah kereta kuda yang berjalan dengan cukup cepat. Di dalamnya,  Feng Yaoshan sedang tersenyum-senyum riang karena Shen Shen juga turut berada di kereta kudanya, meski masih dalam keadaan tidur. Semua rencana Feng Yaoshan berjalan dengan sangat lancar, setidaknya sampai pada saat itu. Sebab begitu ia berlayar di sungai Juda, sudah ada Zhou Fu dan Yang Zi yang akan merebut Shen Yang dari tangannya.


__ADS_2